Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 — Mau Minum?
Selagi orang-orang desa sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan Xinyi masih bersantai di dalam kamarnya, di sebuah tempat lain yang sangat jauh dari hutan Keturunan Darah Berdosa, suasana yang sama sekali berbeda sedang berlangsung di kerajaan Shi.
Istana kerajaan Shi.
Di dalam sebuah ruang rapat, para petinggi kerajaan telah berkumpul. Jumlah mereka sepuluh orang.
Ruangan itu tidak terlalu luas namun juga tidak sempit. Sebuah meja besar berada di tengah dengan sepuluh kursi mengelilinginya. Cahaya matahari menembus jendela tinggi di sisi ruangan, menyinari wajah-wajah yang tampak serius dan waspada.
Seorang pria bertubuh besar duduk di posisi utama. Namanya Jian Yu, seorang penyihir tingkat 5 dengan aura kekuatan yang jelas terasa.
Di sisi kanan dan kirinya duduk Xiang Malingsheng dan Xu Tang, keduanya juga berada di tingkat 5 meski kekuatannya masih berada di bawah Jian Yu.
Sisanya adalah penyihir tingkat 4, masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda, ada yang tegang, ada yang bersemangat, dan ada pula yang tampak ragu.
"Kita mulai." Jian Yu membuka rapat dengan meletakkan satu tangannya di atas meja.
Suasana ruangan langsung menjadi senyap. Tidak ada satu pun yang berani berbicara lebih dulu.
"Pertama-tama, aku ingin menanyakan ini... apa kalian benar-benar yakin?"
"Ya!" Xu Tang menjawab paling cepat.
"Saya yakin!"
"Saya juga."
"Tentu saja yakin, musnahkan Keturunan Darah Berdosa dan hilangkan ketakutan!"
Jian Yu mengangguk pelan mendengar jawaban-jawaban itu. Ekspresinya tetap tenang, namun matanya tajam.
Ia kemudian menoleh ke arah Malingsheng.
"Malingsheng, bagaimana menurutmu?"
"Mereka mungkin baru terbebas, namun meremehkan mereka hanya akan membuat kita kalah nantinya."
Malingsheng berdiri dari kursinya dan menatap satu per satu orang di ruangan itu. "Untuk kalian semua, siapapun lawannya jangan pernah meremehkannya. Keturunan Darah Berdosa juga tidak bodoh."
"Malingsheng benar. Kita tidak bisa meremehkan lawan, karena kita tidak boleh kehilangan satu pun nantinya."
Seorang wanita mengangkat tangannya dengan ragu.
"Apa yang ingin kau tanyakan, Jiuye?" Jian Yu mempersilahkan.
Han Jiuye, itulah namanya. Ia menarik napas sejenak sebelum berbicara. "Menurut kalian, apa kita bisa melawan penyihir tingkat 5 mereka?"
"Untuk penyihir tingkat 5. Aku, Malingsheng, dan Xu Tang akan mengatasinya. Untuk penyihir tingkat 4 kebawah, kuserahkan pada kalian."
Setelah itu, seorang wanita lain kembali mengangkat tangan. Namanya Xun Qian.
Begitu Jian Yu memberi isyarat, ia langsung berbicara. "Kita hanya sepuluh orang, tapi mereka tidak diketahui jumlah pastinya. Jujur saja, aku memiliki firasat buruk tentang ini."
"Jumlah tidak berpengaruh, malah dengan jumlah kita yang sedikit akan memudahkan kita bersembunyi dan melancarkan serangan kejutan," Xu Tang menjawab dengan nada yakin.
Jian Yu mengangguk, menyetujui ucapan Xu Tang tanpa perlu menambahkan apa pun.
Sementara itu, Xiang Malingsheng terdiam. Tangannya bertumpu di dagunya, matanya menatap meja namun pikirannya melayang jauh.
"Karena tiba-tiba terbebaskan, pasti ada suatu hal yang mereka lakukan... hanya saja aku tidak tau apa itu. Semakin kupikirkan semakin ada yang aneh, rasanya aku melewatkan sesuatu," batinnya.
Di sisi lain meja, seorang wanita berambut perak duduk diam sejak awal rapat. Ia tidak ikut berbicara, tidak pula menunjukkan minat pada diskusi.
Matanya justru menatap ke luar jendela, seolah pikirannya berada di tempat yang jauh dari ruangan ini.
Namun ketenangannya tidak berlangsung lama.
"Xian Huan, fokuslah. Kita sedang rapat hal penting saat ini," Xu Tang menegurnya.
Xian Huan menoleh perlahan.
Tatapannya kosong sesaat sebelum ia mengangguk kecil. "Hmm."
Rapat terus berlanjut. Banyak hal penting dibahas, mulai dari rencana penyusupan hingga pembagian peran. Namun tidak satu pun benar-benar menarik perhatian Xian Huan. Ia tetap terlihat seolah berada di dunia lain.
Sementara itu, keraguan di hati Xiang Malingsheng semakin menumpuk. Perasaan tidak enak itu terus mengganggunya. Ia merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi, sesuatu yang tidak mereka perhitungkan. Namun ia tidak tahu apa, kapan, dan di mana hal itu akan muncul.
Akhirnya, rapat pun selesai.
Suasana tegang tetap menggantung di udara, seolah keputusan yang baru saja diambil akan membawa konsekuensi yang tidak bisa dihindari.
...---...
Pinggiran desa yang sebelumnya hanyalah tanah kosong tanpa bangunan kini berubah menjadi area pembangunan yang ramai.
Di tempat inilah Yao Li bersama warga desa berencana membangun sebuah istana yang akan menjadi tempat tinggal Xinyi.
Beberapa hari lalu, area itu masih dipenuhi pepohonan dan semak belukar. Kini, semuanya telah dibersihkan. Sebuah kerangka bangunan besar berdiri kokoh, menjadi fondasi awal dari istana yang tengah mereka bangun bersama.
"Hmm..." Yao Li memperhatikan kerangka bangunan di depannya.
Beberapa orang yang berada di sekitar langsung menoleh ke arahnya dengan wajah heran.
"Nona Yao, apakah ada yang salah?" satu bertanya.
"Wan Kun... apa menurutmu Xi—ah maksudku Dewi, akan menyukainya?"
Pria bernama Wan Kun itu memiringkan kepalanya sambil menatap kerangka istana. Dalam benaknya, bangunan itu akan terlihat megah dan indah ketika selesai nanti.
"Kurasa dia akan menyukainya, toh ini memang sangat cocok untuknya," ia menjawab akhirnya.
"Memangnya kenapa Nona Yao begitu ragu?" pria lain ikut bertanya.
"Entahlah."
Yao Li memang merasa ragu. Ia mengenal Xinyi sebagai seseorang yang lebih menyukai hal-hal sederhana, tidak berlebihan, dan cenderung tenang.
Meski banyak orang menyukai rencana pembangunan ini, belum tentu Xinyi akan merasakan hal yang sama.
"Ini membuatku sedikit pusing." Yao Li menghela napas sambil memegangi kepalanya.
Sementara itu, warga desa lainnya terus melanjutkan pekerjaan mereka. Yao Li hanya berdiri memperhatikan dari kejauhan.
Pembangunan dilakukan dengan bantuan sihir agar lebih cepat dan aman. Lingkaran sihir bermunculan di telapak tangan para penyihir desa, masing-masing menjalankan perannya. Ada yang mengangkat batu besar, ada yang mengalirkan air, dan ada pula yang membentuk material bangunan.
Meski pekerjaan itu jelas melelahkan, wajah-wajah mereka justru dipenuhi semangat. Tawa terdengar di sela-sela kerja keras mereka, menciptakan suasana yang hangat dan hidup.
Yao Li yang melihat pemandangan itu tanpa sadar tersenyum kecil.
"Rasanya... desa ini banyak berubah semenjak saat itu. Yah, semenjak ada Xinyi."
Tap. Tap. Tap.
Yao Li menoleh ke samping saat mendengar langkah kaki mendekat.
"Ah, Tetua, ada apa?"
Itu adalah Miju Xie, yang sedang membawa secangkir air di tangannya.
"Kerja bagus, Yao Li. Aku sudah melihat bagian lain, lalu bagaimana dengan di sini?" tanya Miju Xie.
"Semuanya terkendali, tidak ada masalah apapun. Hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Apa Xinyi akan menyukainya?"
Miju Xie terdiam sejenak sebelum menjawab. "Entahlah, aku juga tidak pernah bertanya padanya tentang ini. Tapi karena sudah dikerjakan, kenapa harus ragu untuk melanjutkan?"
Yao Li mengangguk pelan.
Ia mulai berpikir bahwa Xinyi mungkin akan menerimanya. Xinyi bukan tipe orang yang akan menolak kerja keras orang lain, apalagi jika itu dilakukan dengan ketulusan.
Meski keraguan itu belum sepenuhnya hilang, Yao Li tidak lagi menganggap Xinyi sebagai orang luar. Karena itulah ia memilih untuk percaya.
Miju Xie kemudian menyerahkan secangkir air yang ada di tangannya pada Yao Li.
"Mau minum?" ucapnya.
Yao Li tersenyum. "Tentu."
apa ada sejarah dengan nama itu?