Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Surat Wasiat
29 Desember 1930. Pukul 23.00 waktu Batavia.
Kamar Kos Gang Kenari.
Tiga hari berturut-turut, Arya melihat sosok itu.
Seorang pria bertubuh kekar dengan topi laken rendah, berdiri di warung rokok di ujung gang, merokok sambil menatap jendela kamar Arya dengan satu mata yang menyala.
Si Mata Satu.
Dia tidak menyerang. Dia hanya mengawasi. Seperti kucing yang mempermainkan tikus sebelum menerkam. Dia menunggu perintah eksekusi tanggal 31 Desember.
Arya menutup tirai jendelanya rapat-rapat. Dia tahu waktunya di kamar ini sudah habis.
Di tengah ruangan, sebuah kaleng biskuit besi (bukan yang disembunyikan di museum, tapi kaleng bekas kerupuk) difungsikan sebagai tempat pembakaran. Arya membakar tumpukan kertas: draf artikel, catatan rapat Jong Java, dan surat-surat dari kawan pergerakan.
Api menjilat kertas-kertas itu, mengubah rahasia menjadi abu. Asap tipis memenuhi ruangan, menyesakkan dada.
"Habis," gumam Arya, melihat lembar terakhir menjadi hitam.
Kini, kamar itu bersih. Tidak ada bukti yang bisa menyeret teman-temannya jika polisi menggeledah setelah dia "mati".
Arya beralih ke mesin tik Remington-nya.
Ini adalah bagian tersulit. Dia harus menulis sesuatu yang akan ditemukan oleh polisi—atau oleh Mata Satu—sebagai bukti bahwa dia memang ada di Ancol malam itu. Sebuah pesan terakhir yang meyakinkan mereka bahwa dia putus asa atau terpojok.
Arya memasukkan kertas buram.
> UNTUK SIAPA SAJA YANG MENEMUKAN SURAT INI
> Jika kalian membaca ini, berarti saya sudah tidak ada.
> Saya lelah berlari. Kaki saya tidak kuat lagi menahan beban pengejaran ini.
> Laut adalah satu-satunya jalan keluar. Di sana tidak ada Marsose. Di sana tidak ada penjara.
> Jangan cari mayat saya. Biarkan ia menjadi santapan laut, menyatu dengan garam yang menghidupi nelayan.
> Merdeka atau Mati.
> Raden Mas Arya
> Batavia, 31 Desember 1930
>
Arya membaca surat itu. Terdengar melodramatis dan putus asa. Sempurna. Van Heutz akan menyukainya. Dia akan melipat surat ini dan menaruhnya di saku jas luarnya nanti—jas yang akan dia "tinggalkan" atau biarkan tersangkut di dermaga sebagai barang bukti.
Sekarang, giliran surat yang sebenarnya. Surat untuk satu-satunya orang yang tahu kebenarannya.
Arya mengganti kertas buram dengan kertas HVS putih bersih terakhirnya.
> Alina...
> Ini Arya.
> Si Mata Satu sudah ada di ujung gang. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi.
> Besok pagi-pagi buta, saya akan pergi ke gubuk nelayan di Tanjung Priok untuk bersembunyi sampai malam tahun baru.
>
29 Desember 2024. Pukul 23.00 WIB.
Apartemen Alina.
Alina membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Dia sudah menyiapkan tas siaga di dekat pintu, seolah-olah dia akan ikut berperang.
> Arya, rencananya sudah matang, kan?
> Kantong darah? Pakaian ganti di gubuk? Jalur arus?
>
> Sudah. Semuanya siap.
> Tapi Alina... ada satu masalah teknis yang baru saya sadari.
>
Alina mengerutkan kening.
> Apa?
>
> Mesin tik ini.
> Saya tidak bisa membawanya berenang di rawa Ancol. Benda ini beratnya 5 kilo. Saya akan tenggelam sungguhan kalau menggendongnya.
> Dan saya tidak mungkin membawanya ke gubuk persembunyian besok, karena terlalu mencolok. Mata Satu akan curiga kalau buronan yang "putus asa" malah repot-repot bawa mesin tik.
>
Darah Alina mendesir. Dia baru menyadari implikasinya.
> Jadi... kau akan meninggalkannya?
>
> Saya harus meninggalkannya di sini, di kamar kos ini.
> Setelah saya "mati", polisi pasti akan menyita barang-barang saya, termasuk mesin ini. Benda ini akan masuk gudang barang bukti PID.
> Lalu... seperti sejarah yang kau ceritakan... suatu hari kakek Van Heutz akan mencatatnya hilang, atau mungkin dijual di pelelangan, sampai akhirnya sampai ke tangan Babah Liong (secara administratif) dan akhirnya sampai ke museummu.
>
Alina menutup mulutnya. Air matanya mulai menggenang.
> Itu artinya...
> Setelah malam ini... kita tidak bisa bicara lagi?
>
Jawaban Arya muncul lambat.
> Benar.
> Malam ini adalah terakhir kalinya kita mengetik.
> Mulai besok pagi, saat saya melangkah keluar pintu... saya akan sendirian. Dan kau akan sendirian.
> Saya akan menjadi "hantu" tanpa suara.
>
Alina menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah Arya bisa melihatnya.
Tidak bicara lagi? Tidak ada sapaan selamat pagi? Tidak ada laporan cuaca Batavia? Tidak ada puisi rindu?
Alina akan kembali ke keheningan total. Dia hanya bisa menunggu dan menebak apakah Arya selamat atau mati dimakan buaya.
> Berapa lama, Arya?
> Berapa lama sampai kau bisa mengambil mesin tik ini lagi?
>
> Saya tidak tahu. Mungkin berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun.
> Sebagai orang yang sudah "mati", saya tidak bisa begitu saja datang ke kantor polisi minta barang saya kembali.
> Saya harus menunggu sampai mesin ini keluar dari gudang polisi. Mungkin saya harus mencurinya nanti, atau membelinya lewat perantara.
>
"Bertahun-tahun..." desis Alina. Hatinya hancur.
> Alina, jangan menangis.
> Mesin tik ini hanyalah alat. Hubungan kita lebih dari sekadar gerigi besi dan pita tinta.
> Ingat cincin di jarimu? Itu koneksi kita sekarang.
> Setiap kali kau rindu, lihat cincin itu. Saya juga akan melihat bulan yang sama.
>
Alina menyeka air matanya kasar. Dia tidak boleh lemah di perpisahan ini. Arya butuh kekuatan.
> Baik. Aku tidak akan menangis.
> Tapi berjanjilah satu hal, Raden Mas Arya.
> Berjanjilah kau akan bertahan hidup. Berjanjilah kau tidak akan mati konyol karena kram kaki atau dimakan biawak.
> Berjanjilah kita akan bertemu lagi di lembar kertas ini suatu hari nanti.
>
Arya tersenyum di kamar gelapnya.
> Saya berjanji.
> Dan Alina... terima kasih.
> Terima kasih sudah memberitahu saya bahwa Indonesia akan merdeka.
> Terima kasih sudah memberitahu saya bahwa Sarsinah akan bahagia.
> Terima kasih sudah mencintai buronan yang merepotkan ini.
>
> Aku mencintaimu, Arya. Dulu, sekarang, dan selamanya.
> Pergilah. Matahari sebentar lagi terbit. Jangan sampai Mata Satu melihatmu keluar.
>
Arya menarik napas panjang. Dia mengelus tombol-tombol mesin tik itu dengan penuh kasih sayang. Tombol 'A' yang sering macet. Tombol spasi yang miring.
Ini adalah perpisahan dengan sahabat terbaiknya.
> Selamat tinggal, Alina.
> Sampai jumpa di kehidupan kedua saya.
> Merdeka!
>
Arya menarik kertas terakhir itu. Melipatnya, dan memasukkannya ke saku celananya—bukan saku jas yang akan dia tinggalkan. Ini untuk dia simpan sendiri.
Dia membereskan mesin tik itu, menutupnya dengan casing kayunya, dan meletakkannya di tengah meja. Dia meninggalkan pesan untuk ibu kos di sebelahnya: "Maaf saya pergi mendadak. Mesin tik ini sebagai ganti uang sewa bulan depan."
(Arya tahu polisi akan menyitanya sebelum ibu kos sempat menjualnya, tapi setidaknya dia pamit).
Arya mengenakan kemeja yang sudah dijahitkan kantong darah di dalamnya. Dia memakai jas luarnya. Dia menyelipkan pistol FN Browning di pinggang kanan, dan surat wasiat palsu di saku jas kiri.
Dia mengintip lewat celah jendela. Si Mata Satu sedang lengah, menyalakan rokok baru.
Sekarang.
Arya membuka pintu belakang perlahan. Dia menyelinap keluar ke gang sempit yang becek, melangkah tanpa suara menjauhi kehidupan lamanya.
Dia tidak menoleh lagi.
Di tahun 2024, Alina menatap mesin tik yang kini diam membisu.
Dia menunggu satu menit. Lima menit. Satu jam.
Tidak ada gerakan. Tidak ada bunyi TAK.
Koneksi terputus.
Alina meraung menangis, memeluk mesin tik dingin itu. Dia merasa separuh jiwanya baru saja dicabut paksa.
Mulai detik ini, dia buta. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada tanggal 31 Desember nanti. Dia hanya bisa berdoa pada sejarah.
Dua Hari Kemudian.
31 Desember 2024. Pukul 23.30 WIB.
Apartemen Alina.
Malam pergantian tahun di Jakarta. Suara terompet dan petasan mulai terdengar bersahutan. TV menyiarkan hitung mundur di Bundaran HI.
Tapi apartemen Alina gelap gulita. Hanya diterangi cahaya lilin.
Alina duduk di lantai, memegang sebuah buku sejarah tua yang baru dia beli di pasar loak kemarin: "Kronik Kriminal Batavia 1930-1940".
Dia membukanya dengan tangan gemetar. Dia mencari entri tanggal 31 Desember 1930.
Jika rencananya berhasil, harusnya ada berita kematian.
Mata Alina menelusuri halaman yang bau apek itu.
> INSIDEN BERDARAH DI MUARA ANCOL
> Pada malam pergantian tahun, terjadi baku tembak di dermaga lama Muara Ancol. Saksi mata melaporkan melihat seorang pemuda pribumi dikejar oleh orang tak dikenal.
> Terdengar dua kali tembakan. Pemuda itu terlihat jatuh ke sungai yang sedang pasang tinggi. Air sungai dilaporkan berubah merah oleh darah.
> Polisi menemukan sebuah jas dan surat wasiat di lokasi atas nama R.M. Arya, seorang jurnalis.
> Pencarian dilakukan selama dua hari, namun mayat tidak ditemukan karena arus deras dan buaya.
> Kasus ditutup sebagai bunuh diri/kecelakaan.
>
Alina membaca paragraf itu berulang-ulang.
Jatuh ke sungai.
Air berubah merah.
Jas dan surat wasiat ditemukan.
Mayat tidak ditemukan.
"Berhasil," bisik Alina. Suaranya serak. "Kamu berhasil, Sayang."
Arya sukses memalsukan kematiannya. Sejarah mencatat dia mati. Van Heutz pasti puas melihat jas berdarah itu.
Tapi... apakah Arya benar-benar selamat setelah jatuh ke air?
Apakah dia berhasil berenang ke gubuk nelayan? Atau apakah dia kehabisan napas? Atau dimakan buaya sungguhan?
Buku sejarah tidak mencatat nasib orang yang selamat. Buku sejarah berhenti di "mayat tidak ditemukan".
Alina menatap cincin di jarinya.
"Kamu masih hidup, kan?" tanyanya pada kehampaan.
Tepat saat itu, di luar jendela, kembang api raksasa meledak di langit Jakarta, menandakan masuknya tahun 2025.
DUAR! DUAR!
Cahaya warna-warni menerangi wajah Alina yang basah oleh air mata.
Di dimensi lain, 94 tahun yang lalu, di langit yang sama, mungkin Arya juga sedang melihat kembang api Batavia dari balik persembunyiannya yang basah dan dingin.
Alina memejamkan mata.
"Selamat Tahun Baru, Arya. Selamat datang di hidup barumu."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera