NovelToon NovelToon
Pengelana: Batas Negeri

Pengelana: Batas Negeri

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Action
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Ashp

Semoga kalian suka ya.

Di dunia ini dihuni lima ras: manusia, elf, dark elf, beast, dan demon, lalu ada kekuatan "Aliran Alam" yang mengatur api, air, tanah, dan angin mulai terganggu drastis. seorang pemuda dari desa kecil yang bisa melihat jejak kekuatan tersembunyi ini terpaksa keluar dari rumahnya menuju Hutan Awan Gelap, tempat yang dilarang masuk oleh semua ras, menyebarkan kekuatan gelap yang merusak alam sekitar dan memicu konflik antar ras.

Bersama seorang elf yang melarikan diri dari tugasnya, seorang beast muda yang hilang ingatan, serta ditemani oleh seorang dark elf penyelidik dan seorang demon yang mencari kebenaran tentang masa lalunya, ia menjadi pengelana dalam perjalanan panjang menuju hutan terlarang.

Mereka harus bekerja sama melewati berbagai rintangan dari berbagai pihak yang punya kepentingan sendiri, untuk menghentikan bahaya yang mengancam seluruh dunia dan mengungkap rahasia lama tentang hubungan kelima ras yang selama ini disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal

Di sudut desa kecil Candra, rerumputan yang biasanya hijau segar kini hanya tinggal reruntuhan coklat kering.

Udara yang menyengat membuat setiap napas terasa berat, sementara bayangan besar Awan Gelap menghalangi sinar matahari selama tiga hari berturut-turut.

Liam duduk di balik rumah kosong miliknya, mata menyipit melihat jejak-jejak energi yang hanya dia bisa lihat – benang-benang tipis berwarna kehitaman yang menyebar seperti jaringan, menjepit setiap tanaman dan hewan yang ada di desa.

Kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi semenjak awan pertama kali menghampiri desa dua minggu yang lalu.

"Dia lagi diam-diam di situ ya?" suara wanita tua dari penjuru membuat Liam terkejut.

Ia melihat nenek Siti berdiri dengan tongkat kayu, matanya penuh kesusahan. "Kita sudah berusaha segalanya, tapi keadaan cuma semakin parah."

Liam tidak menjawab seperti biasa, ia lebih suka diam dan bertindak ketimbang bicara.

Saat malam tiba dan warga mulai beristirahat, ia keluar dengan hati-hati, menginjak tanah yang sudah mengering parah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia fokus pada jejak energi gelap di sekelilingnya.

Skill pertama – melihat dan menstabilkan Aliran Alam.

Benang-benang hitam mulai bergerak perlahan mengikuti gerakan jarinya, seperti arus sungai yang mulai ditempatkan pada jalurnya yang benar.

Tanaman yang sudah layu mulai sedikit kembali segar, udara pun terasa lebih segar. Saat matahari mulai muncul di ufuk timur, Awan Gelap perlahan mulai mundur dari desa.

Keadaan membaik sedikit, tapi Liam tahu ini hanya sementara. Ia melihat bayangan awan yang mulai berpindah ke arah utara – menuju peradaban lain.

Malam itu, Liam menyusun barang-barangnya ke dalam tas kecil: beberapa potong roti gandum kering, sebilah pedang biasa yang dulu milik ayahnya, dan kain lap untuk membersihkan pedang.

Ia memutuskan untuk pergi – bukan hanya untuk mencari cara menghentikan awan, tapi juga untuk tidak membuat warga desa semakin curiga dengan kemampuannya yang tidak bisa dijelaskan.

"Sialan... dari mana datangnya makhluk ini?"

Suara keras membuat Liam berhenti di tepi hutan pinggiran desa. Ia melihat sosok berbadan besar dengan telinga runcing dan bulu belang hitam-oren – seorang Beast yang sedang dikejar oleh tiga makhluk aneh yang tubuhnya tertutup warna kehitaman pekat.

Beast itu sudah terluka di lengan kanan, gerakannya makin lambat. Tanpa pikir panjang, Liam berlari cepat ke arah mereka.

Saat salah satu makhluk hendak menyerang dari belakang, ia menarik pedangnya dan memotong jejak energi gelap yang mengendalikan makhluk itu.

Skill kedua – menyerap Aliran Alam sekitar.

Ia menyentuh tanah yang keras, menarik energi elemen tanah untuk membentuk perisai tipis di depannya. "Ke sana!" teriak Liam pada Beast itu, menunjuk arah semak yang lebat.

Setelah berhasil mengusir makhluk-makhluk itu, Liam mendekati Beast yang sedang tersandung di bawah pohon. "Kamu baik-baik saja?"

Beast itu mengangkat wajahnya – mata besar berwarna emasnya penuh waspada, tapi juga ada rasa lega. "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa melawan mereka?"

"Namaku Liam. Kamu?"

"...Naomi." Suaranya lemah. "Aku... aku tidak ingat dari mana aku datang atau kenapa aku ada di sini."

Liam melihat jejak energi gelap yang masih menempel di tubuh Naomi. Ia tahu jika dibiarkan, makhluk itu akan terus dikejar.

Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tasnya. "Kalau kamu tidak punya tempat untuk pergi... ayo ikut aku."

Naomi melihat wajah Liam yang tenang tapi penuh tekad. Meskipun masih waspada, ia mengangguk perlahan. "Baik... terima kasih."

Sebelum fajar mulai menyingsing, kedua mereka mulai melangkah menjauh dari desa Candra.

Jalannya panjang menuju utara masih terbentang luas di depan mata – mereka belum akan bertemu dengan siapapun lagi dalam waktu yang lama.

Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di antara rerumputan tinggi, dengan tujuan yang sama: mencari jawaban tentang Awan Gelap yang telah menghancurkan kehidupan mereka.

–Perjalanan Jalur–

Setelah dua hari berjalan menyusuri jalur yang jarang ditempuh, Liam dan Naomi tiba di perbatasan Hutan Lembah Suara.

Kawasan yang dikenal sebagai tempat di mana alam semesta berbicara melalui hembusan angin dan getaran tanah.

Udara di sini jauh lebih segar dibanding desa Candra, namun suasana yang misterius membuat kedua mereka semakin waspada.

Naomi yang masih dalam proses penyembuhan mulai berjalan lebih lambat. Tubuhnya yang berwarna belang hitam-oren terkadang mengeluarkan kilatan energi emas yang samar, seiring dengan detak jantungnya.

"Aku merasa ada sesuatu yang mengikut kita," ucapnya dengan suara rendah, telinga runcingnya bergerak mengikuti setiap suara di sekitar," ucap Naomi.

Liam mengangguk perlahan. Ia juga merasakan getaran energi yang berbeda – bukan seperti yang ia temui di desa, melainkan lebih hangat dan penuh makna.

Saat mereka memasuki dalam hutan, pepohonan yang tinggi menjulang ke langit mulai menunjukkan pola-pola unik pada kulit batangnya, seperti tulisan kuno yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang memahami bahasa alam.

Skill ketiga – membaca Pesan Alam.

Liam menyentuh kulit pohon yang paling besar di sekitarnya.

Benang-benang energi terang mulai muncul di depannya, membentuk gambar-gambar tentang masa lalu hutan ini.

'bagaimana Awan Gelap pernah menyambar kawasan ini juga, dan bagaimana alam semesta di sini berusaha memperbaiki diri dengan sendirinya.'

"Kita harus berhati-hati," kata Liam kepada Naomi. "Hutan ini sedang menguji kita."

Tidak lama kemudian, jalan yang mereka tempuh tiba-tiba terputus oleh jurang yang dalam.

Di seberang jurang, sebuah jembatan kayu tua yang tergantung di antara dua pohon besar tampak goyah. Angin mulai bertiup kencang, membawa suara bisikan yang sulit dipahami.

Naomi menunjukkan cakarnya yang tajam. "Aku bisa melompat ke sana," ucapnya. "Tapi kamu?"

Liam melihat ke bawah jurang yang dalam, kemudian kembali ke jembatan. Ia merasakan energi tanah yang terkonsentrasi di sekitar pijakan jembatan.

Dengan hati-hati, ia menginjakkan kaki pertama ke atas kayu yang sudah lapuk. "Jembatan ini masih kuat," katanya dengan yakin. "Tapi kita harus berjalan bersama – energi kita perlu saling menyeimbangkan."

Keduanya berjalan perlahan di atas jembatan, tangan masing-masing siap untuk menangkal bahaya jika ada sesuatu yang terjadi.

Saat mereka mencapai tengah jembatan, kayu mulai mengeluarkan suara retakan. Tapi bukan karena jembatan akan roboh – sebaliknya, pola-pola pada kulit pohon mulai bersinar terang, membentuk sebuah portal kecil di ujung jembatan.

"Sepertinya hutan menerima kita," gumam Naomi, mata emasnya terpaku pada portal yang bersinar lembut.

Liam menghela nafas lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!