Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi tak kembali
''Malam ini kamu menginap di sini, uangnya sudah aku bayar nih kuncinya'' ucap Abi sembari memberikan kunci kamar hotel yang tadi sempat di ambilnya saat cek in.
''Lalu...?'' ucap Dewi.
''Ya sudah kamu masuk dan tidur katanya lelah'' jawab Abi dengan santainya.
''Mas boleh aku ngomong sesuatu'' ucap Dewi lagi.
''Ngomong apa, aku enggak ada waktu mau segera balik ke kantor hari ini ada lembur'' kilah Abi, kemudian Dewi pun mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Abi.
''Ya sudah enggak jadi kalau gitu, mas Abi pulang lagi sana aku mau tidur'' ucap Dewi yang langsung nyelonong masuk dengan wajah cemberut.
Abi yang melihat hal tersebut serba salah, namun dia enggak bisa berlama-lama di tempat itu takut Wulan curiga.
Braaaaakkkk!
Dewi menutup pintu dengan kasar, Abi pun sempat kaget di buatnya, kemudian Abi langsung pergi meninggalkan Dewi dan pulang kembali ke kantor.
''Gila...gilaaaaaa...gilaaaaaaaa, hah! aku hampir saja ke tipu sama wajah melasmu mas Abi, bilang setia bilang cuma aku satu-satunya, bilang kerja buat kami, cih....!'' Dewi ngomel sendiri di dalam kamar hotel.
"Sudah lama kita tak ketemu, sudah lama kita tak bersama, mas Abi begini kah sikapmu yang sebenarnya sama aku, sama sekali kamu enggak nunjukin rasa kangenmu sama aku, bahkan memeluk atau menciumku saja kamu tak mau, ini lah suamiku yang aku nikahi selama 5 tahun ini, astagah Gusti!!!" Dewi menepuk jidatnya setelah itu memijat pelipisnya karena berdenyut dengan kencang dan bikin kepalanya terasa sakit.
Dewi pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan terlelap karena rasa capek di badan juga pikiran, bahkan dia pun lupa untuk mengecas Hp yang sudah habis daya baterainya itu.
Abi melajukan mobilnya dan kembali ke kantor, dia pun tak lupa mengambil pesanan makanan yang tadi sempat di pesannya saat pergi ke bandara menjemput Dewi, hal itu dia lakukan supaya Wulan tak mencurigainya.
Setelah beberapa lama Abi pun sampai di perusahaan milik keluarga istri keduanya tersebut, Abi segera memarkirkan mobil setelah itu segera pergi ke ruang kerja Wulan yang berada di lantai atas.
"Kamu ke mana saja kok baru kelihatan, dari tadi aku telepon hp-mu tapi nggak aktif!" tanya Wulan yang baru saja melihat Abi datang dengan membawa bungkusan makanan di tangannya.
" Oh iya maaf bateraiku habis, aku lupa memberitahu kamu, tadi aku baru saja bertemu dengan klien di luar Sekalian makan bersama, nih aku pesenin juga buat kamu" kilah Abi supaya Wulan tak curiga kepadanya.
Wulan pun menerima bungkusan makanan tersebut, kemudian mengecek apa isi yang ada di dalamnya, senyum merekah terlihat di bibir Wulan saat melihat isi bungkusan tersebut, itu adalah makanan kesukaannya dan Wulan pun tak jadi marah.
" Oh kirain tadi kamu ke mana, kalau mau pergi ngomong dulu biar nggak bikin Aku cemas" ucap Wulan sembari membuka makanan tersebut dan mencicipinya.
"Maaf aku lupa, tadi soalnya buru-buru, setelah makan Kita pulang yuk, sudah malam Kamu harus jaga kesehatan" ucap Abi yang sok perhatian pada sang istri, Wulan pun hanya mengangguk saja kemudian dia pun segera menghabiskan makanan tersebut sedang Abi Hanya duduk menunggu dan memperhatikan istri keduanya tersebut.
" Wah ternyata perbedaannya jauh sekali, istriku yang ini sungguh cantik, kulitnya pun mulus, pantaslah menjadi anak orang kaya" ucap Abi dalam hati, kemudian bibirnya pun tersenyum samar.
"Kenapa gitu kok ngelihatin aku terus" ucap Wulan sembari ngelirik ke arah Abi sekilas.
"ah Nggak kok aku cuma merasa kamu tuh cantik sekali, aku beruntung punya istri seperti kamu" ucap Abi.
"kalau sudah dapat yang cantik gini Awas aja kalau kamu berkhianat, aku kebiri kamu!" ancam Wulan pada Abi.
sontak Abi pun langsung mengkeret, "ah ya enggak lah, Mana berani aku menghianati kamu yang sempurna begini, masak masih mau cari yang lain" kilah Abi.
"Siapa yang tahu, mungkin kamu seperti lelaki yang kurang ajar di luar sana, yang nggak tahu di untung..kan banyak zaman sekarang laki-laki seperti itu" jawab Wulan.
"Iya tapi bukan aku lah orangnya, Percaya deh aku ini sangat Setia!" ucap Abi meyakinkan Wulan.
"Andai saja kamu tahu, aku sudah membodohimu dan membohongimu Sejak pertama kali kita ketemu, dasar wanita goblok!" umpat Abi dalam hati.
"Tapi kalau dipikir-pikir kamu pantas aku dapetin, daripada wanita kampung itu sungguh nyesel aku nikah sama dia, sudah jelek melihatnya saja bikin aku muak, tapi setelah lihat Kamu begini aku jadi semakin bergairah" ucap Abi dalam hati dengan liciknya.
setelah selesai makan Wulan pun mengajak Abi untuk pulang ke kediaman Pak Safrudin yaitu mertua kayanya.
Hari terus berlalu malam pun berganti menjadi pagi, Dewi pun terbangun dari tidurnya.
Dewi menguap kemudian meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Alhamdulillah, aduh duh badanku pegal-pegal semua!" Ucap Dewi sembari beranjak dari tempatnya, kemudian Dewi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah bau dengan keringat, sejak turun dari pesawat kemarin bahkan Dewi pun belum sempat cuci muka dan Langsung tertidur Saking capeknya.
Dewi pun langsung mandi keramas menggunakan peralatan mandi yang sudah disediakan oleh pihak hotel, beberapa lama kemudian Dewi pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar dan rambut yang masih basah.
"Astagah rasanya segar sekali, rasanya seperti baru terlahir kembali" ucap Dewi penuh syukur, Dewi pun berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamar tersebut, dia memperhatikan tubuhnya serta wajahnya di depan cermin itu
"Ternyata..." gumam Dewi sembari membelai wajahnya, sudah lama Dewi tak memanjakan dirinya sendiri selama hidup di desa bersama ibu mertuanya, bahkan untuk mandi saja dia tak ada waktu untuk bersantai.
Sejak bangun pagi dia langsung berkutat di dapur untuk membuat sarapan, Kemudian membersihkan rumah, baru dia bisa mandi dan itu pun nggak bisa lama, dia harus berangkat kerja, hidupnya seperti di Uber maling saja.
Kali ini Dewi bertekad untuk bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi wanita yang kuat dan wanita yang sukses tanpa harus mengandalkan laki-laki.
"kali ini aku harus pergi cari kontrakan dulu yang lebih murah, Uangku tinggal segini enggak mungkin aku beli tiket dan pulang kembali, enak saja..aku nggak mau kamu bodohin lagi Mas, aku akan mencari dan menyelidiki semuanya, aku yakin kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku" gumam Dewi dalam hati.
Setelah itu Dewi pun menyisir rambutnya dengan rapi,dia pun menggunakan bedak yang jarang dipakainya tersebut tipis-tipis, setelah itu Dewi pun berganti pakaian dengan pakaian yang layak pakai.
"masih ada beberapa jam waktu sebelum check out, Aku harus pergi cari makanan, kemudian tanya-tanya di sekitar sini barangkali ada rumah kontrakan, astaga aku lupa bateraiku... aku nggak bisa bawa HP ini, Ya sudahlah hp-nya biar di sini saja sembari diisi daya, aku akan keluar jalan kaki" ucap Dewi lirih.
kemudian Dewi pun segera keluar dari kamar hotel tersebut,Dewi pun mencari warung yang menjual makanan untuk mengganjal perutnya sebelum pergi mencari rumah kontrakan.
Untung saja masih ada beberapa uang di kantong yang bisa dia gunakan untuk makan beberapa hari di Kalimantan, bahkan uang yang ada di rekeningnya yang dikirim Bu Mandor masih utuh.
Dewi sengaja tak menggunakan uang tersebut supaya nanti dia tidak terlalu kerepotan saat mengembalikan uang pada Bu mandor.
"Pak numpang tanya dong, di sini ada nggak kontrakan kosong gitu, Saya lagi nyari kontrakan?" tanya Dewi pada pemilik warung di mana Dia sedang makan saat ini.
"oh ada, di belakang sini ada rumah kosong yang sedang dikontrakkan, nggak terlalu mahal kok tapi juga nggak terlalu besar soalnya" jawab Bapak tersebut pada Dewi, Dewi pun merasa senang sudah terbantu.
"Makasih banyak Pak atas informasinya, setelah ini saya akan ke belakang tanya-tanya, sekali lagi terima kasih" ucap Dewi dengan senang hati.
"sama-sama, orang baik harus saling membantu" jawab bapak tersebut pada Dewi.
Dewi pun tanpa buang-buang waktu segera menyelesaiakan makannya dan membayar makanan tersebut selesai makan.
Dewi mencari rumah kosong yang fi kontrakkan sesuai intruksi dari bapak penjual makanan di warung tadi.
Jalan becek dan gang yang sempit menjadi pemandangan di hadapan Dewi, dia pun merasa ragu untuk maju.
"apa di sini tempatnya,kok kumuh sekali sih pantas saja murah, aduh apa nyaman nanti kalau tinggal di sini" ucap Dewi sembari menutup hidungnya kerena mencium bau yang tak sedap.
"atau aku cari tempat lain saja ya" gumam Dewi dalam hati.
cinta boleh wi gobloogg jangan