NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XX

Di Kedai..

  Luna kembali ke kedai untuk membereskan piring piring yang ada di meja pelanggan. Tiba-tiba, Mu Chen datang dari belakang, lalu dengan paksa menarik tangan Luna dan membawanya masuk ke ruang gudang tempat mereka menyimpan bahan makanan. Mu Chen menutup pintu itu, begitu pintu tertutup, Mu Chen langsung bertanya dengan raut wajah serius.

“Kenapa kau mengajak pemuda itu bicara sembunyi-sembunyi tadi? Ada apa sebenarnya yang kalian bicarakan hingga harus jauh-jauh pergi ke tempat lain?” tanyanya tegas, nada bicaranya penuh kecurigaan.

Luna menatapnya tenang, lalu menjawab jujur, “Aku hanya ingin bicara empat mata untuk menjelaskan semuanya. Aku menolak lamarannya, Mu Chen. Bagaimana mungkin aku mau menikah dengannya? Alasan dan perasaannya menurutku sama sekali tidak masuk akal.”

Mendengar itu, raut wajah Mu Chen perlahan berubah menjadi lebih tenang, hatinya terasa lega mengetahui Luna telah menolak pemuda itu. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama saat Luna perlahan melangkah mendekat, menatap mata Mu Chen.

“Kalau begitu… bagaimana kalau suatu hari nanti datang seorang pria yang benar-benar kucintai? Apakah kau akan diam saja dan membiarkanku pergi bersamanya?” tanya Luna dengan rasa penasaran yang mendalam.

Jantung Mu Chen berdebar kencang, Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan gejolak hatinya, lalu memalingkan wajah menjawab dengan nada terbata-bata, “T-tentu saja… aku akan memberi izin. Kalau itu keinginanmu, kau boleh pergi. Aku tak akan menghalanginya.”

Sudut bibir Luna sedikit terangkat, namun matanya masih menyimpan tanya besar. Ia kembali bersuara pelan, “Kalau begitu… apakah kau mau menjadi waliku saat aku menikah nanti?”

Pertanyaan itu seolah menampar keras hati dan perasaan Mu Chen. Ia seketika menegakkan badan, wajahnya memerah bercampur marah dan keterkejutan.

“Untuk apa aku menjadi walimu?! Aku bukan ayahmu, aku juga bukan kakakmu! Jangan pernah berpikir bahwa aku mau ikut campur urusan hidup dan pernikahanmu! Uruslah urusanmu sendiri!” bentak Mu Chen kasar. Ia pun berbalik hendak pergi meninggalkan gudang itu.

Namun Luna dengan cepat berdiri di depan pintu, menghalangi langkahnya. Ia menatap tajam ke dalam mata pria itu, lalu bertanya dengan lantang dan berani, “Kalau begitu jawab aku satu hal lagi… Apakah kau menyukaiku?”

Jantung Mu Chen seketika berdegup kencang. “Tentu saja tidak! Aku… aku sama sekali tidak pernah menyukaimu!” elaknya cepat.

Tanpa ragu lagi, Luna melangkah maju dan langsung memeluk tubuh Mu Chen erat-erat. Ia merasakan detak jantung yang berdebar kencang di dada lelaki itu. “Kalau begitu… kenapa jantungmu berdebar begitu cepat saat kupeluk seperti ini? Apakah kau bilang ini juga bukan apa-apa?” ucap Luna.

Dengan sigap dan kasar, Mu Chen melepaskan pelukan itu, wajahnya tampak gelisah. “Apa yang kau lakukan?! Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun padamu!”

Luna tidak menyerah. Ia kembali menarik tangan Mu Chen, menatapnya dengan mata berbinar meminta kepastian. “Katakan sekali lagi… apakah kau benar-benar tidak menyukaiku sedikit pun?”

“Berapa kali aku harus mengatakannya agar kau mengerti?!” suara Mu Chen kini terdengar lebih keras dan tegas, seolah berusaha meyakinkan juga dirinya sendiri. “Aku benar-benar tidak menyukaimu! Kenapa kau harus menanyakan hal yang sama berulang kali?!”

Ketegasan dan nada dingin itu menusuk tepat ke hati Luna. Perasaannya hancur seketika, rasa kecewa dan sedih memenuhi dadanya. Perlahan ia melepaskan genggamannya, lalu berbalik badan hendak pergi. Dalam hatinya, ia berharap Mu Chen akan menahannya, namun ia terus berjalan menuju pintu.

Sebelum sempat membuka pintu, ia kembali berbalik, Namun Mu Chen tiba-tiba mendekat dan berbicara dengan nada suara yang dingin namun terdengar ada rasa sakit yang tertahan.

“Dengarkan ini baik-baik, Luna. Sepanjang hidupku, aku sama sekali tidak pernah menyukaimu. Di dalam hatiku, sudah ada satu wanita yang paling kucintai, dan tak ada seorang pun yang bisa menggantikannya, tidak akan pernah.”

Setelah mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan itu, Mu Chen pun berjalan pergi meninggalkan Luna sendirian di dalam gudang. Luna terpaku diam di tempat, tak sadar air matanya menetes membasahi pipi, hatinya terasa sakit dan hancur.

Padahal, apa yang dikatakan Mu Chen itu bertolak belakang dengan isi hatinya sendiri. Ia memang sangat mencintai Luna, namun ia masih bingung dengan jalan hidupnya sendiri. Ia tak tega melihat wanita yang dicintainya ikut menderita jika hidup bersamanya. Karena itulah, ia memilih menyakiti hatinya sendiri dan hati Luna sekarang, dengan harapan wanita itu bisa menjauh dan menemukan kebahagiaan yang lebih baik.

Luna berjalan keluar perlahan, hatinya terasa begitu sakit dan hancur. Ia melewati ruang kedai begitu saja tanpa menoleh sedikit pun, lalu berjalan keluar menuju jalanan. Haoran yang masih disana menunggu di depan kedai, segera menghampiri dan dengan cepat mengikuti langkah Luna dari belakang.

"Tunggu dulu.. Aku masih ingin bicara denganmu," seru Haoran sambil terus mengejar langkahnya.

Ia terus berjalan di samping Luna, tak peduli jika wanita itu sama sekali tak menatapnya. "Aku sungguh-sungguh dengan perasaanku ini. Aku sangat yakin bahwa aku sangat mencintaimu, dan aku tahu suatu saat nanti kau juga akan merasakan hal yang sama. Bagaimana pun juga, kau adalah orang yang menyelamatkan nyawaku, dan sejak saat itu hatiku sudah menjadi milikmu. Ayo kita menikah, aku berjanji akan membuatmu bahagia seumur hidup ini," ucap Haoran bertubi-tubi berusaha meyakinkan.

Tiba-tiba Luna berhenti melangkah. Ia menatap Haoran dengan tatapan yang begitu dingin dan tajam persis seperti tatapannya dulu.

"Haoran," panggilnya pelan namun tegas. "Kau adalah pemuda yang baik, dan kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Kembalilah ke rumahmu, dan sebaiknya... Mulai sekarang kita tidak perlu bertemu lagi."

Wajah Luna perlahan berubah, tatapan dingin itu berganti dengan sorot mata yang lelah dan sedih. Ia melanjutkan dengan nada memohon, "Sekarang aku sedang lelah dan aku ingin segera pulang. Kumohon... jangan ganggu aku lagi, setidaknya untuk hari ini."

Melihat Luna yang sampai harus memohon seperti itu, hati Haoran pun luluh. Ia tak tega memaksanya lebih jauh, namun senyum percaya diri masih terlihat di bibirnya.

"Baiklah, aku mengerti. Hari ini aku akan pergi. Tapi ingatlah... aku tidak akan menyerah. Aku akan datang ke sini setiap hari, sampai aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku dan mau bersamaku," ucap Haoran tegas, sebelum akhirnya ia membiarkan Luna pergi sendirian.

Luna pun melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang semakin berat. Sesampainya di rumah, ia melihat Anran sedang ada di ruang tengah, baru saja selesai memandikan Lulu dan sedang menyisir rambut panjangnya. Melihat wajah Luna yang pucat dan murung, Anran segera berhenti menyisir rambut Lulu dan menghampiri Luna.

"Luna? Kau pulang lebih awal dari biasanya. Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat sangat pucat. Apakah ada masalah di kedai? Atau ada yang membuatmu kesal?" tanya Anran cemas sambil memegang bahu Luna.

Luna memberikan senyuman tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa, Anran. Kau jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah, jadi aku hanya ingin segera beristirahat."

Anran menatapnya ragu, namun ia tak ingin memaksa. "Kau yakin? Kalau begitu, apa kau sudah makan?"

"Belum, aku sedang tidak lapar. Aku hanya lelah... sangat lelah." jawab Luna pelan, lalu berjalan melewati Anran dan Lulu yang menatapnya dengan polos, menuju kamarnya.

Begitu pintu kamar tertutup dan ia sendirian dalam keheningan, Ia duduk bersandar di balik pintu, menatap kosong ke arah dinding. Pikirannya kembali teringat pada setiap kata-kata yang diucapkan Mu Chen di gudang tadi, kalimat yang begitu menusuk hatinya: "Sepanjang hidupku ini, aku sama sekali tidak pernah menyukaimu. Di dalam hatiku, hanya ada satu wanita yang paling kucintai...dan tidak akan pernah berubah untuk selamanya."

"Selama ini aku kira... aku kira dia juga memiliki perasaan yang sama denganku," batin Luna, sementara matanya mulai memanas menahan air mata. "Ternyata aku salah besar. Dia sama sekali tidak pernah mencintaiku. Mungkin selama ini, dia hanya bersikap baik karena kasihan padaku," sesalnya sambil menangis dalam hati.

Perlahan rasa rendah diri mulai memenuhi hatinya. Apakah aku memang tidak layak untuk dicintai? Apakah karena dosa dan darah ditangan ini, membuatku tidak pantas menerima cinta siapa pun juga?

Pertanyaan itu menghancurkannya. Luna menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha keras menahan isak tangis agar tidak terdengar keluar kamar. Air matanya mengalir deras membasahi pipi, tubuhnya berguncang hebat menahan rasa sakit, kekecewaan, dan kesedihan yang begitu dalam. Ia menangis dalam diam, membiarkan rasa sakit itu memenuhi seluruh hatinya, sementara di luar sana, Anran dan Lulu sama sekali tak menyadari betapa hancurnya hati Luna saat ini.

Tak lama kemudian, Mu Chen pun pulang ke rumah. Sikap dan raut wajahnya persis sama seperti Luna, ia diam, murung, dan terlihat tidak tenang.

Anran yang masih berada di ruang tengah segera menghampiri kakaknya itu dengan rasa penasaran. "Kak Mu Chen? Ada apa ini? Kenapa wajahmu tampak begitu murung? Apakah ada masalah di kedai?" tanyanya bertubi-tubi.

Namun Mu Chen hanya berjalan terus menuju kamarnya tanpa menatap atau merespons. Ia hanya menjawab singkat dengan nada datar dan lelah, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit kelelahan hari ini, jadi aku ingin segera beristirahat."

Tanpa menunggu tanggapan adiknya, Mu Chen langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

Anran pun berdiri terpaku, semakin bingung dan merasa ada yang tak beres. Baru saja Luna pulang dengan wajah sedih, kini kakaknya pun datang dalam keadaan diam dan murung. Kenapa mereka berdua bersikap begitu aneh? batinnya penuh tanya.

Perubahan sikap mereka yang terjadi hampir bersamaan itu membuat Anran semakin curiga dan yakin, bahwa pasti telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!