Bayangin kalo kamu jadi Aku?
Aku punya sepupu di pesantren namanya Fattah!? dia itu populer banget di pondok guys! tapi anehnya Aku dan Fattah begitu terikat sampai banyak mata melihat ngiranya kita adalah pasangan Sah?
penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon camamutts_Sall29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ulang tahun Hamdan
Sesampainya dirumah.
Aku berjalan cepat karena merasa patah hati yang suamiku katakan membuatku marah.
Hamdan menatapku heran lalu memasuki mobilnya dan mematikan mesin.
****
Dikamar, Aku menaruh bayi di atas kasur ranjang dan merebahkan diriku di sebelah putraku yang demam.
Rasanya kacau sekali diantara marah sama Hamdan karna perkataannya juga atau kesalahanku karna stres karna ulah Bayi.
1 jam kemudian.
Rasyid menangis tapi Aku meracau pada bayi untuk diam dan berbicara padanya bahwa Aku sangat kesal dan kacau.
"Nakk tolong diam, Bunda capek denger kamu terus nangis sedangkan nimple bunda sakit karna kamu."
keluhku.
Tak bisa merespon sang Bayi, melainkan mengerang keras membuatku mengacak rambut stres.
"Riana? kamu ga bisa terus begini, tenang Sayang."
"Kamu bilang tenang? disaat nimple ku terluka kamu bilang tenang?"
Aku mendengus dan melewati Hamdan.
Aku tidak bisa terus berdiam lagi di kamar.
Apalagi Aku masih marah sama suamiku karna perkataannya membuatku patah.
Perlahan pintu berderit, ternyata Mama masuk dan datang menemuiku secara tiba-tiba.
Aku terperanjat menyadari bahwa Aku saat ini sedang hancur berat.
"Ada apa Riana?"
Air mataku turun deras.
Tak bisa ku buka mulut untuk menjelaskan beberapa kata lagi.
"Dari kapan Hamdan Riana, begini?"
Hamdan menoleh dan membenarkan posisi duduknya walau tadi, sempat mendiamkan Rasyid dalam gendongannya.
"Tadi sore Mam, Riana kacau banget. Aku abis dari apotik beli salep buat nimplenya Riana lecet karna lidah bayi. terus tangisan Rasyid membuat Riana stres kayanya."
"Yaudah, Rasyid sementara sama Mama dulu 2 minggu gimana? kamu pompa Asi kamu 2x sehari ya Riana, bisa?"
"Rasyid aja nyusu lebih dari 5x Mam, nanti--"
Hamdan mengkodeku untuk diam.
"Mama belikan susu formula, udah gapapa jadi ada gabungan."
Aku pun menangis lagi.
"Sini Hamdan. Rasyid sama Saya aja, jam 8 malam Mama pulang ya? Adik kamu ada PR, Ri."
"Kenapa Rehan ga mandiri kerjain sama Ayah?"
"Kamu tau Ayah sibuk banget kan?"
Aku menghela napas berat.
situasi dirumah orang tua juga padat sibuk, Aku dan Hamdan juga sibuk ngurus bayi kita.
Tapi Aku malah membebani Mama?
"Mama, Maafin Riana! Kali ini aja Aku nyusahin mama buat ngurus Rasyid."
rengekku manja.
Mama tersenyum sendu,"gapapa nak."
"Hamdan? maafin Anak mama ya, kamu jadi bingung menghadapi istri harus seperti apa?"
Hamdan menggeleng.
"Engga Mam, Riana masih dalam kontes proses jadi ibu. Aku ga ada masalah."
Hamdan tersenyum padaku.
Tapi justru Aku masih kesal.
"Tunggu."
Mama memeriksa ponsel.
Ada yang menelpon.
"Rehan nelpon Mama."
Hamdan mengangguk cepat, Aku diam sejenak.
Karna Mama pergi menelpon adikku dulu dan ternyata Aku dapat kebebasan di kamar tanpa khawatir stres lagi.
"Sayang? kamu kenapa seperti ada masalah sama Aku?"
Hamdan peka rupanya.
"Gapapa, ga mau ngomong dulu Mas."
Hamdan menarik pinggangku lalu membiarkan wajahku di dalam dada bidangnya.
"Maafin Aku Riana..."
kata-katanya dalam.
Hangat.
Aku menangis.
"Aku tadi sedikit bingung tapi bukan marah sama kamu. Kamu kecewa ya sama Mas?"
"Aku kesel, Aku marah patah hati! Kamu tega banget ngomong gitu pas dijalan."
"Jangan bahas lagi udah!" gertakku.
"Oke maaf. Sayang? mau keluar kita jalan-jalan yuk?"
Aku menggeleng-geleng.
"Kenapa? bukannya kita jarang keluar berdua? Apa kamu ga kangen sewaktu belum ada bayi kita belum sempat pacaran? habisin waktu yang lama?"
Aku membuang Napas berat.
"Aku tau Ri, Mas yang salah. Maaf Aku aturan ga bilang gitu Maaf ya."
Hamdan menangis.
"Kok nangis?" kataku mengusap cepat buliran air dimata suamiku.
Perlahan Aku melihat Matanya Hamdan begitu penuh penyesalan karna membuatku menangis.
Hamdan masih terisak perih dan di lubuk hatinya merasa bersalah.
Aku melihat wajahnya yang sedih banget, tak sengaja melihat kalender besok Hamdan ulang tahun.
"Aku maafin kamu Mas. Maafin aku Mas masih kurang baik jadi Ibu. buat Anak kita."
Hamdan mengangguk dan Aku merentangkan tangan dengan cepat Hamdan berhambur ke pelukanku.
Beberapa menit kemudian.
Mama mulai bergegas pulang dan membawa Rasyid untuk kesehatan mentalku.
Aku mencium Bayiku dan Hamdan mengusap kedua pipi Rasyid tak sadar Hamdan mengalirkan air matanya namun dia hapus cepat sebelum Aku melihatnya.
"Pasti Ayah kangen sama Rasyid nanti."
senyum hamdan terpaksa.
Ada perasaan sesak dirasakan Hamdan sebagai Ayah dari bayiku sendiri.
Aku tahu Hamdan pasti kangen, tapi Aku ga bisa menahan rasa perih didalam tubuhku saat ini.
Mama berpamitan dan membawa mobil dengan kecepatan standar.
"Sayang? kita mau jalan kemana?"
"Aku yang nentuin ya, gimana kalo besok?" ucap Hamdan.
"Katanya sekarang?"
Hamdan terlihat tidak bisa, dia baru saja melihat Rasyid tinggal sama Mamaku dia udah rindu lagi.
"Yaudah terserah kamu."
kataku badmood.
ku tinggalkan Hamdan lalu suamiku mengikutiku di depan, dan mengunci pintu.
Pagi tiba yang dimana angin sejuk penuh damai menerobos celah lubang jendela kamar.
Hamdan tidak ada di kasur?
Kemana dia?
Aku mengusap kedua mata berulang.
Langsung berjalan saja, Aku membuka pintu kamar.
Dan terkejut ada Hamdan tertidur di luar kamar dan masih terlelap sambil bersandar di pojok dinding.
"Sayang?" panggilku.
Hamdan terbangun cepat.
"Maaf Sayang, Aku ga bisa tidur sama kamu semaleman. Aku kepikiran Rasyid."
Aku mengangguk.
"Kamu tidur di kamar gih lanjutin, Aku mau masak sarapan buat Kamu."
Hamdan mengangguk lalu mencium pipiku sekilas.
"Mas?"
"Hmm? Ada apa sayangku?"
sepertinya Hamdan sudah lebih baik pagi ini moodnya.
"Selamat ulang tahu ya Hamdan suamiku."
Kataku mengecup bibirnya.
"Ehh? Oh iya Aku baru inget hari ini."
Hamdan tersenyum manis.
"Mau kado Apa?" kataku manja, dan memeluknya dari samping.
"Pizza boleh?" lirihnya malu-malu.
Hamdan membalas rangkulan pelukannya.
"GAS!" kataku mengepal tangan ke atas.
Hal ringan dan saling memaafkan akan terasa ringan dalam berumah tangga
Jika itu Riana dan Hamdan?
Mereka tidak akan berlama-lama menyimpan masalahnya sendiri sendiri.
...
TBC.
semangat tor