NovelToon NovelToon
SURAT DARI BATAVIA

SURAT DARI BATAVIA

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
​Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
​Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Surat Wasiat

29 Desember 1930. Pukul 23.00 waktu Batavia.

Kamar Kos Gang Kenari.

Tiga hari berturut-turut, Arya melihat sosok itu.

Seorang pria bertubuh kekar dengan topi laken rendah, berdiri di warung rokok di ujung gang, merokok sambil menatap jendela kamar Arya dengan satu mata yang menyala.

Si Mata Satu.

Dia tidak menyerang. Dia hanya mengawasi. Seperti kucing yang mempermainkan tikus sebelum menerkam. Dia menunggu perintah eksekusi tanggal 31 Desember.

Arya menutup tirai jendelanya rapat-rapat. Dia tahu waktunya di kamar ini sudah habis.

Di tengah ruangan, sebuah kaleng biskuit besi (bukan yang disembunyikan di museum, tapi kaleng bekas kerupuk) difungsikan sebagai tempat pembakaran. Arya membakar tumpukan kertas: draf artikel, catatan rapat Jong Java, dan surat-surat dari kawan pergerakan.

Api menjilat kertas-kertas itu, mengubah rahasia menjadi abu. Asap tipis memenuhi ruangan, menyesakkan dada.

"Habis," gumam Arya, melihat lembar terakhir menjadi hitam.

Kini, kamar itu bersih. Tidak ada bukti yang bisa menyeret teman-temannya jika polisi menggeledah setelah dia "mati".

Arya beralih ke mesin tik Remington-nya.

Ini adalah bagian tersulit. Dia harus menulis sesuatu yang akan ditemukan oleh polisi—atau oleh Mata Satu—sebagai bukti bahwa dia memang ada di Ancol malam itu. Sebuah pesan terakhir yang meyakinkan mereka bahwa dia putus asa atau terpojok.

Arya memasukkan kertas buram.

> UNTUK SIAPA SAJA YANG MENEMUKAN SURAT INI

> Jika kalian membaca ini, berarti saya sudah tidak ada.

> Saya lelah berlari. Kaki saya tidak kuat lagi menahan beban pengejaran ini.

> Laut adalah satu-satunya jalan keluar. Di sana tidak ada Marsose. Di sana tidak ada penjara.

> Jangan cari mayat saya. Biarkan ia menjadi santapan laut, menyatu dengan garam yang menghidupi nelayan.

> Merdeka atau Mati.

> Raden Mas Arya

> Batavia, 31 Desember 1930

>

Arya membaca surat itu. Terdengar melodramatis dan putus asa. Sempurna. Van Heutz akan menyukainya. Dia akan melipat surat ini dan menaruhnya di saku jas luarnya nanti—jas yang akan dia "tinggalkan" atau biarkan tersangkut di dermaga sebagai barang bukti.

Sekarang, giliran surat yang sebenarnya. Surat untuk satu-satunya orang yang tahu kebenarannya.

Arya mengganti kertas buram dengan kertas HVS putih bersih terakhirnya.

> Alina...

> Ini Arya.

> Si Mata Satu sudah ada di ujung gang. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi.

> Besok pagi-pagi buta, saya akan pergi ke gubuk nelayan di Tanjung Priok untuk bersembunyi sampai malam tahun baru.

>

29 Desember 2024. Pukul 23.00 WIB.

Apartemen Alina.

Alina membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Dia sudah menyiapkan tas siaga di dekat pintu, seolah-olah dia akan ikut berperang.

> Arya, rencananya sudah matang, kan?

> Kantong darah? Pakaian ganti di gubuk? Jalur arus?

>

> Sudah. Semuanya siap.

> Tapi Alina... ada satu masalah teknis yang baru saya sadari.

>

Alina mengerutkan kening.

> Apa?

>

> Mesin tik ini.

> Saya tidak bisa membawanya berenang di rawa Ancol. Benda ini beratnya 5 kilo. Saya akan tenggelam sungguhan kalau menggendongnya.

> Dan saya tidak mungkin membawanya ke gubuk persembunyian besok, karena terlalu mencolok. Mata Satu akan curiga kalau buronan yang "putus asa" malah repot-repot bawa mesin tik.

>

Darah Alina mendesir. Dia baru menyadari implikasinya.

> Jadi... kau akan meninggalkannya?

>

> Saya harus meninggalkannya di sini, di kamar kos ini.

> Setelah saya "mati", polisi pasti akan menyita barang-barang saya, termasuk mesin ini. Benda ini akan masuk gudang barang bukti PID.

> Lalu... seperti sejarah yang kau ceritakan... suatu hari kakek Van Heutz akan mencatatnya hilang, atau mungkin dijual di pelelangan, sampai akhirnya sampai ke tangan Babah Liong (secara administratif) dan akhirnya sampai ke museummu.

>

Alina menutup mulutnya. Air matanya mulai menggenang.

> Itu artinya...

> Setelah malam ini... kita tidak bisa bicara lagi?

>

Jawaban Arya muncul lambat.

> Benar.

> Malam ini adalah terakhir kalinya kita mengetik.

> Mulai besok pagi, saat saya melangkah keluar pintu... saya akan sendirian. Dan kau akan sendirian.

> Saya akan menjadi "hantu" tanpa suara.

>

Alina menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah Arya bisa melihatnya.

Tidak bicara lagi? Tidak ada sapaan selamat pagi? Tidak ada laporan cuaca Batavia? Tidak ada puisi rindu?

Alina akan kembali ke keheningan total. Dia hanya bisa menunggu dan menebak apakah Arya selamat atau mati dimakan buaya.

> Berapa lama, Arya?

> Berapa lama sampai kau bisa mengambil mesin tik ini lagi?

>

> Saya tidak tahu. Mungkin berbulan-bulan. Mungkin bertahun-tahun.

> Sebagai orang yang sudah "mati", saya tidak bisa begitu saja datang ke kantor polisi minta barang saya kembali.

> Saya harus menunggu sampai mesin ini keluar dari gudang polisi. Mungkin saya harus mencurinya nanti, atau membelinya lewat perantara.

>

"Bertahun-tahun..." desis Alina. Hatinya hancur.

> Alina, jangan menangis.

> Mesin tik ini hanyalah alat. Hubungan kita lebih dari sekadar gerigi besi dan pita tinta.

> Ingat cincin di jarimu? Itu koneksi kita sekarang.

> Setiap kali kau rindu, lihat cincin itu. Saya juga akan melihat bulan yang sama.

>

Alina menyeka air matanya kasar. Dia tidak boleh lemah di perpisahan ini. Arya butuh kekuatan.

> Baik. Aku tidak akan menangis.

> Tapi berjanjilah satu hal, Raden Mas Arya.

> Berjanjilah kau akan bertahan hidup. Berjanjilah kau tidak akan mati konyol karena kram kaki atau dimakan biawak.

> Berjanjilah kita akan bertemu lagi di lembar kertas ini suatu hari nanti.

>

Arya tersenyum di kamar gelapnya.

> Saya berjanji.

> Dan Alina... terima kasih.

> Terima kasih sudah memberitahu saya bahwa Indonesia akan merdeka.

> Terima kasih sudah memberitahu saya bahwa Sarsinah akan bahagia.

> Terima kasih sudah mencintai buronan yang merepotkan ini.

>

> Aku mencintaimu, Arya. Dulu, sekarang, dan selamanya.

> Pergilah. Matahari sebentar lagi terbit. Jangan sampai Mata Satu melihatmu keluar.

>

Arya menarik napas panjang. Dia mengelus tombol-tombol mesin tik itu dengan penuh kasih sayang. Tombol 'A' yang sering macet. Tombol spasi yang miring.

Ini adalah perpisahan dengan sahabat terbaiknya.

> Selamat tinggal, Alina.

> Sampai jumpa di kehidupan kedua saya.

> Merdeka!

>

Arya menarik kertas terakhir itu. Melipatnya, dan memasukkannya ke saku celananya—bukan saku jas yang akan dia tinggalkan. Ini untuk dia simpan sendiri.

Dia membereskan mesin tik itu, menutupnya dengan casing kayunya, dan meletakkannya di tengah meja. Dia meninggalkan pesan untuk ibu kos di sebelahnya: "Maaf saya pergi mendadak. Mesin tik ini sebagai ganti uang sewa bulan depan."

(Arya tahu polisi akan menyitanya sebelum ibu kos sempat menjualnya, tapi setidaknya dia pamit).

Arya mengenakan kemeja yang sudah dijahitkan kantong darah di dalamnya. Dia memakai jas luarnya. Dia menyelipkan pistol FN Browning di pinggang kanan, dan surat wasiat palsu di saku jas kiri.

Dia mengintip lewat celah jendela. Si Mata Satu sedang lengah, menyalakan rokok baru.

Sekarang.

Arya membuka pintu belakang perlahan. Dia menyelinap keluar ke gang sempit yang becek, melangkah tanpa suara menjauhi kehidupan lamanya.

Dia tidak menoleh lagi.

Di tahun 2024, Alina menatap mesin tik yang kini diam membisu.

Dia menunggu satu menit. Lima menit. Satu jam.

Tidak ada gerakan. Tidak ada bunyi TAK.

Koneksi terputus.

Alina meraung menangis, memeluk mesin tik dingin itu. Dia merasa separuh jiwanya baru saja dicabut paksa.

Mulai detik ini, dia buta. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi pada tanggal 31 Desember nanti. Dia hanya bisa berdoa pada sejarah.

Dua Hari Kemudian.

31 Desember 2024. Pukul 23.30 WIB.

Apartemen Alina.

Malam pergantian tahun di Jakarta. Suara terompet dan petasan mulai terdengar bersahutan. TV menyiarkan hitung mundur di Bundaran HI.

Tapi apartemen Alina gelap gulita. Hanya diterangi cahaya lilin.

Alina duduk di lantai, memegang sebuah buku sejarah tua yang baru dia beli di pasar loak kemarin: "Kronik Kriminal Batavia 1930-1940".

Dia membukanya dengan tangan gemetar. Dia mencari entri tanggal 31 Desember 1930.

Jika rencananya berhasil, harusnya ada berita kematian.

Mata Alina menelusuri halaman yang bau apek itu.

> INSIDEN BERDARAH DI MUARA ANCOL

> Pada malam pergantian tahun, terjadi baku tembak di dermaga lama Muara Ancol. Saksi mata melaporkan melihat seorang pemuda pribumi dikejar oleh orang tak dikenal.

> Terdengar dua kali tembakan. Pemuda itu terlihat jatuh ke sungai yang sedang pasang tinggi. Air sungai dilaporkan berubah merah oleh darah.

> Polisi menemukan sebuah jas dan surat wasiat di lokasi atas nama R.M. Arya, seorang jurnalis.

> Pencarian dilakukan selama dua hari, namun mayat tidak ditemukan karena arus deras dan buaya.

> Kasus ditutup sebagai bunuh diri/kecelakaan.

>

Alina membaca paragraf itu berulang-ulang.

Jatuh ke sungai.

Air berubah merah.

Jas dan surat wasiat ditemukan.

Mayat tidak ditemukan.

"Berhasil," bisik Alina. Suaranya serak. "Kamu berhasil, Sayang."

Arya sukses memalsukan kematiannya. Sejarah mencatat dia mati. Van Heutz pasti puas melihat jas berdarah itu.

Tapi... apakah Arya benar-benar selamat setelah jatuh ke air?

Apakah dia berhasil berenang ke gubuk nelayan? Atau apakah dia kehabisan napas? Atau dimakan buaya sungguhan?

Buku sejarah tidak mencatat nasib orang yang selamat. Buku sejarah berhenti di "mayat tidak ditemukan".

Alina menatap cincin di jarinya.

"Kamu masih hidup, kan?" tanyanya pada kehampaan.

Tepat saat itu, di luar jendela, kembang api raksasa meledak di langit Jakarta, menandakan masuknya tahun 2025.

DUAR! DUAR!

Cahaya warna-warni menerangi wajah Alina yang basah oleh air mata.

Di dimensi lain, 94 tahun yang lalu, di langit yang sama, mungkin Arya juga sedang melihat kembang api Batavia dari balik persembunyiannya yang basah dan dingin.

Alina memejamkan mata.

"Selamat Tahun Baru, Arya. Selamat datang di hidup barumu."

...****************...

...Bersambung......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
tintakering
Kisah yang menarik. Mendebarkan dan cukup tegang👍
Anis Safitri
karya yg bagus beda dgn yg lain semangat buat author 💪😍
A'arisy🪻
Baru kali ini aku merinding sekujur badan selama baca cerita ini. pokok nya semangat terus buat author nya💪💪
Riana Zahrah
kurang puas sama ending nya, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya keputusan yg arya buat. Terima kasih untuk author karena dgn cerita ini hidup saya jadi bersejarah, hidup baik" ya author
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
yahh kok tamat sih, endingnya sad but happy. seenggaknya Alina dicintai pejuang klo kata Arya. semangat kak Tant, ditunggu karya selanjutnya 💪
tanty rahayu: makasih ka support nya
total 1 replies
R0220
huhu😢, thor cerita mu membuat ku menangis 🥹, ending yang bahagia tetapi sedih, terus kn membuat novel yang menarik Thor, semangat!! 🥹👍🏻
tanty rahayu: happy nya aku.... 😍 terima kasih ya ka support nya 😍
total 1 replies
R0220
terus kn membuat novel yang menarik , semangat!! 🥹👍🏻
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Akhir yang sempurna untuk Arya dan tak lupa memberi wasiat cinta untuk Alina.
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.


terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
tanty rahayu: makasih banyak kaka buat semua support nya😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
mantap ya Alina
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
beneran matii ya Van hurst
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Giliran kita hai nona masa depan ,mari kita bantai hendrik van de vries.
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
semoga keduanya selamat
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.

selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.

aamiin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
waduh perang terbuka Arya vs Vanshurt
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Dendam lama kembali berkobar
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wahh ketemu lagi sama musuhh bebuyutan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tunjungan Surabaya adalah yang sekarang jadi tempat doiku cari udara segar 😄
tanty rahayu: aku ke Surabaya cuma sekali itu pun karena temen ku nikah, gak sempet jalan"
total 3 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Merinding sekaligus menetes air mata ku thor, terbayang betapa berat perjuangan penduduk Indonesia,yang tanpa pamrih memberikan segala daya upaya,jiwa raga dan materi demi tercapai nya kemerdekaan yang sekarang sudah kita nikmati hasilnya.

suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.

semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡: sami2 thor,
jujur saja aku sangat suka novel ini,ada daya magnet tertentu yang menautkan hati
ketika mendengar lagu INDONESIA RAYA hati penuh haru ,airmata merebak, seperti merasakan kilasan peristiwa perjuangan rakyat Indonesia
penuh darah ,keringat dan air mata.


alfatihah untuk semua pejuang baik yang tertulis namanya maupun yang tidak dikenali
semoga surga menjadi balasan atas semua jasa2 nya.


merdeka 💪
total 2 replies
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ahh, ...aku telah mengikhlaskannya, tapi takdir berkata lain.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
terharu, definisi jodoh gai kemana untuk kali ini ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
bener ya pura-pura matii untuk kedua kalinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!