Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolam Roh Tersembunyi dan Ciuman Paksa Sang Tuan Muda
Catatan Penulis (Penting! Dibaca ya, jangan di-skip kayak iklan YouTube):
Halo sobat rebahan jalur kultivasi! Author mau ngasih peringatan dikit nih soal bab "sedap-sedap ngeri" di bawah.
Pertama-tama, bab ini strictly buat kalian yang udah punya KTP alias khusus kawasan umur dewasa (18+). Buat adik-adik yang masih di bawah umur, mending balik ngerjain PR matematika dulu atau hafalin perkalian 7 ya!
Kedua, tolong banget, PLIS, jangan baca bab ini pas siang bolong apalagi kalau kalian lagi puasa! Awas batal, Bro/Sist! Adegan Tuan Muda Li Fan yang modus berkedok "menyelamatkan nyawa" (baca: nyari kesempatan dalam kesempitan) ini mengandung kadar kegerahan tingkat dewa. Bahaya, nanti kalian disangka nelan ludah mulu, batal deh puasanya. Pahala melayang gara-gara kelakuan si Li Fan!
Ketiga, sangat dianjurkan dan disarankan dari lubuk hati terdalam, bacalah pada malam hari. Pas suasana lagi sepi, adem, dan sendirian di kamar. Kenapa? Biar senyum-senyum mesum kalian nggak kelihatan orang rumah. Nanti kalau tiba-tiba senyum sendiri menghadap HP, malah dikira kesurupan siluman cicak penunggu kolam lagi. Kan berabe kalau emak udah bawa sapu lidi.
Akhir kata, mari kita doakan Nona Lin Xueyan supaya diberi ketabahan luar biasa menghadapi kelakuan Li Fan yang urat malunya kayaknya udah digadein buat beli panci alkimia. Sampai jumpa di bab selanjutnya yang (semoga) nggak kalah absurd! 🫰🏻
......................
......................
......................
Lin Xueyan masih menatap Li Fan dengan api kemarahan yang seolah bisa membakar seluruh bebatuan gua. Tubuhnya yang terendam hingga dagu bergetar hebat karena rasa malu yang bercampur dengan hawa dingin alami air tersebut. Namun, Li Fan justru memberikan reaksi yang sangat jauh dari perkiraan gadis itu.
Tanpa rasa canggung sedikit pun, Li Fan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kolam air ajaib tersebut. Gerakannya sangat tenang, seolah ia hanya sedang memasuki bak mandi pribadinya di kediaman mewah klan Ma. Air kolam yang hangat mulai membasahi pinggangnya, menciptakan riak-riak gelombang kecil yang merambat lurus menuju arah Lin Xueyan.
“Wah, airnya benar-benar pas. Suhu yang sempurna untuk merebus telur, atau dalam kasus ini, merebus amarah seorang dewi es,” ucap Li Fan santai. Ia bahkan sengaja menyibakkan air ke bahunya sendiri dengan ekspresi wajah yang sangat menikmati.
“Kau... kau benar-benar ingin mati ya?! Berhenti di sana! Jangan mendekat satu inci pun!” jerit Lin Xueyan dengan suara melengking yang bergema nyaring di langit-langit gua.
Wajah gadis yang biasanya seputih salju itu kini benar-benar merah padam hingga ke pangkal lehernya. Ia tidak pernah membayangkan akan ada pria yang begitu berani dan tak tahu malu seperti tunangan di depannya ini. Kepanikan mulai menyergap hatinya, membuat ritme napasnya menjadi tidak teratur saat melihat tubuh ramping berotot Li Fan semakin mendekat.
“Jangan berteriak terlalu keras, Nona Lin. Nanti pantulan suaramu bisa meruntuhkan batu di atas kita, dan kita berdua akan mati tertimbun dalam keadaan tanpa busana bersama. Bukankah itu akan menjadi legenda urban yang paling memalukan bagi Sekte Awan Azure?” goda Li Fan sambil terus melangkah maju tanpa ragu.
Sebenarnya, Li Fan perlahan mengabaikan teriakan histeris itu dan mulai memusatkan pikirannya pada sensasi luar biasa di sekitarnya. Pori-pori kulitnya terbuka lebar saat bersentuhan dengan air kolam yang kaya akan esensi energi. Ia terkejut, sangat terkejut dengan kepadatan aura spiritual murni yang berada di dalam air ini.
“Luar biasa. Kolam ini bukan sekadar genangan air hangat alami biasa,” batin Li Fan sambil memejamkan matanya sejenak untuk merasakan esensi yang meresap ke pori-porinya. Ia menghirup uap air itu dalam-dalam, membiarkan insting kunonya bekerja.
Dari pengetahuannya yang seluas lautan bintang, ia bisa merasakan sisa-sisa esensi dari berbagai tanaman roh berkualitas tinggi yang melebur menjadi satu secara harmonis. Ia mendeteksi adanya jejak Ginseng Seratus Tahun, Teratai Salju Kristal, dan Rumput Roh Matahari. Aroma pekat dari Akar Bumi Surgawi, Bunga Embun Azure, Buah Api Merah, Jamur Es Abadi, Daun Angin Hijau, Serbuk Sari Roh Kayu, serta Umbi Hitam Penghancur Kotoran juga terasa sangat kuat.
Sepuluh jenis tanaman roh herbal langka itu memiliki khasiat yang saling melengkapi kelemahan satu sama lain. Energi yang dihasilkan menjadi sangat murni, seolah segala kotoran energi telah disaring ratusan kali oleh lapisan batu gua sebelum menetes ke tempat ini. Li Fan mendongak pelan, menatap langit-langit gua yang dipenuhi ribuan stalaktit bercahaya biru mistis.
Ia melihat tetesan air yang jatuh secara teratur dari retakan batu kuno purba di atas sana. Li Fan menyimpulkan bahwa mungkin ada aliran air bawah tanah yang berasal dari puncak pegunungan, tempat di mana para tetua sekte sering melakukan eksperimen alkimia. Para tetua yang ahli itu mungkin membuang sisa-sisa atau tanaman roh yang cacat produksi ke dalam sumur pembuangan.
Esensi berharga itu kemudian merembes turun menembus bebatuan selama bertahun-tahun dan akhirnya terkumpul menjadi kolam ini. Atau mungkin saja, kolam ini memang diciptakan secara sengaja oleh leluhur pendiri Sekte Awan Azure. Ini bisa jadi dirancang sebagai hadiah tersembunyi bagi murid super jenius yang berhasil menembus tekanan mematikan Gua Napas Naga.
Air kolam ini tidak hanya berguna untuk merilekskan ketegangan otot tubuh dan pikiran secara instan. Kandungannya juga sangat bermanfaat untuk melebarkan nadi spiritual dan membersihkan kotoran meridian dengan cepat.
“Ini adalah peninggalan harta karun sejati. Bahkan meminum air ini cukup kuat untuk membantu seorang fana mendobrak gerbang menuju tahap Qi Gathering tanpa cacat,” gumam Li Fan dengan mata hitamnya yang berbinar terang. Ia kini mengerti seratus persen mengapa Lin Xueyan bersikeras merisikokan nyawanya untuk mandi di tempat terkutuk ini.
Namun, di sisi lain kolam, Lin Xueyan benar-benar sudah mencapai batas kewarasannya. Melihat Li Fan yang semakin dekat dengan senyum tipis yang sulit diartikan, gadis itu merasa terancam secara fisik dan harga diri. Otaknya tidak lagi bisa berpikir jernih melihat pemuda itu nyaris mencapai posisinya.
Tanpa berpikir panjang akan konsekuensinya, Lin Xueyan memusatkan seluruh sisa Qi di dalam Dantiannya secara paksa.
“Jika kau berani menyentuhku, aku akan membekukan aliran darahmu! Pergi kau, bajingan mesum!” teriaknya penuh keputusasaan. Gadis itu mengayunkan sebelah tangannya ke permukaan air, menciptakan ledakan percikan air kolam yang berubah menjadi panah-panah es tajam menuju wajah Li Fan.
Tindakan itu sangat ceroboh dan setara dengan mencari jalan pintas menuju kematian. Di tempat dengan tekanan gravitasi iblis seberat Gua Napas Naga, memanipulasi energi internal secara kasar adalah tindakan bunuh diri bagi seorang pemula yang bahkan belum mencapai Qi Gathering. Tekanan eksternal dari ruang gua akan langsung berbenturan hebat dengan aliran energi internal yang dipaksa keluar.
Benar saja, hanya sekejap setelah melepaskan serangan es amatir itu, wajah cantik Lin Xueyan mendadak pucat pasi bagaikan kertas. Tubuhnya menegang kaku secara tidak alami, dan suara gemeretak tulang yang retak terdengar dari dalam dadanya. Nadi spiritual utamanya tersumbat seketika karena tekanan balik dari gua menghantam aliran Qi-nya yang sedang rapuh.
“Uhuk!” Lin Xueyan memuntahkan seteguk darah segar dari mulut mungilnya. Darah merah pekat itu langsung menodai air kolam yang bening di sekitarnya, menciptakan corak mengerikan yang menyebar dengan cepat.
Ia merasa seolah jantung dan kedua paru-parunya diremas kuat oleh tangan iblis tak kasatmata dari dalam tubuhnya. Kesadarannya mulai kabur berkunang-kunang dalam hitungan detik. Tubuhnya yang mendadak lemas tak berdaya mulai kehilangan daya apung dan tenggelam ke dalam air kolam secara perlahan.
Li Fan mengerutkan keningnya dengan tajam saat melihat adegan menyedihkan di depannya. Panah-panah es yang mengarah padanya bahkan hancur lebur sebelum sempat menyentuh kulit dadanya karena tertahan oleh energi pasif Nadi Surgawi miliknya. Ia mendecak kesal dan mengumpat pelan di dalam hati atas tindakan bodoh tunangannya itu.
“Dasar gadis bodoh! Kau pikir ini adalah kolam ikan koi di mana kau bisa bermain air sesukamu?!” bentak Li Fan sambil menggerakkan kakinya menembus air secepat kilat.
Dengan gerakan sangat cekatan, lengan kanan Li Fan yang kokoh menyambar pinggang ramping Lin Xueyan tepat sebelum gadis itu tenggelam sepenuhnya ke dasar. Ia menarik tubuh mungil yang mulai mendingin itu ke dalam pelukan eratnya. Kulit mereka bersentuhan langsung di bawah air, menciptakan sensasi hangat dan dingin yang saling berbenturan ekstrem.
Meskipun dalam situasi darurat yang mengancam nyawanya sendiri, Lin Xueyan nyatanya masih menyisakan sedikit kesadaran tempur. Ia mencoba memelototi Li Fan dengan tatapan matanya yang dipenuhi rasa jijik, benci, dan kemarahan. Wajahnya merona merah padam luar biasa, bukan hanya efek dari luka dalam, melainkan karena posisi mereka yang saling menempel begitu intim.
“Lepas... jangan sentuh kulitku... dasar sampah... menjijikkan...” umpat Lin Xueyan dengan bibir pucat yang bergetar hebat. Kedua tangan kecilnya berusaha mendorong dada bidang Li Fan, namun dorongannya terasa sama lemahnya dengan kepakan sayap kupu-kupu.
“Simpan napasmu yang berharga itu, Nona Lin. Jika kau mati menjadi mayat di sini, aku akan kesulitan menjelaskan mengapa tunanganku mati telanjang di pelukanku,” balas Li Fan dengan mulut tajamnya yang tak tahu malu. Ia justru merengkuh punggung gadis itu lebih erat agar posisinya stabil di atas air.
Li Fan mengabaikan hinaan itu sepenuhnya dan segera merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan botol giok kecil terakhir yang berisi ramuan Cairan Pemurni Nadi Emas hasil begadang sulingannya semalam. Dengan ibu jarinya, ia menekan rahang Lin Xueyan agar mulut gadis itu terbuka, lalu mencoba menuangkan cairan ajaib tersebut.
Namun sayangnya, tenggorokan gadis malang itu seolah terkunci rapat menjadi batu karena trauma energi dan kejang otot parah. Cairan ramuan emas itu tidak bisa masuk, dan hanya mengalir tumpah membasahi sudut bibir Lin Xueyan yang terkatup.
“Sialan, dia tidak memiliki refleks menelan lagi. Jika kondisi ini dibiarkan selama sepuluh napas ke depan, seluruh meridiannya akan hancur dan ia akan lumpuh total,” gumam Li Fan dengan ekspresi wajah yang akhirnya berubah menjadi serius.
Tanpa banyak membuang waktu memikirkan moralitas, Li Fan memutuskan untuk mengambil tindakan medis paling ekstrem yang ia ketahui. Ia membuka mulutnya sendiri, menenggak habis seluruh sisa cairan ramuan emas dari botol itu, dan menahannya di rongga mulut. Sambil menatap mata Lin Xueyan yang sayu, Li Fan menundukkan kepalanya dengan cepat.
Tanpa permisi apalagi keraguan, Li Fan mendaratkan bibirnya dan menempelkannya dengan sangat kuat pada bibir Lin Xueyan yang dingin. Benturan itu terjadi begitu tiba-tiba, menyegel setiap celah udara yang ada di antara kedua bibir mereka.
Mata Lin Xueyan yang setengah tertutup seketika terbelalak lebar hingga nyaris melompat keluar dari kelopaknya. Tubuhnya mengejang hebat bagaikan disambar petir dewa dari langit tingkat sembilan. Otaknya tiba-tiba menjadi kosong saat menyadari bahwa bibir pemuda yang paling ia benci sedang melumat bibirnya sendiri dengan sangat kasar.
Rasa hangat yang aneh mulai menjalar dari bibir Li Fan, mengusir rasa dingin yang membekukan wajahnya. Air mata penghinaan, keputusasaan, dan syok berat langsung mengalir deras menuruni pipi mulus Lin Xueyan. Ia ingin menjerit keras, ia sangat ingin menggigit lidah pemuda hidung belang ini sampai putus, tetapi sel-sel saraf di tubuhnya menolak untuk digerakkan.
Sementara itu, Li Fan yang mengabaikan tatapan membunuh dari jarak lima sentimeter itu justru masih sempat-sempatnya berkomentar di dalam hati.
“Hmm, ternyata bibir dewi es jenius ini sangat lembut juga. Rasanya manis dan kenyal seperti puding teratai. Setidaknya aku mendapatkan sedikit bayaran atas usaha penyelamatan nyawa yang merepotkan ini,” batin Li Fan dengan seringai tak terlihat. Sikap tak tahu malunya memang sudah mendarah daging hingga ke sumsum tulang.
Sambil mempertahankan ciuman intens tersebut, Li Fan secara perlahan menggunakan ujung lidahnya untuk membuka paksa deretan gigi Lin Xueyan yang terkatup kaku. Begitu pertahanan terakhir itu berhasil ditembus, lidah Li Fan menyelusup masuk, membawa aliran cairan ramuan emas yang hangat langsung ke dalam mulut gadis itu. Tanpa sengaja, kedua lidah mereka saling bersentuhan, menciptakan percikan sensasi asing yang membuat Lin Xueyan merengek tertahan.
Wajah gadis arogan itu kini semerah lahar gunung berapi. Ini adalah ciuman pertamanya, mahkota kesucian yang selalu ia jaga dengan prinsip hidupnya, dan kini harus direbut paksa dalam kondisi paling memalukan oleh pria bermarga Ma yang selalu ia maki.
Namun bagi Li Fan, ini hanyalah sebuah prosedur darurat. Ia segera memfokuskan sirkulasi Qi di dalam dadanya dan menghembuskan udara perlahan namun pasti ke dalam mulut Lin Xueyan. Hembusan napas itu mengandung energi Nadi Surgawi miliknya yang mendesak ramuan emas turun melewati kerongkongan yang kaku, menuju langsung ke Dantian gadis tersebut.
Sebuah transmisi suara spiritual yang berat dan berwibawa langsung bergema menghantam kesadaran Lin Xueyan.
“Atur napasmu sekarang juga! Jangan melamun meratapi nasib atau kau benar-benar akan mati konyol malam ini! Ikuti ritme napas dari paru-paruku, hisap saat aku menghembuskan udara!” perintah Li Fan dengan nada mutlak bak seorang kaisar dewa yang tak bisa dibantah.
Ciuman mereka otomatis menjadi semakin dalam dan intens ketika Li Fan menyesuaikan irama pernapasan buatan tersebut. Dada bidang Li Fan yang hangat kini menempel erat pada dada Lin Xueyan, kembang kempis dalam ritme yang sama secara konstan. Tangan kiri Li Fan bahkan telah berpindah menahan tengkuk leher Lin Xueyan, menarik wajah gadis itu semakin dekat agar tidak ada satu tetes pun esensi obat dan Qi yang bocor keluar dari penyatuan bibir mereka.
Cerdas...
Lucu...