NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyesalan yang terlambat

Suara lirih Kanaya di seberang telepon yang langsung terputus itu bagai petir yang menyambar kesadaran Arman. Detik itu juga, seluruh ketakutan akan kemarahan ayahnya atau urusan nama baik kuliahnya menguap tanpa sisa. Yang ada di kepalanya hanyalah wajah Kanaya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Arman segera menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Ibu Arman yang baru saja keluar dari dapur membawa secangkir teh hangat terkejut melihat perubahan drastis pada wajah putranya yang kini pucat pasi.

​"Arman? Ada apa, Nak? Kok buru-buru?" tanya ibunya panik.

​Tanpa sempat menjelaskan apa pun, Arman meraih tangan kanan wanita paruh baya itu. Ia bersalaman, mencium punggung tangan ibunya dengan tergesa-gesa—sebuah kebiasaan refleks sebagai "anak baik" yang tersisa di tengah kepanikannya yang luar biasa.

​"Ibu, Arman harus pergi sekarang. Ada urusan mendadak sekali!" ucap Arman setengah berteriak sambil langsung berlari keluar pintu.

​"Arman, hati-hati! Ini masih gerimis!" seru ibunya dari ambang pintu, menatap kepergian putranya dengan perasaan waswas yang tak menentu.

​Arman tidak memedulikan imbauan itu. Ia melompat ke atas motornya, menyalakan mesin dengan sekali sentakan, dan langsung memacu kendaraan kesayangannya itu membelah jalanan kota dengan kecepatan penuh. Hujan gerimis yang menerpa wajahnya tidak ia rasakan. Pikirannya terus berpacu, membayangkan hal-hal buruk yang mungkin sedang terjadi pada Kanaya di dalam kamar kos yang sepi itu.

​“Tuhan, tolong jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Kanaya... Tolong jangan...” doa itu terus rapel di dalam hatinya sepanjang jalan menuju kos Kanaya.

Decit rem motor Arman berbunyi nyaring saat ia berhenti asal di area parkir kos Kanaya. Tanpa memedulikan helmnya yang terjatuh ke lantai, ia berlari kencang menaiki anak tangga menuju lantai dua. Napasnya memburu, sementara dadanya terasa sesak oleh rasa takut yang luar biasa.

​Begitu sampai di depan pintu kamar nomor 12, Arman langsung menggedor pintu kayu itu dengan brutal.

​"Nay! Kanaya! Buka pintunya, Nay! Ini aku, Arman!" teriaknya panik. Suara gedoran itu menggema di koridor kos yang sepi.

​Di dalam kamar, Kanaya perlahan membuka matanya. Sentakan gedoran pintu yang keras itu seolah memaksanya kembali dari kegelapan setelah sempat pingsan beberapa saat di sisi kasur. Rasa pening yang hebat menghantam kepalanya, dan perut bawahnya masih terasa seperti dililit kawat berduri.

​Mendengar suara Arman yang memanggil namanya dengan nada frustrasi, Kanaya tahu ia tidak punya pilihan lain. Dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis, ia mencengkeram pinggiran kasur untuk menegakkan tubuhnya yang lemas. Setiap gerakannya memicu rasa perih yang luar biasa, namun ia memaksakan kakinya melangkah tertatih, menyeret tubuhnya mendekati pintu.

​Klek.

​Selot pintu berhasil diputar dari dalam. Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Kanaya yang benar-benar rapuh. Wajahnya seputih kertas, bibirnya pecah-pecah tanpa warna, dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

​"Nay..." Kata-kata Arman tercekat di tenggorokan.

​Pandangan Arman perlahan turun ke bawah, dan jantungnya seketika mencelos. Di balik tubuh Kanaya yang bersandar lemas pada daun pintu, ia bisa melihat dengan jelas noda merah pekat yang berceceran di lantai, merembes hingga ke kain daster yang dikenakan perempuan itu. Kanaya menatap Arman dengan tatapan sayu yang kosong, sebelum akhirnya seluruh tubuhnya kehilangan daya dan ambruk ke depan.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!