Daniel merupakan seorang agen rahasia yang sedang menjalani misinya untuk mencari para pengkhianat negara termasuk keturunan mereka. Dalam menjalankan misinya, tanpa sengaja ia menolong seorang gadis bercadar yang sedang dihadang oleh para penjahat saat gadis itu hendak pulang ke rumahnya. Tanpa Daniel ketahui jika gadis bercadar itu adalah targetnya yang selama ini ia cari. Apakah Daniel tega membunuh gadis itu demi misinya ataukah ia harus mengkhianati agen nya sendiri demi cintanya? ikuti cerita mereka penuh dengan misteri dan setiap adegannya sangat menegangkan...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Mengetahui
Pagi itu Daniel mengajak Alea untuk membeli beberapa cemilan untuk mereka. Saat van mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan di kota kecil itu si kembar sedang tidur pulas. Alea membiarkan adik kembarnya itu untuk istirahat.
Daniel tetap membawa pistolnya dengan tatapan penuh waspada. Seperti biasa ia mengenakan topi, kacamata dan masker agar tidak mudah dikenali orang-orang di sekitar mereka. Ia yang mendorong troli, sedangkan Alea yang mengambil barang yang dibutuhkan. Saat sedang asyik berbelanja, orang-orang sedang menonton berita viral tentang dirinya di ponsel mereka masing-masing. Daniel tersentak sesaat lalu mengambil ponselnya untuk membuka media yang menampilkan berita yang sama.
"Sialan....! siapa yang menyebarkan berita murahan ini. Tapi apakah tuan Marlon terbunuh?" Daniel terlihat kuatir lalu menarik tangan Alea.
"Sayang, sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini....!" pinta Daniel saat Alea sedang asyik dengan kegiatannya.
"Ada apa kak?" tanya Alea panik. Daniel memperlihatkan berita itu pada Alea yang langsung membekap mulutnya dari balik cadarnya.
"Astagfirullah....! kenapa jadi begini masalahnya?" gumam Alea lembut.
"Maafkan aku sayang...! kita bisa belanja lagi nanti. Bayar yang ada di troli ini saja", ucap Daniel mendorong troli menuju kasir.
Keduanya tetap bersikap tenang walaupun jantung mereka berdegup kencang. Setelah belanjaan mereka masuk ke mobil, Daniel berjalan menuju tempat sopir. Alea terpaksa berbicara bahasa Arab pada suaminya saat beberapa petugas mendekati mereka. Daniel yang menguasai bahasa Arab paham dengan kode istrinya.
"Apakah kalian sedang berlibur nyonya?" tanya petugas keamanan di tempat itu.
"Iya. Kami akan mengunjungi beberapa tempat di wilayah ini. Permisi", santun Alea.
"Hati-hati karena daerah di sini agak rawan", ucap polisi itu pada Alea yang hendak menutup pintu.
"Terimakasih tuan", Alea mengusap dadanya lalu duduk di dekat Daniel. Mobil van itu segera meninggalkan tempat itu. Daniel membuka topi dan masker nya dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya.
"Apakah kita bisa keluar dari negara ini tanpa ditangkap oleh pihak berwajib?" tanya Daniel.
"Entahlah. Kita pikirkan itu nanti. Aku juga bingung saat ini", Alea membuka ponselnya untuk melihat pesan masuk.
Beberapa pesan melalui email yang dikirim pak Tio membuatnya makin sesak. Ia diminta untuk menyembunyikan Daniel sebelum berita itu tercium oleh media lokal. Alea memejamkan matanya sambil memikirkan bagaimana caranya mereka bisa tiba di bandara.
"Apakah aku harus menyembunyikan Daniel di kediaman rahasia kami?" batin Alea yang tidak punya cara lain untuk menghindari Daniel dari fitnah keji dari para petinggi negaranya.
Alea membangunkan si kembar karena adik kembarnya itu bisa melakukan hal apapun yang berbau teknologi tinggi. Adik kembarnya yang super jenius itu bisa diandalkan untuk urusan penghapusan data yang tidak akurat dari pemberitaan nya.
"Arka, Aska...! ayo bangun...!" Alea mengguncang tubuh adik kembarnya itu yang langsung membuka mata mereka.
"Apakah kita siap berburu kak?" tanya Arka sambil mengucek matanya.
"Hari ini kita tidak jadi berburu", ucap Alea.
"Apakah sedang hujan?" tanya Aska membuka gorden jendela.
"Tidak hujan. Tapi ada masalah dengan kak Daniel", ucap Alea.
"Yah, akhirnya kalian mengetahuinya", ucap Aska hendak tidur lagi.
"Jadi kalian sudah tahu beritanya? kenapa tadi lagi sholat subuh tidak ngomong sama kakak?" omel Alea.
"Kami tidak ingin kakak cemas. Kita sedang liburan dan tidak ingin terganggu dengan berita konyol seperti itu", ucap Arka.
"Masalahnya berita itu viral di media sosial dan ditonton jutaan pasang mata. Bisa-bisa kita semua dibunuh oleh mereka", ucap Alea.
"Semalam kami sudah menghapus datanya kak di setiap stasiun televisi yang ada di negara kak Daniel", ucap Aska.
"Tapi berita itu makin viral", ucap Alea.
"Baiklah. Kami akan melacak pusat data dan menonaktifkan akun yang menyebarkan berita hoaks itu", ucap Arka.
"Bagus. Lakukan dengan cepat dan kirimkan berita sesungguhnya pada tuan presiden tentang kak Daniel", titah Alea.
"Setiap surat yang masuk ke gedung putih ataupun email presiden tidak langsung dibaca oleh presiden. Pasti ajudannya dulu yang membacanya baru diperlihatkan kepada presiden", timpal Aska.
"Apa yang harus kita lakukan untuk melindungi kak Daniel dari orang-orang yang ingin menghabisinya entah dengan niat apa", keluh Alea.
"Bukankah kita punya rumah rahasia kak? kenapa tidak bawa saja kak Daniel di sana sambil memikirkan langkah selanjutnya", ucap Arka.
"Kakak juga berpikir begitu. Namun kita belum tentu bisa keluar dari negara ini dengan kak Daniel", ucap Alea.
"Sebenarnya ada cara ampuh untuk membawa kak Daniel pulang ke negara kita kak", ucap Aska.
"Dengan cara apa Aska?" tanya Alea.
"Kita bisa meminta helikopter menjemput kak Daniel dan menurunkannya ke kapal pesiar. Kita akan menjemput kak Daniel di salah satu negara di mana kapal pesiar itu berlabuh. Lagi pula kakak punya orang-orang berpengaruh di seluruh negara bukan? kenapa tidak gunakan kekuasaan kakak itu", lanjut Aska.
"Kamu benar. Aku akan bicara dengan kak Daniel tentang ide mu tapi tolong blokir akun penyebar berita hoaks itu secepatnya...!" pinta Alea.
"Baik ibu negara. Tapi kami lapar", keluh Arka.
"Tunggu sebentar. Kakak akan menyiapkan daging panggang dan nasi untuk kalian. Sepertinya roti tidak cocok untuk kalian karena tidak membuat kalian kenyang", ucap Alea.
"Kita ini perutnya setengah buatan indonesia setengah lagi buatan amerika karena berasal dari keturunan yang berbeda", sahut Aska sambil nyengir.
"Perut asia lebih cocoknya nasi bukan roti", celetuk Arka lalu masuk ke kamar mandi.
Daniel masih sibuk menyetir sambil mencari tempat yang aman untuk mereka menginap malam ini. Setidaknya mereka bisa istirahat makan siang dan sholat. Alea mengeluarkan daging panggang dari oven dan sayuran yang sudah ia hangatkan. Si kembar langsung melahapnya sambil mengutak atik layar laptop mereka masing-masing. Alea memeriksa hasil dari kerja keras si kembar. Beberapa berita mulai hilang satu persatu. Alea cukup lega melihatnya.
Daniel memarkirkan mobil mereka di tempat yang lebih lega. Alea membawa kudapan untuk suaminya dan menyampaikan ide adik kembarnya.
"Bukankah menyewa helikopter itu sangat mahal, sayang?" ucap Daniel.
"Apakah kamu lupa kalau istrimu ini adalah milioner", ucap Alea.
"Maafkan aku karena sudah menyusahkan kalian semuanya", ucap Daniel.
"Kami senang melakukannya dan kamu adalah orang yang sangat berarti untukku dan adik kembarku", ucap Alea tulus.
"Ya Allah Alea, andai saja kamu tahu kalau target awal ku adalah membunuhmu, kamu mungkin tidak akan memaafkan aku. Aku harap suatu hari nanti kamu tidak akan menuduh pernikahan kita hanya sebuah sandiwara karena aku tulus mencintaimu, Alea", batin Daniel.
"Hei, kenapa melamun? apakah kamu takut berpisah dengan kami?" tanya Alea.
"Aku tidak pernah takut apapun kecuali sebuah perpisahan dengan orang yang paling aku cintai dan itu kamu Alea", ucap Daniel terlihat sungguh-sungguh.
"Insya Allah. Asalkan kita saling terbuka satu sama lain, tidak ada kata pisah untuk kita kak", ucap Alea.
"Sayangnya aku sulit jujur padamu tentang tujuanku, Alea", batin Daniel.