Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pagi yang Berbeda
Sinta masih berdiri di area dapur, tangannya memegang erat kain lap bersih, namun matanya terus tertuju ke arah tangga tempat Colette baru saja menghilang. Senyum kecil tak lepas dari bibirnya yang pucat. Baginya, melihat Colette bangun sepagi ini dan memiliki nafsu makan adalah sebuah mukjizat kecil yang selama bertahun-tahun ia doakan.
Setiap denting piring yang diletakkan Colette tadi terasa seperti melodi indah di telinga Sinta. Ia tak henti-hentinya bergumam syukur dalam hati, seolah beban berat yang menghimpit pundaknya selama bertahun-tahun perlahan terangkat.
"Ibu? Kenapa wajah Ibu seperti baru saja memenangkan lotre?"
Sebuah suara serak khas orang bangun tidur memecah keheningan. Aris muncul dari arah lorong kamar bawah, berjalan gontai sambil menguap panjang. Rambutnya berantakan, dan matanya masih menyipit karena silau lampu dapur.
Aris menghentikan langkahnya, menatap heran pada ibunya yang tampak begitu berseri-seri di jam yang bahkan matahari pun belum bangun sepenuhnya.
"Aris, kau tidak akan percaya," bisik Sinta dengan nada antusias yang tertahan. "Kakakmu... Colette. Dia bangun sendiri, dia memasak daging, dia minum susu. Dia bahkan... dia tampak begitu tenang."
Aris yang tadinya masih setengah sadar, seketika membuka matanya lebar-lebar. Ia menoleh ke arah meja makan, melihat sisa aroma daging panggang yang masih tertinggal di udara. "Kak Colette?
Aris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebagai adik yang selalu melihat kakaknya mengurung diri dan hanya berani keluar saat rumah sepi, berita ini tentu saja sangat janggal. Ia tahu betul trauma kakaknya bukan perkara sepele-itu adalah luka dalam yang membuat Colette seolah "mati" sebelum waktunya.
Aris berdiri di ambang pintu dapur, mengamati ibunya yang tampak jauh lebih hidup pagi ini. Meskipun matanya masih terasa berat dan nyawanya belum terkumpul sepenuhnya, ia bisa merasakan atmosfir rumah yang biasanya mendung dan berat, kini terasa sedikit lebih ringan.
Ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam jiwa Colette-bagaimana traumanya bertarung dengan keberanian baru, atau tentang sosok misterius yang berdiri di bawah pohon tadi. Namun, melihat piring kotor di wastafel dan bau sisa panggangan daging, Aris menyunggingkan senyum lebar.
"Syukurlah kalau begitu, Bu," gumam Aris pelan. "Setidaknya dia tidak melewatkan sarapannya lagi."
Senyum Aris adalah campuran antara kelegaan dan harapan.
Sebagai adik, ia sudah terlalu lama melihat kakaknya hidup seperti hantu di rumah sendiri. Perubahan sekecil apa pun seperti bangun pagi dan menyentuh kompor-adalah sebuah kemenangan besar bagi keluarga mereka.
Dapur yang biasanya terasa sunyi dan dingin, pagi ini seolah dipenuhi oleh cahaya yang hangat. Sinta tidak bisa menahan binar di matanya; senyumnya terus mengembang, tipe senyum yang tulus hingga membuat kerutan di sudut matanya terlihat jelas. Bagi seorang ibu yang telah bertahun-tahun melihat putrinya hidup dalam bayang-bayang ketakutan, momen sesederhana melihat piring kotor bekas masakan Colette adalah sebuah kemenangan besar.
Ia terus menyeka meja makan dengan gerakan ringan, sesekali bersenandung kecil. Sinta merasa seolah doa-doanya yang ia panjatkan di setiap sujud malam mulai terjawab satu demi satu.
"Ibu senang sekali ya?" goda Aris sambil mengambil gelas untuk minum, ikut tertular suasana hati ibunya yang cerah.
"Sangat, Aris. Sangat senang," jawab Sinta dengan nada suara yang bergetar karena haru. "Rasanya seperti melihat bunga yang layu tiba-tiba mendapatkan air lagi. Ibu harap... ini adalah awal yang baik untuk kakakmu."