NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : Sentuhan yang menggoyahkan.

‎Viona menggenggam lengan Arsen dengan kuat. Pandangannya tetap menunduk, tidak berani melihat tatapan Arsen yang membuatnya merasa semakin gugup. Udara di lorong yang sepi terasa semakin sesak dengan debaran jantung yang terus berdetak kencang.

‎"Maaf Paman, tapi rasanya tidak pantas jika aku meminta bantuan padamu untuk hal seperti ini. Aku bisa melakukannya sendiri di toilet." ucapnya lirih, namun cukup terdengar jelas ditelinga Arsen.

‎‎Arsen mengendurkan tangannya sedikit, dia menoleh ke arah toilet yang terletak tidak jauh dari mereka, kemudian melihat kembali wajah Viona yang masih memerah.

‎‎"Tapi bagaimana jika pria dewasa ini tetap ingin memaksa untuk membantu," bisiknya yang membuat wajah Viona langsung menoleh cepat ke arahnya.

‎‎Tanpa menunggu jawaban, Arsen meraih tangan Viona yang masih menggenggam lengannya, kemudian membawanya menuju sebuah ruangan kecil yang ada di ujung koridor. Setelah mereka masuk, Arsen menutup kembali pintunya dengan rapat.

‎‎"Pa-paman... apa yang Paman lakukan? Kenapa membawaku kesini?"

‎‎Arsen membalikkan badannya dan menatap wajah Viona yang tampak panik dan tegang, "Di sini lebih aman dan tenang. Sekarang putar badanmu, aku akan membantu memasang pengait bra-mu kembali."

‎‎Tubuh Viona membeku dengan mata membulat, "T-Tidak bisa, Paman. Ini sungguh tidak pantas," ucapnya dengan suara yang mulai bergetar, tubuhnya mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding.

‎‎Arsen melangkah lebih dekat, namun tetap menjaga jarak supaya tidak membuat gadis itu merasa tertekan. Matanya yang biasanya dingin kini tampak lebih lembut, namun tetap menunjukkan ketegasan.

‎‎"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pantas, aku hanya ingin membantu. Kecuali..." Arsen mendekatkan wajahnya dan mulai berisik. "Kecuali jika kamu memintanya dariku."

‎‎Kata-kata Arsen membuat wajah Viona semakin memerah. Arsen menjauhkan wajahnya kembali dan tersenyum puas dalam hati saat melihat ekspresi wajah gadis dihadapannya itu. Tangannya menyentuh bahu gadis itu dan dengan cepat membalikkan tubuh Viona menghadap ke arah tembok.

‎‎Sebuah getaran menusuk tulang punggungnya saat kain gaun perlahan tergeser, mengekspos kulitnya yang hangat. Jari-jari Arsen yang hangat menyentuh kulitnya dengan lembut, membuat Viona kembali menegang, dia menggigit bibir bawahnya.

‎‎"Kenapa rasanya seperti ini?" bisiknya dalam hati, matanya terpejam rapat. Ada rasa takut yang besar, namun juga ada sesuatu yang tidak bisa dia mengerti.

‎‎Udara di dalam ruangan terasa semakin panas, membuat napasnya menjadi lebih pendek saat tubuhnya secara tidak sadar merespons sentuhan pria itu.

‎‎"Selesai," ucap Arsen, menarik kembali resleting gaun Viona dengan benar.

‎‎Viona tetap berdiri memunggungi Arsen untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berbalik. Matanya hanya berani melihat ke arah dada Arsen yang dibalut oleh jas hitam dengan kemeja putih di bagian dalamnya. Dia tidak berani menatap mata pria itu yang kini pasti sedang menatapnya.

‎"T-Terima kasih," ucapnya dengan suara pelan dan sedikit bergetar. "Aku harus kembali ke acara sekarang."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, Viona segera berjalan cepat menuju pintu dan membukanya. Sebelum keluar, dia berbalik sebentar dan melihat Arsen yang masih berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada sesuatu dalam pandangannya yang membuat hati Viona berdebar kencang.

Setelah pintu kembali tertutup rapat, Arsen menghela napas panjang. Dia membalikkan tubuhnya kesamping lalu menyandarkan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja dengan kepala menunduk.

‎‎"Ya Tuhan... Apa yang sedang aku rasakan ini." bisiknya pelan. Matanya menutup rapat, mencoba menghilangkan gambar wajah Viona dari benaknya.

‎‎Arsen mengangkat kepalanya, matanya menatap cermin kecil yang terpaku di dinding depan dirinya. Wajahnya yang biasanya tampak tenang dan terkendali kini terlihat lelah dan penuh dengan konflik batin.

‎"Dia hanya anak perempuan yang butuh bantuan. Tidak lebih dari itu." gumamnya pada bayangannya di cermin.

‎‎Namun dalam hatinya yang terdalam, dia tahu bahwa perasaan yang dia miliki terhadap Viona jauh lebih kompleks dari sekadar keinginan untuk membantu. Sejak pertama kali melihatnya kemarin malam, ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada gadis muda itu.

-

-

-

Setelah acara pertunangan usai, Viona ikut duduk di dalam mobil yang dikemudikan oleh paman Bima yang akan mengantarkan ibu dan bibinya ke hotel. Sementara Farel duduk di mobil lain bersama dengan mama dan kakeknya.

‎‎Perjalanan menuju hotel hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Di dalam mobil, percakapan mengalir santai antara paman Bima, Ibunya dan bibi Reni, membicarakan rencana persiapan pernikahan yang akan datang.

‎‎Viona duduk di samping paman Bima yang sedang menyetir, pandangannya menatap jalanan malam yang masih ramai dengan lampu-lampu. Benaknya masih terngiang pada sentuhan hangat tangan Arsen beberapa saat yang lalu.

‎‎“Viona?”

‎‎Suara paman Bima yang memanggilnya membuat gadis itu terkejut dan menoleh. “Ya, Paman?”

‎‎“Kamu baik-baik saja kan? Sepertinya kamu banyak pikiran,” ucap Bima sambil tetap fokus menyetir, sesekali menoleh pada Viona.

‎‎“Iya, aku baik-baik saja kok, Paman. Cuma sedikit capek saja,” jawab Viona dengan senyuman pura-pura, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. "Ini gara-gara paman mesum itu, kenapa juga aku jadi memikirkan dia terus."

‎‎Setelah beberapa saat, mobil berhenti di depan hotel bintang lima yang megah. Pintu mobil dibuka oleh petugas tamu hotel yang mengenakan seragam rapi. Semua turun dengan hati-hati, Viona membantu ibu dan bibi Reni mengambil tas kecil mereka dari bagasi. Saat memasuki lobi yang luas dan mewah, asisten paman Bima datang menghampiri dengan langkah cepat, tangannya membawa amplop berisi kunci kamar yang sudah disiapkan sebelumnya.

‎‎"Tuan Bima, kamar sudah siap seperti yang diperintahkan." ucap asisten itu dengan sopan, sambil menunjukkan amplop yang dia pegang.

‎Bima mengangguk, lalu menoleh pada Viona yang berdiri di samping ibunya. "Viona, kamu pulang bersama kami saja ya? Biarkan Ibu dan Bibi kamu ini beristirahat disini. Besok pagi Farel akan menemanimu kemari untuk melihat mereka."

‎‎"Tapi Paman..." Viona ingin menyanggah ucapan paman Bima, namun segera dipotong oleh Diana.

‎‎"Viona, Paman Bima benar, sebaiknya kamu pulang sekarang karena ini sudah larut malam. Ibu dan bibi Reni juga lelah dan ingin beristirahat," ucap Diana pada putrinya, tangannya menyentuh pundak Viona dan mengusapnya lembut.

‎‎"Kamu juga pasti capek kan, apalagi kamu yang jadi sorotan malam ini," lanjut Diana masih dengan suara lembutnya. "Besok pagi kamu bisa datang kesini lagi untuk ketemu Ibu dan Bibi sebelum kami pulang."

‎‎Viona akhirnya mengangguk. "Baiklah, Bu. Ibu dan Bibi istirahat yang nyenyak ya,"

‎‎Bibi Reni yang berdiri di samping mereka mengangguk dengan senyuman lembut, "Kamu juga harus istirahat baik-baik ya, Viona. Besok ajak kami pergi jalan-jalan dulu sebelum kami pulang loh,"

‎‎Diana menoleh ke arah Farel dengan senyuman hangat. "Farel, tolong jaga Viona dengan baik ya saat perjalanan pulang."

‎‎"Tentu saja, Tante. Tidak usah khawatir," jawab Farel dengan nada sopan, kemudian memberikan senyuman hangat pada Viona.

‎‎Viona memberikan pelukan singkat pada ibu dan bibinya sebelum berjalan mengikuti paman Bima dan yang lainnya keluar dari hotel. Angin malam langsung menyapa wajah Viona yang sudah tampak lelah.

‎‎"Viona, kamu naik ke mobil Farel ya," ucap Bima sambil mengarahkan tangannya ke arah mobil putih yang sudah berada di depan pintu hotel.

‎‎Viona mengangguk, meskipun masih merasa sedikit ragu untuk meninggalkan ibu dan bibinya. "Baik, Paman."

‎‎"Farel, kamu jaga Viona dengan baik." ucap Bima pada sang putra.

‎‎"Tentu saja, Pa. Aku pasti akan menjaga dia dengan sangat baik," jawab Farel, lalu mengajak Viona ke arah mobilnya dan membukakan pintu mobil untuknya.

‎‎Saat mobil mulai melaju menjauhi hotel, Farel menyalakan musik dengan volume rendah, membuat suasana di dalam mobil menjadi lebih tenang dan nyaman.

‎‎"Kamu baik-baik saja, Vio? Kamu terlihat tidak terlalu bersemangat sejak tadi," tanya Farel sambil tetap fokus pada jalanan, sesekali menoleh ke arah Viona yang duduk di sampingnya.

‎‎Viona menghela nafas lembut, menatap pemandangan luar kaca yang berlalu cepat. "Aku cuma capek aja kok, Farel."

‎‎Farel tidak bertanya lagi dan melajukan kendaraannya sedikit lebih cepat supaya cepat sampai di rumah. Dalam waktu setengah jam, mobil sudah memasuki halaman rumah yang luas dengan diikuti mobil yang dikendarai oleh Bima dibelakangnya. Farel turun lebih dulu dan membantu membukakan pintu kembali untuk Viona.

‎‎"Farel, Viona." panggil Bima saat kedua anak muda itu hendak melangkah masuk kedalam rumah. "Viona kamu masuk duluan ya, Paman mau bicara sebentar sama Farel."

‎‎Viona mengangguk dan memberikan senyuman singkat. "Baik, Paman. Kalau begitu aku masuk duluan,"

‎‎Viona mengikuti Tuan Danu dan Tante Saskia yang sudah menunggunya untuk masuk. Setelah memastikan mereka semua masuk, Bima menoleh ke arah putranya dan menepuk pundaknya.

‎‎"Farel, sekarang kamu sudah bertunangan dengan Viona, jadi kamu harus menjaganya dengan baik." suara Bima terdengar pelan namun tegas. "Dan ingat satu hal, jangan sampai Viona dan keluarganya tahu rahasia besar masa lalu kamu. Rubah semua perilaku buruk kamu dan fokus pada Viona sekarang. Paham?"

‎‎"Iya-iya aku paham, Pa." jawab Farel dengan sedikit malas.

‎‎Tanpa mereka sadari, sepasang mata Arsen sejak tadi tengah memperhatikan dari arah balkon kamarnya. Senyuman diwajahnya perlahan menghilang dan digantikan oleh ekspresi yang sulit ditebak.

‎‎"Tidak ada hal buruk yang bisa disembunyikan dengan baik Bima Mahendra." bisiknya seperti angin yang berhembus pelan, lalu membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
jawabannya kan sudah jelas.. levelnya beda. kalian aja yg gak paham aturan mainnya... ehh/Silent/
Zuri
setengah benar.. ehhh/Silent//Silent/
Zuri
ibumu nolak di awal. entar juga menerima, seperti seseorang🤭
Zuri
bisanya cuma ngancem doang🤧
Zuri
kabur aja Vio🤣🤣
Eva Wahyuni
aduh Thor 😭😭😭..
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...
Zuri
baru tunangan aja kok.. lagian, mendiang bapak Viona jga gak bakal rela lah kalo putrinya nikah ma orang yg udah ngerusak orang lain/Slight/
Zuri
aduhh🤣🤣🤣 siapkan jantungmu aja lah yaa
Zuri
yg ada tubuhnya yg bicara, bukan mulut/Hammer/
Zuri
mo kasian,,, tapi emang farel layak??/Slight//Slight/
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!