Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Siapa—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara yang terlalu ia kenal terdengar tenang di tengah udara malam.
“Kalau keluar rumah diam-diam kayak gini, Oma bisa tambah ketat awasi lu.”
Olivia memejamkan mata sesaat. Tentu saja.
Juna berdiri tepat di belakang mereka, mengenakan mantel gelap, kedua tangan sudah masuk ke saku, ekspresinya tenang seperti biasa—seolah sudah tahu dari awal mereka akan melakukan aksi nekat ini.
Jesica menelan ludah, lalu berusaha terlihat santai. “Eh… Kak Juna. Cuma… cek taman disini kok.”
Juna mengangkat satu alisnya tipis. “Cek taman jam segini? Disini?”
Tatapannya beralih pada Olivia. Tidak marah. Tapi jelas mengawasi.
Olivia mendengus kecil. “Kita cuma lihat-lihat. Lagian nggak ada apa-apa.”
Juna melangkah lebih dekat. “Justru karena nggak ada apa-apa, lu nggak perlu keluar diam-diam. Kalau Oma tau, lu bukan cuma diawasi. Lu bisa dikawal.”
Olivia langsung terdiam. Dikawal? Itu lebih parah.
Juna lalu melirik Jesica, sudut bibirnya terangkat samar. “Jes… Oliv gue pinjam dulu ya.”
Jesica masih mencoba memahami, sampai Juna melanjutkan dengan nada santai yang terlalu santai.
“Pesan Oma, dia harus punya anak.”
Hening.
Dua detik.
Tiga detik.
Jesica langsung menutup mulutnya, bahunya bergetar menahan tawa. Sedangkan Olivia—
“GILA LU, KAK!”
Suaranya hampir setengah berteriak, wajahnya merah sampai ke telinga. “Ogah gue! Ogahhh! Jangan harap ya! Jangan mimpi!”
Jesica benar-benar tidak bisa menahan tawa kali ini. “Liv… santai dong…”
Olivia menunjuk Juna dengan wajah super kesal. “Nggak lucu! Nggak lucu sama sekali!”
Juna hanya tersenyum kecil, sama sekali tidak terlihat terganggu. “Siapa bilang gue serius sekarang?”
“Sekarang?!” Olivia makin panas. “Berarti ada nanti-nantinya dong?!”
Juna mendekat sedikit, cukup membuat Olivia refleks mundur setengah langkah. Suaranya lebih rendah.
“Lu ini masih terlalu mudah panik, Liv.”
“Dan lu terlalu santai!” balas Olivia cepat.
Juna tertawa pelan, lalu berjalan menuju rumah dan membuka pintu belakang untuknya. “Masuk. Udara malam nggak bagus buat calon pewaris.”
“Calon pewaris kepala lu!” gerutu Olivia sambil berjalan masuk dengan langkah kesal.
Jesica ikut menyusul sampai ke teras depan, mobilnya sudah menunggu tak jauh dari gerbang. Ia menoleh pada Olivia sambil berbisik cepat, “Tenang aja, Liv. Gue pulang dulu. Besok kita bahas lagi soal Kak Olin.”
Olivia mengangguk kecil. Jesica tidak bisa menginap. Rumah sebesar ini tetap memiliki aturan dan malam semakin larut.
Juna berdiri sebentar di teras, memastikan mobil Jesica benar-benar pergi, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
Beberapa jam kemudian. Olivia sudah mandi, berganti piyama, dan duduk di atas ranjang besar kamar barunya. Lampu kamar diredupkan. Hening. Sangat hening. Ia mendesah pelan.
“Punya anak… amit-amit,” gumamnya sambil menarik selimut.
Ia meraih ponselnya untuk sekadar mengecek notifikasi sebelum tidur.
Sudah ada satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Jantungnya langsung berdegup sedikit lebih cepat. Ia membuka pesan itu. Pesan singkat tanpa nama.
Jangan sampai kamu punya anak
Olivia membeku, tangannya mendadak dingin. Ia membaca ulang pesan itu. Bukan bercanda. Tidak ada emoji. Tidak ada penjelasan. Hanya kalimat itu.
“Jangan sampai kamu punya anak.”
Napasnya tertahan. Bagaimana orang ini tau soal syarat pewaris? Itu baru diumumkan di forum keluarga dan eksekutif inti. Tidak mungkin tersebar begitu cepat.
Pikirannya langsung melayang ke Jesica. Ke taman tadi. Ke bayangan misterius. Atau… Olin?
Ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua masuk.
Kalau tidak, kamu akan menyesal.
Olivia menatap layar itu dengan mata melebar. Di luar kamar, langkah kaki terdengar samar di lorong. Entah hanya pelayan… atau seseorang yang sedang mengawasi. Olivia merasa mungkin ancaman itu kembali atau sebenarnya baru saja dimulai.
Olivia tidak mengatakan apa pun. Pesan itu ia simpan. Ia hapus notifikasinya, tapi tidak pernah benar-benar menghapus isi pesannya dari pikirannya.
Tidak ada yang tau, baik Jesica, Oma apalagi Juna. Untuk saat ini, ia tidak bisa percaya pada siapa pun.
Nomor itu… bukan nomor baru. Itu nomor yang sama seperti sebelum ia menikah. Nomor yang dulu pernah mengirim pesan-pesan aneh, samar, seolah mengawasinya dari jauh.
Dan yang lebih membuat darahnya terasa dingin—Ia masih ingat hari saat setelah dari toko perhiasan, kecelakaan itu.
Masih sangat ingat dan, ia yakin mendengar getaran ponsel panggilan masuk pada pria yang kemudian dinyatakan tewas karena kecelakaan tempo lalu. Pria itu.
Pertanyaannya kini kembali menghantui, apakah pria itu benar-benar sudah mati? Atau… dari awal memang bukan dia?
Olivia memeluk lututnya di atas ranjang malam itu, menatap layar ponsel yang sudah gelap.
“Siapa sih lu sebenarnya…” bisiknya pelan.
Pagi datang terlalu cepat. Sinar matahari masuk melalui tirai besar kamar, memantulkan kilau lembut di lantai marmer. Hari ini ia akan mendaftar kuliah.
Tentu saja, Oma sudah “memilihkan” jurusan untuknya: bisnis. Seolah hidup Olivia sudah disusun rapi seperti jadwal rapat perusahaan.
Ia duduk di meja rias, masih melamun, ketika suara Juna terdengar dari ambang pintu.
“Melamun… atau lagi mikirin jurusan apa yang mau lu ambil?”
Suaranya tenang. Biasa saja. Olivia menoleh pelan. Wajahnya datar.
“Emang gue bisa milih?” tanyanya menyindir halus.
Juna bersandar di kusen pintu, mengenakan kemeja putih rapi dengan lengan digulung sampai siku. Terlihat terlalu dewasa untuk suasana pagi yang santai.
“Bisa aja,” jawabnya ringan.
Olivia langsung menatapnya, kaget. “Serius?”
Juna mengangkat bahu kecil. “Gue nggak pernah bilang lu nggak punya pilihan.”
Hening sepersekian detik. Harapan kecil muncul di mata Olivia. Lalu Juna melanjutkan, suaranya tetap santai, tapi maknanya berat.
“Tapi ingat, setiap pilihan… punya bayarannya.”
Harapan itu runtuh seketika. Olivia tertawa kecil tanpa humor. “Bayarannya maksud lu… amukan Oma?”
Juna tidak menjawab. Tapi senyumnya cukup menjelaskan. Olivia melemah. Bahunya turun perlahan. Ia tau. Ia selalu tau, kebebasan di keluarga ini bukan sesuatu yang gratis.
“Kalau gue pilih selain bisnis… apa lu bakal dukung?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu meluncur begitu saja sebelum ia sempat menahannya. Juna terdiam sejenak.
“Gue bakal dukung lu sebagai Olivia,” jawabnya akhirnya. “Tapi gue nggak bisa menghentikan konsekuensinya.”
Jawaban diplomatis. Dewasa. Aman. Sangat aman. Olivia kembali memalingkan wajah ke cermin. Termasuk Juna… pikirnya. Ia juga bagian dari sistem ini. Olivia pun merasa sendirian di rumah sebesar ini.
Siang itu, saat ia sedang memilih pakaian untuk pergi mendaftar, ponselnya bergetar lagi. Nomor yang sama.
Darahnya seperti langsung turun ke kaki. Ia membuka pesan itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
Jangan terlalu percaya pada Juna
Napasnya tercekat. Matanya membeku membaca kalimat itu berulang-ulang. Jangan terlalu percaya pada Juna. Seolah seseorang tahu percakapan pagi mereka. Seolah seseorang mendengar semuanya.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan kedua masuk.
Dia bukan seperti yang kamu pikirkan
Langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamarnya. Olivia refleks mengunci layar. Pintu diketuk pelan.
“Liv? Udah siap?” suara Juna terdengar tenang dari luar.
Olivia menatap pintu itu. Lalu menatap kembali ponselnya. Detak jantungnya makin cepat. Kalau pengirim itu benar… Apa yang sebenarnya tidak ia ketahui tentang Juna? Dan kenapa pesan itu datang tepat saat ia mulai sedikit mempercayainya?
“Liv?” panggil Juna lagi.
Olivia berdiri perlahan. Dengan rahasia di genggamannya, dan rasa ragu yang mulai tumbuh di hatinya.
Saat Olivia membuka pintu, Juna berdiri tepat di depannya. Sangat dekat dan tenang. Olivia bertanya dalam hati—apakah pria di depannya ini benar-benar sekutunya…atau justru bagian dari permainan yang lebih besar?