Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan yang Mengakhiri Cinta
Sebelum pulang ke rumah, Azura menyempatkan diri mampir ke ATM terdekat. Ia harus mengambil uang simpanannya untuk berjaga-jaga. Selama menikah, Dimas hampir tidak pernah memberikan nafkah lahir secara layak. Cinta buta Azura dulu membuatnya tak pernah menuntut, tetapi untungnya, ia masih memiliki tabungan dari hasil kerjanya sebelum menikah tanpa Dimas ketahui berapa jumlahnya.
Azura berdiri di depan pintu rahasia di belakang rumah megah itu selama beberapa detik, lalu menarik napas panjang. Lima tahun hidupnya terkurung di balik dinding mewah ini.
Hari ini... Semuanya akan berakhir.
Ia melangkah masuk. Suasana tampak tegang. Para pelayan menunduk saat melihatnya lewat. tatapan mereka bukan lagi iba, melainkan ketakutan. Belum sempat Azura mencapai ruangan jantungnya berdetak kencang.
"AZURAAA!"
Tubuhnya menegang, suara itu dulu membuat hatinya hangat, kini justru membuat darahnya membeku. Dimas berjalan cepat ke arahnya dengan wajah dipenuhi amarah. Matanya memerah. Tanpa peringatan...
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Azura. Tubuh kecilnya terhuyung. Dunia seolah berputar.
"Perempuan murahan!" bentak Dimas. "Barani sekali kau keluar rumah tanpa izin dan pergi dengan pria lain!"
Azura tidak menjawab. Ia tidak menangis, tidak pula memohon. Ia hanya diam menatap lantai marmer yang dingin, yang tentu membuat kemarahan Dimas semakin meledak.
"Kau berani mengabaikan ku?!" bentak Dimas lagi. " Jawab!"
Pukulan berikutnya mendarat di bahu, lalu perut, hingga punggungnya. Tubuh Azura jatuh tersungkur di lantai. Napasnya tersengal, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh, namun hatinya terasa hampa.
"Habiskan saja semuanya, Dimas.. Agar tidak ada lagi cinta yang tersisa saat aku pergi nanti," bisik Azura dalam hati.
"Aku dengar dari ibu," Lanjut Dimas dengan suara bergetar karena emosi."Kau kabur bersama pria! Kau benar-benar mempermalukan nama besar keluargaku!"
"Apa kau percaya begitu saja dengan perkataan ibumu, tanpa kau cari bukti yang benar?" tanya Azura, masih dengan wajah menunduk. Suaranya terdengar lirih tak ada lagi ketakutan di sana.
Azura perlahan mengangkat wajah. Tatapannya datar, menatap langsung ke bola mata pria yang dulu ia puja. " Jika aku memang begitu hina di matamu... Lepaskan saja aku. ceraikan aku."
Ruangan itu mendadak hening. Dimas tertegun sejenak. Ia tak menyangka kata 'cerai' pertama kali keluar dari mulut wanita yang selama ini selalu berlutut dibawah kakinya. Wajahnya semakin menggelap.
"Mas, kenapa kau berubah sejauh ini? Apakah memang sudah tidak ada lagi sedikit pun cinta di hatimu?" tanya Azura pelan.
Dimas terdiam sesaat, lidahnya mendadak kelu, tak tahu harus menjawab apa. Egonya jauh lebih besar.
Senyum tipis terlihat di bibir Azura. Cinta itu telah runtuh sepenuhnya, berganti menjadi tekad yang dingin. " Tidak selamanya, Dimas," Bisiknya.
"APA?!"
Hal itu membuat Dimas kehilangan kendali. Menyeret Azura dengan kasar ke bagian belakang rumah.
"Kurung dia di gudang!" perintah Dimas pada satpam.
Azura dilempar masuk ke dalam gudang yang gelap dan pengap. Pintu langsung dikunci dari luar. Bau lembab dan debu seketika menusuk hidung. Tubuhnya terasa nyeri, darah segar masih mengalir dari sudut bibirnya. Beberapa jam kemudian. Mbok Ati menyelinap masuk membawa kotak obat dan daster bersih.
"Non Azura... Ya Allah ..." Mbok Ati terisak melihat luka di tubuh Azura. Dengan tangan bergetar, ia mengobati luka-luka itu.
Azura tersenyum lemah."Aku tidak apa-apa, Mbok "
"Tidak apa-apa bagaimana? Tubuh Non penuh luka dan memar begini..."
Sentuhan hangat Mbok Ati hampir membuat benteng pertahanan Azura runtuh, tapi ia sekuat tenaga menahannya.
"Mbok ..." Bisiknya ." Jika suatu hari aku pergi .. Doakan aku ya . Mbok."
Mbok Ati tersentak. " Non Azura mau ke mana?"
Azura tidak menjawab. Ia hanya menatap kegelapan di sudut gudang.
Dua hari berlalu. Azura hanya diberikan air dan roti keras . Pada hari ketiga, ia dikeluarkan dan disuruh melakukan pekerjaannya kembali.
Malam harinya, saat hendak mengambil air di dapur, langkah Azura terhenti di depan kamar ibu mertuanya. Pintu yang sedikit terbuka terdengar percakapan rahasia antara Dimas dan Bu Ratih.
"Persiapan pernikahan harus sempurna. Anak Pak Surya tidak boleh kecewa. Ini kesempatan kita untuk melebarkan bisnis batu bara di Kalimantan, " suara Bu Ratih terdengar jelas.
Azura membeku.
"Tenang, Bu." Jawab Dimas santai. "Lagi pula, aku sudah bosan bermain peran jadi suami, Mama ingat kan? Aku membawanya ke sini cuma karena taruhan lima miliar dengan teman-temanku. Aku cuma ingin membuktikan kalau aku bisa menaklukkan di jenius itu tanpa perlu menikahinya secara resmi."
Suara tawa Bu Ratih terdengar. " Dan kau berhasil dia bahkan bekerja seperti mesin uang gratisan untuk bisnis kita."
"Banar , Bu. Bahkan urusan anak aku sudah atur. Aku selalu bius dia dan panggil mantri untuk suntik KB setiap bulan. Makanya aku selalu hina dia mandul agar dia tidak percaya diri. Keluarga di desanya pun tidak pernah kukirimi uang sepeser pun. Dan juga keluarganya di desa tidak tau alamat kita tinggal."
Jantung Azura rasa berhenti berdetak. Dunia seolah runtuh. Ternyata selama ini ia hanyalah boneka taruhan, diperas otaknya, dilecehkan tubuhnya dan dirusak rahimnya.
Azura mundur perlahan dengan kaki lemas. Air matanya mengalir. Rasa hancur di dadanya kini menjadi kemarahan yang membara.
"Bagus. Jika kau ingin menikah lagi, maka kau harus menceraikan ku terlebih dahulu, Dimas." ucap Azura.
Azura mengepalkan tangannya. Ia tidak akan pergi sebagai korban. Ia akan memastikan talak tiga keluar dari mulut dimas di saat yang paling tepat sehingga pria itu tak bisa berbuat apa-apa.
Malam itu, Azura merasa hidup kembali. Rencana besar mulai tersusun di kepalanya. Dan kali ini .. Yang akan hancur bukan dirinya, melainkan seluruh keluarga Prakoso.