Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 14
"Apa?"
"Hay Reya! Aku cuma mau ngasih dia pelajaran, soalnya dia.."
"Dia apa? Lo semua mau sok jagoan? Bubar!" Setelah mendengar ucapan primadona sekolah, mereka semua membubarkan diri
Darren enggan menatap wanita cantik dihadapannya, ia ingin melewati Reya, namun wanita itu menghentikannya
"Lain kali kalau mereka gangguin lagi, lo harus ngelawan!" Ujar Reya
"Aku males"
"Males apa takut?" Tanya Reya, ucapannya terdengar seperti sebuah ejekan
"Bukan urusan kamu!"
"Gak ada terima kasihnya banget!" Gumam Reya lalu melangkah cepat menyusul si cupu itu "Hey Darren!"
"Kamu mau apa?"
"Gak ada! Gimana kalau kita temenan" Reya menyodorkan tangannya untuk bersalaman
"Kamu gak malu temenan sama cowok culun seperti saya?" Tanya Darren, ia terbiasa dengan tidak memiliki teman
"Ya enggak lah, ayo salaman!" Reya memaksa untuk bersalaman dengan Darren
"Kamu pasti nyesel!"
"Sok tau!" Keduanya berjalan bersama menuju kelas, Reya bahkan dengan sengaja memeluk lengan Darren
"Hay princess Reya!" Sapa si idola sekolah yaitu Revan
"Mau apa lagi lo?" Wajah Reya terlihat sinis
"Lo gak pacaran kan sama si cupu ini?" Revan menatap tajam kearah pria yang berdiri di samping primadona sekolah
"Enggak!" Reya menatap pria disampingnya
"Gak perlu malu!" Ujar Reya, suaranya sengaja dibuat keras agar Revan mendengar "Kita emang pacaran! Terus kenapa?"
"Kamu gak cocok sama dia princess Reya, primadona sekolah itu cocoknya sama pangeran!" Reya hanya berdecih, rasa percaya diri Revan memang terlalu tinggi
"PD banget lo! Udahlah, minggir! Gue sama cowok gue mau lewat!" Reya dengan sengaja mendorong bahu Revan dengan bahunya
"Ck, menang banyak tuh si cupu!" Gerutu Revan
Ia bertekad untuk mendapatkan Reya karena wanita itu satu-satunya siswi disekolah ini yang tak bisa ia dapatkan
"Kamu gak perlu boong, kamu pasti malu punya pacar kayak aku!" Darren telah duduk di kursinya, menatap Reya yang masih berdiri
"Lo tuh sebenernya ganteng tau gak! Cuma gak bisa dandan aja!" Reya menatap lekat pria dihadapannya, Darren ini sebenarnya tampan, mungkin lebih tampan dari Revan
"Pulang sekolah lo sibuk apa?"
"Belajar!" Jawab Darren membuat Reya berdecih
"Besok libur!" Kata Reya "Gimana kalau sore kita jalan ke mall"
Darren tersenyum sinis "Baru pacaran udah minta ke mall, dasar cewek matre!"
"Denger yaa! Gue itu gak matre, duit gue banyak kalau mau ke mall doang!" Reya bahkan menarik kerah seragam milik Darren membuat wajah keduanya begitu dekat
"Terus ngapain ngajak aku ke mall?"
"Ya buat makeover elo!" Ujar Reya lalu melepas cengkramannya dari kerah baju Darren
"Aku gak butuh!"
"Gue gak mau denger penolakan! Gue tunggu jam empat dirumah gue!" Reya berlalu menuju kelasnya, sementara Darren merasa jika jantungnya berdetak tak karuan
Sore harinya Darren benar-benar datang menjemput wanita lancang yang dengan mudahnya mengakuinya sebagai kekasih
"Waah Darren, ini mobil lo?" Reya terlihat kagum pada mobil sport mewah berwarna merah yang digunakan Darren
"Aku gak mungkin jalan sama primadona sekolah pake motor!" Ujar Darren, ia hendak masuk namun Reya menghentikannya
"Bukain pintunya!"
"Kamu punya tangan? Buka sendiri!" Darren ini memang sangat menyebalkan
"Pantesan aja gak punya temen!" Gumam Reya "Sebagai pria gentleman, lo harus bukain pintu buat pacar lo!"
"Ck" walaupun malas, Darren tetap membuka pintu mobil untuk wanita cantik itu
"Waah Darren, mobil lo keren banget!" Puji Reya "Kenapa gak pake ini aja kesekolah? Pasti mereka bakal segan sama lo!"
"Aku gak butuh temen yang cuma mandang harta!" Ujar Darren lalu mobil mewah itu melaju meninggalkan kediaman keluarga Albert
Setelah tiga puluh menit, mereka tiba disebuah gedung pusat perbelanjaan
"Kita belanja baju dulu!" Reya menarik tangan Darren dan memasuki toko pakaian pria
"Kok kesini?"
"Kan nyari baju buat elo! Masa ke toko baju cewek" Darren pikir Reya mengajaknya ke mall untuk menghabiskan uangnya
Setelah puas berbelanja, keduanya keluar dan selanjutnya ke toko sepatu
"Ini kebanyakan Reya!" Ditangan Darren penuh dengan paperbag, ia tak pernah belanja sebanyak ini sebelumnya
"Ini kan barang punya lo!" Reya menggandeng tangan Darren sambil berkeliling
"Aku udah habis berapa juta karena ini!" Gerutu Darren
"Pelit banget sih lo! Lo gak akan miskin kali!" Keduanya lalu memasuki salon
"Sekarang mau apa?"
"Potong rambut!" Darren pasrah, entah kenapa dirinya tak bisa menolak keinginan wanita itu
Semua model ditentukan oleh Reya, ia benar-benar merubah pria culun itu menjadi bak seorang model pria
"Lo ganteng banget Ren! Lo bahkan jauh lebih ganteng dari Revan!" Reya memuji dengan tulus
Pria tampan itu benar-benar tampan, terlebih kacamata miliknya telah Reya singkirkan
Darren tersenyum, Reya benar-benar merubahnya. Hatinya menghangat, ia pikir Reya hanya mempermainkan nya saja, tapi ia salah, Reya malah membuatnya jauh lebih percaya diri
"Sekarang bayar!" Darren kembali mengeluarkan black card dari dompetnya
"Sekarang apa lagi?" Tanya Darren, rasanya ia sudah menghabiskan banyak uang untuk keinginan wanita ini
"Udah sih! Besok lo kesekolah pake mobil itu yaa!" Ujar Reya
"Gak mau! Aku lebih suka pake motor!" Jawab Darren
Reya tampak berpikir "Sekarang kita beli motor!"
"Apa?" Darren terkejut, mudah sekali bagi wanita itu untuk menyebut kata mengerikan itu "Aku gak butuh motor baru!"
"Beli motor atau pake mobil sport itu!" Darren pasrah, dari pada harus membeli motor, lebih baik ia pakai saja mobil mewahnya
Diamnya Darren, Reya anggap sebagai pertanda jika pria itu setuju "Besok jemput gue! Kita kesekolanya bareng!"
"Hmm"
Reya tersenyum, ia kembali menggandeng lengan Darren "Gue laper! Kita makan dulu!"
"Mau makan apa?"
"Gue mau sushi!" Darren pasrah, keduanya lalu masuk ke restoran jepang
"Kamu gak mau beli sesuatu?" Tanya Darren karena sejak tadi Reya tak membeli apapun untuk dirinya sendiri
"Baju gue masih banyak, gue gak butuh lagi" tolaknya, Darren menarik lagi ucapannya yang mengatakan jika Reya adalah cewek matre, nyatanya Reya tak memakai uangnya sedikitpun
"Terima kasih Reya"
"Untuk apa?"
"Untuk kebaikan kamu!"
Reya mengulas senyumnya, senyum manis itu berhasil menumbuhkan sebuah rasa dihati Darren
"Santai aja kali Ren! Gue cuma gak suka kalau ada murid yang dibully disekolah!" Ujar Reya, tangannya menepuk pelan pundak Darren
"Ayo pulang!" Darren kembali membawa kendaraan roda empat itu menuju kediaman keluarga Albert
Keesokan harinya semua murid terkejut, mulut mereka menganga ketika sebuah mobil sport mewah berwarna merah masuk kedalam area sekolah
Mereka semakin terkejut lagi ketika sang primadona sekolah keluar bersama seorang pria tampan, bahkan Revan saja kalah tampan