Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Merebut Apa yang Menjadi Hakku
POV Dirgantara
Aku sengaja duduk di meja kerjanya Sean hanya untuk melihat reaksinya. Bagaimana rasanya jika seseorang merampas haknya.
Tak lama kemudian Sean benar-benar masuk dan langsung menatapku tajam.Jelas dia tak akan suka dengan sikap semena-mena dari aku.
"Kamu ngapain di ruangan saya?" tanyanya tak suka.
"Aku hanya ingin merasakan ruangan yanga seharusnya menjadi milikku!"
"Dirga!!" Hardiknya emosi.
Aku berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kamu marah Sean? Bukankah kamu juga tau,kalau semua kemewahan yang kamu nikmati selama ini adalah milikku?"
"Dirga,kenapa kamu masih ngotot mengatakan ini semua? Mama kamu dan papa aku beradik kakak,bukankah wajar ini semua milik kita bersama?" Ucapan Sean seolah dia benar-benar tolol dan bodoh selama ini.
"Milik bersama? Jangan mimpi kamu Sean! Perusahaan ini milik almarhum papa aku. Dia membangunnya dari nol. Tak ada seujung kuku hak papa kamu di sini!"
Masih jelas teringat di benakku. Aku yang berusia lima belas tahun,ketika papa sakit parah kala itu. Papa meminta bantuan om Reno untuk mengelola perusahaan karena dirinya yang lagi sakit. Namun siapa sangka ketika penyakit papa semakin parah,om Reno malah berbuat curang. Dia memindahkan saham milik papa ke atas namanya sehingga mau tidak mau dia menjadi pemimpin perusahaan.
Alasannya saat itu, karena mama perempuan dan tak akan bisa mengelola perusahaan. Sedangkan aku masih remaja, malah lebih tak mungkin untuk menjadi pemimpin perusahaan. Siapa sangka selama perusahaan dipimpin om Reno, dia semakin tamak. Semua yayasan yang dikelola papa dan mama di nonaktifkan. Bahkan aku dan mama harus hidup ke luar negeri dan ditanggung keluarga papa.
Bahkan di saat papa meninggal, bisa-bisanya om Reno dan sekeluarga jalan-jalan ke luar negeri. Miris bukan? Bagaimana aku tak ingin merebut kembali sesuatu yang harusnya menjadi milikku.
"Dirga..Hubungan masa lalu antara orangtua kita tak ada hubungannya dengan aku. Kamu juga tau sendiri kita sama-sama muda saat itu!" Ucap Sean meyakinkan aku.
Bagiku dia dan papanya akan tentu sama. Karena watak orangtuanya pasti akan turun ke anaknya.
"Jika hal ini membuat kamu tak senang, ambil lah posisi ini!" Katanya lagi membuat aku tertawa.
"Sean..Jangan munafik kamu! Selama ini kamu sudah menikmati semuanya,jadi darah yang mengalir di tubuh mu itu,sudah menerima asupan haram dari tipu muslihat orang tua kamu!"
"Dirga!!" Sean mulai tersulut emosi,bahkan dia memegang krah kemejaku.
"Santai Arsean Arserino! Aku tak butuh posisi ini!" Aku melepas kasar tangannya dan langsung melangkah ke luar ruangannya. Setidaknya aku puas sudah menyampaikan unek-unek dalam otakku.
Baru saja keluar aku bertatap mata dengan Senja. Dia cukup terkejut mungkin,karena dari posisi duduknya dia bisa melihat apa yang terjadi di dalam tadi. Tapi dia terlihat santai dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Soal Senja..
Bagaimana aku bisa mengenalnya?
Saat itu hujan lebat turun, aku dan mama berhenti di sebuah mesjid karena mama mau sholat. Dan di sana kami melihat wanita muda yang seusia dengan ku sedang meneguk air hujan. Saat itu dia sedang hamil besar.
Ketika mama sholat di dalam masjid,aku yang berdiri di luar terus memperhatikannya. Saat itu Senja terlihat sangat lusuh. Meski dia hamil,tapi tubuhnya sedikit kurus. Dengan gelas plastik bekas jajanan minum anak-anak,dia menampung air hujan dan meminumnya.
"Alhamdulillah nak,mama udah gak kehausan lagi. Allah sayang sama kita,di saat mama begitu haus,hujan pun diturunkan selebat mungkin." Ucapnya kala itu sambil mengusap lembut perutnya.
Jujur hatiku tersentak melihatnya. Dia cantik,masih muda namun mengapa bisa hidup di jalanan sambil hamil besar.
Mama yang ke luar dari masjid mengagetkan aku.
"Lihat apa,nak?" Tanya mama mengusap lenganku.
Aku diam,namun sorot mataku terus melihat Senja yang sedang menikmati sepotong roti dengan senyum yang tak memudar dari wajahnya,tetapi matanya mengandung banyak kesedihan.
"Ma... wanita itu!" tunjuk ku.
Mama kemudian menghampiri Senja,namun aku lebih memilih berdiri agak jauh. Dan entah apa yang diobrolin mama dan Senja,karena bisa terlihat mama menangis sambil memeluk Senja.
Pada akhirnya kami membawa Senja ke yayasan yang dibangun papa. Mama menyuruhnya tinggal di sana sampai persalinan. Karena dari cerita Senja,dia hidup sebatang kara. Dan laki-laki yang menghamilinya pergi keluar negeri melanjutkan studi sehingga tak bisa berkomunikasi.
Bahkan saat itu malam hujan turun lebat,aku yang sering ke yayasan menemani mama mendapat kabar kalau Senja mau melahirkan. Mama menyuruh ke bidan tempat Senja melahirkan untuk mengantarkan peralatan bayi.
Dan aku sangat jelas tak sengaja melihat saat Senja melahirkan anak nya. Tanpa siapapun di sampingnya,hanya ada Tuhan sebagai kekuatannya. Dia tak mengeluh atau meneteskan air mata. Bahkan dia begitu sabar sampai anak itu benar-benar lahir.
Siapa sangka bertahun-tahun berlalu,Senja sudah berubah. Dia sudah bangkit dan menjadi wanita pekerja keras. Aku yakin semangat dalam dirinya semata-mata untuk anaknya.
"Pak Dirgantara!" Senja membangunkan lamunan ku.
"Anda sakit?" tanyanya menatapku.
"Tidak.." Aku selalu gagal fokus setiap menatap matanya.
Aku memilih kembali ke meja kerjaku. Sepertinya takdir sedang mengujiku, mempertemukan aku kembali dengan gadis yang aku tolong enam tahun yang lalu. Entah apa tujuan Tuhan,namun aku yakin ini pasti ada sesuatu di baliknya.