“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Albiru menoleh pada orang yang menepuk pundaknya lalu tersenyum. “Lama tidak bertemu, Bi. Kamu apa kabar?” tanya Dafrina yang merupakan mantan kekasih Albiru saat mereka masih sekolah dulu, tepatnya sebelum Albiru mengenal Alisha.
“Baik. Kamu sendiri bagaimana?” tanya Albiru basa-basi.
“Baik, Bi. Kamu tidak berubah ya, malah semakin tampan saja.” Albiru tersenyum simpul lalu membayar belanjaannya setelah tiba giliran.
Saat keluar dari toko, Albiru membuka pintu mobilnya dan lagi-lagi Dafrina menghentikannya. “Terburu-buru sekali, kita duduk dulu sambil ngobrol ringan, bisakan?” ajak Dafrina yang jelas membuat Albiru sedikit keberatan.
“Maaf, istriku sedang menunggu di rumah, aku takut kalau dia kelamaan. Aku permisi, Dafrina.” Albiru memasuki mobilnya dan meluncur pergi dari toko tersebut.
Dafrina melihat kepergian Albiru dengan senyum getir, ada rasa sesal di hatinya ketika melihat Albiru sekarang.
“Coba aja dulu aku gak gegabah pindah keluar negri, pasti sekarang aku yang akan menjadi istrinya.” Dafrina bergumam pelan lalu berjalan menuju ke arah mobilnya. Terlintas di kepalanya ide untuk mengikuti Albiru agar mengetahui rumah pria itu.
Dafrina memacu mobilnya mengikuti mobil Albiru, dia terus mengikuti sampai di rumah mewah Albi dan memicingkan mata saat melihat Alisha tengah duduk di teras rumah seorang diri.
“Alisha? Jadi istrinya Albiru itu, Alisha?” Dafrina sedikit melotot melihat kalau saudari sepupunya sendiri yang menjadi istri dari mantan kekasihnya itu. Tepatnya Dafrina adalah sepupu jauh dari Alisha dan mereka tidak cukup dekat, bahkan sangat jarang bertemu atau kumpul keluarga besar. Apalagi saat pernikahan mewah Alisha dengan Albiru kala itu tidak mengundang keluarga besar Alisha sendiri.
Dafrina membunyikan klakson mobilnya sehingga Albiru dan Alisha menoleh ke arah gerbang dan anggukan dari Albiru membuat satpam membukakan gerbang tersebut. Mobil Dafrina masuk ke dalam halaman rumah tersebut, Albiru mengerutkan kening saat Dafrina keluar dari mobilnya dengan senyum mengambang, sementara Alisha cukup kaget dengan kedatangan sepupunya tersebut.
“Dafrina,” kata Alisha pelan yang mana masih bisa didengar oleh Albiru.
“Kamu kenal dia sayang?” Alisha mengangguk.
“Dia sepupu jauh aku, Bi. Ya tepatnya anak tiri dari paman jauh aku, dari keluarga Bunda. Kami gak terlalu dekat sih, bahkan gak pernah sapaan selama ini.” Alisha menjawab. Albiru cukup kaget dengan pengakuan istrinya.
Dafrina mendekat dan menyalami mereka berdua. “Hai Alisha, Albiru.” Dafrina menyapa dengan ceria, sangat berbeda dengan respon Alisha dan Albiru sendiri yang heran serta bingung.
“Hai. Ada apa, Dafrina?” tanya Alisha yang semakin kebingungan, pasalnya dia selama ini tak pernah saling berkunjung dengan Dafrina.
“Aku melihat mantan kekasihku di toko kue tadi, jadi aku berpikir untuk mengikuti dia sampai ke sini dan aku malah melihat kamu, Alisha.” Alisha mengerutkan keningnya lalu menatap Albiru, sedangkan Albiru tampak semakin tidak suka dengan sikap Dafrina ini.
“Mau apa kamu ke sini? Kamu menguntit saya?” sengit Albiru yang hanya dibalas kekehan kecil oleh Dafrina.
“Santai saja, Bi. Aku ke sini bukan hanya untuk menemui kamu, tapi juga menemui Alisha, sepupu aku. Benarkan, Sha.” Dafrina memberikan senyuman liciknya pada Alisha, jelas saja Alisha tak suka.
Alisha membalikkan tubuhnya dengan kesal lalu meninggalkan Albiru dengan Dafrina di teras begitu saja. Albiru mengepalkan kedua tangannya dengan kedua rahang mengeras lalu menatap Dafrina dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu mengikuti aku sampai ke rumah ini hah? Kau ada niat yang tidak baik ya,” tuduh Albiru pada Dafrina.
“Aku hanya ingin bertemu Alisha.”
“Kau tidak lihat kalau istriku keberatan dengan kehadiranmu? Jangan mentang-mentang kau memiliki ikatan keluarga dengan istriku, kau bisa seenaknya masuk ke sini.” Dafrina tertawa sarkas lalu mendekati Albiru.
“Dengar ya Bi, aku ke sini memang ada tujuan. Tujuanku jelas untuk kembali bertemu dengan kamu, Albiru. Aku merindukanmu.”
“Pergi dari rumahku, Dafrina. Jangan sampai aku menyeretmu keluar.”
“Santai, Bi. Aku tidak akan macam-macam.” Dafrina pergi begitu saja lalu kembali menoleh ke belakang dan tersenyum pada Albiru. Alisha melihat semua interaksi suami dan sepupunya dari dalam rumah dan hatinya sangat sakit.
Setelah Dafrina pergi, Albiru segera mendekati satpam dan memberitahu kalau Dafrina datang lagi, jangan diizinkan masuk apapun alasannya.
“Baik, Pak. Saya akan tutup akses untuk perempuan tadi.”
“Bagus. Jangan sampai istri saya merasa tidak nyaman, utamakan ketenangan dan kenyamanan istri saya di rumah ini,” tekan Albiru pada satpam.
“Baik, Pak.”
Albiru segera memasuki rumahnya karena dia yakin kalau saat ini Alisha sedang merajuk. Sementara di dalam kamar, Alisha duduk dengan tangan meremas bantal. Saat Albiru datang, Alisha sama sekali tidak mengubah posisi dan ekspresinya.
Albiru duduk di samping Alisha lalu mengambil tangan Alisha dan menggenggamnya, tangan itu terasa sangat dingin. “Sha.”
“Kenapa kamu gak bilang kalau Dafrina mantan kamu, Bi? Aku jujur shock banget dengerin dia bilang kalau kamu mantannya dan aku dengerin interaksi kalian tadi. Dia bilang rindu sama kamu, Bi.” Alisha mengungkapkan kekecewaannya dengan tangis, apalagi saat ini dia sedang hamil dan perasaannya sangat sensitif.
“Aku bukan gak mau bilang, tapi memang gak penting juga. Aku sama dia menjalin hubungan saat masa sekolah aja, ya sekedar cinta monyet, gak lebih, Sha. Buat apa juga aku bilang ke kamu? Dia gak terlalu berharga juga.” Alisha menunduk dengan air mata yang masih mengalir.
“Aku benci dia, Bi. Aku gak suka sama dia, kalau dia terus deketin kamu, terus datang ke sini gimana? Aku gak suka, Bi.” Albiru memegang dagu istrinya agar pandangan Alisha terangkat melihat dirinya.
“Aku gak akan biarin dia ke sini lagi, kalau untuk hati aku, sepenuhnya sudah ada di kamu. Aku gak peduli sama Dafrina, saat dia meninggalkan aku keluar negri, aku gak sekacau dan semenderita saat kamu meninggalkan aku, Sha. Percaya padaku.” Alisha memeluk erat suaminya, rasa takut akan kehilangan memenuhi hatinya.
“Aku gak mau dimadu, Bi. Aku takut kalau karma datang padaku saat aku menikahi kamu ketika kamu masih sama Naya.”
“Itu berbeda, Sha. Naya yang lebih dulu menghancurkan kita dan kamu tidak akan mendapat karma apapun. Apa yang dituai oleh Naya adalah akibat dari perbuatan dia sendiri, bukan karena kamu.”
“Tapi aku tetap aja takut, Bi. Aku gak mau kehilangan kamu.”
“Aku gak akan berpaling semudah itu, Alisha. Aku mencintai kamu.”
“Maaf ya, tadi aku bertindak gak sopan sama tamu kamu.”
“Kamu udah bersikap benar kok, dia tamu gak diundang juga.” Albiru mendekap Alisha lalu mencium kepala sang istri dengan mesra.
“Aku beliin kamu cake yang kamu suka, kita makan dulu yuk.” Alisha mengangguk, mereka kembali ke ruang makan untuk memakan makanan yang dibeli oleh Albiru tadi.
Di meja makan, Albiru sangat senang melihat istrinya makan dengan lahap.
“Tadi bunda sama ayah setuju untuk tinggal di sini sampai kamu melahirkan. Kamu gak akan sendiri saat aku kerja, kamu bakalan ada temannya.” Alisha terlihat ceria kembali mendengar kabar dari suaminya itu.