NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Mimpi yang Terpecah

​Della terbangun dengan nafas tersengal. 

Keringat dingin membasahi dahi dan kemeja tidurnya. 

Di luar, suara tiang listrik yang dipukul penjaga malam terdengar tiga kali pukul tiga pagi. 

Jam keramat bagi warga Sukabumi yang percaya bahwa di jam inilah batas antara dunia nyata dan dunia sana menjadi setipis kain sutra.

​Mimpi tadi terasa sangat nyata. Ia masih bisa merasakan perih di ujung jarinya, seolah-olah ia ikut memegang pecahan kaca di rumah Kakek Tan dalam mimpinya.

​"Kakek... ingin melihat siapa?" bisik Della pada kegelapan kamar.

​Della melirik ke arah lemari pakaian tempat ia menyembunyikan kotak sepatu berisi spion itu. Dari celah pintu lemari yang sedikit terbuka, keluar cahaya biru pucat yang berdenyut pelan, mengikuti irama jantungnya.

...​Pagi Harinya – Kampus UMMI (Universitas Muhammadiyah Sukabumi)...

​Della menunggu di gerbang kampus dengan perasaan was-was. Biasanya, jam segini Sasha sudah datang dengan Scoopy putihnya yang penuh gantungan kunci lucu. Tapi hari ini, sepuluh menit sebelum kelas dimulai, Sasha belum juga tampak.

​Tiba-tiba, sebuah motor trail berhenti di depan Della. Geri melepas helmnya, wajahnya terlihat sangat kusut.

​"Sasha nggak masuk, Del," kata Geri tanpa basa-basi.

​"Kenapa? Dia sakit?"

​"Tadi pagi nyokapnya telepon gue. Katanya Sasha lemas banget, nggak mau bangun dari tempat tidur. Dan yang paling aneh... nyokapnya bilang Sasha ketakutan tiap kali liat cermin di kamarnya. Dia sampai nutupin semua kaca di rumahnya pakai kain sarung."

​Della merasa perutnya mual. "Ini karena kejadian di The Vintage Mirror semalam, Ger. Bayangan dia ketinggalan di sana."

​"Kita harus ke rumahnya sekarang," tegas Geri.

...​Rumah Sasha – Pukul 10.00 WIB...

​Suasana rumah Sasha sangat suram. Semua gorden ditutup rapat. Mama Sasha menyambut mereka dengan mata sembab. "Sasha ada di kamar, Neng Della. Dia nggak mau makan, katanya dia merasa 'kosong'."

​Della masuk ke kamar Sasha. Sahabatnya itu duduk meringkuk di sudut tempat tidur, dibungkus selimut tebal. Wajahnya yang biasanya penuh make-up kini pucat pasi, matanya cekung.

​"Sha... ini gue, Della," panggil Della pelan.

​Sasha menoleh perlahan. Gerakannya kaku. "Del... gue ngerasa aneh. Gue kayak nggak punya berat. Pas gue jalan, gue nggak denger suara langkah kaki gue sendiri."

​Della melihat ke arah meja rias Sasha. Cermin besar di sana sudah ditutup dengan kain batik. Della memberanikan diri mendekat dan membuka sedikit kain itu.

​Kosong.

​Saat Della berdiri di depan cermin, hanya bayangan Della yang terlihat. Di sampingnya, tempat seharusnya Sasha berada, hanya ada dinding kosong. Sasha benar-benar kehilangan eksistensinya di dunia pantulan.

​"Del," suara Sasha parau. "Gue liat dia... di dalam kaca itu sebelum gue tutup. Pria baju abu-abu itu. Dia pegang bayangan gue kayak pegang boneka."

​Della mengepalkan tangannya. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan spion tua yang ia bawa.

​"Sha, dengerin gue. Gue bakal ambil balik bayangan loe. Gue nggak tahu caranya gimana, tapi spion ini... spion ini yang mulai semua ini, dan dia juga yang harus tanggung jawab," ujar Della tegas.

​Della mengarahkan permukaan spion tua yang retak itu ke arah cermin meja rias yang tertutup. Seketika, spion di tangan Della bergetar hebat. Retakan keempat di kacanya mulai mengeluarkan cairan hitam yang lebih banyak, menetes ke karpet kamar Sasha.

​Tiba-tiba, di dalam pantulan spion kecil itu, muncul sebuah penglihatan: Pak Hendra sedang duduk di kafenya, memegang sebuah cermin rias perak yang di dalamnya tertangkap wajah Sasha yang sedang menangis.

​"Dia nggak cuma kolektor, Ger," bisik Della pada Geri yang berdiri di pintu. "Dia 'pencuri'. Dia koleksi bayangan orang buat bikin cermin-cermin di kafenya jadi 'hidup'."

Geri melangkah masuk, wajahnya tegang melihat cairan hitam dari spion Della mulai menodai karpet. "Del, spion itu... dia bereaksi sama bayangan Sasha yang dikurung Pak Hendra. Kita nggak punya banyak waktu. Kalau bayangan itu kelamaan pisah sama aslinya, Sasha bakal jadi 'transparan' di dunia nyata."

​Della menoleh ke arah Sasha yang mulai memejamkan mata karena lemas. "Sha, loe harus bertahan. Gue bakal bawa balik 'potongan' diri loe yang ilang itu."

​Sasha hanya bergumam tidak jelas. Della segera memasukkan spion itu kembali ke tas flanelnya dan menarik Geri keluar dari kamar.

...​**Teras Rumah Sasha – Pukul 11.30 WIB**...

​"Ger, loe bawa peralatan mekanik loe?" tanya Della sambil menyambar helm Bogonya.

​"Selalu ada di tas motor. Tapi kenapa, Del?"

​"Pasang lagi spion ini ke Scoopy gue. Sekarang," perintah Della tegas. "Pak Hendra bilang spion ini adalah 'penuntun'. Gue nggak bisa bawa dia cuma di dalam tas kalau mau lawan cermin-cermin di kafe itu. Gue butuh dia terpasang di motor, jadi satu sama energi gue pas berkendara."

​Geri sempat ragu. "Del, terakhir kali gue pasang bautnya, tangan gue melepuh. Drat-nya itu kayak udah nyatu sama energi gelap."

​"Pake kain basah atau sarung tangan kulit loe, Ger. Cepet!"

​Geri akhirnya menurut. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan kunci ring dan mulai memasang kembali batang spion tua dari sungai itu ke stang kiri Scoopy. Anehnya, kali ini tidak ada perlawanan. Bautnya berputar dengan halus, seolah-olah motor itu sendiri merindukan kehadiran "mata kirinya".

​Begitu spion terpasang, mesin Scoopy tiba-tiba menyala sendiri tanpa ditekan tombol starter. Suaranya tidak kasar, tapi terdengar seperti bisikan napas panjang yang lega.

​"Gila... motor loe beneran punya nyawa sekarang, Del," bisik Geri ngeri.

​"Bukan nyawa, Ger. Tapi tujuan," sahut Della. Ia naik ke atas jok, merasakan hawa dingin yang familiar merambat dari stang ke telapak tangannya. "Kita ke Salabintana sekarang. Sebelum kabur sore turun."

​Perjalanan Menuju Salabintana – Pukul 12.15 WIB

​Della memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Di siang bolong yang terik ini, pemandangan di spion kirinya tetap terlihat seperti mendung kelabu. Ia bisa melihat bayangan pepohonan di pinggir jalan bergerak lebih lambat di dalam kaca spion dibandingkan dengan kecepatan aslinya.

​Saat mereka mulai memasuki kawasan hutan pinus menuju arah kafe, Della menyadari sesuatu yang aneh di spionnya. Di dalam pantulan retakan kelima yang baru saja muncul tipis, ia melihat motor Sasha (Scoopy putih) melaju tepat di belakangnya.

​Della menoleh ke belakang. Kosong. Hanya ada Geri dengan motor trail-nya.

​"Geri! Loe liat motor Sasha di belakang loe nggak?!" teriak Della lewat intercom helm.

​"Nggak ada, Del! Cuma gue sendirian!"

​Della kembali melihat ke spion kiri. Motor Sasha di dalam kaca itu tidak dikendarai oleh siapa pun, tapi bayangan Sasha yang transparan tampak duduk manis di jok belakang motor Della sendiri, memeluk pinggang Della dengan tangan yang tak terasa tekanannya.

​Bayangan Sasha sedang minta pulang.

​"Tahan, Sha," bisik Della pada angin. "Bentar lagi kita nyampe."

​Mereka sampai di depan kafe The Vintage Mirror. Namun, pemandangan di depan mereka sungguh di luar dugaan. Kafe yang semalam begitu megah dan ramai, kini tampak seperti bangunan tua yang sudah ditinggalkan puluhan tahun. Papan namanya miring, kacanya pecah-pecah, dan pintunya digembok dengan rantai berkarat.

​"Del... kita salah alamat?" Geri bingung, ia mengecek GPS di HP-nya. "Titiknya bener di sini. Semalam kita parkir di bawah pohon itu kan?"

​Della turun dari motor, matanya tertuju pada spion kirinya. Di dalam pantulan spion itu, kafe itu masih terlihat megah, lampunya menyala terang, dan Pak Hendra berdiri di depan pintu sambil melambaikan tangan.

​"Kafe itu nggak hilang, Ger," ucap Della sambil melepas sarung tangannya. "Cuma pintunya yang sekarang pindah ke dalam kaca."

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!