Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengalami Kecelakaan
Dua bulan kemudian, Safira masih bertahan di rumahnya. Dan Bagas, masih seperti biasa. Pulang pergi, dari rumah Safira, ke rumah orang tuanya.
Sesekali, Bagas juga ikut nongkrong bersama para pemuda desa Safira, agar tidak terlihat sombong.
Bahkan, tak jarang Bagas juga membayar minum untuk para tetua desa, sebagai bentuk warga desa baru yang baik.
Itu semua, Bagas lalukan agar bisa menjalin hubungan baik, dengan semua orang desa sana.
Hari ini, Bagas sedang berada di warung. Dia lagi minum kopi, dan berbicara dengan beberapa pemuda desa.
Namun, sesaat fokusnya melayang. Dia mendapatkan kabar, dari sepupunya jika sang ayah sedang di larikan ke rumah sakit, akibat kecelakaan.
Dengan meninggalkan uang, sejumlah lima puluh ribu di meja, Bagas langsung bergegas.
"Bang, aku pamit, mereka yang ada dimeja ini aku bayarkan ya," ungkap Bagas, buru-buru seraya menunjukan enam orang yang semeja dengannya.
"Bang Bagas, uangnya masih ada kembalian," teriak lelaki yang tadi duduk di samping Bagas.
"Untuk kalian aja semuanya," balas Bagas, sembari menghidupkan sepeda motornya.
Kini, Bagas dan Safira sudah berada di igd. Bagas langsung memeluk ibunya erat, saling menguatkan.
Setelah melepaskan pelukan Bagas, kini giliran Safira melakukan hal yang sama.
"Kenapa sampai begini?" tanya Bagas pada sepupunya, yang tadi menelponnya.
"Tadi, uwak baru pulang dari warung. Namun, segerombolan lembu berlari dari arah berlawanan," terang sepupu Bagas.
Bagas menarik napas. Dia menatap nanar ke arah Yusuf yang belum sadarkan diri.
"Inilah, alasan kenapa aku tidak membiarkan lembu-lembu berkeliaran," gumamnya lirih.
Bagas melirik ke arah, ibunya. Perempuan paruh baya itu, masih bertahan dalam pelukan Safira.
"Ibu udah makan?" tanya Safira lembut. Dia mengelus, punggung Hayati, lembut.
"Bagaimana ibu bisa makan nak, bahkan ayahmu saja, masih terbaring lemah,"
"Ini hanya efek obat wak, kan udah di bilang sama perawatannya," sang sepupu menimpali, ketika mendengar jawaban Hayati.
"Ibu makan dulu ya, aku belikan," tutur Safira bangkit.
"Kamu disini aja, biar aku yang beli," cegah Bagas.
"Kalian disini aja, biar aku yang keluar. Sekalian, aku juga mau beli sesuatu," timpal sepupu Bagas.
Bagas mengangguk setuju, kemudian mengeluarkan uang seratus ribu, dan menyuruh sepupunya untuk membeli keperluannya, dengan uang tersebut.
Malam harinya, Juliana juga ikut berkunjung bersama dengan si bungsu. Yusuf sendiri sudah sadar, dia hanya mengalami masalah dengan kakinya.
Kaki Yusuf, dinyatakan patah.
Di kampung, kabar tentang Yusuf mengalami kecelakaan menyebar begitu cepat.
Orang-orang mulai menaruh simpati. Apalagi, kecelakaan tersebut disebabkan oleh binatang. Yang mana, kita sebagai korban, tidak bisa minta pertanggungjawaban dari binatang tersebut.
Bahkan mungkin, Yusuf sendiri, gak tahu lembu siapa yang telah menyebabkannya sampai harus ke rumah sakit.
"Itu karma, orang sombong seperti mereka pantas mendapatkannya," cibir Hesti ketika orang-orang sedang membicarakan Yusuf.
"Jangan lah, begitu ... Itu musibah untuk mereka, dan kita gak tahu, mungkin saja, musibah itu juga lagi mengincar kita," sangga seorang perempuan, jengah dengan Hesti, yang entah kenapa selalu saja membicarakan keluarga Hayati.
Hesti memutar mata malas. Orang-orang kampung terlalu lebay. Mereka menggadang-gadangkan orang yang salah.
Setidaknya, salah menurut pendapatnya.
Tak hanya Hesti, Anwar juga berpendapat yang sama. Dia menduga jika apa yang di alami oleh Yusuf merupakan karma. Karma, tentang kesombongan mereka selama ini.
Namun, namanya juga orang kampung. Lain di depan lain pula di belakang. Ketika Anwar berbicara, mereka mengiyakan. Begitu Anwar menghilang, cibiran turut berdatangan.
✨✨✨
Kembali ke rumah sakit. Hari ini, Yusuf telah di operasi. Kini tinggal lah, Hayati, dan Sulis untuk menjaga Yusuf.
Iya, Sulis langsung pulang begitu tahu ayahnya kecelakaan. Dia menitipkan ketiga anaknya pada sang suami.
Bagaimana dengan kedua anaknya yang lain.
Sarah juga dalam perjalanan. Sedangkan Santi, dia memilih tak pulang. Bukan karena tak sayang sama orang tua. Melainkan keadaan yang tidak memungkinkan.
Sebab dia sendiri, sedang mengandung anak ketiga. Yang mana, hamil kali ini, membuatnya sedikit lebih kewalahan.
Alhasil, dia hanya bisa mendoakan dan menatap kedua orang tuanya lewat kamera saja.
"Bu, Bagas bilang dia akan kembali nanti malam," ujar Sulis, memberi tahu, kabar yang baru saja dikirimkan Bagas padanya.
"Biarkan dia istirahat dulu, kasihan dia dan Safira," Hayati menanggapi dengan suara lembut.
"Ibu juga butuh istirahatkan?"
"Biarkan ibu tetap disini. Setidaknya, ibu bisa dekat dengan ayah mu," balas Hayati, karena tahu arah pembicaraan anak sulungnya.
"Percuma nak! Ibumu, gak akan pulang, jika tidak sama ayah," kekeh Yusuf, mengenggam erat tangan istrinya.
Sulis mengelengkan kepalanya. Dia bersyukur orang tuanya, bisa saling mencintai walaupun sudah memasuki usia senja.
Beralih ke rumah Safira.
Begitu Safira keluar dari kamar mandi. Bagas langsung menepuk, sisi ranjang di sampingnya.
"Sini, biar abang keringkan. Sekaligus, ada hal yang ingin abang tanyakan,"
Safira mendekati suaminya. Dia menyodorkan handuk kecil ke tangan suaminya.
"Ada apa bang? Kayaknya serius," tanya Safira duduk tepat disamping suaminya.
Bagas langsung bergeser, agar bisa mengeringkan rambut istrinya dengan nyaman.
"Abang ingin bertanya padamu, apakah kamu mau untuk tinggal sama ibu dan ayah? Maksud abang, ayah kan, baru saja kecelakaan. Dan menurut ucapan dokter, mungkin kaki ayah tidak bisa digunakan seperti semula lagi," tanya Bagas hati-hati.
Safira terdiam. Namun, sedetik kemudian, dia mengambil alih handuk dari tangan Bagas. Lalu, berbalik, menatap manik mata lelaki yang telah dicintainya.
"Kalo kamu gak mau, gak apa. Nanti, aku bisa pulang—pergi seperti biasa, kok," lanjut Bagas, karena Safira diam saja.
Glek ... Bagas menelan ludah, takut, kala tatapan Safira seperti menusuk matanya.
"Aku akan ikut, ke manapun abang membawaku ... Karena sekarang, kewajibanku ialah, berbakti padamu," tutur Safira lembut.
Bagas memejamkan matanya, lega.
Setidaknya, ketakutannya sejak tadi, tidak lah, berarti.
"Terima kasih, sayang ..." lirih Bagas, membawa Safira ke pelukannya.
Pelukan yang entah kenapa membuat Safira nyaman. Namun, tidak dengan Bagas.
"Tapi, aku minta satu hal ... Izinkan, aku untuk tetap menjenguk ibuku,"
"Tentu saja," balas Bagas cepat.
Malam harinya, Bagas kembali ke rumah sakit. Dan karena Sulis sudah ada disana, Bagas meminta Safira untuk tetap di rumah. Membiarkan sang istri agar bisa istirahat dengan nyaman.
Dan, ketika suaminya pergi, saat itulah, Safira menceritakan pada kedua orang tuanya, tentang keinginan Bagas, untuk membawanya pergi.
Malik langsung setuju dengan keputusan yang diambil Safira. Karena bagaimana pun, kewajibannya sekarang, ialah mengikuti perintah suaminya.
Sedangkan Juliana, perempuan itu tampak berpikir. Bukan takut, jika Safira akan disiksa oleh mertuanya. Melainkan, takut, jika nanti Safira tahu, jika ia di tuduh sebagai pelarian Bagas, oleh orang-orang kampung sana.
Dan Juliana, gak mau Safira mendengar kata-kata kejam itu.
kebiasaan ih