NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Setan Gembel Gunung Asem 4

Dangiran yang mulai gentar melirik ke arah Citraksa dan Citraksi. Meskipun gelap malam mampu menutupi wajah pucat dua pendekar kembar itu, tapi ketakutan jelas terpancar dari rona muka keduanya.

"Kita bisa mengalahkan nya asal kita bersatu. Ayo, balaskan dendam Randu dan Brastawa! Kita cincang bajingan itu..!! ", ucap Dangiran mencoba untuk membuat dua pendekar kembar ini kembali berani.

Usahanya pun tak sia-sia. Citraksa dan Citraksi menghela nafas dalam-dalam sebelum saling menganggukkan kepala. Keduanya mulai memutar-mutar gagang golok nya dan ini membuat Dangiran bernafas lega.

Segera ia merapal mantra Ajian Tapak Darah andalan nya sambil memusatkan seluruh tenaga dalamnya pada telapak tangan kiri. Cahaya merah darah dengan diselimuti oleh angin berbau amis darah pun langsung tercipta di tangan kiri Dangiran.

Sedangkan Citraksa dan Citraksi sama-sama menyalurkan tenaga dalamnya pada bilah golok di tangan. Cahaya hijau redup dengan cepat berpendar di bilah golok sepanjang dua jengkal tangan orang dewasa itu. Begitu ilmu pamungkas digunakan, Citraksa dan Citraksi langsung melompat ke arah Jenar Karana sambil mengayunkan golok mereka.

Shhrreeeeeeeetttt shhrreeeeeeeetttt!!

Dua tebasan golok si kembar mengincar kaki dan leher Jenar Karana. Namun yang diincar sama sekali tidak gentar. Dengan santainya ia menjejak tanah hingga tubuh nya terangkat ke udara. Lalu dengan satu gerakan seringan kapas ia memutar tubuhnya hingga tebasan golok Si kembar Citraksa dan Citraksi hanya membabat angin kosong sejengkal di atas tubuhnya.

Baru saja Jenar Karana mendarat di tanah, Dangiran datang menerjang sambil menghantamkan tapak tangan kiri nya yang berselimut cahaya merah darah yang diikuti oleh angin berbau amis darah.

"Mampus kau, keparat..!!!

Chhiiiiiyyyyyyaaaaaaaattttttt.....

Whhhuuuuuugggg!!!

Melihat kedatangan serangan maut Dangiran, Jenar Karana segera menyambutnya dengan tapak tangan kiri yang mirip seperti cakar burung rajawali.

Bllaaaaaaaaaarrrrrrrrrr..!!!

Baik Dangiran ataupun Jenar Karana sama-sama terpental ke belakang. Dua-duanya pun sama-sama memuntahkan darah.

Belum sempat berhenti dari efek benturan dengan Dangiran, Citraksi menerjang dari belakang sambil mengayunkan golok nya, mengincar leher Jenar Karana.

Whhuuuuttt....!!

Merasakan bahaya sedang mengancam keselamatan nya, Jenar Karana menggunakan Pedang Taring Naga untuk menghentikan gerakan mundur nya lalu secepat kilat melenting tinggi ke udara dan mendarat di belakang kembaran Citraksa itu. Dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil mengayunkan Pedang Taring Naga ke arah leher Citraksi.

Chhrrraaaaaaaaaassssss...

Huuuuuuuuuggggghhhhh!!!

Melihat Citraksi menggeram keras sambil memegangi leher nya yang robek, Citraksa menjerit histeris dan langsung menyerang Jenar Karana dengan membabi-buta.

Shhrreeeeeeeetttt shhrreeeeeeeetttt..

Thhrraaaaaannnnggg thhrraaaaaannnnggg!

Dhhaaassss dhhaaassss...!!!!

Citraksa tersungkur usai dua tendangan keras Jenar Karana menghajar dada nya. Pendekar berbadan ceking ini langsung muntah darah segar. Dangiran yang melihat pertahanan Jenar Karana sedang terbuka meloncat dari samping kanan sambil kembali menghantamkan tapak tangan kiri nya.

Whhhuuuuuuussssss...!!!

Demi menghindari serangan maut Dangiran, Jenar Karana harus menjatuhkan diri ke samping kiri. Begitu lolos dari serangan maut Dangiran, dia langsung melemparkan Pedang Taring Naga nya ke arah Dangiran yang masih di udara.

Shhrriiiiiiiiiinnnnggggggg...

Betapa terkejut nya Dangiran melihat aksi nekat Jenar Karana. Dia langsung menyilangkan Pedang Pembalik Langit nya sebagai perlindungan.

Thhrraaaaaannnnggg...!!!!

Tak berhenti sampai disitu, setelah melemparkan Pedang Taring Naga nya, Jenar Karana langsung melesat cepat ke arah Dangiran dari arah samping kanan dan secepat kilat mengayunkan cakar tangan nya ke arah dada kanan musuh yang terbuka.

Shhrraaaaaakkk Aaaarrrrggggghhhh!!!!

Darah segar mengucur deras pada luka di dada kanannya. Pemimpin Lima Setan Gembel Gunung Asem ini terhuyung-huyung mundur sambil berusaha menghentikan pendarahan dengan membekap erat luka. Wajahnya meringis menahan rasa sakit dan perih pada luka yang ada.

"Kep-keparat....

Aku pasti akan membuat mu menyesal telah melukai ku!!!! ", geram Dangiran sambil menotok beberapa jalan darah nya untuk mengurangi pendarahan nya.

Begitu darah berhenti keluar, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, bersiap untuk melakukan satu serangan pamungkas. Tubuh Dangiran memerah karena seluruh tenaga dalam dipusatkan pada satu tapak tangan kanan.

Heeeaaaaaarrrrgggghhh!!!

Dangiran menggembor buas sebelum menjejak tanah dengan keras. Tubuhnya melesat cepat ke arah Jenar Karana. Saat jarak tinggal 2 tombak lagi, Dangiran menghantamkan tapak tangan kanannya ke arah musuh.

Whhhuuuuuuummmmmm!!!

Gumpalan cahaya merah darah berbentuk telapak tangan menderu kencang ke arah Jenar Karana disertai angin berbau amis darah. Tepat sesaat sebelum cahaya merah darah itu menerjang, Jenar Karana melenting tinggi ke udara hingga ia lolos dari serangan maut Dangiran.

BLLAAAAAAMMMMMMMMM!!!

Ledakan keras terdengar kala cahaya merah darah itu menghantam rimbun pohon pisang yang ada di belakang Jenar Karana, menyebabkan puluhan pohon pisang yang ada hancur berantakan.

Di udara, Jenar Karana mengangkat kedua tangan nya seperti seekor burung rajawali mengepakkan sayap. Kakinya menekuk hingga tubuhnya berbalik arah dengan kepala di bawah. Dari sana dia meluncur cepat ke bawah tepat ke arah Dangiran sambil memajukan cakar tangan kiri nya.

Ini adalah jurus pamungkas Ilmu Silat Cakar Rajawali Pesisir Selatan yang disebut sebagai Rajawali Sakti Menyambar Iblis.

Dangiran yang sudah kehabisan tenaga dalamnya, tak sempat menghindar dari serangan ini hingga cakar tangan kiri Jenar Karana mencengkram kepalanya.

Chhrreeeeeepppppp...

Aaaaaaaaaarrrrrrrrggggghhh!!!

Dangiran menjerit kesakitan kala kuku tangan kiri Jenar Karana meremukkan tengkorak kepalanya. Penderitaan nya belum berakhir setelah Jenar Karana mendarat di punggung nya sambil melakukan gerakan membanting ke tanah.

Krrraaaaaaaaakkkkkkk!!

Tubuh Dangiran langsung mengejang hebat begitu menghantam tanah. Suara tulang remuk diikuti dengan suara keras tubuh terbanting ke tanah begitu menakutkan. Citraksa, satu-satunya anggota Lima Setan Gembel Gunung Asem yang masih hidup langsung melarikan diri begitu melihat Dangiran tewas di tangan Jenar Karana. Kegelapan malam membantu nya lolos dari maut.

Jenar Karana menatap sebentar ke arah mayat Dangiran, Brastawa, Randu dan Citraksi yang menyebar di empat arah berbeda. Sebentar kemudian ia melesat pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kediaman Senopati Wanaraja.

Keesokan paginya, Kota Bhagawanta geger. Penemuan empat mayat dari Lima Setan Gembel Gunung Asem yang selama ini begitu disegani oleh para petani yang hendak berangkat ke sawah, langsung menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan penduduk kota ini.

Terlebih lagi dengan misteri yang masih menyelimuti peristiwa pembunuhan ini. Siapa pembunuh mereka? Apa latar belakang dari peristiwa ini? Apa ini sekedar dendam kepada mereka atau ada latar belakang lain yang menjadi dasar pembantaian empat orang yang sempat mengacau di istana Bhagawanta itu? Kesemuanya menjadi teka-teki yang terus menjadi bahan obrolan kecil di antara para penduduk kota Bhagawanta.

"Jenar, apa kau tahu sesuatu yang berhubungan dengan pembunuhan keempat pendekar di jalan dekat persawahan yang ada di utara rumah ini?", tanya Si Kundu begitu Jenar Karana selesai mengganti pakaian setelah mandi di sungai kecil belakang rumah Senopati Wanaraja.

" Tidak tahu..

Memangnya ada hal semacam itu? ", jawab Jenar Karana dengan santainya.

" Kau ini...

Semua orang di kota ini sedang heboh dengan peristiwa ini, kau malah cuek saja. Empat orang pendekar yang semalam mengacau di istana pagi ini ditemukan tewas di utara sana. Mereka di bantai dengan cara yang mengerikan. Kalau semalam aku tak jadi menonton pertunjukan dengan Kakang Limbu, mungkin aku tahu siapa pelakunya ", lanjut Si Kundu kemudian.

" Memang membunuh orang yang mengacau istana itu salah ya Ndu?", Jenar Karana menatap Si Kundu serius.

"Ya tidak Nar, malah bisa dikatakan sebagai orang yang berjasa besar tapi aku penasaran bagaimana ia bisa begitu hebat bisa membunuh empat anggota Lima Setan Gembel Gunung Asem itu?

Apa jangan jangan... "

Belum selesai Si Kundu bicara, Dewi Widowati muncul dari samping tempat mereka berbincang-bincang.

"Jangan jangan apa Ndu? ", tanya Dewi Widowati ikut nimbrung perbincangan mereka.

" Ah tidak Gusti Putri...

Eh tumben Gusti Putri kemari, ada apa? ", Si Kundu langsung mengalihkan pembicaraan.

" Kanjeng Romo meminta ku memanggil kalian berdua. Si Limbu Jati sudah ada di pendapa. Kangmas Wanapati dan Gelarsena juga sedang berjalan kesana. Sebaiknya kalian bergegas.. ", jawab Dewi Widowati sambil berbalik arah kembali ke kediaman utama.

Si Kundu segera mendekati Jenar Karana sambil berbisik lirih.

" Ada apa kita dipanggil, Nar? "

Jenar Karana hanya mengangkat bahunya sambil berkata,

"Mana ku tahu?... "

1
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!