NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 Rahasia yang Mulai Retak

BAB 7 Rahasia yang Mulai Retak

Detektif Damar baru saja keluar dari gang pasar lama ketika sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Remnya berdecit cukup keras sampai beberapa orang menoleh.

Pintu depan terbuka.

Dua pria turun. Tubuhnya besar, pakaian rapi, tapi sikapnya jelas bukan ingin mengobrol santai.

“Pak Damar?” salah satu bertanya.

Damar tidak langsung menjawab. Ia berdiri santai, tapi tubuhnya siap bergerak.

“Ada apa?”

“Bos kami ingin bicara. Sebentar saja.”

“Bos siapa?”

“Pak Bram.”

Nama itu tidak asing lagi. Damar sudah melihatnya di beberapa dokumen transaksi lama rumah sakit.

“Saya tidak ada janji,” jawab Damar.

Pria satunya melangkah lebih dekat. “Kami cuma diminta mengantar. Jangan bikin susah.”

Nada suaranya halus, tapi maksudnya jelas.

Damar tersenyum tipis. “Kalau mau bicara, suruh bos kalian datang sendiri.”

Salah satu tangan pria itu mulai terangkat, seolah ingin menarik lengannya.

Refleks. Damar menepis keras dan mendorongnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan membentur pintu mobil.

Orang-orang mulai memperhatikan.

“Kejar dia!” teriak salah satu.

Damar langsung berlari menyusuri trotoar. Ia tidak panik. Ia tahu daerah ini cukup padat. Keramaian bisa jadi pelindung.

Ia berbelok ke gang kecil, melewati pedagang sayur dan anak-anak yang sedang bermain. Dua pria itu masih mengejar.

Sebuah motor melintas pelan karena jalan sempit.

Damar menghentikannya.

“Pak, saya polisi. Tolong jalan dulu.”

Pengendara kaget, tapi melihat dua pria berlari di belakang, ia langsung mengangguk dan menarik gas.

Motor melesat keluar gang menuju jalan utama. Setelah beberapa ratus meter, Damar meminta berhenti.

“Terima kasih, Pak.”

Pengendara hanya mengangguk bingung sebelum pergi.

Damar berdiri sebentar, mengatur napas. Lengan kirinya sedikit tergores, tapi tidak parah.

Satu hal jadi jelas.

Ada yang tidak mau ia terus menyelidiki.

Di rumah Mahendra, suasana sore terasa lebih sunyi dari biasanya.

Alvaro duduk di ruang kerja ayahnya. Ia tidak sembarangan masuk. Sejak kecil ia jarang diizinkan menyentuh dokumen bisnis.

Hari ini ia hanya ingin memastikan satu hal.

Beberapa hari lalu, ia tanpa sengaja mendengar percakapan orang tuanya. Kata “darah tidak cocok” dan “jangan sampai dia tahu” terus terngiang di kepalanya.

Ia membuka laci meja. Tidak mencari sesuatu yang spesifik. Hanya ingin tahu apakah ada yang disembunyikan.

Ia menemukan salinan laporan medis lama. Pemeriksaan golongan darah keluarga.

Alvaro membaca pelan.

Golongan darah Ragendra: O.

Helena: A.

Alisha Mahendra: AB.

Alvaro berhenti.

Ia bukan ahli medis, tapi cukup tahu kombinasi itu jarang terjadi.

Ia mengambil ponsel dan mencari informasi singkat. Beberapa artikel medis muncul.

Kemungkinan ada, tapi tidak umum.

Keningnya berkerut.

Ia kembali melihat dokumen lain. Hasil tes laboratorium saat Alisha kecelakaan.

Catatan kecil dokter menyebutkan:

“Riwayat keluarga tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan awal.”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Tidak sesuai?”

Ia tidak menemukan arsip sobek atau hal dramatis lain. Justru yang membuatnya gelisah adalah ketidaksesuaian kecil yang terlalu rapi untuk dianggap kebetulan.

Alvaro duduk di kursi, menatap kosong.

“Papa sembunyikan apa sebenarnya?”

Di balkon lantai dua, Helena duduk sendiri. Teh di tangannya sudah dingin.

Ia mendengar langkah kaki Ragendra mendekat.

“Kamu dari mana?” tanya Helena pelan.

“Keluar sebentar.”

Helena tidak melanjutkan pertanyaan. Ia sudah lelah bertanya dan tidak mendapat jawaban jelas.

“Kamu masih hubungi detektif itu?” akhirnya ia bertanya.

Ragendra terdiam beberapa detik.

“Aku harus pastikan dulu.”

“Pastikan apa?”

“Kita tidak tahu siapa yang terlibat waktu itu.”

Helena menatapnya. “Sudah lima belas tahun.”

“Justru itu. Kalau ada yang sampai menukar bayi, berarti ada alasan besar.”

Helena menarik napas panjang. “Aku cuma tidak mau anak kita jadi korban lagi.”

Kata “anak kita” terasa berat bagi keduanya.

Ragendra duduk di sampingnya.

“Kita belum tahu apa-apa. Jangan sampai Alisha atau Alvaro curiga.”

Helena mengangguk pelan, meski dalam hatinya perasaan bersalah terus muncul.

Di rumah kontrakan kecil, Alisha Pratiwi sedang membantu ibunya melipat pakaian hasil jahitan.

Rumah itu memang lebih kecil dari sebelumnya, tapi lebih dekat dengan tempat kerja ayahnya.

Setidaknya itu yang dikatakan ibunya.

“Bu, tadi ada mobil berhenti depan gang,” kata Alisha tiba-tiba.

Ibunya menoleh cepat. “Mobil apa?”

“Hitam. Kacanya gelap. Dari siang tadi kayaknya muter-muter.”

Ibunya berusaha terlihat tenang. “Mungkin orang nyari alamat.”

Alisha mengangguk, tapi tidak sepenuhnya percaya. Sejak pindah, ibunya sering terlihat waspada. Pintu selalu dikunci lebih cepat. Jendela ditutup sebelum magrib.

“Bu, kita ada masalah ya?” tanya Alisha pelan.

Ibunya berhenti melipat baju.

“Kamu sekolah yang benar saja. Itu saja yang penting.”

Jawaban itu tidak benar-benar menjawab.

Malamnya, saat hendak tidur, Alisha kembali bertanya.

“Kita pindah karena uang itu, ya?”

Ibunya terdiam cukup lama.

“Ibu cuma ingin hidup kita lebih tenang.”

“Tapi rasanya malah kayak dikejar sesuatu.”

Ibunya mendekat dan memeluknya.

“Kamu tidak salah apa-apa. Ingat itu.”

Kalimat itu diucapkan tegas, bukan dramatis. Seolah ia sedang menegaskan sesuatu pada dirinya sendiri.

Di kantor kecilnya, Damar membersihkan luka di lengannya dengan kapas alkohol. Rasa perih membuatnya meringis, tapi pikirannya jauh lebih sibuk.

Ia membuka kembali catatan transaksi rumah sakit lima belas tahun lalu.

Nama Bram Santoso muncul beberapa kali sebagai donatur besar.

Donasi mendadak. Jumlahnya tidak kecil.

Beberapa minggu setelah tanggal kelahiran dua bayi itu.

Terlalu kebetulan.

Damar menghubungi rekannya di bagian keuangan.

“Tolong cek perusahaan atas nama Bram Santoso. Semua yang lima belas tahun lalu.”

“Kamu lagi ngulik kasus lama itu?”

“Iya. Kayaknya bukan cuma penukaran bayi biasa.”

Ia menutup telepon dan menatap papan catatan.

Sekarang ia tahu, ada pihak yang cukup kuat untuk memindahkan satu keluarga tanpa jejak jelas.

Dan hari ini, mereka bahkan berani mengirim orang untuk menghentikannya.

Itu berarti ia sudah menyentuh sesuatu yang penting.

Alvaro berdiri di depan cermin kamarnya.

Ia menatap wajahnya sendiri.

Bentuk hidungnya berbeda dari Ragendra. Itu hal kecil yang dulu tidak pernah ia pikirkan.

Ia membuka ponsel, melihat foto keluarga saat ulang tahunnya beberapa tahun lalu.

Semua terlihat normal. Bahagia. Sempurna.

Tiba-tiba semuanya terasa seperti potongan gambar yang belum lengkap.

Ia mengetuk pintu kamar Alisha Mahendra.

“Ada apa?” tanya Alisha ketus.

“Kamu pernah dengar Papa atau Mama cerita soal rumah sakit waktu kita lahir?”

Alisha memutar mata. “Ngapain bahas itu? Aneh banget.”

“Kamu nggak pernah penasaran?”

“Kenapa harus penasaran? Kita lahir, terus gede. Selesai.”

Jawaban itu membuat Alvaro makin tidak tenang.

Ia kembali ke kamar dengan satu kesimpulan.

Kalau ada yang salah, ia harus cari tahu sendiri.

Malam semakin larut.

Di satu sisi kota, Damar menutup laptopnya dan bersandar di kursi. Ia sadar permainan ini tidak sederhana.

Di sisi lain, keluarga Mahendra mulai retak oleh kecurigaan yang belum diucapkan.

Sementara itu, di rumah kecil kontrakan, Alisha Pratiwi memejamkan mata dengan perasaan tidak nyaman, tanpa tahu bahwa namanya sudah masuk dalam penyelidikan besar.

Tidak ada yang benar-benar tenang malam itu.

Bukan karena ancaman yang terlihat.

Tapi karena rahasia yang terlalu lama disimpan, akhirnya mulai bergerak keluar sedikit demi sedikit.

#Bersambung 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!