Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lily Wood
Catherine terdiam sambil memijat pelipisnya. "Jemi, berjanjilah kepadaku, selama 7 hari aku tidak ada, jangan pernah masuk ke ruangan itu!"
"Kalaupun kau ditarik masuk ke sana, bersembunyilah dan jangan sampai terlihat!" Catherine memberikan peringatan keras yang justru membuat Jemima semakin takut.
Gadis itu hanya mengangguk. Wajahnya pucat pasi. Dia tidak pernah menginginkan untuk berada di sana, tetapi sesuatu memaksanya untuk berada di sana.
"Bagaimana kalau tubuhku bergerak sendiri seperti kemarin, Nek? Aku tidak bisa mengontrol hal itu," tanya Jemima putus asa.
Ruang keluarga Catherine yang diselimuti ketegangan tengah malam itu, dicairkan oleh pertanyaan Ashley. "Bisakah aku membantu Jemi, Nyonya?"
"Ah, namaku Ashley. Aku teman sekamar Jemima dan kami sama-sama bekerja di restoran Tom Hawk," kata Ashley sambil tersenyum manis.
Catherine menoleh ke arahnya. Dia memikirkan pertanyaan Ashley selama beberapa saat, lalu dia berbicara lagi, "Boleh saja selama kau bisa masuk ke dalam kamar itu, Nona Muda."
"Jemi, kalau kau memang terpaksa harus melayani jiwa-jiwa itu, pastikan jiwamu sendiri tidak kosong dan percayalah pada temanmu. Kau boleh meminta bantuan kepada mereka. Jangan bekerja sendiri!" kata Catherine tajam.
Jemima memandang Ashley, sementara temannya itu menutup mulutnya karena senang. Keinginannya selama ini kemungkinan besar dapat terpenuhi.
"Kau dengar itu, Jemi? Aku bisa ikut denganmu!" pekik Ashley tertahan.
Akhirnya, Chaterine mengulas senyum simpul di wajahnya. "Tapi, aku tetap berharap ruang itu tidak terbuka sampai aku kembali."
Malam itu, Jemima dan Ashley menghabiskan malam di rumah Catherine.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka mengantar kepergian Catherine dan wanita tua itu masih memberikan pesan terakhir untuk Jemima untuk tidak pergi ke ruang ajaib.
Sementara Jemima menghindari kalung opal ungu, Ashley justru menghabiskan setiap menitnya untuk bertanya kapan Jemima merasakan sensasi ditarik.
"Apa kau sudah merasakan sensasi ditarik? Kapan ruangan itu akan menarikmu? Ah, aku harus dekat-dekat denganmu supaya kalau kau berpindah tempat, aku akan menggenggam tanganmu," kata Ashley sambil menyeringai lebar.
Reaksi Kai sama seperti Jemima. Dia mengantisipasi supaya gadis itu tidak memakai kalungnya.
"Jangan pakai! Kalau pun kau masuk ke dalam ruangan aneh itu, aku akan menyusulmu," kata Kai dengan wajah serius dan siaga.
Mendengar dukungan dari kedua temannya, Jemima pun tersenyum.
Selama beberapa hari, kalung opal Jemima terlihat tenang. Dia pun memberanikan diri untuk memakai kembali kalung tersebut.
Saat bertemu dengan kalung Kai, kalung opal itu hanya tertarik lemah ke arah tempatnya, tetapi setelah itu, ia kembali normal.
Namun, di hari terakhir kepergian Catherine, sesuatu terjadi.
Di saat Jemima sedang asik makan siang sambil mengobrol bersama Kai dan Ashley, sebuah cahaya putih keperakan muncul dari kalungnya.
"Jemi, a-apakah itu, ...?" Ashley cepat-cepat memegang tangan Jemima setelah melihat sahabatnya itu mengangguk.
Kai pun tak mau ketinggalan, dia juga memegang tangan Jemima kuat-kuat.
Tak lama, sensasi tarikan kuat menarik mereka. Akan tetapi, sebuah ledakan terjadi dan Kai terlempar keluar.
Jemima dan Ashley tak sempat mempertahankan Kai sampai akhirnya mereka mendarat di sofa ungu.
"Apa yang terjadi dengan Kai?" tanya Ashley panik.
Jemima menggelengkan kepalanya. Wajah kedua gadis itu pucat pasi. Mereka berharap Kai selamat dan kembali ke restoran.
Belum selesai mereka mencerna apa yang tengah terjadi, meja bar diketuk oleh seseorang dan entah bagaimana, Jemima sudah memakai celemek dan Ashley sudah siap dengan nampan dan seragam pelayan berwarna ungu dan putih.
"Jemi, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ashley.
Anehnya, jawaban Jemima meluncur begitu saja seolah-olah dia sudah terbiasa dan tahu apa yang akan dia kerjakan di ruangan itu. "Kau tinggal menyajikan minuman atau makanan untuk para tamu, Ash."
Ashley mengangguk paham dan benar saja, dalam hitungan menit mereka berdua sudah mengalir seperti air.
Para tamu yang memerlukan bantuan mereka datang silih berganti tanpa memberikan waktu istirahat untuk mereka.
Setelah selesai, ada sesosok bayangan aneh yang duduk di sudut kafe.
Ashley menghampiri sosok itu, tetapi Jemima dengan cepat menarik tangannya dan menggelengkan kepala.
"Itu tugasku," kata Jemima yang lagi-lagi terpukau dengan jawaban yang keluar sendiri dari mulutnya.
Perlahan, Jemima menghampiri sosok itu dan sosok yang ternyata seorang wanita itu menoleh ke arahnya, lalu tersenyum.
Jemima membalas senyum wanita itu. "Halo, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
Wanita itu terdiam dan hanya menatap Jemima masih dengan senyumnya. Namun, tatapannya terlihat sedih dan kosong.
"Permisi, Nyonya," kata Jemima lagi dengan sopan.
Akan tetapi, wanita itu tetap terdiam. Akhirnya, Jemima memberikan daftar menu kepada wanita itu. "Nyonya, kalau ada yang bisa saya bantu, Anda bisa ke meja sebelah sana, ya. Permisi."
Lima menit menunggu, tetapi wanita itu tetap tidak bergeming. Dia hanya menatap Jemima dari kejauhan.
Sementara Jemima hanya tersenyum lemah sambil memerhatikan wanita itu dari meja bar.
Tiba-tiba saja, wanita itu menangis. Dia tertunduk, menutupi wajahnya, dan menangis tanpa suara.
Jemima dan Ashley segera menghampiri wanita itu, tetapi sebuah tarikan kuat membawa mereka kembali.
Mereka pun kembali ke tempat semula, ruang ganti karyawan.
Wajah Ashley terlihat pucat, begitu juga dengan Jemima. "Jem, apa itu tadi?"
Belum sempat Jemima menjawab, Kai sudah menepuk pundak gadis itu. "Kenapa aku tidak bisa masuk?"
"Kai! Syukurlah kau kembali!" Jemima memeluk Kai dengan erat.
Semburat merah menjalar di wajah Kai. "J-Jemi, aku baik-baik saja dan tidak pergi ke mana-mana."
Sebutir air mata jatuh menetes dari pelupuk mata Jemima. "Aku takut kau tersesat ke suatu tempat dan tidak kembali. Bagaimana aku menjelaskan itu kepada ayah ibumu?"
Kai tertawa pahit. "Mereka akan mengadakan pesta 7 hari 7 malam."
Ashley meninjunya perlahan. "Tidak lucu!"
"Jadi, bagaimana?" tanya Kai lagi.
Jemima memainkan bibirnya, tanda dia berpikir keras. "Kalau malam ini nenekku pulang, aku akan segera menemuinya."
Sayangnya, sebelum Catherine kembali, kalung opal Jemima kembali bercahaya keperakan menyilaukan.
Segera saja dia tertarik ke dalam ruangan aneh itu lagi. Kali ini, ruangan itu sepi.
Tidak ada orang-orang yang memesan minuman, kursi, Dan meja tersusun rapi sesuai tempatnya.
Jemima berjalan ke meja bar dan tiba-tiba saja, sosok bayangan putih seperti kabut, muncul kembali.
Dia melayang (bukan berjalan) dan menghampiri Jemima sambil tersenyum.
Bulu kuduk gadis itu meremang kala sosok berkabut itu mendekatinya.
"H-halo," sapa Jemima masih berusaha sopan di tengah ketakutannya.
Bayangan putih aneh itu tidak membalas, tetapi tatapan matanya seperti kemarin, tidak lepas dari Jemima.
Jemima pun berusaha menyapa lagi. Kali ini, dia menguatkan dirinya supaya lebih berani. "Permisi, a-apa ada yang bisa saya bantu?"
Sosok aneh tak tembus pandang itu menyerahkan selembar kertas kepada Jemima.
"Ini untukku?" tanya Jemima.
Bayangan itu mengangguk. Jemima dapat melihat lebih jelas wajah di balik sosok menakutkan tersebut.
Wajahnya pucat seputih tembok, rambut panjang dan tipisya berkibar setiap kali dia bergerak, kukunya tidak panjang hanya saja, nyaris habis entah karena apa.
Jemima membuka kertas yang dilipat itu. Tulisan itu seperti tulisan anak kecil yang baru belajar menulis.
Tidak teratur, terlalu ditekan, dan garisnya tidak stabil. Kedua mata Jemima terbelalak saat melihat tulisan yang ada di dalamnya.
Otak Jemima seakan membeku dan lupa bagaimana memberikan stimulus pada jantung untuk berdetak.
Dia menelan salivanya kasar, suaranya sulit keluar saat dia hendak bertanya ke bayangan tersebut.
"K-kau Lily Wood?" tanya Jemima dengan suara tercekat.
***