Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab empat belas
Smalaman Jake tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia selalu terngiang-ngiang dengan perkataan Caroline. Sungguh sakit dan menyiksa batinnya. Terkadnag miring ke kanan dan ke kiri sampai tidak bisa menemukan posisi tidur yang nyaman.
Perkataan Caroline begitu jelas menunjukkan kebencian dan kekecewaan yang mendalam. Dia kira Caroline akan memaafkannya begitu mengingat saat dirinya dulu di cintai begitu dalam oleh Caroline..
"Aku terlalu menyakitinya." Jake bergumam.
Dia beranjak duduk dan melihat ponselnya yang terdapat puluhan panggilan dari Aurora dan dua ratus pesan darinya.
Rasa malas menyelimuti hatinya. Ia begitu malas melihat pesan Aurora. Padahal tadi ia ingin melihat jam saja yang ternyata sudah jam 02.30 dini hari.
"Caroline, maafkan aku yang terlalu kejam. Seharusnya kamu mengatakannya. Aku salah, dulu sekalipun kau menjelaskannya aku selalu menolak mu."
Jake teringat pada Caroline yang ingin menjelaskan namun ia selalu menolak. Ia pikir memang Caroline yang salah dan selalu menindas Aurora. Saat kebenaran terungkap justru salah.
"Aurora aku masih mengingat bahwa kau yang pernah menyelamatkan aku. Seandainya saja bukan, sudah pasti mencekik mu."
Jake memejamkan kedua matanya. Ia berusaha keras mencari sesuatu yang bisa membuat Caroline memaafkannya.
"Apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak tau." Ingin rasanya ia berteriak. Kepalanya seakan ingin meledak memikirkan caranya. "Setiap harinya aku harus menyenangkan Caroline."
Jake malas untuk menghubungi kembali. Jadi ia menaruh lagi ponsel itu.
Drt
"Tommy?" Jake mengangkat panggilan Tommy. Ia tidak tau adiknya membutuhkan apa.
"Jake Aurora menghubungi ku. Katanya dia jatuh di kamar mandi dan di bawa ke rumah sakit. Jake kau harus kesana."
"Kau yang kesana."
Tommy terdiam, sebenarnya ia tau jawabannya akan seperti ini namun ia juga malas untuk ke rumah sakit. "Jake Aurora membutuhkan kamu, bukan aku."
"Tommy, aku tidak berniat untuk kesana."
"Baiklah." Tommy mengalah. Dengan langkah malas dan wajah kusut. Tommy melangkah keluar dari kamarnya. Dia membawa jaketnya di bahu kanannya. Melihat sekelilingnya tidak ada siapa pun. Entah mengapa ia berharap melihat Caroline.
"Caroline."
Dia menoleh saat mendengarkan langkah kaki. Terlihat seorang wanita yang ia harapkan muncul di depannya.
"Caroline." Sapa Tommy. Dia menghadang jalan Caroline. "Kau belum tidur."
Caroline tidak berniat mengeluarkan suarnya. Dia pun melewati Tommy.
Tommy menoleh dan bergegas menghentikan langkah Croline. "Caroline kau tidak ingin ke rumah sakit? Aurora katanya jatuh."
Croline mendekik tajam, bergegas dia melanjutkan langkahnya. Tommy menghela nafas dengan wajah lesu. Padahal ia berharap Caroline mau menemaninya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumh sakit. Tommy masuk ke ruangan rawat inap Aurora. Dia melihat Daddy Dion dan Mommy Melisa menemni Aurora di sampingnya.
"Tommy." Sapa Aurora. Dia tersenyum dan begitu Tommy mendekat. Dia langsung memeluknya.
"Maafkan aku Tommy. Aku tidak merayakan ulang tahun mu. Oh iya dimana Jack?"
Seperti biasa Jack selalu menjadi pencarian bagi Aurora namun tidak dengannya. Dia tidak pernah mencarinya. Namun kali ini terasa beda. Di dadanya yang dulu merasakan sakit kini tidak terasa. Entah mengapa ia melihat Aurora seperti biasa saja mungkin karena ia kecewa Aurora tidak jujur.
"Dia tidak bisa datang. Mungkin sudah tidur."
Aurora merasa tidak nyaman. Tidak biasanya Jack tidak mengangkat panggilannya.
"Apa dia bersama dengan Caroline?"
"Jack sedang sibuk dan banyak pekerjaan," ucap Tommy berbohong.
Aurora kembali merasa aneh, hatinya gelisah. Tidak seperti Jack yang ia kenal. Pria itu selalu menemaninya. Sekalipun ada luka kecil saja di jarinya Jack panik.
"Apa dia menemani Caroline?" Tanya Aurora menunduk. Wajahnya kecewa. Jika di lihat orang lain pasti kasihan, tapi tidak dengan Tommy.
"Aurora apa kau tidak senang Jack bersama dengan Caroline?" Tanya Tommy tanpa basa-basi.
Aurora mengangkat wajahnya dan menggeleng. "Tidak, tentu saja aku senang. Tapi aku merindukan Jack."
Mommy Melisa menyela. Pastinya Jack lebih mencintai Aurora dan sudah seharusnya Jack meninggalkan Caroline. "Jack Aurora sangat baik. Di tidak ingin Jack di celakai oleh Caroline. Caroline itu wanita yang kasar. Aurora sudah berapa kali mendapatkan kekerasan dari Caroline."
Tommy mengepalkan tangannya. "Bagaimana dia bisa mencelakai Aurora? Padahal selama ini kalian sangat menjaga Aurora."
"Perkataannya saja, dia bisa menampar Aurora," ucap mommy Melisa dengan wajah sedih. "Mommy sangat takut Caroline berbuat yang tidak-tidak."
Tommy menahan amarah di hatinya. Ibu dan anak ini sama saja. Sama-sama sandiwara dan bermulut pedas. "Begitu ya, tapi aku rasa Caroline baik. Dia tidak akan mengganggu jika tidak di ganggu. Caroline seperti bunga mawar. Dia melindungi dirinya dengan durinya."
Mommy Melisa mengerutkan keningnya dengan tajam. Ia rasa, ia salah mendengarkan ucapan Tommy. Pria itu biasanya akan menjelakkan Caroline.
"Tommy kau jangan tertipu. Di luarnya baik tapi tidak dalam hatinya."
Tommy menunduk sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. "Aku rasa hal seperti itu hanya diri sendiri yang tau. Orang mudah menilai orang lain tapi tidak dengan dirinya sendiri." Merasa muak dengan perkataan yang sering menjelekkan Caroline. Ia lebih memilih keluar. "Aurora, aku rasa kau sudah sembuh. Aku pergi dulu. Oh iya, tidak perlu merayakan ulang tahun kakak. Dia sedang sibuk."
Aurora tertegun dengan sikap Tommy. Dengan jelas ia melihat perubahan pada pria itu. Tidak mungkin Jack juga berubah padanya.
"Mommy, Daddy, tadi lihat kan. Tommy berubah. Bagaimana kalau Caroline mencuci otak mereka untuk membenci ku." Aurora mulai menangis.
Mommy Melisa menenangkannya dengan memeluknya. Jika pun begitu, ia harus menemui Caroline dan memberikan pelajaran untuk wanita itu agar tidak macam-macam.
"Sayang tenang saja. Mommy akan berbicara pada Caroline. Caroline pasti mengerti."
"Hah, sungguh aku menyesal membuatnya menikah dengan Jack. Aku kira Caroline akan tahu sopan santun. Dia tidak akan mengusik mu, tapi ternyata dugaan ku salah. Dia tetap saja mengusik mu."
Aurora mengurai pelukannya. "Daddy biar aku saja berbicara dengan Caroline. Dia pasti bisa memahaminya. Aku dan Jack sudah berteman."
"Daddy akan berbicara dengannya. Daddy tidak bisa membuat mu di tindas oleh dia."
Aurora tersenyum senang, ia sangat senang dengan perhatian Daddy dion sekalipun bukan ayah kandungnnya.
...
Caroline mengajak Melani untuk makan malam di luar. Caroline merasa jenuh berada di mansion. Akhir-akhir ini Jack berada di mansion dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Ia merasa Jack selalu mengikutinya. Saat dia bersantai di kolam renang, di taman ada saja Jack entah menyuruh pelayan membersihkan kolam renang padahal jelas sudah bersih dan ada juga alasan lainnya.
"Caroline tumben sekali kau mengajak ku keluar. Dulu biasanya kau tidak mau," ucap Melani.