Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Spasi dan Langkah yang Tak Lagi Ragu
Pagi di toko bunga "The Second Bloom" kali ini bener-bener riuh. Bukan karena ada drama atau orang marah-marah, tapi karena stok bunga matahari dan mawar yang baru datang jumlahnya dua kali lipat dari biasanya. Sheilla, dengan kaos oblong warna lilac yang lengannya digulung sampai siku, sibuk banget pindahkan ember-ember air. Keringat tipis nangkring di pelipisnya, tapi mukanya nggak kelihatan capek. Ada semacam kepuasan aneh pas tangan kita kotor kena tanah atau basah kena air bunga.
"Mbak Sheil, ini ditaruh di rak pojok atau di depan aja?" tanya Maya, salah satu karyawan barunya yang juga jebakan dari yayasan Bu Handayani. Maya ini dulunya pendiam banget, tapi sekarang mulai berani nanya dan sesekali bercanda.
"Taruh depan aja, May. Biar orang yang lewat langsung seger matanya," jawab Sheilla sambil ngelap tangan ke celemeknya.
Baru aja mau narik napas, suara motor matic yang udah hafal banget di telinga berhenti di depan toko. Adrian turun sambil nenteng kardus besar yang isinya bibit bunga matahari pesanan Sheilla.
"Pesanan datang, Nyonya Bos!" seru Adrian sambil nyengir lebar. Dia nggak pakai baju rapi kayak mau ngajar, cuma pakai kemeja flanel dibuka kancingnya dan kaos putih di dalem. Khas cowok rumahan yang nggak neko-neko.
--
Setelah barang-barang beres, Adrian nggak langsung pulang. Dia emang paling pinter nyari celah buat 'nongkrong' sebentar. Dia narik kursi plastik, duduk di deket meja kasir tempat Sheilla lagi nyatet pengeluaran.
"Gimana pertemuan sama sepupunya Ardhito kemarin? Masih kepikiran?" tanya Adrian. Nadanya santai, nggak ada nada interogasi apalagi cemburu buta. Adrian tipe yang kalau nanya, ya emang beneran pengen tahu keadaan mental Sheilla.
Sheilla berhenti nulis. Dia nyandar ke kursi, natap langit-langit toko. "Lucu ya, Yan. Selama delapan tahun aku pikir aku ini cuma 'kecelakaan' di hidup Ardhito. Ternyata aku ini 'pilihan pengecut' dia. Kebenaran itu kayak obat pahit, Yan. Awalnya bikin mual, tapi pas udah ditelen, malah bikin badan enteng."
Adrian manggut-manggut. "Ego itu emang ngeri, Sheil. Banyak orang milih nyakitin orang lain daripada harus ngaku kalau mereka lemah atau butuh. Ardhito mungkin belum selesai sama dirinya sendiri."
"Mungkin," jawab Sheilla pendek. "Tapi yang penting, aku udah selesai sama dia. Rasanya aneh, tapi lega. Kayak abis ngerjain soal ujian yang susah banget selama bertahun-tahun, terus pas dikumpulin, aku nggak peduli nilainya berapa. Yang penting udah selesai."
Adrian ketawa kecil. "Nilainya A plus, Sheil. Buktinya kamu sekarang bisa duduk di sini tanpa harus gemeteran lagi."
--
Lagi asyik ngobrol, tiba-tiba hujan turun. Bukan gerimis cantik, tapi hujan deres yang tiba-tiba banget. Suara air yang nabrak atap seng di belakang toko bikin suasana jadi agak syahdu. Maya udah pamit pulang duluan lewat pintu belakang karena rumahnya deket. Tinggallah Sheilla sama Adrian di tengah aroma bunga-bunga yang kena udara lembap.
"Yah, terjebak deh," gumam Adrian. Dia berdiri, jalan ke arah pintu kaca, ngelihat air yang mengguyur jalanan.
Sheilla ikut berdiri, berdiri di samping Adrian. Jarak mereka deket, tapi nggak ada rasa risih. "Mau aku buatin teh? Atau kopi?"
"Teh aja, biar anget," jawab Adrian.
Pas Sheilla mau balik badan ke dapur kecil di belakang, tangannya nggak sengaja nyenggol tangan Adrian. Dan kali ini, Adrian nggak langsung tarik tangan. Dia pelan-pelan menangkup tangan Sheilla.
"Sheil," panggilnya lembut.
Sheilla mandeg. Jantungnya tiba-tiba marathon. Ini beda sama deg-degannya pas Ardhito dulu mau marah. Ini deg-degan yang bikin perut kayak ada kupu-kupu berterbangan.
"Aku tahu kita udah sepakat buat jalan pelan-pelan. Dan aku nggak akan maksa kamu buat lari," Adrian natap mata Sheilla dalem banget. "Tapi aku cuma mau kamu tahu, spasi yang kamu butuhin itu, aku nggak keberatan buat jagain. Aku nggak akan masuk tanpa izin kamu, tapi aku juga nggak akan jauh-jauh."
Sheilla ngerasa ada kehangatan yang menjalar dari tangan Adrian. Dia nggak tarik tangannya. Untuk pertama kalinya, dia ngerasa aman dipegang sama cowok. Nggak ada tekanan, nggak ada rasa ingin menguasai. Cuma ada dua orang yang saling menghargai.
"Makasih, Yan. Buat nggak pernah jadi 'monster' buat aku," bisik Sheilla.
Adrian senyum, terus dia lepasin tangan Sheilla pelan-pelan. "Sana buatin tehnya, keburu aku berubah jadi monster kelaparan nih."
Candaan Adrian langsung mecah ketegangan. Sheilla ketawa sambil jalan ke belakang. Ternyata begini ya rasanya dihargai, batinnya.
--
Besoknya, Sheilla ngajar lagi di yayasan. Hari ini temanya agak filosofis: "Kapan kita harus memangkas?"
Di depan ibu-ibu dan remaja putri yang matanya udah mulai berbinar, Sheilla megang gunting tanaman dan setangkai mawar yang daunnya mulai kecokelatan.
"Ibu-ibu, lihat mawar ini," kata Sheilla. "Kadang, kita ngerasa sayang buat motong daun yang layu. Kita pikir, 'ah nanti juga sembuh'. Tapi kenyataannya, daun yang layu ini malah nyedot nutrisi yang harusnya buat bunga yang mau mekar. Kalau nggak dipotong, seluruh tanamannya bisa mati."
Dia cekrek motong bagian yang layu itu dengan mantap.
"Hidup kita juga gitu. Ada kenangan, ada orang, atau ada kebiasaan yang sebenernya udah 'layu' dan cuma bikin kita capek. Kita harus berani 'motong' itu supaya kita punya energi buat mekar lagi. Sakit? Mungkin bentar. Tapi lihat nanti, bunganya bakal lebih besar."
Seorang ibu namanya Bu Sari, yang dulunya korban KDRT cukup parah, angkat tangan. "Mbak Sheilla, kalau kita udah potong, tapi di dalem hati masih kerasa 'bolong', gimana?"
Sheilla jalan deketin Bu Sari, megang pundaknya lembut. "Bolong itu wajar, Bu. Tanah yang abis digali pasti bolong. Tapi bolong itu tempat terbaik buat nanem bibit baru. Jangan takut sama ruang kosong di hati. Isi pelan-pelan sama hal-hal yang Ibu suka. Nanti tanpa sadar, ruang bolong itu udah ketutup sama taman yang lebih cantik."
Suasana jadi haru. Mereka nggak cuma belajar merangkai bunga, tapi merangkai ulang harapan yang dulu pernah diinjek-injek. Sheilla ngerasa setiap kali dia ngomong begini, dia juga lagi ngomong sama dirinya sendiri di masa lalu.
--
Pas mau pulang dari yayasan, Sheilla dapet telepon dari Satria. Dia ragu buat angkat, tapi akhirnya dia geser tombol hijau.
"Halo, Sat?"
"Sheil, cuma mau kasih tahu. Ardhito udah beneran berangkat pagi ini. Dia titip pesan terakhir, singkat banget."
Sheilla narik napas. "Apa katanya?"
"Dia bilang: 'Kasih tahu Sheilla, bunga matahari di halaman rumah ibu udah mekar. Dia nggak perlu lihat, tapi aku cuma mau dia tahu kalau kebaikan dia selama ini nggak sia-sia. Aku pergi buat belajar jadi manusia'."
Sheilla diem sebentar. "Oke, Sat. Makasih infonya. Sukses buat Ardhito."
Dia nutup telepon itu tanpa ada air mata. Nggak ada nyesek, nggak ada rasa pengen tahu lebih lanjut. Kabar itu cuma kayak denger berita cuaca di kota lain yang nggak akan dia kunjungin. Ardhito akhirnya milih buat 'pindah pot', dan Sheilla tulus doain semoga dia bisa tumbuh jadi orang yang lebih baik di sana.
--
Sorenya, Sheilla balik ke toko. Adrian udah nunggu di sana, lagi bantuin Maya merapihkan sisa-sisa batang bunga di lantai. Bener-bener pemandangan yang nggak pernah Sheilla bayangin dulu. Seorang pria yang mau kotor-kotoran bantu kerjaan "sepele" istrinya—eh, temannya.
"Capek?" tanya Adrian pas Sheilla masuk.
"Lumayan. Tapi seneng. Tadi Bu Sari udah bisa bikin buket round yang rapi banget," cerita Sheilla antusias.
Adrian nyamperin, terus dia nyodorin selembar kertas kecil. "Tadi ada anak kecil titip ini buat kamu pas kamu nggak ada."
Sheilla buka kertasnya. Isinya gambar matahari gede banget sama tulisan cakar ayam: Terima kasih Tante Bunga, karena mamaku sekarang sering senyum.
Sheilla ngerasain matanya panas. Ini dia. Ini alasan kenapa dia harus bertahan. Kebahagiaan itu ternyata menular, dan sekarang dia nggak cuma bahagia buat dirinya sendiri, tapi dia jadi pusat kebahagiaan buat orang lain.
"Yan," panggil Sheilla pelan.
"Ya?"
"Makasih ya udah selalu ada. Aku rasa... aku udah siap buat langkah yang sedikit lebih maju."
Adrian diem, dia nggak mau salah denger. "Maksudnya?"
Sheilla senyum manis banget, senyum yang paling lepas yang pernah dia punya. "Besok minggu, temenin aku ziarah ke makam almarhum ayah ya? Aku mau ngenalin kamu ke beliau. Sebagai orang yang bikin anaknya nggak takut lagi buat bermimpi."
Adrian terpaku sebentar, terus senyumnya makin lebar sampai matanya ilang. "Dengan senang hati, Sheilla. Dengan senang hati."
Malam itu, Sheilla nutup tokonya dengan perasaan yang bener-bener enteng. Dia sadar, mencintai orang lain itu emang indah, tapi bisa mencintai diri sendiri dan dihargai sama orang yang tepat itu rasanya kayak nemu mata air di tengah gurun.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --