Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Rasa sakit masa lalu
"Isshh!"
Bugh
Nindi menendang trotoar jalan, di sepanjang perjalanannya pulang ia menggerutu kesal karena ulah David hari ini.
"Baru juga hari pertama! masa udah dibikin marah marah! gini salah gitu salah apa apa salah! kalo salah ngapain masih nyuruh nyuruh!" Gerutunya.
"Untung aja bos besar coba kalo enggak gue tendang tititnya!" Omelnya.
Bekerja dengan David adalah satu satunya harapan untuk mendapatkan uang secara cepat, namun nindi tak tau seberapa lama ia akan mampu bertahan bekerja dengan pria itu.
"Sabar nindi, demi ayah" Ucapnya sembari mengelus dada perlahan.
Keesokan harinya...
"So jadi kamu pinter pinter aja ngerayu toko supaya ambil produk kita lebih banyak, nanti kamu pasti dapet bonus banyak juga" Ucap Jingga.
"Ada bonus nya juga?" Tanya nindi tak percaya.
"Ada dong, keren gak?"
Nindi mengangguk antusias, ia merasa sangat terbantu dengan pengarahan yang di ajarkan jingga sang kepala karyawan, selain penjelasannya mudah di mengerti wanita itu juga sangat ramah.
"Masing masing di sini udah ada jatah tokonya, jadi pinter pinter kamu aja gimana masarin produk kita, oke? kalo gak ngerti kamu bisa Tanya saya, meja saya ada di ujung sana" Tunjuknya pada satu arah.
"Makasih kak"
"Sama sama, semangat kerjanya ya?"
Nindi mengangguk dengan senyuman lebar, selama tak berurusan langsung dengan David ia merasa akan bekerja dengan baik di sini.
"Di sini ada yang namanya nindi?" Tanya seorang wanita yang baru datang di ruangan karyawan
"Saya kak?" Nindi mengangkat tangannya.
"Di panggil pak David tuh" katanya.
"Aduh ngapain lagi sih?" keluh nindi dalam hati.
"Yaudah kamu kesana aja dulu siapa tau penting"
"Iya kak makasih"
"oke oke"
Nindi mulai berdiri dari mejanya dan menuju ke ruangan David yang berada di lantai 10.
Beberapa saat kemudian...
Tok tok...
"Masuk" Perintahnya
Nindi membuka pintu ruangan David perlahan dan menghampiri pria 27 tahun itu, David tampak duduk di kursi besar miliknya.
"Selamat pagi pak, bapak manggil saya?"
"Iya" Jawabnya singkat.
"Ada apa pak?"
"Kamu tolong geserin tirai itu dong ke arah kanan dikit" Tunjuknya pada tirai jendela.
Nindi melirik ke arah yang di tunjuk David, apa pria ini memanggilnya hanya untuk itu?
"Bapak manggil saya buat geserin tirai?"
David yang tadinya tengah membaca sebuah berkas kini menatap nindi yang masih berdiri ditempatnya.
"Kenapa? kamu gak mau?"
"Maaf Pak" nindi menunduk dan mulai berjalan ke arah jendela dan menggeser tirainya sesuai permintaan david.
"Itu terlalu ke kanan, geserin lagi ke kiri" perintahnya.
Nindi melakukan sesuai keinginan David.
"Geser lagi!"
"Kurang!"
"Dikit lagi!"
"Nah udah" Finalnya.
Nindi terkekeh ringan, apa apaan itu? posisi tirainya sama seperti awal.
"Apa bedanya sama yang tadi kayanya sama aja" Celetuk nindi karena kesal.
"Saya yakin kamu udah geser ke kanan satu senti" Balas David.
Nindi mengepalkan tangannya kuat kuat, ia berjalan ke arah David dan berdiri tepat di meja besarnya.
"Kenapa kamu?" Tanya David.
Plak
"Ahh!" David terhenyak kaget saat nindi tiba tiba menampar pipinya.
"Lo ngerjain gue kan bajingan!" Makinya.
"Berani kamu sama saya?!"
"Berani!" Teriaknya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
"Nindi?!" Panggil David kuat.
"Eh iya pak?" Nindi tersadar dari lamunannya.
"Saya udah manggil kamu 3 kali, saya bilang kamu boleh keluar, malah bengong" Cibirnya.
"Maaf Pak kalo begitu saya permisi" pamit nindi.
David mengangguk singkat mempersilahkan nindi pergi.
Setelah keluar dari ruangan David nindi merutuk dirinya berkali kali, bisa bisanya ia berhalusinasi menampar direkturnya.
"Kalo beneran gue tampar tadi pasti udah di pecat, abis nyebelin banget sih!" Kesalnya.
Di sisi lain...
David tertawa puas melihat raut wajah nindi yang tampak sangat kesal, itu berkali kali lipat membuat semangat dirinya semakin bergejolak.
"Kita liat sampek kapan kamu bertahan dalam situasi kaya gini" Gumamnya.
Tok tok tok....
"Masuk!"
"Gue ada berkas yang harus lo tanda tangani" Ivan yang baru saja membuka pintu langsung bersuara.
"Mana" Tanyanya
"Nih!" Pria itu menggeser beberapa kertas dan meletakkannya pada meja besar David.
"Happy banget gue liat liat" Kata Ivan
"Menurut lo?"
"Gara gara nindi ya?"
"Ya bisa jadi"
Ivan menggeleng pelan dengan kelakuan sahabatnya itu, entah sebesar apa rasa cinta nya pada nindi hingga mampu membuat pria sedingin David kembali bersemangat hidup.
"Semua rasa cinta lo emang lo udah kasih ke dia ya?"
"Jangan beranggapan kalo gue masih berharap sama dia, lo salah" Kata David.
"Terus?"
"Gue seneng aja ngeliat dia kesusahan, ada kepuasan tersendiri bagi gue" Ungkapnya.
"Lo jahat sih kalo kata gue"
"Gue jahat?" Tanya David tak percaya.
"Lo gak tau kehidupan yang di alami dia akhir akhir ini Dave, dan lo sengaja narik dia ke sini buat nyusahin dia, gimana kalo ternyata selama kita pisah, dia kesulitan?"
David terdiam dengan ucapan Ivan, namun ia tak menerimanya.
"Terus gimana sama gue, setelah dia ninggalin gue ditengah hujan hari itu, dia gak tau dan bahkan gak mau tau gimana gue ngejalanin hidup gue setelah itu, apa dia peduli? apa dia pernah mikir seberapa gue berharap sama hubungan kita waktu itu?"
"Bilang kalo lo masih suka sama dia"
"Kalo gue bilang, ada jaminan dia gak bakalan pergi lagi?"
Percakapan yang mereka lakukan semakin dalam, Ivan dapat melihat kilatan emosi di mata David.
"Tapi dulu lo gak pernah nyari dia"
"Buat apa?"
"Cinta itu butuh perjuangan Dave"
"Merjuangin orang yang gak suka sama gue? ntar kalo gue paksa jatuhnya egois dong?"
"Apa bedanya sama lo nahan dia di sini? lo juga egois, ngasih dia kerjaan buat ngerjain dia doang?"
David mengepalkan tangannya kuat, entah mengapa percakapan ini semakin membuatnya merasa kesal dengan Ivan
"Lo keluar sekarang!" Usirnya.
"Gue yakin dulu nindi punya alasan kenapa dia nolak lo" Ucap Ivan
Ivan mengambil kertas yang sudah di tanda tangani oleh David dan memilih keluar tanpa berpamitan.
"Bullshit!"
...****************...
Nindi tampak berantusias mendengarkan cerita dari salah satu temannya, Mira.
Wanita berusia 25 tahun itu sangat periang dan juga baik menurutnya, mereka sudah berteman sejak satu jam lalu, kebetulan mereka berada di divisi yang sama.
"Stt liat tuh!" Bisik mira menunjuk arah pintu masuk kantin.
Nindi menoleh ke belakang mendapati kehadiran raka, pria yang kemarin sempat membantunya mencari tahu jenis kopi.
"Ganteng banget ya?" Kata mira.
"Lo suka?" Tanya nindi.
"Siapa juga yang gak suka dia, manager paling ramah ganteng tinggi wangi super baik deh! iya gak?"
Nindi mengangguk membenarkan ucapan mira, raka memang terlihat begitu.
Ia tersenyum getir saat melihat bagaimana mira menatap raka penuh puja, wanita itu jatuh cinta rupanya.
Jujur saja nindi juga merasa kagum dengan raka, bisa di katakan dirinya juga sempat tertarik pada pria itu, namun saat melihat bagaimana mira menyukainya, harapannya terasa sirna, ia tak mungkin kembali menyukai lelaki yang di sukai oleh teman nya seperti dulu.
"Makan dulu nanti lagi ngeliatin pak rakanya" Goda nindi pada mira.
"Ah kamu!" Mira tertawa malu karenanya.