Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - The Obsidian
Sejak menjadikan Johan sebagai objek inspirasinya, hidup Jennie menjadi tidak tenang seperti biasanya. Apalagi sejak insiden "mainan ungu" itu, dia mencoba menghindari Johan sebentar untuk benar-benar menghilangkan rasa malunya, tapi selalu gagal.
Seperti sekarang ini, dia tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin panjang di kamarnya. Gaun bodycon bewarna merah marun memeluk tubuhnya seperti kulit kedua.
Kain satinnya yang licin jatuh mengikuti lekuk pinggang dan pinggulnya, sementara belahan di paha kanannya terbuka cukup tinggi hingga tengah paha setiap kali dia melangkah.
Biasanya dunianya hanya sebatas kaos oblong kebesaran, namun malam ini atas perintah Johan yang tidak bisa dia bantah, dia bertransformasi menjadi wanita yang tampak berbahaya bagi siapapun yang memandangnya.
Ting! Tong!
Mendengar bel apartemennya berbunyi, Jennie segara melangkah keluar dan membuka pintu. Di depannya sekarang, Johan berdiri dengan mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya dengan dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka.
Johan terdiam beberapa detik saat matanya menyapu tubuh Jennie, ada kilatan gelap yang muncul dibalik manik matanya. "Jangan pernah memakai gaun ini jika kau tidak bersamaku, Jen," ucap Johan yang terdengar seperti ancaman.
"Kenapa? Terlalu mencolok?" tanya Jennie mencoba menutupi kegugupannya dengan sedikit keberanian.
"Terlalu mengundang," jawab Johan singkat sambil menarik tangan Jennie. "Ayo kita sudah terlambat."
Tempat itu bernama The Obsidian, sebuah klub eklusif di lantai teratas gedung pencakar langit yang hanya bisa dimasuki jika namamu terdaftar dalam daftar hitam para elit Jakarta.
Begitu pintu lift terbuka, Jennie disambut oleh aroma cerutu mahal, parfum oud, dan dentuman musik low-tempo yang sensual.
Johan tidak melepaskan tangannya sejak keluar dari mobil, sebuah pernyataan kepemilikan yang sangat tegas.
Jennie bisa merasakan bagaimana tatapan orang-orang di ruangan itu langsung tertuju pada mereka, atau lebih tepatnya wanita misterius di samping Johan Alexander.
"Johan! Akhirnya kau muncul juga," ucap seorang pria paruh baya yang mendekat ke arah mereka dengan senyum lebar. Dia menatap Jennie dengaan penuh minat, "Dan siapa wanita cantik ini? Kau tidak pernah membawa pasangan ke tempat seperti ini sebelumnya."
Johan menarik pinggang Jennie agar merapat ke sisi tubuhnya, "Namanya Jennie, dia satu-satunya alasan kenapa aku tidak ingin berlama-lama di kantor akhir-akhir ini," jawab Johan dengan senyum tipis yang sangat meyakinkan.
Pria itu tertawa lebar, "Wah, Johan Alexander akhirnya jatuh cinta? Selamat kalau begitu, kalian terlihat sangat serasi."
Mereka kemudian bergerak menuju meja privat di sudut paling gelap namun memiliki pemandangan kota yang paling indah.
Di sana, Johan memesan segelas wiski murni, sementara Jennie memilih koktail yang rasanya semanis penampilannya malam ini.
Suasana di meja itu mendadak menjadi sangat intim, Johan duduk bersandar sementara tangan kirinya merangkul sandaran kursi Jennie, seolah sedang memagari wanita itu dari dunia luar.
"Kau lihat orang-orang di sana?" bisik Johan tepat di telinga Jennie. "Perhatikan bagaimana mereka tidak pernah benar-benar menatap mata saat bicara. Perhatikan bagaimana setiap sentuhan di sini memiliki tujuan."
Jennie mencoba tetap profesional, dia memperhatikan sekeliling, namun konsentrasinya buyar saat dia merasakan tangan Johan turun dari sandaran kursi dan menyentuh bahu polosnya.
Jemarinya yang kasar namun hangat mulai menelusuri garis tulang selangkanya, bergerak menuju tengkuk.
"Jangan hanya melihat, Jen. Rasakan juga suasananya," gumam Johan.
Tiba-tiba kolega bisnis Johan yang lain mendekat ke meja mereka untuk menyapa, tapi pria itu tidak mengubah posisinya.
Justru saat keduanya sedang membicarakan proyek properti terbarunya, tangan Johan yang tersembunyi di bawah meja mulai melakukan manuver yang membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya.
Jari-jari Johan menyelinap di bawah kain satin yang dia kenakan, tepat di belahan pahanya yang terbuka. Pria itu mengusap kulit paha bagian dalamnya dengan ibu jarinya, memberikan tekanan kecil yang konstan.
Jennie tersentak pelan, namun dia tidak bisa bersuara karena Johan sedang menatap koleganya dengan ekspresi profesional. Sangat berbanding terbalik dengan tangannya di bawah meja sedang melakukan sesuatu yang sangat panas.
Johan menggerakkan jemarinya sedikit lebih tinggi, mendekati area sensitif di mana gaun itu berakhir. Jennie menggigit bibir bawahnya, dan tangannya meremas serbet di pangkuannya hingga buku jarinya memutih, napasnya mulai pendek dan berat.
Saat kolega itu akhirnya pergi, Johan menoleh ke arahnya dengan tatapan intens seolah-olah sedang bisa menelanjanginya hanya dengan mata.
"Kau gemetar?" bisik pria itu dengan suara yang berubah serak.
"Mas...ini...orang-orang melihat..."
Kalimatnya berubah menjadi desahan tertahan saat Johan menekan ibu jarinya sedikit lebih keras di paha bagian dalamnya.
"Biarkan mereka melihat," jawab Johan dingin. "Mereka hanya bisa melihat, tapi hanya aku yang bisa menyentuhmu seperti ini."
Johan mendekatkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak satu inti dari leher Jennie. Dia menghirup aroma tubuh Jennie dalam-dalam sebelum memberikan satu kecupan kecil yang sangat panas di sana.
"Jangan pernah berakting di depanku, aku tahu kau menikmatinya," gumam Johan sebelum menarik tangannya dari bawah meja dan meneguk wiskinya dengan sekali telan.
Lagi-lagi Jennie hanya terdiam melihat ekspresi Johan yang selalu terlihat biasa saja setiap kali selesai melakukan sesuatu padanya. Sepertinya kali ini dia berurusan dengan orang yang salah.
Bersambung