NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 // MBKCM

​Konferensi pers besar di hotel bintang lima itu akhirnya selesai dengan sukses. Para wartawan mulai berkemas, meninggalkan aula yang menyisakan keheningan di antara dekorasi bunga yang mewah. Namun, senyum di wajah Dania Abraham sama sekali tidak memudar. Dia masih setia menggelayuti lengan kokoh Ardan, berjalan beriringan menuju lobi hotel.

​"Kak Ardan, setelah ini kita ke Butik Elegance lagi, yuk?" rengek Dania dengan nada manja yang biasa dia gunakan. "Aku butuh beberapa gaun santai tapi tetap berkelas untuk acara kumpul bersama teman-teman sosialitaku besok siang. Rekomendasi baju di sana kemarin benar-benar cocok di tubuhku."

​Ardan menghentikan langkahnya, perlahan melepaskan pautan tangan Dania dari lengannya dengan ekspresi datar. "Pergilah sendiri bersama supirmu, Dania. Aku harus segera kembali ke kantor karena ada rapat penting dengan investor siang ini."

​Mendengar penolakan itu, Dania langsung menekuk wajahnya, bersiap untuk melayangkan protes. Namun, sebelum kata-kata keluar dari mulutnya, sebuah suara berdeham yang sarat akan wibawa terdengar dari arah belakang mereka. Kakek Wirya melangkah mendekat dengan tongkatnya, menatap Ardan dengan tatapan menegur.

​"Ardan, batalkan atau tunda dulu rapatmu," tegur Kakek Wirya, suaranya terdengar mutlak tak terbantahkan. "Temani calon istrimu ke butik, Ardan. Lusa kalian sudah mau bertunangan. Biasakan diri kalian untuk selalu bersama di depan publik agar tidak ada rumor miring."

​Ardan mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menahan gejolak penolakan yang membakar dadanya. Namun, menatap wajah sang kakek yang tegas, dia akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah. "Ya... baiklah, Kek."

​Dania memekik girang, kembali merapatkan tubuhnya dan memeluk lengan Ardan dengan senyum kemenangan.

​Di dalam mobil mewah yang sedang melaju membelah jalanan kota Jakarta, suasana di antara mereka terasa sangat kontras. Dania sibuk melihat-lihat majalah mode di ponselnya, sementara Ardan menatap lurus ke luar jendela kaca yang gelap dengan rahang yang mengeras.

​"Dania, kenapa kita harus ke butik itu lagi?" tanya Ardan, suaranya terdengar dingin dan jengah. "Masih banyak butik lain di kawasan pusat kota yang jauh lebih bagus dan eksklusif daripada tempat itu."

​Dania menoleh, menatap Ardan dengan dahi berkerut heran. "Ih, Kak Ardan ini bagaimana, sih? Aku kan sudah bilang kalau aku merasa sangat cocok dengan model-model baju di sana. Lagipula, Butik Elegance itu kan berada di dalam kawasan mall milik keluarga Arkatama, bukan? Jadi, aku sebagai calon Nyonya Arkatama harus mengenal dengan baik isi produk yang ada di sana dong, biar paham aset keluarga kita sendiri."

​Ardan tidak menyahut lagi. Dia membuang mukanya kembali ke arah jendela. Mendengar kata calon Nyonya Arkatama keluar dari mulut Dania entah mengapa membuat ulu hatinya terasa aneh dan sesak, terutama setelah kejadian perdebatan semalam dengan gadis pelayan itu.

..

Di dalam Butik Elegance, Kiana sedang berusaha memberikan pelayanan terbaiknya untuk hari terakhirnya bekerja di tempat ini. Dia menyapa setiap pelanggan dengan senyuman profesional, seolah-olah tidak ada badai yang sedang mengoyak batinnya.

​Namun, lonceng di atas pintu butik mendadak berdenting, disusul dengan sapaan heboh dari Bu Ambar yang langsung berlari kecil menuju pintu depan. Kiana menoleh, dan detik itu juga, dunianya seolah kembali runtuh. Ardan dan Dania melangkah masuk ke dalam ruangan.

​Deg.

​Hati Kiana seperti diremas kuat oleh tangan tak kasat mata. Bersamaan dengan itu, perut bagian bawahnya mendadak terasa melilit dan bergejolak hebat, memicu rasa nyeri yang sesaat terasa seperti remasan kuat. Anak-anak di dalam perutnya seakan ikut protes, seolah tahu bahwa ayah kandung mereka sedang berjalan gagah bersama wanita lain dengan begitu mesra.

​Kiana buru-buru memegang pinggiran meja kasir untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. Dia mengatur napasnya, mencoba bersikap seprofesional mungkin. Di dalam kepalanya, kata-kata kejam Ardan semalam kembali terngiang dengan sangat jelas. 'Jangan pernah sekalipun kamu berani muncul di hadapanku lagi setelah malam ini!'

​Kiana tahu diri. Dia memilih untuk segera menyibukkan diri ke hal lain. Dia membalikkan badan, berpura-pura menata barisan jas di rak paling pojok, sengaja tidak ikut menyambut Ardan dan Dania demi membiarkan pelayan lain saja yang melayani mereka.

​Namun takdir seolah sedang mempermainkannya. Dania yang sedang memilah baju di area VIP mendadak mengeluh kepada Bu Ambar karena pelayan yang mendampinginya tidak bisa memberikan kombinasi warna yang dia inginkan.

​"Aduh, Mbak, bukan yang ini warnanya! Aku dengar disini ada pelayan yang pinter banget milih setelan yang matching buatku. Mana dia?" tanya Dania tidak sabar.

​Bu Ambar langsung menjentikkan jarinya. "Ah, maksud Ibu pasti Kiana! Kiana memang pakar terbaik kami soal matching pelayanan fashion di sini. Kiana, tolong kemari sebentar!" panggil Bu Ambar dengan suara lantang.

​Kiana memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan seluruh sisa harga dirinya sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah mendekat. "Iya, Bu Ambar. Selamat siang, Ibu Dania, Pak Ardan," sapa Kiana dengan nada suara yang ramah dan luar biasa tenang. Dia dengan sengaja tidak membiarkan tatapan matanya bertemu atau melirik sedikit pun ke arah mata elang Ardan yang sejak tadi terus menguncinya.

"Mbak saya besok itu mau ada acara santai dengan teman-teman saya tapi meski santai saya tidak mau terlihat biasa-biasa saja." Ucap Dania mengutarakan keinginannya.

​Kiana sepenuhnya fokus melayani Dania. "Baik, Mari saya bantu, Ibu Dania. Untuk acara besok, gaun dengan potongan A-line berwarna pastel ini akan sangat cocok dan mempertegas keanggunan Anda," ujar Kiana, mulai memilihkan beberapa gaun terbaik dari rak eksklusif.

​"Nah, ini baru benar! Selera kamu memang tidak mengecewakan," puji Dania semringah.

"Hemm, sekarang tolong pilihkan sepatu hak tinggi yang cocok dengan gaun ini." Perintah Dania lagi setelah merasa puas dengan pilihan Kiana.

"Baik bu, sebentar saya akan mencarikan pilihan terbaik saya." Ucap Kiana sembari melangkah untuk mengambil beberapa koleksi sepatu hak tinggi yang menurutnya matching dengan gaun warna pastel itu.

​Kiana kembali dengan beberapa koleksi heels cantik, Karena tugasnya sebagai pelayan personal, Kiana harus berulang kali jongkok di lantai marmer yang dingin untuk memasangkan sepatu ke kaki Dania, mengancingkan talinya, lalu kembali berdiri untuk meminta penilaian Dania, dan kembali jongkok lagi saat Dania merasa ukurannya kurang pas atau warnanya kurang cocok.

"Mbak, saya kurang suka dengan ini semua, bisa tolong carikan lagi." Ucap Dania yang merasa kurang srek dengan 3 heels yang baru dia coba.

"Baik bu, tunggu sebentar." Ucap Kiana mematuhi perintah karena dia hanyalah seorang pelayan.

​Di sudut lain, Saskia yang sedang melayani pelanggan lain ikut merasa perih di hatinya. Matanya berkaca-kaca menatap pemandangan kejam di depannya. Kiana yang sedang mengandung anak kembar dan dalam kondisi tubuh yang sangat lemah, harus berulang kali jongkok-berdiri melayani wanita lain, sementara ayah dari anak yang dia kandung hanya duduk santai di sofa mewah, memanjakan wanita lain itu dengan kemewahan dunia, batin Saskia dengan meremas tangannya sendiri hingga bergetar karena emosi.

​Sementara di posisi Ardan yang duduk bersandar di sofa tunggu, dadanya sebenarnya terasa bergemuruh hebat seperti sedang terbakar lava panas. Sepasang matanya tidak bisa lepas dari tubuh kurus Kiana yang terlihat lemah. Ardan tahu betul berkat laporan Bimo sore lalu, bahwa wanita itu sedang hamil muda. Dan melihat bagaimana Kiana harus berulang kali jongkok dan berdiri dengan wajah yang menahan mungkin rasa pegal ditubuhnya demi melayani tunangannya, ada bagian dari hatinya yang berdenyut nyeri dan ingin berteriak menyuruh gadis itu berhenti.

​Namun, detik berikutnya, ego dan rasa terluka akibat penolakan Kiana semalam kembali merasuki pikirannya. Ardan teringat kembali kata-kata Kiana yang menyebut anak itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, yang mengindikasikan Kiana sudah disentuh pria lain. "Kenapa aku harus peduli? Dia sendiri yang memilih jalan hidup murahan ini. Biarkan saja dia menerima konsekuensinya," batin Ardan kejam, memaksa matanya menatap dingin ke arah lain untuk menunjukkan ketidakpeduliannya.

​Setelah hampir satu jam, Dania akhirnya merasa sangat puas dengan sepatu pilihan yang diberikan Kiana. Dia berdiri di depan cermin sambil tersenyum lebar.

​"Wah, pas sekali! Kiana, pelayanan kamu benar-benar luar biasa memuaskan. Lain kali kalau aku datang ke butik ini lagi, aku akan meminta kamu saja yang melayaniku, ya. Aku tidak mau pelayan yang lain," ucap Dania dengan nada angkuh namun senang.

​Kiana mengulas senyum ramah yang sangat profesional, meskipun kakinya sudah terasa gemetar dan perutnya terasa semakin tidak nyaman. "Terima kasih banyak jika Anda merasa nyaman dan puas dengan pelayanan saya, Ibu Dania. Namun... mohon maaf yang sebesar-besarnya, hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di Butik Elegance."

​Deg.

​Ardan yang sedang memegang ponselnya seketika mendongak tajam. Jantungnya berdegup tidak beraturan mendengar kalimat itu.

​Dania pun ikut terkejut. "Lho? Kenapa begitu? Kamu mau pindah ke butik lain?"

​"Tidak, Ibu. Saya harus pulang ke kampung halaman saya di Bandung karena ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan," jawab Kiana tenang, suaranya terdengar begitu ikhlas. "Tapi Anda tidak perlu khawatir, di Butik Elegance ini semua pelayan memiliki kompetensi yang sangat tinggi. Saya yakin pelayanan mereka ke depannya tidak akan ada yang mengecewakan Anda."

​"Begitu ya... aduh, sayang sekali. Padahal aku baru saja merasa cocok dengan seleramu," keluh Dania dengan wajah kecewa, lalu berbalik menuju ruang ganti untuk melepas gaun yang dia coba.

​Di tengah keheningan sesaat setelah Dania menjauh, Ardan tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam dadanya. Suara baritonnya memecah kesunyian, terdengar tajam namun sarat akan emosi yang tertahan.

​"Kamu... mau pergi ke mana?" tanya Ardan, menatap langsung ke arah Kiana yang berdiri beberapa langkah di depannya.

​Kiana sempat tertegun mendengarnya, namun dia dengan cepat menguasai diri. Dia tetap menolak untuk menatap mata Ardan, memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ke Bandung, Pak," jawabnya singkat dan formal.

​Ardan mengepalkan tangannya di atas lutut hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Hatinya mendadak terasa sangat kosong dan dihantam rasa kehilangan yang aneh. Padahal jelas-jelas semalam di dalam mobil dia sendiri yang membentak dan mengusir gadis ini, memintanya untuk tidak pernah memunculkan wajah di hadapannya lagi seumur hidup.

​Namun, entah mengapa, saat kenyataan itu benar-benar terjadi di depan matanya,.saat dia tahu bahwa setelah hari ini Kiana akan benar-benar pergi jauh dari jangkauannya dan menghilang dari kota ini, hati kecil Ardan menolak keras. Hatinya terasa sangat berat dan hampa jika harus menerima kenyataan bahwa dia tidak akan bisa lagi melihat wanita itu, meskipun hanya sekilas saja dari kejauhan di sudut butik ini. Ego dan gengsinya kini mulai berperang hebat dengan rasa bersalah yang enggan dia akui.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!