Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA SATU MALAM SAJA
Begitu ia mengantarkan Grace pulang ke rumah, Bill tidak langsung kembali. Ia menatap gerbang besi itu yang perlahan menutup, lalu menghela napas panjang, menyalakan sebatang rokok. Asapnya melingkar di udara dingin, mengaburkan wajahnya yang tenggelam dalam pikiran yang tak menentu.
Beberapa menit kemudian, ia menyalakan mesin mobil dan memutar kemudi ke arah pusat kota. Jalanan lengang, lampu-lampu toko mulai padam, hanya tersisa cahaya remang dari bar dan klub malam yang baru mulai hidup.
Ya. Mobil hitam mewahnya itu berhenti di depan sebuah bangunan megah berlampu ungu keperakan—tempat yang sudah terlalu akrab baginya. Tentu. Tempat itu miliknya sendiri. Begitu turun, suara musik menggema bahkan sebelum ia membuka pintu, di bantu oleh beberapa asistennya.
“Selamat malam, Bos muda,” Ucap salah satu pria bertubuh tinggi dan tegap itu, suaranya berat namun penuh hormat. Ia mengenakan jas hitam pekat yang jatuh rapi di bahunya, menciptakan siluet gagah di bawah cahaya redup lorong klub. Tubuhnya sedikit menunduk, menunjukkan sikap tunduk dan hormat yang terlatih. Tangan kirinya berada di depan perut, sementara pandangan matanya hanya sesaat berani menatap wajah Bill—lalu segera menunduk lagi, seolah sadar siapa yang sedang ia hadapi.
Begitu Bill melangkah masuk ke dalam, cahaya redup berpadu dengan aroma alkohol dan dentuman musik lembut yang mengisi udara. Klub itu tampak eksklusif—meja-meja tinggi berjajar rapi, dengan lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya di atas permukaan gelas kristal.
Seorang pria di balik meja bar segera menegakkan tubuhnya ketika menyadari siapa yang baru saja masuk. Ia mengenakan kemeja hitam pas badan, lengan digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menegang karena gugup.
“Selamat datang kembali, Tuan Bill,” Sapanya dengan nada lebih ramah namun tetap berhati-hati. Ia sedikit membungkuk, lalu dengan cepat meraih gelas bersih dari rak. “Seperti biasa? Emerald Isle?”
Bill hanya menatap sekilas, matanya dingin dan tenang. Bibirnya terangkat tipis, samar.
“Buat dua,” Katanya datar, menepuk ringan meja bar. “Satu lagi… mungkin untuk tamu yang akan datang malam ini.”
Bartender itu mengangguk cepat, lalu mulai menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. Suara es batu beradu lembut di antara dentuman musik—menambah kesan bahwa malam itu baru saja dimulai.
Mata Bill menyapu perlahan ke seluruh penjuru ruangan, menelusuri setiap meja, setiap wajah yang tersembunyi di balik cahaya remang dan kepulan asap rokok. Tatapannya tajam, penuh perhitungan—seolah mencari sesuatu, atau mungkin seseorang.
Hingga pada satu titik, pintu kayu berat di ujung ruangan terbuka. Hembusan udara malam masuk bersama langkah seorang wanita yang segera mencuri perhatian.
Ia melangkah pelan, dengan gaun satin berwarna burgundi yang membalut tubuhnya sempurna, jatuh mengikuti setiap gerakan lembutnya. Sepasang tumit tinggi beradu pelan dengan lantai kayu, menghasilkan suara tak... tak... tak... yang terdengar tegas namun memikat. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkan terurai, menutup sebagian bahu, sementara bibir merahnya melengkung samar—antara senyum dan misteri.
Wanita itu berhenti tepat di depan meja bar, gerakannya tenang namun penuh keyakinan. Aroma parfum mawar dan vanila yang samar segera menguar, menyelusup di antara bau alkohol dan asap rokok. Ia menoleh sedikit, menatap Bill dari sudut matanya—tatapan yang tajam sekaligus menggoda, seperti ujung pisau yang dibalut sutra.
Tanpa berkata apa pun, ia menarik kursi tinggi di sebelah Bill. Suara gesekan logamnya terdengar halus, dan dalam sekejap, jarak di antara mereka nyaris tak bersisa. Gaun satinnya berdesir lembut saat ia duduk, menyentuh sisi lengan Bill sekilas—cukup untuk menyalakan sesuatu yang tak perlu diucapkan.
Ia kemudian menyilangkan kaki perlahan, menyandarkan siku di meja bar, dan menatap ke depan seolah tak peduli pada pandangan pria itu, meski senyum tipis di sudut bibirnya jelas bukan tanpa maksud. Sementara, cahaya lampu keemasan memantul di kulitnya, menonjolkan garis rahang lembut dan lekuk bahunya yang anggun.
Tak lama kemudian, suara langkah ringan bartender memecah keheningan di antara mereka. Dua gelas kristal diletakkan perlahan di atas meja bar, menimbulkan denting halus saat menyentuh permukaan kayu gelap.
Bill meraih salah satu gelas tanpa berkata apa-apa. Ujung jarinya menyentuh dinding kaca yang dingin, lalu mengangkatnya perlahan. Sementara wanita di sampingnya menatap sekilas, tersenyum samar, dan dengan gerakan elegan, tanpa meminta maupun permisi, ia meraih satu gelasnya lagi dan meneguknya.
"Minuman ini mahal," Sapa Bill melirik wanita itu dari atas kepala hingga ujung kaki. "Kau tidak mampu membayarnya, sayang. Bagaimana kalau satu malam ini saja? Aku akan memberimu lebih dari minuman ini."
Tanpa menjawab, wanita itu perlahan beranjak dari kursinya. Bill hanya duduk diam, matanya mengikuti setiap gerakannya dari bawah ke atas, sampai jarak di antara mereka nyaris tak ada lagi. Aroma parfum mawar dan vanila kembali menyergap tajam, menempel di udara di antara mereka.
Wanita itu berhenti tepat di hadapan Bill, cukup dekat hingga helaan napasnya terasa menyentuh kulit wajah pria itu. Cahaya lampu keemasan di atas bar memantulkan kilau di matanya—mata yang teduh tapi berbahaya, seolah menyimpan sesuatu yang belum terucap.
Ia menunduk sedikit, ujung rambutnya yang lembut hampir menyentuh bahu Bill. Dengan suara rendah namun jernih, ia berbisik,
“Kalau begitu…” Ujarnya perlahan, bibirnya melengkung samar, “Semoga kau benar-benar mampu membayar apa yang akan kau dapat malam ini.”
Bill tersenyum menyeringai, Ia kemudian menyentuh lembut bahu wanita itu laku turun ke bawah pergelangan tangannya. dalam satu tarikan, wanita itu berhasil menempel pada dirinya. "Aku ingin sekarang," Bisiknya lembut.
Wanita itu kemudian mengangguk dengan senyuman.
****
Hotel yang berdiri tak jauh dari bar itu menjulang megah di tengah kota malam, seolah menjadi perpanjangan dari dunia glamor yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu. Dari luar, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu jalan dan sorot kendaraan yang lalu-lalang, menciptakan kilau keemasan yang elegan. Logo hotel terpahat di atas pintu masuk dengan huruf timbul berwarna perak, sederhana namun berkelas—tidak berteriak kemewahan, tapi menegaskannya—CHARTER HOTEL.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, udara dingin menyambut lembut, membawa aroma campuran mawar putih dan cedarwood yang khas. Lantai marmer putihnya mengilap seperti cermin, memantulkan langkah para tamu yang berlalu dengan pakaian mahal dan tatapan angkuh. Di sisi kanan, terdapat lounge mewah dengan sofa navy berwarna gelap, dihiasi bantal satin, dan lampu gantung kristal yang menggantung rendah, menebar cahaya hangat di sekitarnya.
Di belakang meja resepsionis, dinding dilapisi panel kayu gelap dengan ukiran halus, sementara staf berseragam hitam berdiri tegap dengan senyum profesional seakan menampilkan kinerja terbaiknya di hadapan sang “Bos muda” yang dikenal keras sekaligus perfeksionis.
Bill tak menoleh. ia hanya berjalan lurus menuju lift di ujung koridor bersama wanita yang baru saja berhasil membuat malamnya kembali bersemangat.
Begitu pintu perlahan menutup, suara musik dari lobi menghilang, digantikan dengung lembut mesin lift yang mulai bergerak naik. Di ruang sempit itu, hanya ada keheningan… dan ketegangan samar yang terasa seperti percikan api di udara.
Bill menatap wanita itu yang berdiri di sampingnya—dari pantulan dinding logam lift yang memantulkan wajah mereka berdua dalam cahaya keemasan lembut. Ada senyum samar di bibirnya, tipis namun penuh makna, seperti seseorang yang sudah tahu arah permainan ini sejak awal.
Ia sedikit memiringkan kepala, mengamati wanita itu tanpa terburu-buru. Rambutnya yang coklat jatuh menutupi sebagian bahu, berkilau halus di bawah cahaya lampu. Ada ketenangan di wajahnya, tapi juga ketegangan yang hampir tak terlihat—seolah ia sedang menyiapkan langkah berikutnya.
Bill menarik napas perlahan, tangan kanannya tetap di saku, sementara bahu kirinya sedikit condong ke arah wanita itu. “Kau tahu cara masuk, tapi aku tak yakin kau tahu bagaimana keluar.” Ucapnya pelan, suaranya berat namun rendah.
Wanita itu hanya menoleh sedikit, menatapnya balik dengan senyum kecil yang tak kalah tenang. “Kalau begitu,” Katanya lirih, matanya menatap dalam, “Ajak aku untuk keluar bersamamu."
Begitu bunyi ting lembut terdengar, pintu lift terbuka perlahan, menyingkap koridor panjang yang sunyi dan mewah. Karpet tebal berwarna abu tua meredam setiap langkah, sementara lampu-lampu dinding berlapis kaca buram memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, menciptakan nuansa intim di antara bayangan.
Bill tersenyum kecil—senyum yang nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menandakan ia sudah memutuskan sesuatu. Dengan gerakan tenang, ia menoleh ke arah wanita itu, lalu jemarinya yang dingin dan kuat melingkar di sekitar pergelangan tangannya. Tanpa kata, ia menariknya keluar dari lift, melewati koridor yang sepi.
Setiap langkah mereka bergema samar di antara keheningan. Hanya suara napas dan detak jantung yang terasa hidup. Di sisi kanan, deretan pintu kamar berdiri rapi dengan nomor-nomor emas yang berkilau. Bill berhenti di depan salah satu pintu—yang paling ujung, dengan plat nama suite pribadi yang hanya dia miliki aksesnya.
Ia menggeser kartu kunci, terdengar bunyi klik pelan. Pintu terbuka, menyingkap ruangan luas dengan pencahayaan lembut dan aroma kayu manis yang hangat. Di dalamnya, interior bergaya modern minimalis memantulkan kemewahan tanpa perlu banyak ornamen: dinding abu lembut, sofa kulit hitam, dan tirai besar yang menutupi jendela dengan pemandangan kota berkilau di luar sana.
Bill melangkah masuk lebih dulu, masih memegang tangan wanita itu—genggamannya mantap namun tidak kasar, seperti seseorang yang terbiasa memimpin, bukan memohon.
Di saat yang sama, BIll kemudian mendekatkan wajah dan tubuhnya perlahan. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, namun ada ketegasan dalam setiap langkahnya—seperti seseorang yang selalu tahu kapan harus menguasai keadaan. Mula-mula, ia mengecup bibir merah wanita itu.
Wanita itu tak mundur. Tatapannya membalas, tajam sekaligus lembut, seolah menantang Bill untuk melangkah lebih jauh. Ia menyentuh dada pria itu perlahan, mendorongnya sedikit, namun bukan untuk menjauh—hanya untuk menunjukkan bahwa ia tidak datang ke sini untuk tunduk.
Udara di kamar itu mulai terisi oleh seru dan napas mereka yang berlomba saling memburu. Satu lengan Bill melonggarkan tali gaun wanita itu dengan gerakan sedikit kasar hingga kain lembut itu benar-benar terjatuh dan menyingkap tubuh yang mulus tanpa cacat.
Tangan Bill terangkat pelan, menyentuh bahu wanita itu—sebuah gerakan tegas namun tidak memaksa. Ia menuntunnya mundur hingga tubuhnya menyentuh tepi ranjang besar di belakang mereka. Bill segera mengunci di atasnya.
Ruas-ruas jemari wanita itu membuka satu per satu kancing kemeja Bill, hingga tersingkap tubuh atletis yang tampak tegang di bawah cahaya redup. Otot-ototnya menegang setiap kali ujung jarinya menyentuh kulitnya, seolah tubuh itu bereaksi spontan terhadap sentuhan lembutnya. Napas Bill terdengar lebih berat, namun matanya tetap menatap wajah wanita itu tanpa berkedip—campuran antara hasrat dan kendali yang nyaris rapuh.
Wanita itu tersenyum samar, jemarinya berhenti tepat di dada Bill, menggambar garis halus dengan ujung kukunya yang runcing. “Kau selalu tampak begitu tenang,” Bisiknya pelan, nyaris seperti godaan yang disengaja.
Bill hanya melumat kembali bibir wanita itu. Setelah puas, ia menuju lehernya. "Siapa namamu?" Lirihnya lembut di telinga. Nyaris membuat wanita itu terperanjat.
"Kau tidak perlu tahu." Balas wanita itu. "Pertemuan kita hanya malam ini saja, bukan? Aku tidak layak untuk diingat."
"Baiklah," Ungkap Bill. Ia tidak kecewa. Bibirnya kembali menyapu leher jenjang wanita itu lalu turun semakin ke bawah. Anggukan kecil yang meloloskan desahan lembut adalah satu-satunya izin yang dibutuhkan Bill. Kelembaban hangat dari napasnya yang mendarat di bahu membuat wanita itu melengkungkan punggungnya, seakan mencari sensasi yang lebih dalam.
Jari-jemari Bill yang hangat kemudian menemukan lekuk pinggul, menariknya lebih dekat, menyatukan kehangatan kulit ke kulit yang tersisa. Kemudian bergerak perlahan, menerobos masuk ke dalam kain segitiga yang sebelumnya menutupi wanita itu. "Aku ingin dirimu malam ini," Lirihnya lagi.
Wanita itu hanya mendesah sambil menganggukkan kepalanya. Bola matanya terpejam seakan menikmati sentuhan di bawah sana tanpa penolakan. Hingga suaranya terdengar jelas di telinga Bill bersamaan dengan debaran jantung Bill sendiri yang berpacu kencang.
Bill menunduk sedikit, menatap wajah wanita itu yang kini berada begitu dekat—terlalu dekat hingga napas mereka bertaut di udara. Ada keraguan yang sempat melintas di matanya, sekejap, sebelum akhirnya sirna ditelan arus perasaan yang lebih kuat.
Sebab, sungguh wanita itu bukan sekadar keindahan yang ingin dimiliki, melainkan misteri yang ingin diselami. Dan malam itu, Bill tahu, apa pun yang terjadi setelah ini—ia tidak sedang berhadapan dengan sosok yang bisa ia kendalikan seperti Grace. Ia sedang tenggelam dalam sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
****