𝘛𝘳𝘢𝘨𝘦𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝙈𝙤𝙧𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙂𝙡𝙤𝙧𝙮—𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘞𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘦𝘭𝘪𝘵𝘦 𝘱𝘳𝘢𝘫𝘶𝘳𝘪𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘸𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢.
𝘚𝘩𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘯𝘥𝘰𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶— 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘶𝘢.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
왕신 ー 1
...왕신...
...【W】【A】【N】【G】★【S】【H】【I】【N】...
...ー...
𝐻𝒶𝓅𝓅𝓎 𝓇𝑒𝒶𝒹𝒾𝓃𝑔!
•••
“Ada apa dengan kedua kali?” Pertanyaan untuk sekedar menanggapi kata-kata aneh yang baru saja meluncur dari mulut Yoo Anna, wanita yang beberapa saat lalu bergelinjang panas di bawah dominasinya.
Wang Shin, mengenakan celana hitam panjang tanpa ikat pinggang, berselonjor kaki sambil punggungnya bersandar bantal di kepala ranjang. Tubuh atasnya yang kekar mengkilat dibiarkan polos. Mata almond telah selesai bekerja dengan ponselnya setelah sibuk membaca artikel politik ekonomi di Naver. Segera dia mencampakkan gawai itu untuk menoleh ke arah wanita di sebelahnya.
Yoo Ana belum berpakaian, masih tenang merebah sambil menatap wajah Shin yang berkilau di bawah cahaya lampu. Dari pertengahan paha, sehelai selimut tipis menutupi hingga sebatas dada.
Seperti ini terulang kedua kali, bercinta penuh gelora, yang dari kedua moment, Ana berperan sebagai pihak yang membutuhkan, mengatakan ingin tidur sekali lagi dengan Shin, setidaknya sebelum hubungan mereka mencapai poros yang ditentukan.
Sebagai pria sehat yang punya kekuatan absolut urusan ranjang, bisa memberi kepuasan tiada batas, Shin mengangguk tanpa menunjukkan sikap yang berlebihan saat permintaan itu datang. Itu berkah, dia juga butuh untuk kebaikan biologisnya.
“Tatap aku!” Yoo Ana meminta, segera Shin melakukannya. “Ada apa?”
Saat tatapan saling merengkuh, berbeda dengan Shin yang tidak terbaca, Yoo Ana justru menemukan jantungnya 'tak lagi biasa saja seperti kemarin-kemarin. Ada debaran aneh yang ini baru pertama kali dia merasakannya. Sekarang menjadi sulit berkedip karena terjebak di bidang permainan sendiri.
“Ada yang ingin kau katakan?” Shin mengulangi setelah beberapa saat melihat wanita itu hanya diam seperti hilang pikiran dan kata-kata.
Disadarkan dengan cara yang sederhana, Ana terentak. Digoda keraguan, dia menepis itu dan memutuskan buka suara, “Shin, aku rasa ... aku tak ingin pernikahan ini berakhir begitu saja seperti yang aku tuliskan di surat kontrak.”
“Maksudmu? Kau ingin kita menjadi pasangan suami istri sungguhan?”
Tebakan itu mendiamkan Yoo Ana untuk merenung. Hanya sepersekian detik, sampai kemudian menjawab tegas, “Ya.”
“Kenapa? Apa kau mulai jatuh cinta dengan tubuhku?"
Yoo Ana terkesiap. Itu terlalu frontal, namun tak pelak membuatnya menelan ludah. Binarnya 'tak bisa bohong, terlebih saat melihat dada yang pulen itu, panggilan tubuh tanpa nurani merangsek sampai kepala melahirkan panas di sekujur tubuh. Dia menggigit bibir bawahnya, lalu mengaku, “Salah satunya iya.”
Kejujuran yang tidak terduga. Shin mengerut kening, tapi tersirat sesuatu yang menggelitik dalam sorotnya. “Salah satunya?” dia mengulang dengan tanda tanya, dan menambah, “Lalu lainnya?”
Ana sedang mendorong diri untuk lebih jujur dengan intinya saat dia terdiam. “Itu ... aku rasa ... menjalani pernikahan yang sebenarnya denganmu ... sepertinya tidak akan buruk.”
Dari caranya menyipit, mata Shin sedang menelisik, sampai kemudian lahir menjadi pertanyaan konyol, “Apa karena kita sudah tidur bersama sebanyak dua kali?”
Bodoh lagi dan masih dengan warna yang sama seperti tadi, Ana tersengat, tapi akhirnya malah tersenyum, tergelitik. “Separuh benar, tapi yang jelas, semakin lama ... rasanya semakin banyak aku menemukan hal yang menarik dalam dirimu.”
“Begitukah?” Tidak ada perubahan dari wajah Shin, tidak ada riak yang menandakan dia semangat atau sedikit saja ketidaksukaanーmasih santai seperti biasa.
“Apa kau keberatan?"
Ekspresi pria itu memang cukup sulit untuk ditebak secara asal.
Shin menggeleng tipis. “Lalu ibumu? Apakah kau akan mengabaikannya begitu saja?”
Son Hadamーibunya Ana, memang selalu menuntut untuk putrinya segera beranjak dari kegagalan. Dan salah satu bentuk dari kegagalan itu, menurutnya adalah Ana menikah kontrak dengan lelaki aneh dan tidak kaya bernama Wang Shin.
Nasib buruk Ana yang ditinggalkan tunangannya di seminggu sebelum pernikahan, diselamatkan oleh Wang Shin yang tak sengaja bertemu di sebuah bar tua tempat pria itu bekerja sebagai bartender.
Ana mabuk berat dan frustrasi, setelah sadar menemukan dirinya di kamar sebuah motel dan ada Shin di sana, pria itu pulas tidur di atas sofa. Tidak ada yang terjadi, tidak ada pelecehan.
Begitulah perjanjian kontrak pernikahan terjadi, Shin dibayar untuk menggantikan calon pengantin Ana yang kabur itu. Hanya dua bulan saja, kemudian mereka akan bercerai lagi.
Sialnya sebelum sampai di batas, Ana malah merasa berat. Shin mulai dirasanya seperti harta yang tidak baik untuk dilepas begitu saja.
“Aku akan bicara pada Ibu dan dia pasti akan mengerti." Wanita itu meyakinkan dengan semangat, sampai duduk hanya untuk memastikan wajah Shin tidak sedang mempermainkannya. “Apa itu artinya ... kau setuju, Shin?”
Seulas senyuman tipis diberikan Shin untuk wanita yang bahkan tidak pernah ada dalam rencana kehidupannya. "Aku tidak keberatan," katanya ringan. “Kalau begitu, Yoo Ana ... ayo kita berumah tangga dengan benar."
...------------ᏇᏗᏁᎶ ᏕᏂᎥᏁ-------------...
Sebulan berlalu.
Di sebuah kafe.
"Tapi dia bisa dalam bahaya, Junwon! Mereka itu mafia kelas kakap. Bagaimana Shin yang hanya seorang pekerja bar bisa berbaur dengan para penjahat?! Dia tidak ada dalam yurisdiksi kalian!”
“Kau tenang saja, Ana. Shin sepenuhnya dalam perlindungan kami. Dia hanya perlu memberikan informasi." Park Junwonーkepala polisi divisi kriminal, kepolisian Jesan, terus meyakinkan Yoo Ana, rekan sekaligus sahabatnya itu terkait tugas tersembunyi yang dipercayakan kepada Wang Shin.
"Bagaimana kalau diaー"
"Ana!" Park Junwon memotong lagi. "Kau bilang Wang Shin seorang yang tangguh dan bertanggung jawab, keren dalam olahraga, juga pandai beladiri. Benar! Karena itu juga alasan kami membutuhkan bantuannya. Dia tak keberatan dan mau melakukannya."
Bukan sekedar hal demikian, poin utama yang lebih penting dibanding fisik yang dianggap mapan, Shin memiliki ketenangan yang bahkan tidak dimiliki seorang pemuka agama. Sorot matanya yang sayu indah namun tegas, memaknai sebuah perlawanan sekaligus pengampunan yang sulit dipaham.
Yoo Ana tiba-tiba menyesal mengenalkan Shin pada Park Junwon. Terutama tentang cerita Shin yang bisa mengalahkan belasan begal di jalanan suatu malam saat mereka pergi bersama.
Jadilah begini akhirnya.
Shin dilibatkan dalam sebuah misi besar yang beberapa waktu belakangan kewalahan ditangani polisi.
Misi membongkar dan meringkus sindikat mafia kelas kakap, Venom.
Shin sama sekali tidak menolak atau berbelit-belit saat ditawari, tidak pula menanyakan resiko atau seberapa besar bayaran yang didapatnya, hanya sebait kata yang dilontarnya sebagai tanggapan, "Jika itu demi kemanusiaan, aku siap melakukannya."
Sekarang, kedua mata Ana ditatap Park Junwon mendalam, kemudian meyakinkan sekali lagi, "Kumohon, Ana. Jika dia berhasil mendapatkan banyak informasi, uang yang didapat tidak sedikit. Ibumu tak akan lagi memandangnya sebelah mata."
★
Beberapa hari kemudian ....
"Ana! Apa yang kau lakukan di sini?!"
"Akuー"
Ana terseok sebelum menyelesaikan kata-katanya. Wang Shin menariknya menjauh dari tempat mereka saling bertatap pertama kali hari ini.
Sebuah halaman gedung di tengah hiruk pikuk tempat hiburan malam di kawasan Hongdae, kawasan di mana Wang Shin menjalankan tugas pertama sebagai aktor gadungan dalam dunia mafia yang meresahkan, menjadi penagih iuran jalan toko-toko di sekitaran.
“Lepaskan aku, Shin!” Ana mengentak lengannya hingga terlepas. Langkah mereka berhenti sekarang, di sela jejeran mobil yang terparkir acak berbaur dengan tukang jualan makanan di tepian jalan.
"Aku hanya mencemaskanmu."
Terlihat Shin memejamkan mata, menengadah ke langit seraya berkacak pinggang. Menarik napas sebentar lalu menatap Ana bersungguh-sungguh.
"Ana, dengarkan aku." Dua pundak Ana ditekannya sekarang, Shin merunduk agar tatapannya sejajar lurus wajah istrinya. "Di sini terlalu berbahaya untukmu. Wanita cantik sepertimu akan menjadi incaran jika berkeliaran sendiri seperti ini. Kumohon ... pulanglah."
"Lalu dirimu?!" sergah Ana. "Aku takut kau ketahuan dan mereka bisa membuー"
"Tidak!" pungkas Shin lagi. "Aku tidak akan mati semudah itu. Percayalah, Ana. Biarkan suamimu ini melakukannya.”