NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kunci Lumbung dan Surat Berdarah di Bantal

Bab 14: Kunci Lumbung dan Surat Berdarah di Bantal

Pagi setelah kemenangan di Festival Bulan Purnama, matahari terbit dengan canggung di atas Perguruan Lembah Kabut. Biasanya, sinar matahari pertama akan menyinari asrama elit Kelas Surya. Namun hari ini, rasanya cahaya itu justru jatuh lebih terang di barak reyot Kelas Awan.

Kemenangan mereka bukan sekadar trofi atau medali. Hadiah utamanya adalah sesuatu yang jauh lebih pragmatis dan menyakitkan bagi Wangsa Agnimara: Hak Pengelolaan Lumbung Logistik.

Selama sepuluh tahun terakhir, Gudang Logistik (tempat penyimpanan beras, obat-obatan, dan senjata latihan) dikuasai oleh kroni-kroni Agnimara. Mereka memonopoli jatah makanan enak, menjual obat-obatan kelas satu ke pasar gelap, dan memberikan sisa-sisa ampas kepada murid kelas bawah.

Hari ini, monopoli itu berakhir.

Jaka berdiri di depan pintu gerbang Lumbung Padi yang terbuat dari kayu jati tebal. Di belakangnya, berbaris seluruh murid Kelas Awan. Mereka tidak membawa senjata, tapi mereka membawa karung-karung kosong dan buku catatan inventaris.

Di depan pintu, berdiri Pak Suroto, penjaga gudang yang juga paman jauh Arya Agnimara. Perutnya buncit, matanya licik. Dia didampingi dua pengawal bayaran yang tampak gugup.

"Kalian mau apa, Gembel?" bentak Pak Suroto, meludah ke tanah. "Ini area terlarang bagi tikus got seperti kalian. Pergi!"

Jaka maju selangkah. Dia tidak lagi menunduk. Dia tersenyum ramah, tapi senyum itu tidak mencapai matanya.

"Selamat pagi, Pak Suroto," sapa Jaka sopan. "Sesuai keputusan Ketua Perguruan semalam, kunci gudang ini sekarang berpindah tangan. Kami datang untuk melakukan audit dan... bersih-bersih."

"Mimpi!" Pak Suroto mencabut keris kecil dari pinggangnya. "Kalian pikir selembar kertas bisa membuatku menyerahkan lumbung emas ini? Langkahi dulu mayat—"

Belum sempat Suroto menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan melintas.

Bara.

Dia tidak menyerang. Dia hanya berjalan santai melewati Suroto, lalu berhenti tepat di depan gembok besar pintu gudang.

"Jaka," panggil Bara tanpa menoleh. "Singkirkan sampah di depan pintu. Baunya busuk."

"Siap, Mas!"

Wajah Suroto memerah. "Kurang ajar! Serang mereka!" teriaknya pada dua pengawalnya.

Kedua pengawal itu saling pandang. Mereka melihat Jaka yang meretakkan buku-buku jarinya, Sutejo yang memainkan pisau di sepatunya, dan Bara yang... hanya diam membelakangi mereka.

Mereka ingat apa yang terjadi pada Darto si Manusia Besi semalam.

"Maaf, Pak Suroto. Gaji kami tidak cukup untuk ini," ucap salah satu pengawal, lalu mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan Suroto sendirian.

Suroto ternganga. "Dasar pengecut!"

Jaka mencengkeram kerah baju Suroto dengan satu tangan, mengangkat pria gemuk itu hingga kakinya menggantung di udara.

"Kuncinya, Pak," pinta Jaka lembut.

Suroto gemetar, merogoh sakunya dan menyerahkan setandan kunci besi.

"Terima kasih. Sekarang, silakan lapor ke Ki Rangga bahwa 'tikus got' sudah mengambil alih lumbung padinya."

Jaka melempar Suroto ke tumpukan jerami. Pria tua itu merangkak lari sambil menyumpah-serapah.

Bara membuka pintu gudang. Aroma beras apek dan rempah-rempah menyeruak keluar.

"Periksa semuanya!" perintah Bara pada teman-temannya. "Catat setiap butir beras. Pisahkan yang layak makan dan yang busuk. Mulai hari ini, jatah makan Kelas Awan dan Kelas Surya disamakan. Tidak ada lagi yang makan nasi aking."

Sorak-sorai membahana. Murid-murid Kelas Awan langsung bekerja dengan semangat 45.

Bara berjalan menuju bagian belakang gudang, tempat penyimpanan barang-barang "khusus".

Di sana, tertumpuk peti-peti kayu yang disegel dengan lambang Agnimara. Bara mencungkil salah satu peti dengan ujung Kujang-nya.

Isinya bukan beras.

Isinya adalah Bubuk Mesiu Hitam dan botol-botol Racun Kalajengking.

"Barang selundupan," komentar Garuda. "Si Rangga itu menimbun senjata perang di dalam sekolah. Ambisius sekali."

"Ini bagus," batin Bara menyeringai. "Kita sita semuanya. Bubuk mesiu ini akan berguna untuk 'kembang api' Jaka, dan racunnya bisa kita jual ke pasar gelap untuk modal kas kelas."

Tiba-tiba, mata Bara menangkap sebuah peti kecil yang berbeda di sudut paling gelap, tertutup debu tebal. Peti itu terbuat dari kayu ulin hitam tanpa segel Agnimara, melainkan segel tua yang sudah pudar... segel Bunga Teratai Emas.

Lambang Kerajaan lama? Atau lambang pribadi ibunya?

Bara mendekat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh peti itu.

"Mas Bara!"

Teriakan Kirana dari pintu depan menghentikan gerakannya. Suaranya panik dan histeris.

"Mas Bara! Cepat ke asrama! Ada... ada sesuatu di kamar kita!"

Bara menarik tangannya, menatap peti itu sekilas—nanti saja—lalu segera berlari keluar menyusul Kirana.

Suasana asrama yang biasanya tenang kini mencekam. Beberapa murid perempuan menangis di halaman.

Bara menerobos masuk ke dalam barak.

Pemandangannya mengerikan.

Dinding kayu asrama telah dicoret-coret menggunakan darah hewan (atau manusia?). Tulisan besar berwarna merah darah terpampang di dinding utama:

"MATA DIBAYAR NYAWA. DARAH DIBAYAR DARAH."

Kasur-kasur dirobek, isinya berhamburan. Baju-baju mereka dicabik-cabik.

Tapi yang membuat darah Bara mendidih adalah apa yang ada di tempat tidur Kirana.

Di atas bantal Kirana, tertancap sebuah belati black. Belati itu menembus seekor burung merpati putih yang sudah mati dengan leher tergorok.

Dan di samping merpati mati itu, ada secarik kertas.

Bara berjalan mendekat. Langkahnya berat, lantai kayu berderit di bawah kakinya. Aura di sekelilingnya berubah menjadi sangat dingin dan pekat, membuat Jaka dan Sutejo yang berdiri di dekatnya mundur ketakutan.

Bara mencabut belati itu. Dia mengambil kertasnya.

Isinya singkat:

"Selamat atas kemenangan kecilmu. Tapi ingat, di Hutan Maya kau hanya menghadapi anak buah. Di Kota Raja kau hanya menghadapi ampas. Mulai malam ini, jangan tidur terlalu lelap. Kami tidak akan berhenti sampai kepala pelacur kecil ini (Kirana) terpisah dari badannya. — Kalajengking Merah"

Bara meremas kertas itu hingga hancur. Kertas itu terbakar habis di tangannya menjadi abu hitam, hangus oleh Prana api yang meluap tak terkendali.

"Mas..." Kirana terisak, memegang lengan baju Bara. "Mereka... mereka mengincar aku..."

Bara berbalik. Wajahnya datar. Sangat datar. Tidak ada ekspresi marah, tidak ada kerutan kening.

Tapi matanya... iris mata hitamnya telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh Emas Cair yang menyala terang. Pupilnya vertikal.

"Jaka," suara Bara terdengar bukan seperti suara manusia, melainkan seperti geraman harimau dari dalam gua.

"Y-ya, Mas?" Jaka gemetar. Dia belum pernah melihat Bara semarah ini. Marah yang tenang.

"Bawa Kirana dan murid perempuan lain ke ruang rahasia di belakang air terjun Ki Awan. Jangan keluar sampai aku jemput."

"Lalu... Mas Bara mau kemana?"

Bara berjalan menuju pintu. Di tangannya, belati hitam tadi bengkok dan meleleh seperti lilin karena panas tangannya.

"Aku mau mengembalikan belati ini kepada pemiliknya," jawab Bara. "Dan menagih hutang darah."

Anjani sedang membaca buku ketika dia merasakan getaran aneh di udara.

Lampu-lampu kristal di perpustakaan berkedip. Air di dalam vas bunga di mejanya bergetar membentuk riak-riak kecil.

"Tekanan Prana ini..." Anjani berdiri, wajahnya pucat. "Ini bukan Ki Rangga. Ini lebih... purba. Dan penuh amarah."

Dia melihat ke luar jendela, ke arah asrama Kelas Awan. Dia melihat kepulan asap tipis berwarna keemasan membumbung ke langit.

"Bara..." bisik Anjani. "Apa yang kau lakukan? Jangan lepas kendali sekarang!"

Anjani berlari keluar perpustakaan. Dia harus menghentikan Bara sebelum pemuda itu meratakan separuh perguruan dan membongkar identitasnya sendiri.

Ki Rangga sedang menikmati teh sore sambil mendengarkan laporan mata-matanya.

"Bagus. Pesan sudah disampaikan," Ki Rangga tersenyum puas. "Biarkan mereka hidup dalam ketakutan. Teror mental lebih efektif daripada pertarungan fisik. Saat mental mereka hancur, kita habisi pelan-pelan."

Tiba-tiba, pintu paviliunnya meledak.

DUAR!

Pintu kayu tebal itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan api.

Ki Rangga melompat dari kursinya, menumpahkan teh panas. "SIAPA?!"

Dari balik asap dan debu, sesosok manusia berjalan masuk. Langkahnya pelan. Setiap kali kakinya menyentuh lantai marmer, lantai itu retak dan menghitam hangus.

Bara.

Dia tidak membawa Kujang. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan tato segel di dadanya yang kini bersinar terang benderang. Otot-ototnya menegang, dikelilingi oleh aura berbentuk bulu-bulu api transparan.

"Kau..." Ki Rangga terbelalak. Dia merasakan tekanan yang mencekik lehernya. Tekanan ini... jauh di atas Wira Sukma. Ini setara Surya Kencana!

"Rangga Agnimara," suara Bara bergema ganda. "Kau mengirim surat untukku?"

"PENGAWAL! BUNUH DIA!" teriak Ki Rangga panik.

Lima pengawal elit (Royal Guards) keluarga Agnimara muncul dari balik tirai. Mereka semua tingkat Bumi Pala. Mereka menerjang Bara dengan tombak dan pedang.

Bara tidak menoleh. Dia hanya mengibaskan tangannya ke samping seolah mengusir nyamuk.

"Mantra: Sayap Garuda - Hempasan Badai Api!"

Gelombang api emas menyapu kelima pengawal itu.

"AAAAA!"

Mereka terlempar menabrak dinding, zirah mereka meleleh, kulit mereka terbakar parah. Mereka jatuh pingsan dalam satu serangan.

Ki Rangga mundur, kakinya gemetar. "K-kau... kau bukan manusia! Kau wadah siluman!"

Bara terus berjalan mendekat. Matanya yang emas menatap lurus ke jiwa Rangga.

"Kau mengancam Kirana," ucap Bara pelan. "Kau mengancam keluargaku."

Bara mencekik leher Ki Rangga dengan satu tangan, mengangkat tubuh tetua klan itu ke udara.

Ki Rangga meronta, memukul tangan Bara dengan teknik Cengkeraman Lahar Neraka. Tapi apinya tidak mempan. Api Ki Rangga seperti lilin yang bertemu matahari.

"Tolong..." cekik Ki Rangga, wajahnya ungu. "Aku... aku akan bayar... apapun..."

"Nyawa dibayar nyawa, kan?" Bara mengulang isi surat itu. "Tapi aku tidak butuh nyawamu yang busuk. Aku butuh... Ketakutanmu."

Bara menatap mata Rangga.

"Teknik Mata: Ilusi Neraka Avici."¹

Mata Ki Rangga melebar kosong. Dalam pikirannya, dia dilemparkan ke dalam dimensi di mana dia dimakan berulang kali oleh burung api raksasa selama seribu tahun. Di dunia nyata hanya satu detik, tapi di dalam pikirannya, itu adalah keabadian yang menyiksa.

"AAAAGHHH!" Ki Rangga menjerit dengan suara yang tidak manusiawi, lalu matanya berbalik putih. Dia pingsan (atau gila) karena syok mental.

Bara melempar tubuh Ki Rangga ke kursinya yang hancur.

"Ingat rasa sakit ini setiap kali kau berpikir untuk menyentuh teman-temanku," bisik Bara.

Bara berbalik hendak pergi. Namun di pintu yang hancur, Rara Anjani sudah berdiri, menghalanginya. Napas gadis itu terengah-engah, dan dia sudah menyiapkan dinding es tebal.

"Minggir, Anjani," kata Bara dingin.

"Kau sudah gila?!" teriak Anjani. "Kau menyerang Tetua Klan di siang bolong?! Kau mau memicu perang saudara?!"

"Perang sudah dimulai saat mereka menaruh pisau di bantal Kirana," jawab Bara.

"Lihat dirimu, Bara!" Anjani menunjuk dada Bara. "Segelmu retak! Apimu bocor! Jika kau tidak berhenti sekarang, Hyang Garuda akan mengambil alih tubuhmu selamanya!"

Bara berhenti. Dia menunduk melihat tangannya yang gemetar. Kulitnya mulai bersisik emas. Kesadarannya mulai kabur, digantikan oleh keinginan murni untuk menghancurkan segalanya.

"Bakar semuanya, Mitra... bakar gadis es itu... dia menghalangimu..." bisik Garuda menggoda.

"TIDAK!" Bara memukul kepalanya sendiri.

Anjani melihat kesempatan itu. Dia maju, tidak menyerang, tapi memeluk Bara erat-erat.

"Jurus Tirtamaya: Pelukan Embun Beku."

Anjani mengalirkan seluruh Prana es-nya ke dalam tubuh Bara, bukan untuk membekukan, tapi untuk mendinginkan.

Pssssshhhh!

Uap putih tebal mengepul dari pertemuan tubuh mereka yang panas dan dingin.

Bara tersentak. Rasa dingin itu... menenangkan. Api di dalam darahnya perlahan surut. Tato di dadanya meredup. Mata emasnya kembali menjadi hitam.

Bara jatuh berlutut, lemas. Anjani ikut jatuh bersamanya, masih memeluknya.

"Kau... bodoh..." bisik Anjani, wajahnya pucat karena kehabisan tenaga. "Kalau kau jadi monster... siapa yang akan membayarku kembali uang taruhan itu?"

Bara terkekeh lemah, menyandarkan kepalanya di bahu Anjani. "Maaf. Aku... hilang kendali."

Di kejauhan, sirine tanda bahaya perguruan berbunyi. Para tetua lain sedang menuju ke sini.

"Kita harus pergi," kata Anjani. "Aku akan bilang Ki Rangga diserang pembunuh bayaran yang menyusup. Kau... kau kembali ke asrama. Cuci darah itu."

Bara mengangguk. Dia berdiri dengan susah payah.

"Anjani," panggil Bara sebelum melompat keluar jendela.

"Apa?"

"Terima kasih. Lagi."

Bara menghilang.

Anjani menyentuh bahunya yang terasa hangat bekas sandaran kepala Bara. Dia tersenyum getir.

"Kau benar-benar merepotkan, Bara Wirasena. Tapi... setidaknya kau bukan pengecut."

Di dalam ruangan yang hancur, Ki Rangga masih tergeletak dengan mulut berbusa, mimpi buruknya baru saja dimulai. Dan di balik bayangan, mata-mata Elang Hitam mencatat kejadian itu dengan tinta merah:

"Subjek dikonfirmasi. Target memiliki kekuatan Api Ilahi. Tingkat Ancaman: Bencana Nasional."

Glosarium & Catatan Kaki Bab 14

Neraka Avici: Dalam konsep Buddhisme/Hinduisme, ini adalah tingkat neraka terendah dan paling menyakitkan, di mana penderitaan berlangsung tanpa henti. Digunakan sebagai nama teknik Genjutsu (ilusi) Bara.

Lumbung Logistik: Simbol kekayaan dan pertahanan pangan. Menguasainya berarti menguasai "perut" perguruan.

Elang Hitam: Pasukan elit kerajaan. Berbeda dengan pembunuh bayaran, mereka adalah militer resmi yang bertugas menjaga stabilitas takhta dari ancaman kudeta atau bangkitnya kekuatan lama.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!