Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.
Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.
Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Melia bangun dari tidur nya setelah tidur nyenyak nya yang begitu nyaman di pelukan Dimas hingga menjelang pagi.
Berbeda dengan Melia yang masih tidur, Dimas sudah terjaga sejak tadi sambil memandangi wajah sang istri.
Rasa nya seperti mimpi yang lama ia harapkan hal ini terjadi, di tambah wajah bantal Melia yang begitu menggemaskan membuat nya semakin bahagia.
Cup
Dimas mengecup kening Melia sejenak berharap si empu terbangun dan tersenyum menatap nya, lalu membalas ciuman nya.
Melia menggeliat dengan mata tertutup. Ia memutar badan nya dan membelakangi Dimas.
"Sayang, bangun yuk, udah pagi" bisik Dimas di samping telinga Melia, posisi tangan nya menjadi bantalan bagi Melia.
"Lima menit lagi Ma" jawab Melia dengan bergumam mengira yang berbisik ialah Gina, seperti biasa nya saat dirumah.
Dimas terkekeh pelan. Lalu membiarkan Melia kembali tidur, ia pun juga ingin menyusul tidur dan memeluk Melia dari belakang.
Ting tong
Dimas tersentak mendengar suara ketukan pintu, lalu tak lama ada suara yang memanggil nama nya, yaitu suara Emelin.
Karena tangan nya tak bisa bergerak, jadi Dimas memilih untuk mengambil hp nya dan menelpon Mama nya.
"Halo Ma, ada apa?"
"Masih belum bangun juga?"
"Kecapean Ma, untuk sarapan jangan nunggu kami berdua"
"Oke lah. Oh ya, Mama mau ngabarin kamu sekalian pamitan"
Dimas mengernyit. "Pamitan kemana Ma?"
"Mama sama Papa duluan balik ke Belanda, kasian kantor Papa nggak keurus sebulanan lebih, nanti kamu sama Lia nyusul ya"
Dimas mengangguk tanpa Emelin tau. "Ya, hati-hati. Kabarin kalau udah sampai" ucap nya mengakhiri panggilan.
Usai melakukan panggilan dengan sang Mama, ia kembali memeluk Melia yang lebih kecil dari badan nya dengan erat, apalagi cuaca pagi di hotel benar-benar dingin.
...****************...
Melia bangun dengan wajah masam, ia masih duduk di ranjang dengan rambut yang berantakan seperti singa.
Dimas terkekeh gemas. "Kenapa? Bangun-bangun malah pasang muka asam langsung, nggak ada senyum nya sama sekali nih" goda Dimas menghampiri Melia yang masih mengumpulkan nyawa.
Melia berdecak. "Kenapa nggak di bangunin pagi-pagi sih, kan jadi nggak dapat jatah sarapan" cebik Melia memprotes.
Dimas tersenyum. Lalu duduk di atas ranjang di hadapan Melia. "Kamu nyenyak banget, jadi aku nggak bangunin, nggak tega" Dimas tak ingin Melia tau ia sudah membangunkan nya biarlah Dimas di salahkan.
Melia berdecak lagi dengan tangan bersedikap dada dengan alis menukik.
Dimas mengelus rambut Melia dan membantu nya merapikan rambut yang berantakan, lalu menghapus jejak muka bantal Melia.
"Kalau gitu aku pesenin sarapan nya ya? Biar kita makan di kamar aja" usul Dimas membuat Melia nampak berpikir.
"Emang Kakak tau menu sarapan tadi pagi apa?" tanya Melia di angguki Dimas ragu.
"Aku tanyain ke Mama dulu, selagi kamu mandi. Karna habis makan kita langsung balik ke rumah buat beres-beres" jawab Dimas sembari memberi rencana pada Melia.
Melia mendongak dengan kernyitan bingung. "Beres-beres buat apa?" tanya Melia ia masih tak paham, bahkan ia lupa jika sudah menikah.
"Buat kembali ke Belanda saat waktu perkuliahan kamu dimulai" jawab Dimas dengan nada lembut.
Melia terdiam mencerna. "Masih lama itu Kak, dua bulan lagi. Ngapain di urus dari sekarang" ucap Melia di angguki Dimas.
"Tapi kamu juga harus adaptasi lebih dulu, Lia.. Setidaknya satu bulan sebelum perkuliahan dimulai" balas nya dengan penuh sabar menjelaskan.
Melia mengerucutkan bibir nya. "Iya sih, belum lagi harus nyari asrama dan kamar nya, pasti ribet lagi" keluh Melia membuat Dimas mengangkat sebelah alis nya.
"Kamu nggak perlu asrama Sayang, kita akan tinggal di apartemen ku yang memang aku belu sewaktu masih kuliah, nggak jauh dari kampus kamu" balas Dimas lalu kembali berdiri.
"Kita?" gumam Melia dengan alis menukik bingung.
Dimas menoleh dan tersenyum tipis. "Kamu lupa kita udah nikah?" tanya Dimas membuat Melia mendongak dengan mulut sedikit terbuka.
Dimas terkekeh setelah mendapat melihat tanggapan yang menggemaskan dari Melia.
"Jadi.. Kejadian kemarin bukan mimpi?" lirih nya lalu melirik ke arah jari nya yang memang terdapat cincin emas yang ia pilih dengan asal.
"Mandi sana, aku mau pesenin sarapan buat kita. Mama Papa ku udah kembali ke Belanda lebih dulu, jadi kita punya waktu sebulan disini, jadi puas-puasin dulu bareng sama Mama Papa kamu" ucap Dimas mengalihkan topik.
Melia pun mulai beranjak dari ranjang dengan tatapan kosong, ia masih mencerna semua hal yang terjadi tiba-tiba dalam hidup nya.
"Kak" panggil Melia tepat berada di belakang Dimas yang sedang menatap keluar jendela dengan tangan berada di dalam saku celana.
Dimas berbalik menghadap Melia yang menundukkan kepala. "Aku udah pesenin sarapan nya. Kenapa Sayang? Ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Dimas.
Melia masih menunduk dengan memainkan jari nya sendiri karena gugup.
"Kita tadi malam.. Ng-nggak ngapain-ngapain kan?" tanya Melia dengan suara pelan.
"Apa Sayang? Aku nggak dengar" Dimas ikut menunduk agar dapat melihat wajah merona Melia.
Sebenarnya Dimas mendengar pertanyaan itu, ia hanya menggoda Melia yang tak mau menatap nya seperti biasa.
"Aku.. Belum Kakak apa-apain kan?" tanya Melia lagi dengan lirih, kali ini ia mengigit bibir bawah nya saking gugup nya.
Dimas tersenyum tipis tanpa Melia tau. "Apa-apain itu yang gimana ya?" tanya Dimas terus mencoba menggoda Melia.
Rasa nya bahagia saat menggoda Melia yang nampak malu-malu dengan wajah yang merah bak kepiting rebus.
Melia menghela napas pelan mencoba menghilangkan kegugupan nya yang semakin kuat.
"Ya.. Itu.. Anu.."
Dimas tersenyum lalu mengelus kepala Melia dengan lembut. "Aku nggak akan ambil sebelum kamu siap, aku akan nunggu waktu nya tiba" jawab Dimas lalu menarik Melia untuk ia peluk.
"Yang penting kamu nggak jauh lagi dari ku, itu aja yang paling penting untuk saat ini" lanjut Dimas berbisik lalu mengecup rambut Melia.
Melia membalas pelukan Dimas dengan senyum yang mulai terpancar, ia pun menyandarkan kepala nya di dada bidang Dimas yang tertutup kemeja putih, kemeja yang kemarin ia pakai selama pernikahan berlangsung.
Ting tong
"Sarapan nya udah datang, kamu mandi dulu, biar aku yang siapin makanan nya" Dimas mengurai pelukan nya lalu mengecup bibir Melia tanpa aba-aba.
Melia membeku menatap Dimas yang mulai melenggang ke arah pintu untuk mengambil sarapan.
Harus nya ia tak perlu syok karena mendapat serangan tak terduga dari Dimas, bahkan saat sebelum menjadi suami istri pun Dimas sudah lebih mengambil kesempatan mencuri ciuman pertama Melia.
Dimas kembali dengan tangan penuh paperbag.
"Mandi atau sarapan dulu?" tanya Dimas yang melihat Melia hanya diam seperti patung di pojokan.
Melia melangkah mendekat. "Sarapan, udah lapar" jawab Melia lalu duduk di sofa yang sama dengan Dimas sembari menunggu nya membukakan wadah makanan.
"Makan lah" Dimas menyodorkan wadah yang sudah ia buka kepada Melia.
Melia menerima dan mulai makan dengan sesekali mencuri-curi pandang pada Dimas yang juga makan dengan tenang.
buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭