NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 14

Seseorang mencoba membangkitkan dan mengendalikan roh-roh mereka. Dan itu hanya bisa di lakukan dengan perjanjian iblis.

Saat aku menyadari tentang sosok nama itu, satu wajah terlintas dalam benakku. Aku mengira aku tidak akan pernah tertipu oleh penampilan yang seperti itu. Siapa sangka, dengan begitu bodohnya aku mengasihani orang yang bahkan rela menyerahkan dirinya kepada iblis.

Aku berlari kesana kemari memeriksa setiap ruang yang ada di sekolah. Sudah hampir 1 jam. Dan sudah hampir setengah area sekolah aku mencari. Namun aku belum menemukannya.

"Pasti ada satu tempat yang tidak di ketahui siapa pun disini."

Tuan Josep yang sedari tadi mengikutiku mendengar gumamanku.

"Gudang... Gudang bawah tanah."

Ucap Tuan Josep dengan napas tersengal-sengal.

Darah diwajahku mulai mengering. Namun aku tidak memperdulikan hal itu dan terus berlari. Lelahnya tubuhku sebelumnya seperti tidak terasa sama sekali. Saat ini aku telah sampai di depan pintu gudang bawah tanah. Area gudang begitu lembab dan gelap. Hanya sedikit cahaya yang dapat menembus area ini. Aku melihat aura hitam pekat yang keluar dari pintu gudang.

"Kau datang juga."

Bisikan itu terdengar di telingaku. Telingaku berdenging. Spontan aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Cairan merah mengalir keluar dari telingaku. Dengan segera aku menendang pintu itu. Aku melihat wanita itu berdiri membelakangiku dengan tangan yang berdarah-darah. Ada simbol besar yang dibuat di lantai. Lilin-lilin yang mengelilingi simbol itu sebagian padam. Dan kepala kambing di letakan tepat ditengah simbol itu bersama dirinya. Dia hendak mengorbankan dirinya pada iblis. Pengorbanan terakhirnya.

Aku menutup mulutku. Ini adalah kejadian mengerikan pertama kali yang ku lihat selama aku hidup. Aku hanya pernah melihat hal ini di gambar yang ada di buku peninggalan ibuku. Aku benar-benar tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi di hadapanku. Ketika Tuan Josep datang, dia pun sama terkejutnya denganku.

Wanita itu membalikkan badannya. Sosok yang tidak asing. Aku pernah bertemu dengannya.

"Hahaha."

Tawa yang mengerikan keluar dari mulutnya. Sepertinya itu bukan dia.

"Jadi kau?!"

Wanita itu tersenyum mengerikan. Dia membuang kacamata yang di kenakannya. Wanita culun yang ku temui di toilet kala itu.

"Aku sudah menduganya. Cahaya yang keluar dari tubuhmu itu..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

"Sadarlah, Sela! Apa yang sudah kau lakukan!!"

Aku benar-benar marah. Kebajikan yang ku kumpulkan selama 16 tahun hidupku habis hanya karena wanita berpenampilan cupu ini.

"Aku sudah hampir berhasil, tapi kamu menggagalkan semua pembalasanku!"

Wanita itu memegangi kepalanya dan mulai merasa kesakitan. Suaranya bercampur dengan iblis itu.

"Kau gila Sela!"

"Ya! Kau benar! Aku memang sudah gila! Aku gila karena kehilangan kakakku! Satu-satunya orang yang tersisa dalam hidupku! Orang yang paling berarti bagiku!"

Air matanya kini mengalir deras dari kedua matanya.

"Pak Josep, bawakan tasku kemari."

Pintaku sambil mencoba mengulur waktu.

"Cepat! Aku membutuhkan barang yang ada di dalam tasku untuk mengeluarkan iblis pada tubuhnya!!"

Pak Josep berlari mengambil apa yang kusuruh.

"Mengapa kau melakukan ini Sela?"

Wanita itu tersenyum pahit.

"Kakakku begitu menderita. Tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuknya. Bahkan pimpinan sekolah sebelumnya tidak pernah perduli dengan apa yang terjadi. Guru lainnya juga hanya menutup mata. Mereka bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Setiap harinya kakakku pulang dalam keadaan terluka. Badannya penuh dengan memar. Aku bertanya, tapi dia selalu mengatakan "Tidak apa-apa." Tetapi aku yakin dengan pasti sesuatu telah terjadi padanya. Aku hanya bisa menunggu dan terus bertanya berharap kakakku mengatakan yang sebenarnya. Sampai akhirnya dia meninggal tepat di depanku."

...----------------...

Point of view Sela

Kala itu, dua tahun yang lalu. saat aku masih berusia 14 tahun. Aku hendak mencari kakakku di sekolah. Saat itu jam 5 sore. Kakak tak kunjung pulang juga. Aku cemas dan akhirnya aku memutuskan mendatangi sekolah. Aku menerobos masuk saat satpam lengah. Namun saat aku di depan kelas kakakku, dia tidak ada. Aku mencarinya seperti orang gila. Aku melihat gedung olahraga yang pintunya masih terbuka. Aku masuk mencoba mencari di area itu sampai ke tangga yang mengarah ke atap gedung olahraga.

"Kau anjing sialan! Kau tidak tahu siapa aku?! Beraninya kau mencoba bersaing denganku?!"

"Aku, aku tidak bermaksud seperti itu."

Aku mendengar suara teriakan wanita. Dan suara lainnya adalah suara yang tidak asing bagiku. Aku mengikuti asal suara itu. Aku melihat kakakku tengah di rundung murid lain.

"Kau harusnya sadar! Kau hanya perempuan miskin! Kau langsung besar kepala ya setelah di pinjami barang milik Mark!"

Wanita jahat itu mengambil paksa kertas yang ada di tangan kakakku. Ia membacanya dengan lantang.

"Aku menyukaimu, Mark."

Saat aku bersembunyi, aku ketahuan oleh teman wanita jahat itu yang datang dari arah belakang.

"Ada tikus yang bersembunyi di balik pintu Yura."

Mereka melempar tubuhku ke hadapan wanita jahat itu.

"Datang lagi satu wanita miskin."

Kakakku berlari ke kaki wanita jahat itu.

"Aku mohon, jangan sakiti adikku."

Wanita jahat itu menghempaskan lengan kakakku yang melingkar di kakinya. Ia menghampiriku dan menjambak rambutku. Aku meringis kesakitan.

"Sela!"

"Anak yatim piatu sialan! Berani kau menguping di balik pintu itu?!"

"Aku mohon, lepaskan adikku. Aku akan melakukan apa saja. Aku mohon."

Kakakku memohon dengan menyedihkan.

"Kakak. Jangan pedulikan aku. Lari kak. Lari."

Wanita jahat itu menyumpal mulutku dengan kertas yang direbutnya tadi dari kakakku.

"Aku akan melepaskan adikmu. Dengan satu syarat."

"Aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya."

"Kau harus melompat dari gedung ini."

Kakakku melihat diriku yang meronta-ronta dengan matanya yang menyedihkan. Badannya penuh luka. Wajahnya penuh darah. Sayatan jelas terlihat membentang dari ujung telinga kanan melewati mulutnya hingga telinga kirinya. Wanita jahat itu begitu kejam. Tanpa berpikir panjang, kakakku berlari dengan kecepatan penuh ke arah ujung gedung olahraga itu.

"Yura, ini tidak benar."

Murid lain yang membantunya ketakutan.

"Aku akan membereskan sisanya. Lagi pula ia bunuh diri."

Ucap wanita gila itu.

Tepat di depan mataku, kakakku melompat dari gedung itu. Murid lain gemetar. Namun wanita jahat itu hanya tertawa senang. Ia mengeluarkan ponselnya.

"Ayah. Ada yang bunuh diri di sekolah. Tolong bereskan."

Wanita jahat itu kemudian mengakhiri panggilannya. Ia menatapku.

"Bawa dia keluar."

Tak lama setelah itu aku tidak sadarkan diri dan terbangun di dekat gerbang sekolah itu.

Suara sirine ambulance dan mobil polisi terdengar saat pertama kali aku bangun. Sekolah nampak sudah ramai. Saat kesadaranku kembali, aku ingat kejadian di atap gedung olahraga itu. Aku berlari masuk ke sekolah. Dan saat sampai di area gedung olahraga, garis polisi sudah terpasang di area itu. Mataku terbelalak saat aku melihat kakakku sudah terkapar tak bernyawa penuh darah di sekujur tubuhnya dan darahnya memenuhi lantai tempat kakakku berada, di depan pintu gedung olahraga itu.

Aku berlari menghampiri kakakku. Namun polisi menahanku. Aku mencoba memberontak. Tapi tubuh kecilku tidak bisa menandingi kekuatan para polisi itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Dari jauh aku melihat wanita jahat itu tertawa tanpa ada rasa bersalah di wajahnya.

"Ayok balas dendam."

Bisikan itu terdengar di telingaku. Aku menoleh kesana kemari mencari siapa yang mengatakan itu. Tapi tidak ada siapapun selain orang yang sibuk mengurus mayat kakakku.

Keesokan paginya, aku berdiri di depan gerbang sembari membawa spanduk meminta keadilan untuk kakakku. Tapi aku malah di usir. Di dorong. Bahkan di katai wanita gila. Aku tidak terima kematian kakakku hanya di tutup sebagai kasus bunuh diri. Jelas-jelas aku melihatnya. Aku yakin ada sidik jari wanita jahat itu di tubuh kakakku. Sebelum semua itu terjadi, aku sebagai keluarganya bahkan tidak di perbolehkan melihat mayat kakakku untuk terakhir kalinya. Hanya abu jenazah nya yang akhirnya sampai di tanganku.

Dan keesokan harinya. Aku melihat mobil mewah terpakir di depan rumah bibiku. Seorang lelaki bersetelan jas mahal mengeluarkan koper berisi uang.

"Satu milyar. Kompensasi kematian."

Anehnya yang datang itu bukanlah pihak sekolah. Saat pria itu pergi, aku melihat kartu nama yang tertinggal di atas meja. Direktur Jang. Nama itu tertulis di atas kartu itu. Orang terkaya ke 2 di negara P.

Aku meremas kartu itu di depan bibiku yang sangat senang sambil memeluk koper berisi uang. Air mataku menetes. Mataku memerah karena menahan amarah. Dendam ini harus ku balaskan.

"Bagus."

Bisikan itu datang lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!