NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bubur Ayam

Menuruni anak tangga rumahnya, Aurora langsung di sambut dengan kehadiran sang ayah yang hendak melakukan rutinitas paginya.

"Papa?" Panggil Aurora menghentikan langkah sang ayah yang hendak keluar dari rumah.

"Hei sayang. Morning." Tersenyum lembut, Oliver melangkah menghampiri sang anak lalu mencium keningnya.

"Morning. Papa mau joging?" Ya, rutinitas setiap pagi seorang Tuan Oliver adalah joging. Selain untuk kesehatan jiga kebugaran.

"Yes. Kamu mau ikut?"

"Boleh. Tapi tunggu Ara ganti baju sama pakek sepatu dulu."

"Oke. Papa tunggu di depan."

Sementara Aurora kembali melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, Oliver pun juga ikut melangkah keluar rumah untuk menunggu sang anak di sana.

***

Ikut menemani sang ayah seperti ini bukan kali pertama untuk Aurora. Keduanya memang cukup sering joging bersama, terutama saat hari minggu atau Aurora yang tak memiliki kegiatan di pagi hari seperti sekarang.

"Pa?" Panggil Aurora di tengah langkah mereka. Jalanan yang masih sepi di tambah segarnya udara pagi benar-benar membuat suasana diantara keduanya terasa nyaman dan tenang.

"Kenapa sayang?" Sahut Tuan Oliver melirik sekilas dan tersenyum.

"Ara boleh nanya sesuatu gak sama Papa?"

"Boleh dong, nanya aja. Kenapa harus minta izin?"

"Kalo misalkan Ara tiba-tiba nikah, Papa setuju gak?"

"Huh??" Spontan Tuan Oliver menghentikan langkahnya dan menghadap Aurora yang ada di sebelahnya karena terkejut.

"Kamu bilang apa barusan? Nikah?" Lanjutnya bertanya. Memastikan jika pendengarannya barusan tidaklah salah. Aurora pun mengangguk sebagai jawaban.

"Jangan bercanda Aurora. Itu gak lucu dan Papa gak suka." Peringat Tuan Oliver tegas dengan wajah tak sukanya.

"Tapi Ara serius Pa." Ucapan Aurora berhasil membuat sang ayah menghentikan langkahnya kembali dan berbalik menatapnya.

Terlanjur terkejut dan tak tahu harus bersikap bagaimana, Tuan Oliver mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan dua tangan yang menempel di pinggang.

Kebetulan tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang, ada warung bubur ayam, mungkin Tuan Oliver bisa menjadikan tempat itu untuk berbicara lebih serius dan panjang bersama sang anak.

"Itu ada bubur ayam, Ara mau gak?" Tanya Tuan Oliver memberi tawaran. Antara mengalihkan pembicaraan atau memang berniat mencari tempat yang lebih nyaman. Entahlah.

Lagi, Ara mengangguk sebagai jawaban atas ajakan sang ayah. Walau sejujurnya dia cukup ragu sekaligus bingung apa yang akan ayahnya katakan padanya. Karena melihat respon sang ayah barusan saja seakan sudah cukup memberi Aurora jawaban jika ayahnya mungkin tak akan setuju dengan pertanyaannya.

Duduk di salah satu kursi yang ada di sana, Aurora menunggu sang ayah memesan. Beruntung, baru mereka berdua yang ada di sana.

"Kenapa tegang gitu mukanya? Aurora takut kalo Papa bakalan marah?" Tegur Tuan Oliver tersenyum lembut seraya duduk di hadapan Aurora.

"Habisnya Papa mukanya gitu." Sahut Aurora cemberut.

"Sorry-sorry. Papa tadi syok aja pas kamu bilang gitu." Kekeh Tuan Oliver tak sanggup melihat wajah menggemaskan sang anak.

"Monggo Pak, Mbak." Ucap sang penjual seraya meletakkan dua mangkok bubur ayam pesanan Tuan Oliver serta teh hangat dan es teh.

"Makasih Mas." Balas Tuan Oliver mengangguk dan tersenyum ramah.

"Apapun makanannya, es teh minumannya." Ucap Tuan Oliver tertawa meledek kebiasaan sang anak yang tak pernah tergantikan. Es teh.

Membalasnya juga candaan, Aurora sama sekali tak tersinggung karena Es teh memang jadi minuman favoritnya apapun teman makannya.

"Kok tumben gak pake sambel, kenapa?" Tanya Tuan Oliver karena sang anak yang langsung menikmati buburnya tanpa menambahkan apapun lagi. Padahal biasanya, Aurora akan selalu menambah sambal.

"Lagi gak pengen aja."

"Jadi, Aurora serius sama omongan Aurora barusan?" Tanya Tuan Oliver seketika merubah ekspresi wajahnya jadi serius tapi tetap santai seraya menyantap buburnya.

Untuk kesekian kalinya, Aurora mengangguk lagi menjawab pertanyaan sang ayah. Jika sang ayah adalah tim makan bubur tidak aduk, maka berbeda halnya dengan Aurora. Dia adalah orang yang suka makan bubur dengan di aduk.

"Gak biasanya lho Ara tiba-tiba ngomongin masalah kayak gini sama Papa, ada apa?"

"Sebenernya semalem Ara udah coba minta pendapat sama Mama. Sekarang, Ara juga pengen tau pendapat dari Papa apa."

"Ada seseorang yang tiba-tiba ngajakin Ara nikah?" Aurora mengangguk.

"Siapa?"

"Ya pokoknya ada. Papa jawab dulu pertanyaan Ara, Papa setuju gak kalo Ara tiba-tiba nikah?"

"Gimana Papa bisa kasih saran atau masukan kalo Papa aja gak tau siapa cowok yang lamar kamu. Kan harus ada kriterianya dong Aurora sayang...."

"Kok gitu?"

"Iya dong... Kamu itu anak satu-satunya Papa sama Mama. Anak kesayangannya Papa sama Mama. Masak iya Papa restuin kamu nikah sama cowok yang Papa gak tau gimana bibit, bebet, bobot dan kepribadiannya. Nanti kalo misalkan amit-amit kamu kenapa-napa? Siapa coba yang nyesel? Gak cuma kamu, tapi Papa sama Mama juga. Temen-temen yang sayang sama kamu juga."

"Luca. Dia yang udah lamar Aurora."

"Ohhh... Luca." Begitu datar dan terlampau biasa saja. Tuan Oliver sama sekali tak terkejut jika laki-laki yang telah melamar putrinya adalah Luca. Padahal, Aurora sendiri benar-benar mengharapkan ekspresi apa yang akan di tunjukkan sang ayah saat dia mengatakannya. Sangat mengecewakan.

"Kok oh doang sih Pa? Papa udah tau kalo Luca mau lamar Aurora?"

"Sebenernya dari awal Papa udah tau kalo dia suka sama kamu. Tapi Papa gak nyangka aja kalo dia berani langsung melangkah sejauh itu. Gak tanggung-tanggung lagi, langsung ngajarin nikah." Kekeh Tuan Oliver meledek.

"Papa ihh, serius Pa... Jangan becanda deh." Kesal Aurora cemberut.

"Oke-oke Papa serius." Menghabiskan suapan terakhirnya, Tuan Oliver tak lupa menyeruput teh hangat miliknya yang sejak tadi belum tersentuh.

"Kalo emang cowok itu Luca, Papa setuju kamu nikah. Karena Papa udah tau semuanya tentang dia." Ucap Tuan Oliver tanpa keraguan.

"Kok gitu?"

"Karena setiap cowok yang berusaha deketin kamu, Papa pasti udah cari tau dulu siapa dia. Kalo dia emang gak baik buat kamu, ya Papa langsung jauhin dia dari anak kesayangan Papa ini. Kecuali cowok gak bener itu, Si Kenzo. Kan kamu juga yang salah karena gak mau bilang sama Papa Mama soal dia."

"Iya.... Ara tau Ara salah." Tertunduk lesu, Aurora memang menyadari jika itu kesalahannya dan dia juga sudah meminta maaf pada orang tuanya.

"Tapi.... Semua keputusannya ada di tangan kamu. Karena yang akan menjalani rumah tangga nantinya itu kamu sama Luca." Mengambil kembali gelasnya, Tuan Oliver langsung menghabiskan teh hangatnya dalam satu kali tegukan tanpa bersisa.

"Sekarang, Papa tanya sama Aurora. Aurora emang udah siap buat nikah?" Tanya Tuan Oliver menatap lekat sang anak yang masih menikmati es tehnya.

"Gak tau."

"Kok gak tau?"

"Ya aneh aja tiba-tiba di ajakin nikah. Kepikiran ke sana aja belum. Apalagi, Ara juga gak ada perasaan apapun sama Luca. Kan tambah bingung."

"Dulu, Papa sama Mama juga gitu kok."

"Huh? Tapi bukannya Mama bilang, Papa sama Mama pacaran dulu terus baru nikah?"

"Emang iya. Tapi... Selama kita menjalin komitmen, Papa sama Mama gak ada perasaan apapun. Mungkin karena Papa sama Mama hasil dari perjodohan dan nurut sama orang tua. Pas kita nikah pun, Papa belum ada rasa apapun sama Mama. Semua di jalani apa adanya. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai tumbuh perlahan. Saling mengerti dan memahami satu sama lain."

"Berarti banyak berantemnya dong?"

"Gak berantem juga sih. Lebih ke.... Sering berbeda pendapat dan salah paham. Tapi... Karena Papa sama Mama punya pemikiran yang sama kalo pernikahan itu sekali seumur hidup, jadi kita belajar untuk lebih memperbaiki semuanya. Intinya harus saling percaya dan menjaga perasaan satu sama lain. Lebih-lebih kamu juga tau sendiri kan kalo dulu Papa sering banget pergi keluar kota dan keluar negri untuk urusan bisnis?" Aurora mengangguk setuju.

Masa kecilnya bersama sang ayab memang tidak memiliki banyak waktu dan kenangan karena ayahnya yang terlalu sibuk bekerja. Sekarang ini saja ayahnya setiap hari ada di rumah bersama mereka.

"Itu, jadi fase terberat untuk hubungan Papa sama Mama. Karena Mama kamu cemburuan." Lanjut Tuan Oliver menjelaskan.

"Padahal, dari dulu aku gak pernah bercita-cita buat dapet suami pengusaha kayak Papa. Gak punya banyak waktu buat keluarga. Eh, ini malah Luca yang lamar. Yang jelas-jelas bakalan jadi penerus satu-satunya bisnis keluarganya Om Alex. Gak tau deh bakalan sibuknya kayak apa."

"Ya kan gak semua pengusaha kayak gitu sayang."

"Tapi rata-rata dan kebanyakan orang kayak gitu."

"Gemesin banget sih anak Papa." Tertawa renyah, Tuan Oliver mengacak rambut Aurora pelan sebagai bentuk kasih sayang.

"Yang penting, Aurora pertimbangan dulu semuanya matang-matang sebelum mengambil keputusan. Apapun itu, Papa pasti dukung dan do'ain itu akan jadi yang terbaik buat Aurora." Ucap Tuan Oliver memberi saran.

"Makasih ya Pa. Seneng deh punya Papa yang bisa diajakin sharing kayak gini."

"Sama-sama sayang."

Melihat jam yang ada di tangannya, masih ada waktu untuk keduanya melanjutkan joging. Tapi, karena ada Aurora, Tuan Oliver harus menanyakannya lebih dulu sang anak mau atau tidak untuk melanjutkan joging mereka.

"Mau lanjut joging apa pulang?" Tanya Tuan Oliver setelah Aurora menghabiskan es tehnya.

"Pulang. Ara ada kelas pagi soalnya."

"Mas, bungkus 10 ya? Yang satu pisah gak pake kacang." Ucap Tuan Oliver sedikit berteriak pada sang penjual bubur yang tengah melayani pembeli.

Warung yang tadinya sepi pun perlahan mulai banyak pembeli. Entah itu yang makan di tempat seperti mereka atau yang di bungkus.

"Kok banyak banget Pa? Buat siapa?" Tanya Aurora bingung.

"Yang satu buat Mama, sisanya buat orang-orang rumah."

Mengangguk paham, keduanya pun bangkit dari kursinya dan menunggu pesanan mereka jadi.

"Jadinya berapa Mas?" Tanya Tuan Oliver setelah semua pesanannya jadi dan di masukkan ke dalam plastik.

"200 ribu pak."

Mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana, Tuan Oliver mengambil dua lembar uang ratusan ribu lalu memberikannya pada penjual itu.

"Ini. Makasih Mas." Ucapnya.

"Sama-sama Pak. Terimakasih juga."

"Ara bantuin bawa saru Pa." Menawarkan bantuan, Aurora mengambil salah satu kresek yang ada di tangan sang ayah.

"Makasih sayang."

Meninggalkan tempat itu, keduanya melangkah beriringan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, tak hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Melainkan begitu banyak obrolan yang keduanya ciptakan untuk membunuh waktu. Entah itu hanya obrolan santai atau sekeder candaan biasa. Benar-benar hubungan ayah dan anak yang sangat harmonis dan membuat semua orang yang melihatnya jadi iri.

"Kuliah kamu gimana? Lancar semuanya?" Tanya Tuan Oliver saat keduanya sampai di ujung gang menuju rumah mereka.

"Lancar. Bentar lagi ada ujian."

"Semangat ya anak Papa. Katanya mau jadi Dokter hebat."

"Harus dong....."

Sama-sama tersenyum, Aurora benar-benar lega bisa membicarakan masalahnya dengan sang ayah. Dia juga sangat bersyukur di berikan kedua orang tua yang begitu mengerti dan memahami perasaannya. Alih-alih memaksakan kehendak mereka atau menuntut Aurora untuk menjadi apa, ayah dan ibunya selalu mendukung apapun pilihannya asalkan dia bisa bertanggungjawab dan membuktikan keinginannya itu baik untuknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!