Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu.....
Hhhhhh…
Sebuah hembusan napas terasa. Tepat di belakang telinganya.
Pak Marsuki langsung membeku.
Aliran airnya terhenti begitu saja.
Matanya membelalak, napasnya tertahan.
Dia tidak berani menoleh.
"P… Pak…" Suaranya nyaris tak keluar.
Tubuh Pak Marsuki membeku total. Dia bahkan hampir lupa bernapas.
Perlahan, tangan yang dingin menyentuh telinganya.
Pak Marsuki gemetar hebat. Dengan seluruh sisa keberanian yang ia punya, dia mulai menoleh perlahan.
Dan, seketika itu juga wajah perempuan, Pucat dengan mata cekung dan senyum lebar menatapnya.
"Aaaaaaaaaaa!!!" Pak Marsuki menjerit sekeras-kerasnya.
Air kencingnya langsung berhamburan ke mana-mana tanpa bisa ia tahan.
Dia mundur terburu-buru, hampir terjatuh, lalu berlari sekencang mungkin ke arah Pak Yuda.
"Pak!! Pak Yuda!!" Teriaknya panik.
Pak Yuda kaget, langsung mengarahkan senter ke arahnya.
"Lho! Ada apa?!" Katanya.
Pak Marsuki langsung berdiri di belakang Pak Yuda, menyembunyikan tubuh besarnya yang sedang gemetar hebat.
"Ha… ha… hantu… Pak… ada hantu..." katanya terbata-bata.
Pemuda di belakang langsung pucat.
"Hantu?" Ulang Pak Yuda, mencoba tetap tenang.
"Di....disana..." Tunjuk Pak Marsuki ke arah semak-semak tempatnya berdiri kencing tadi.
Pak Yuda mengerutkan kening, lalu menyorotkan senter ke arah semak-semak tadi.
Cahaya menyapu perlahan.
Kosong.
Tidak ada apa-apa.
Pak Yuda menurunkan senter sedikit, lalu menatap Pak Marsuki dari atas ke bawah.
"Pak Marsuki…" Katanya pelan.
Pak Marsuki masih gemetar.
"Itu celana…" Lanjut Pak Yuda.
Pak Marsuki menunduk.
"…belum kamu tarik resletingnya."
Pemuda di belakang refleks menutup mulut, menahan antara takut dan ingin tertawa.
"Ma...maaf..." Ucap pak Marsuki sambil menarik naik resleting celananya.
"Pak Marsuki itu kenapa teriak-teriak." Tanya Pak Yuda lagi.
"Disana tadi ada hantu." Kata Pak Marsuki.
Kembali pak Yuda mengarahkan senter, namun tetap sama, tidak ada apa-apa dimana.
"Tidak ada apa-apa di sana, Pak." katanya tegas., lalu menurunkan sedikit senter di tangannya, lalu menghela napas.
Pak Marsuki langsung menggeleng cepat.
"Ada, Pak! Demi Allah, tadi ada!" suaranya masih gemetar.
"Wajahnya… dekat sekali… senyum… serem sekali…"
Pemuda di belakang ikut menatap ke arah semak-semak itu, wajahnya tegang.
Pak Yuda kembali menyorotkan senter, kali ini lebih lama. Cahaya itu menyapu dari bawah ke atas, ke tanah, semak, batang pohon, sampai ranting-ranting yang bergoyang pelan tertiup angin. Tapi tetap kosong.
Pak Yuda menoleh lagi ke arah Pak Marsuki.
"Pak Marsuki… mungkin salah lihat," ujarnya mencoba menenangkan.
Pak Marsuki langsung memotong, "Bukan salah lihat, Pak! Saya lihat jelas! Bahkan dia..."
"Sudah." Sela Pak Yuda pelan.
"Di sana itu cuma pohon pisang sama semak. Malam begini, bayangan bisa macam-macam.." katanya menunjuk ke arah semak-semak itu.
Pak Marsuki masih menggeleng.
"Bukan bayangan, Pak." suaranya melemah, tapi tetap yakin.
Pak Yuda mendekat satu langkah ke arahnya.
"Kalau kita ikut takut, nanti pikiran kita yang main, apalagi habis dengar cerita macam-macam." lanjutnya.
Pemuda di belakang mengangguk pelan, meski wajahnya belum sepenuhnya tenang.
Pak Marsuki terdiam, dadanya masih naik turun. Namun ia tidak berani membantah lagi.
"Sudah, kita lanjut ronda saja." Kata Pak Yuda akhirnya.
Mereka kembali berjalan.
Langkah Pak Marsuki kini jauh lebih dekat ke Pak Yuda, hampir menempel. Dia tidak lagi berani menjauh.
Sementara itu. Di tempat lain.
Suasana di dalam rumah Bu Darsia terasa sunyi dan dingin.
Lampu minyak menyala redup di sudut ruangan, cahayanya bergoyang pelan tertiup angin yang masuk dari celah jendela.
Di dinding ruang tengah, tergantung sebuah foto.
Foto Aning yang tersenyum lebar, merangkul ibunya dengan hangat.
Namun kini, senyum itu justru terasa menusuk.
Bu Darsia duduk di lantai, tepat di bawah foto itu. Matanya sembab.
Tangannya terangkat pelan, menyentuh bingkai foto itu.
"Nduk…" bisiknya lirih.
"Ibu… kangen…"
Beberapa detik ia terdiam.
Napasnya terdengar berat.
"Nduk…" Ulangnya pelan.
"Ibu pasti akan membuat mereka semua, membayar perbuatan mereka."
Lampu minyak tiba-tiba bergoyang lebih kuat.
Bayangan Bu Darsia di dinding ikut bergerak aneh, memanjang, lalu menyusut.
Angin yang tadi pelan, kini berhembus masuk lebih dingin.
Dan entah dari mana, terdengar suara lain, sangat pelan.
Seperti bisikan…
"…ibu…"
Bu Darsia langsung terdiam.
"Nduk…?" Ucapnya.
Lampu minyak kembali bergoyang.
Dan bayangan di dinding…
perlahan tampak seperti bukan hanya satu.
Ruangan itu semakin dingin. Nyala lampu minyak mengecil... membesar… lalu mengecil lagi, seolah-olah ada sesuatu yang ikut bernapas di dalam rumah itu.
Bu Darsia tidak bergerak. Matanya masih menatap foto Aning.
Namun kini, fokusnya bukan lagi pada gambar itu.
"…ibu…"
Suara itu terdengar lagi.
Lebih jelas.
Lebih dekat.
Bu Darsia perlahan menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa. Namun hawa dingin itu masih ada.
Bahkan semakin terasa.
"Ibu di sini, nduk…" Jawabnya pelan.
Tiba-tiba....
Krek…
Terdengar suara dari arah kamar Aning.
Pintu kamar itu… yang sejak kematian Aning selalu tertutup, perlahan terbuka sendiri.
Celah kecil.
Gelap di dalamnya.
Bu Darsia berdiri perlahan.
Langkahnya pelan, nyaris tanpa suara.
"Nduk…?" Panggilnya lagi.
Tak ada jawaban. Hanya gelap.
"Nduk…" Panggil Bu Darsia lagi, berharap jika putri semata wayangnya itu ada di dalam kamar yang kosong itu.
"Nduk… Ibu disini…" Kata Bu Darsia.
Namun tiba-tiba.... pintu kamar itu menutup sendiri.
BRAK!
Ruangan langsung gelap total.
Dan dari dalam kegelapan itu, terdengar beberapa bisikan… bersamaan mengelilinginya.
"…ibu…"
"…ibu…"
"…ibu…"