Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Naga Tempur Tingkat Tiga
Kematian Tetua Xue yang terbelah dalam satu kedipan mata menghancurkan sisa-sisa kewarasan para murid Aliansi Tiga Sekte. Darah yang menodai salju putih itu seolah menjadi batas antara alam fana dan neraka.
Tetua Kuang dan Tetua Bai saling berpandangan. Keringat dingin merembes dari dahi mereka hingga membeku menjadi kristal es. Di hadapan mereka, Zeng Niu berdiri santai dengan pedang raksasa berlumuran darah, memancarkan aura Foundation Establishment Tahap Awal yang kepadatan Qi nya jauh melampaui logika kultivator tingkat menengah mana pun!
"Bocah iblis... Kau menyembunyikan kultivasimu yang sebenarnya!" geram Tetua Bai, wajahnya berkedut ngeri. "Kuang! Kita tidak bisa mundur! Jika kita lari, reputasi sekte kita akan hancur dan kita akan dihukum mati oleh Leluhur Sekte! Serang bersama!"
Tetua Kuang menggeram mengiyakan. Keduanya secara serentak membakar esensi darah mereka sebuah teknik terlarang untuk memaksakan kekuatan hingga ke Puncak Foundation Establishment demi satu serangan pamungkas.
"Harimau Putih Pemecah Langit!"
"Awan Besi Penghancur Bumi!"
Dua bayangan raksasa terbentuk dari Qi murni di udara. Seekor harimau putih yang mengaum dan sebuah palu besi seukuran bukit meluncur deras ke arah Zeng Niu, membawa tekanan yang membuat retakan memanjang di atas lapisan es lembah.
Bao Tu dan Lin Xiaoyu menahan napas. Kombinasi serangan dua ahli tingkat menengah yang membakar esensi darah setara dengan serangan ahli Golden Core palsu!
Namun, alih-alih mengangkat Bilah Penebas Tulang untuk menangkis, Zeng Niu justru menancapkan pedang raksasa itu ke tanah es di sampingnya. Ia melangkah satu tindak ke depan dengan tangan kosong.
Zeng Niu ingin menguji sejauh mana batas tubuh Tulang Besi Berkarat nya yang baru saja ditempa ulang oleh Sumsum Es Kunlun.
Zeng Niu mengambil napas panjang, menarik seluruh Qi di danau Dantian barunya, lalu memutarnya ke seluruh meridian ototnya dalam sebuah ritme kuno yang sangat ganas.
[Teknik Naga Tempur Sembilan Tingkat!]
Di masa lalu, sebelum Dantiannya hancur, ia memaksakan diri hingga tingkat dua dan hampir membuat urat nadinya meledak. Namun kini, dengan tubuh yang diperkuat energi murni usia ribuan tahun dan distimulasi oleh petir ungu, ia tidak merasakan hambatan sedikit pun.
"Tingkat Satu... Tingkat Dua..." gumam Zeng Niu, udara di sekitarnya mulai mendidih, mencairkan salju dalam radius lima tombak. Matanya seketika berubah menjadi dingin, menatap dua serangan yang mendekat. "...Tingkat Tiga: Auman Naga Pemakan Langit!"
GRAAAAAAAWR!
Sebuah raungan naga yang tidak berasal dari pita suara manusia, melainkan dari resonansi murni otot dan tulangnya, meledak mengguncang lembah! Semburan Qi berwarna perak gelap yang bercampur dengan Niat Membunuh memadat di udara, membentuk siluet kepala naga purba yang menganga lebar.
Naga perak gelap itu menerjang maju, menelan mentah-mentah bayangan Harimau Putih dan Palu Besi tersebut!
BLAAAAAAAAR!
Ledakan dahsyat meratakan sisa-sisa tenda kemah aliansi. Angin puting beliung yang tercipta dari benturan itu mementalkan ratusan murid sejauh belasan tombak.
Tetua Kuang dan Tetua Bai memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak. Tulang dada mereka remuk redam tertabrak sisa gelombang Naga Tempur, dan tubuh mereka meluncur bagai boneka rusak di atas es sebelum akhirnya menabrak dinding tebing hingga pingsan tak berdaya. Fondasi kultivasi mereka hancur seketika!
Zeng Niu berdiri tegak, menghembuskan napas berupa uap panas. Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan murni dari Tingkat 3 Teknik Naga Tempur benar-benar memuaskan.
Ia kemudian berbalik untuk mencabut Bilah Penebas Tulang yang tadi ia tancapkan.
Namun, tepat saat tangannya menyentuh gagang pedang hitam kusam itu, sebuah suara cerewet meledak di Lautan Kesadarannya.
"HEI! Pedang tulang jelek ini... Niat Kematian dan energi Yin purbanya sangat murni!" Lei Ling berteriak girang, muncul di benaknya dengan garpu dan pisau imajiner. "Zeng Niu! Karena kau sudah punya Qi yang cukup, biarkan aku memakan benda rongsokan ini untuk memulihkan kekuatanku! Kau tidak butuh tulang dewa mati ini lagi!"
Sebelum Zeng Niu sempat membalas, seberkas petir ungu yang sangat terang menyambar keluar dari telapak tangan Zeng Niu, melilit seluruh bilah Bilah Penebas Tulang.
Pedang seberat seribu kati yang dulu membuat seluruh kultivator di Pelelangan Kota Daun Gugur muntah darah itu, kini bergetar hebat layaknya mangsa yang ketakutan. Dalam hitungan detik, petir surgawi Lei Ling membakar bilah hitam kusam itu, mengisap seluruh esensi tulang dewa di dalamnya, dan mengubah material fisiknya menjadi debu abu-abu yang tertiup angin es!
Di kejauhan, Qian Fugui yang baru saja merangkak keluar dari balik batu, melihat pedang raksasa itu hancur menjadi debu. Mata pria gemuk itu langsung membelalak lebar, air matanya tumpah seketika.
"TIDAAAAAK! Pedang kita!" jerit Fugui meratap histeris, memukulkan tinjunya ke salju. "Itu harganya dua ratus sepuluh Batu Spiritual! Leluhurku, kau membakar uang kita menjadi debu! Ahhh, jantungku sakit! Siapa yang akan mengganti kerugian ini?!"
Bao Tu menyenggol Fugui dengan palunya. "Diamlah, Gendut Kuning. Niu baru saja mengalahkan dua ahli tingkat menengah, dan kau menangisi pedang yang bahkan tidak bisa kau angkat?"
"Kau tidak mengerti penderitaan pedagang!" isak Fugui, mengusap hidungnya yang memerah.
Zeng Niu mengabaikan ratapan Fugui. Ia menatap telapak tangannya yang kini kosong. Debu sisa pedang itu telah terbang terbawa angin.
"Haaaaah... Kenyang sekali!" Lei Ling bersendawa kecil di dalam kepalanya, suaranya terdengar jauh lebih kuat dan berwibawa dari sebelumnya. "Sebagai gantinya, gunakan aku, Zeng Niu! Perlihatkan pada sekte-sekte fana ini apa itu kekuatan sejati!"
Zeng Niu menyeringai tipis.
Ia perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Qi Foundation Establishment-nya bergejolak hebat, merespons panggilan dari Lautan Kesadarannya. Awan abu-abu di atas Lembah Kunlun mendadak berputar liar, menciptakan pusaran badai petir.
"Keluarlah... Pedang Petir Dewa," bisik Zeng Niu, suaranya mengandung hukum resonansi langit.
CTAAAAAR!
Sebuah kilat ungu yang lebarnya menyamai pilar kuil menyambar tepat ke telapak tangan Zeng Niu yang terbuka.
Cahaya menyilaukan memaksa Bao Tu, Xiaoyu, dan Fugui menutup mata mereka. Saat cahaya itu meredup, di genggaman Zeng Niu, tidak lagi terdapat pedang hantu atau pedang patah.
Itu adalah sebilah pedang ramping yang elegan, terbuat dari kristal ungu murni yang seolah-olah dipahat dari inti petir surgawi. Bilahnya transparan, dengan urat-urat kilat yang terus mengalir di dalamnya. Di sekeliling pedang itu, ruang fana sedikit terdistorsi karena tidak mampu menahan ketajaman auranya.
Ini adalah wujud sejati dari Pedang Petir Dewa di Tahap Tiga! Berkat kultivasi Zeng Niu yang telah pulih dan Lei Ling yang menyerap esensi tulang purba, pedang ini akhirnya bisa menampakkan wujud aslinya di alam fana.
Hanya dengan menggenggamnya, Niat Pedang yang sangat tiran menyapu seluruh lembah, membuat pedang-pedang milik ratusan murid aliansi yang tersisa patah serentak di dalam sarungnya!
"P-Pedang kita patah sendiri?!"
"Lari! Dia bukan manusia! Dia adalah reinkarnasi dewa petir!"
Para murid Tiga Sekte, yang telah kehilangan Tetua mereka dan kini senjatanya hancur berantakan, sepenuhnya kehilangan semangat tempur. Mereka membuang semua benda berharga dan berlari tunggang-langgang keluar dari Lembah Kunlun layaknya kawanan domba yang dikejar serigala, saling injak demi menyelamatkan nyawa.
Hanya dalam waktu sebatang dupa sejak Zeng Niu menghancurkan gerbang, aliansi tiga sekte menengah itu runtuh tak bersisa.
Bao Tu berdiri melongo, rahangnya benar-benar jatuh. Ia menunjuk ke arah Pedang Petir Dewa yang berkilauan di tangan Zeng Niu.
"Niu... k-kau... kau membuatku merasa usahaku mati-matian berlatih di perbatasan selama ini terlihat seperti lelucon," gumam Bao Tu nelangsa, meski matanya memancarkan kebanggaan luar biasa pada sahabatnya itu. "Setidaknya biarkan aku memukul satu orang murid pelataran luar untuk pamer!"
Lin Xiaoyu menyarungkan pedang tipisnya, mendengus pelan dengan senyum tipis. "Mungkin kau harus mulai makan batu spiritual alih-alih bebek panggang agar bisa sekuat dia, Bao Tu."
Zeng Niu menekan auranya dan menarik Pedang Petir Dewa kembali ke dalam Lautan Kesadarannya. Senjata Dewa itu belum bisa berada di luar terlalu lama tanpa menguras Qi-nya. Ia berjalan menghampiri teman-temannya.
"Maaf soal pedang besarnya, Fugui. Tapi sekarang aku tidak butuh rongsokan itu lagi," ucap Zeng Niu santai, menepuk pundak pria gemuk yang masih meratapi kerugian nya.
Tepat saat itu, pilar air di tengah kawah kembali terbelah.
Dari dalam Kolam Sumsum Es yang mengepul, Zhao Ying perlahan melayang naik. Gaun sutra birunya melekat basah, namun langsung mengering saat ia melangkah ke daratan es berkat fluktuasi energinya.
Aura gadis itu telah berubah drastis. Rantai kutukan yang selama ini menyegel nadinya telah mengendur berkat energi Yin ekstrem kolam tersebut. Meskipun kultivasinya belum pulih ke ranah Surga Atas, fluktuasi yang dipancarkannya kini setara dengan Golden Core Tahap Menengah dunia fana!
Kecantikannya di bawah hujan salju tipis itu terlihat semakin tak nyata, membuat Bao Tu dan Fugui buru-buru menundukkan pandangan karena tidak berani menatap langsung seorang dewi.
Zhao Ying melangkah menghampiri Zeng Niu, matanya yang seindah lautan bintang tersenyum lembut dari balik cadarnya.
"Kolam ini luar biasa, Zeng Niu. Segel utamanya telah retak," ucap Zhao Ying, suaranya sehalus lonceng angin. Ia menatap pemuda berjubah hitam itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Dan kau... kau terlihat seperti algojo yang akhirnya menemukan kapak sejatinya."
Zeng Niu memalingkan wajahnya sedikit, berdehem pelan untuk menutupi kecanggungannya melihat Zhao Ying menatapnya seserius itu.
"Sekte-sekte fana ini terlalu lemah, itu saja," jawab Zeng Niu berkilah, telinganya sedikit memerah. Ia lalu membalikkan badan, menatap ke arah utara yang luas. "Ayo. Sembilan Sekte Besar sedang bersiap menghadapi perang, dan Akademi Jiannan pasti membutuhkan semua kekuatan yang bisa mereka dapatkan. Waktunya kembali ke ibukota."