NovelToon NovelToon
KAMU DAN WASIAT YANG KAU GENGGAM

KAMU DAN WASIAT YANG KAU GENGGAM

Status: tamat
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:184.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

"Tolong mas, jelaskan padaku tentang apa yang kamu lakukan tadi pada Sophi!" Renata berdiri menatap Fauzan dengan sorot dingin dan menuntut. Dadanya bergemuruh ngilu, saat sekelebat bayangan suaminya yang tengah memeluk Sophi dari belakang dengan mesra kembali menari-nari di kepalanya.

"Baiklah kalau tidak mau bicara, biar aku saja yang mencari tahu dengan caraku sendiri!" Seru Renata dengan sorot mata dingin. Keterdiaman Fauzan adalah sebuah jawaban, kalau antara suaminya dengan Sophia ada sesuatu yang telah terjadi tanpa sepengetahuannya.

Apa yang telah terjadi antara Fauzan dan Sophia?

Ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

Renata membuka pintu mobil, ia memasukkan barang-barang miliknya dan sang ibu. Jam sudah menunjuk ke angka sembilan, berarti sudah waktunya berangkat ke Jakarta sesuai yang di janjikan Fauzan jam sembilan. Pamitan pada Sophia dan si kembar sudah, tak lupa juga ia memberikan sejumlah uang pada Sophi untuk kebutuhan si kembar.

Setelah memastikan tak ada barang yang ketinggalan. Renata kembali masuk ke dalam rumah hendak memanggil suaminya sekalian pamit pada kedua mertuanya.

"Mas, ayo..." Renata menghentikan ucapannya saat melihat suaminya tengah asik mengajak bercanda Azkia yang tengah digendong oleh Bu Kartika. Padahal beberapa menit yang lalu bayi itu masih tidur pulas.

Fauzan langsung menoleh saat mendengar panggilan Renata, "iya sebentar lagi. Sayang, sini lihat! Azkia lucu sekali ya, dia menggemaskan. Coba kalau boleh dan sudah enggak minum ASI kita bawa sekalian ke Jakarta." Ucapnya sembari menjawil gemas pipi chubby keponakannya.

"Nanti kalau masa Iddah Sophi sudah selesai, ibu ajak main ke sana." Sahut Kartika cepat, ia tersenyum bangga melihat tingkah menggemaskan cucunya.

Renata mendekat lalu mengusap pipi Azkia, "kesayangan ibu sudah bangun ya. Abang Azkanya masih tidur atau sudah bangun juga?"

"Azka masih tidur. Zan! kamu gendong dulu biar nanti enggak nyari-nyari." Kartika berdiri menyerahkan Azkia pada Fauzan. Renata hanya tersenyum lemah sambil menggeser posisinya.

"Si kembar sudah tahu kalau sama Zan pasti anteng, mungkin mereka merasa Zan memiliki banyak kesamaan dengan ayahnya." Ucap Kartika dengan sorot yang berubah sendu, paruh baya itu menghela napas dalam lalu membuangnya perlahan.

Meski belum luwes menggendong bayi, namun Fauzan terlihat begitu menikmati kedekatannya dengan Azkia. Berulang kali dia mencium puncak kepala bayi tersebut penuh kasih, melupakan waktu pulang yang sudah di janjikannya pada sang istri.

Beberapa menit berlalu bayi itu mulai tak nyaman sehingga menggeliat kesana kemari. Renata bangkit menghampiri suaminya. "Mas, kayaknya Azkia kehausan. Sini biar aku bawa ke Sophi!" Renata mengulurkan tangannya meraih Azkia dari gendongan Fauzan lalu membawanya pada Sophi yang tengah mengobrol dengan bu Rohmah.

"Sophi, Azkia kayaknya kehausan." Ucapnya seraya menyerahkan Azkia pada Sophi bersamaan dengan itu suara tangisan Azka dari arah kamar langsung memenuhi pendengaran mereka.

Bu Rohmah tersenyum, "sabar ya nak. Begitulah kalau punya anak kembar, konon kalau yang satunya lapar atau gelisah pasti saudaranya juga ikutan."

"Kamu kASIhi Azkia dulu, Azka biar mbak yang lihat." Renata segera beranjak meninggalkan ibunya dan Sophia, lalu ia memasuki kamar si kembar yang menyatu dengan kamar Sophia untuk melihat Azka.

.

.

Dokter Sony berdiri menatap kedua putrinya bergantian. Ayah dua putri yang berstatus duda itu terlihat kehabisan ide membujuk Mentari yang ngotot mau ikut sang kakak berenang. Sedangkan Embun menolaknya dengan keras, ia tak mau sang adik ikut renang karena itu acara khusus dirinya bersama teman-teman perempuannya satu kelas.

"Kak, enggak apa-apa ya adeknya diajak. Mentari kan sama sus jadi enggak bakal ngerecokin kakak."

"Enggak bisa pi. Dia suka ngeselin, dan..." Embun terdiam, ia tidak melanjutkan ucapannya.

"Dan apa?" dokter Sony menatap Embun dengan sebelah alis terangkat.

"Aku bisa di bully lagi nanti sama teman-temanku, karena kemana-mana suka di kintilin adik. Dikatain pengasuh lah, apalah, tolong lah papi ajak dulu kemana gitu. Kalau bukan acara khusus aku sama teman-temanku juga kan gak pernah aku larang meski nyebelin." Embun menghempaskan tubuhnya ke sofa, tas yang sudah di tentengnya ia jatuhkan asal ke lantai.

"Coba kalau mami masih ada, pasti tidak akan begini! hiks." Embun menyusupkan wajahnya pada bantal sofa, remaja berusia dua belas tahun itu menangis terisak. Bibirnya meracau, memanggil perempuan yang sudah lima tahun meninggalkan dirinya dan Mentari untuk selama-lamanya.

Dokter Sony tersentak, hatinya mencelos mendengar racauan sang putri. Dengan cepat ia menarik tubuh Embun dan membawa ke dalam pelukannya. Sedangkan Mentari yang awalnya menangis seketika diam saat melihat kakaknya menangis.

"Maafin papi, kalau selama ini telah membebani kakak. Tegur papi kalau papi abai, dan untuk Mentari papi mohon untuk kakak memakluminya. Dia saudaranya hanya kakak, dia sekarang memang ceriwis dan kata kakak menyebalkan. Sebenarnya dia bukan menyebalkan, Mentari hanya ingin cari perhatian kakak."

Dokter Sony mengecup puncak kepala Embun yang tertutup jilbab instan, tangisan sang putri membuat hatinya ngilu. Keluarga yang lengkap dengan adanya sosok ibu sudah tak ada lagi dalam kehidupan mereka.

"Kakak sayang kan sama papi, mami dan Mentari?" tanya nya yang langsung dijawab anggukan oleh Embun.

"Kalau kakak sayang sama papi, tolong bantu papi untuk menjaga Mentari. Menjaganya bukan berarti harus mengurusnya, tapi memberinya perhatian, mengajaknya bermain. Dan juga, jangan lelah untuk terus mendo'akan mami supaya mami tenang di Surga. Mami perempuan hebat dan papi percaya kakak juga akan jadi perempuan hebat seperti mami.

"Terus aku tidak mau papi nikah lagi! aku tidak mau punya ibu tiri, biarin dirumah enggak ada ibu-ibu juga kan sudah ada oma." Embun menjauhkan badannya dari sang papi, kemudian gadis itu menyodorkan jari kelingkingnya tanpa mau menoleh pada Mentari. "Maafin kakak, tapi bukan berarti adek boleh ikut. Adek renang dirumah saja sama papi."

"Papi, huwaa...." Mentari kembali menangis, bersamaan dengan itu suara deru mobil memasuki halaman rumah.

"Kakak, jangan berpikir terlalu jauh. Fokus papi untuk saat ini hanya kalian. Itu kayaknya opa pulang, ayo kita sambut opa sama Oma!" Sang dokter mengangkat tubuh Mentari, bersyukur kedua orangtuanya sudah pulang dan mampu mengalihkan ketegangan Embun dan Mentari.

"Lho... Lho... Perasaan langitnya cerah, tapi kenapa wajah-wajah cantiknya Oma mendung? padahal Oma sudah bawa oleh-oleh banyak." Bu Retno langsung memeluk Embun setelah cucunya itu mencium punggung tangannya, lalu ia menghampiri Mentari dan melakukan hal yang sama dan berakhir dengan mencium kening sang putra.

"Ayo turun, ikut opa buka bagasi. Opa punya sesuatu buat Embun sama Tari!" Seru pak Hamzah melambaikan tangannya memanggil sang cucu. Sontak saja Mentari langsung meronta meminta turun.

Begitupun dengan embun, langsung menghampiri opa kesayangannya. "Opa bawa apa?" ia berusaha mengintip kedalam mobil.

"Buka saja sendiri." Pak Hamzah membuka bagasi mobil, ia membiarkan kedua cucunya mencari sendiri oleh-oleh yang ia bawa.

Embun meraih paperbag berukuran lumayan besar yang bertuliskan namanya, dengan hati-hati ia membawanya menjauh dari mobil. "Opa, ini yang buat aku?" ia menatap sang opa yang masih berdiri tak jauh darinya.

"Iya itu, ayo buka!" Seru paruh baya itu, raut lelah yang tadi sempat tergurat diwajahnya telah hilang berganti senyum melihat cucu-cucunya sibuk.

"Dang... Coba keluarin punya Mentari, hati-hati jangan sampai kebentur nanti kaget."

"Iya tuan." Dadang sang sopir sigap mengambil kardus dan menurunkannya dengan hati-hati lalu membawanya ke teras.

"Opaaa.... Terimakasih banyak! akhirnya aku punya ukulele! aku makin sayang opa." Embun berlari menghampiri sang opa dengan tangan kanan yang memegang ukulele. Ia memeluk opanya dengan wajah yang berseri-seri.

"Kok opa tahu sih aku pengen ukulele?" Embun mengurai pelukannya, ia menatap benda yang menyerupai gitar tersebut bersamaan dengan Mentari yang berteriak kegirangan.

"Emang itu apa sih?" gumamnya seraya meletakkan ukulelenya diatas meja. Ia menghampiri Mentari sambil melongokkan kepalanya.

"Awww! ihh!" ia bergidik dan langsung menjauhi Mentari yang tertawa kegirangan.

1
Marini Suhendar
d antara terharu😭dan ketawa😄
Iper: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
Rina Arie
good
sunaryati jarum
Perempuan itu juga jadi pemimpin Opa, bahkan sering lebih disiplin
Aisyah Virendra
masyaa Allah akhirnya Novel ini benar² End 🥲 ga ada lagi Reson 🤏
tapiiii... Alhamdulillah ikut senang karena teteh akhirnya benar² menyelesaikan karyanya dsini 🥰 semoga akan hadir novel² teteh berikutnya yg ga kalah bagus dan inspiratif dr Reson ❤️
Aisyah Virendra: aseeeekkk aku tunggu lounchingnya dan jangan lupaaa toel akuuuu didapur ya teh 🤏
total 2 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
🤧🤧🤧🤧🤧🤧
jadi ikutan sedih bacanya,,semoga kalian tetap Bersama kakek&nenek.
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾: sama sama mom 🥰
total 2 replies
ms. yati74
hatur tengkyuuu emak sudah di kasi hiburan dgn cerita yg keren ini Teeh....semoga Teeh imoet selalu sehat wal'afiat biar bisa terus berkarya dan beraktifitas

lopeee sekebon mawar Teeh imoet🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷🩷
Iper: Aamiin Ya Rabbal'alamin, doa yang sama juga buat emak🤲🏻♥️
Terimakasih banyak sudah berkenan hadir dikarya recehku Mak, love love sekebon mawar🥰🥰🥰
total 1 replies
ms. yati74
hukuman buat shoppe pay dan oZan sangat elegan tapi menyedihkan buangeeeett...dan maaf yaa buat kalian ber2 emak ga simpati apa lagi sedih dan kasian...emak malah bahagiaaaaa🤣🤣🤣

(dosaloomaak🙈)
Iper: Maakk😅😅😅😅
total 1 replies
ms. yati74
Alhamdulillah kangen nya emak ke mantan dude dokter terobati😘
Aisyah Virendra
tetanggaku juga punya penyakit itu, alhamdulillah bisa sembuh, konsisten semangat sembuh Fauzan
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄🙄🙄🙄
jangan bilang Shopia hamil anaknya Fauzan dan Fauzan sedang menikmati sindrom itu 🤨🤨🤨 ahhh jangan plis jangan karena akan semakin rumit dan ga akan bisa lepas dari Shopia 😒
Lee Mba Young
karma mu lah itu. jd nikmati saja. 🤣🤣.
gk kasian Aku ma Zan yg sakit biar saja. dah punya istri gk bersyukur mlh selingkuh. kluarga juga dukung pula.
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
inikah kurma buat mereka karena telah mencelakai Rena.
Nana Geulise: betul..betul..betul...
total 1 replies
༄⃞⃟⚡𝐀𝐧𝐠ᵇᵃˢᵉՇɧeeՐՏ🍻¢ᖱ'D⃤☪️
wahh kaget dapat bonchap semoga ada terus yaaaa
Aisyah Virendra
Akhirnya setelah 1 bulan Up juga 🤭
Btw terimakasih tetehku yg paling ehem ❤️🤏

Shopia²... ya Ampun, smg aja stelah ini kamu bertaubat yg bener² ya shop, jangan lagi main gila yg bkl mmbuat dirimu susah sendiri. dan lagi semoga aja mertuamu baik, tapi bisa jadi mertuamu galak, duh gabisa bayanginnya 🤪
Fauzan... ahh kepo deh
Iper: wkwkwk 🤭
total 1 replies
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
ada rasa sedih&menyesal di hati pak Wira karena dia gagal mendidik anaknya tapi mau gmn lagi skrg udh terlanjur karena kelakuan nya sendiri
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
sampai berpelukan ya saking syg nya Bu Rohmah sama Mila&bara
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
walaupun acaranya udh selesai tapi mereka mau datang kan.
Aisyah Virendra
teteeeeeeehhh kapan up lagiiiiiii
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ💘ѕ⍣⃝✰
semoga adek Aqil kelak mampu menjadi opa & papanya
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
Aku baru baca benar2 kok emosi ya lihat tingkah Sophia😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!