💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Malam yang mengubah segalanya.
Ciuman itu hanya berlangsung sesaat, namun bagi Viona rasanya seperti berabad-abad. Saat Arsen menjauhkan wajahnya, matanya masih tetap terpaku pada bibir gadis itu yang memerah.
Suara ketukan pintu kamar yang kuat membuat keduanya terkejut, diikuti suara Farel yang kembali memanggil-manggil Viona. Arsen menghela napas pelan, menjauhkan sedikit tubuhnya dengan kedua tangan masih memegang bahu Viona, memberikan rasa aman serta isyarat agar gadis itu tetap tenang.
"Diam dan tunggulah disini sebentar," perintah Arsen dengan suara rendah namun tegas, matanya menatap ke arah pintu sambil mendesah panjang. Dia melepaskan tangannya dari bahu Viona, lalu melangkah menuju pintu kamar.
Pintu terbuka, Arsen melangkah sedikit ke depan dan menyandarkan sisi tubuhnya pada sisi pintu, kedua tangannya dilipat di depan dadanya. Dengan tatapan tajam dan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, dia berdiri menghadap ke arah Farel yang berdiri dengan jarak beberapa meter didepan sana.
"Hari ini dia mengerjakan banyak tugas di kantor," ucap Arsen dengan suara sedikit keras agar terdengar oleh Farel yang berdiri di depan kamar Viona, matanya menatap keponakannya itu dengan tatapan yang tenang namun tegas, "Mungkin dia merasa lelah dan sudah tidur, jadi kamu tidak perlu mengganggunya seperti itu."
"Kamu bisa memberikan hadiah-hadiah itu besok," lanjutnya dengan nada tegas, tanpa memberikan ruang untuk membantah.
Farel mendengus kasar, wajahnya sedikit kesal. Dia mengangkat dagunya, matanya membara saat menatap Arsen yang masih berdiri tenang di sana.
"Tidak usah ikut campur dan mengajariku, Paman!" ujarnya dengan suara yang keras dan ketus, "Aku tahu apa yang harus aku lakukan!"
Tangan kanannya menggenggam gagang bunga buket dengan erat. Tatapannya penuh dengan rasa tidak senang, seolah merasa bahwa batasannya telah dilanggar oleh kehadiran pria di depan matanya ini. Farel menghela napas kasar, dia menatap Arsen sekali lagi sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi ke arah kamarnya.
Arsen menghela napas lega, mengusap dahinya pelan sebelum menutup pintu kamar dengan hati-hati. Dia perlahan berbalik, pandangannya langsung tertuju pada Viona yang masih berdiri di tempatnya seperti tadi. Wajah gadis itu menunduk, dengan kedua tangannya yang tergenggam erat di sisi tubuhnya.
Arsen menatapnya dengan rasa khawatir dan secercah penyesalan, dia melangkah mendekati Viona tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah gadis itu. Ketika sudah cukup dekat, dia berhenti dan menghela napas pelan.
"Viona..." panggilnya dengan suara yang lembut, tidak berani menyentuhnya.
Viona mengangkat wajahnya perlahan, matanya merah menahan air mata. Dia menatap Arsen dengan pandangan yang bercampur antara kebingungan dan rasa tidak senang.
"Tidak seharusnya Paman menciumku seperti tadi," ujarnya dengan suara yang sedikit gemetar, "Aku ini tunangan dari keponakan Paman!"
Arsen menarik tangan Viona dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, menyadarkan dirinya bahwa kata-kata itu seperti pukulan yang menusuk hatinya.
"Maafkan aku, Viona..." ucapnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan, tangannya mengusap kepala belakang Viona dengan lembut, "Aku tahu kamu adalah tunangan Farel, aku tidak punya hak untuk melakukan apapun padamu."
Arsen menghela napas panjang, napas hangatnya menyentuh kulit leher Viona. "Tapi aku tidak bisa menahan diri lagi. Sikapmu hari ini benar-benar membuatku kehilangan kendali, membuatku lupa akan batasan kita sebagai paman dan tunangan keponakan sendiri. Aku mencintaimu, Viona."
Viona terkejut di dalam pelukan Arsen, tubuhnya ingin menjauh namun hatinya seolah menariknya lebih dekat. Air mata yang sudah lama ditahan akhirnya menetes ke pipinya, membasahi lengan Arsen yang menopangnya.
"Paman..." panggilnya dengan suara hancur, tidak tahu harus merespon apa terhadap pengakuan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Arsen melepaskan pelukannya, mengangkat tangannya untuk menyeka air mata yang menetes di pipi Viona menggunakan ujung jempolnya. Matanya penuh dengan kasih sayang dan pengertian, tidak ada paksaan sedikitpun di dalamnya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang," ucapnya dengan suara yang lembut. "Dengan bisa melihatmu setiap hari saja itu sudah cukup bagiku untuk saat ini."
Viona hanya berdiri diam. Saat Arsen menciumnya tadi, hatinya berdebar sangat kencang, padahal seharusnya dia marah besar karena pria dihadapannya ini telah berani melampaui batasannya.
Viona kembali menatap Arsen, matanya kini penuh dengan rasa bingung yang mendalam. "Aku takut, Paman. Takut pada perasaanku sendiri dan takut pada apa yang akan terjadi jika orang lain tahu tentang hal ini."
Arsen mengangguk, memahami sepenuhnya kekhawatiran yang tengah dirasakan Viona. Dia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya lembut.
"Aku tahu kamu takut," ucapnya dengan nada yang menenangkan. "Dan kamu punya alasan untuk itu. Apa yang kita rasakan ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi, terutama dengan hubungan keluarga yang ada sekarang."
Dia menghela napas pelan, "Sebaiknya sekarang kamu istirahat, aku akan mengantarmu ke kamarmu,"
Arsen menarik tangan Viona dan membawanya keluar dari kamarnya. Langkah mereka pelan, sesekali Arsen melihat ke arah Viona untuk memastikan gadis itu tetap merasa nyaman. Saat sampai di depan pintu kamar Viona, Arsen berhenti dan menoleh, matanya masih penuh dengan perhatian dan kasih sayang.
"Jangan terlalu memikirkannya," ujarnya dengan suara lembut. "Istirahatlah yang cukup, dan besok jangan sampai datang terlambat ke kantor atau aku akan memberimu hukuman,"
Dia membantu membukakan pintu kamar, "Masuklah. Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengetuk pintu kamarku,"
Viona mengangguk, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Setelah pintu kamar tertutup, Viona berdiri terpaku di tengah kamar, matanya masih menatap pada pintu yang baru saja ditutup oleh Arsen dari luar.
"Apa yang baru saja terjadi..." bisiknya pelan, dia melangkah ke arah tempat tidur dan duduk perlahan di tepian ranjang.
Viona menutup mata sejenak, mencoba untuk mengingat kembali setiap detik kejadian yang terjadi malam ini. Ciuman yang terasa begitu panjang hingga pengakuan cinta dari Arsen yang tidak pernah dia duga. Semua rasanya seperti mimpi yang tidak mungkin terjadi dalam kenyataan.
Dia menyentuh bibirnya sendiri dengan jari, masih tidak bisa percaya bahwa sentuhan hangat bibir pria itu benar-benar menyentuhnya.
"Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak," ucapnya pelan.
Viona menghela napas panjang dan menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas ranjang. Tanpa dia sangka jika malam ini justru menjadi titik balik yang menghancurkan semua pandangan dunia yang pernah dia miliki.
-
-
-
Sinar matahari pagi menerpa ke dalam ruang makan yang luas, menerangi meja besar yang telah diisi dengan berbagai macam hidangan. Semua orang sudah berkumpul di sana, kecuali Viona yang belum terlihat.
Saat Farel hendak bangun untuk memanggilnya, tiba-tiba suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar memasuki ruang makan. Viona menunduk saat merasakan semua pandangan tertuju padanya, napasnya masih belum teratur karena dia barusan berlari dari kamarnya menuju ke lantai bawah.
"Maaf semuanya, aku terlambat," ucapnya dengan suara pelan, berusaha untuk tidak melihat ke arah Arsen yang duduk di samping kiri Farel.
Farel segera berdiri dan menarik kursi di sebelah kanannya untuk Viona duduk, wajahnya menunjukkan senyuman hangat.
"Tidak apa-apa, sayang. Sepertinya kamu terlalu lelah sampai tidak mendengar aku mengetuk-ngetuk pintu kamarmu semalam," ucap Farel sambil menyodorkan piring berisi makanan.
Viona hanya mengangguk pelan, lalu meraih gelas berisi susu dan mulai meminumnya.
"Padahal semalam kamu naik lebih awal dan bilang sudah ngantuk, tapi kenapa wajahmu lesu seperti kurang tidur begitu, Vio?" tanya Saskia.
"Uhukk... uhuukk..."
Viona tersedak mendengar pertanyaan Tante Saskia, gelas susu yang dipegangnya hampir saja terjatuh. Dia meletakkan kembali gelas itu dengan hati-hati diatas meja.
"Ada apa, Nak? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Danu sedikit khawatir.
"Ah itu, aku---" ucap Viona terputus saat matanya bertemu langsung dengan pandangan Arsen yang sedang menatapnya dari kejauhan.
Tatapan Arsen tetap dingin dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun ada secercah kekhawatiran yang sesaat muncul di dalam mata pria itu sebelum kembali hilang dan digantikan oleh tatapan dingin lagi.
"Dasar Paman mesum, bisa-bisanya dia bersikap tenang begitu setelah membuatku tidak bisa tidur hampir semalaman," makinya dalam hati.
-
-
-
Bersambung...
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...