Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14. Kerumah Ustadz Amir
"Katakan ide apa yang kamu punya?" Ustadz Amir ingin segera mendengar apa ide yang diberikan dari Reza.
Reza membisikkan idenya ditelinga Ustadz Amir, bisikan Reza membuat Ustadz Amir mengangguk kepala.
"Idemu cemerlang, kamu memang pintar." Ustadz Amir memuji Reza. Reza tersayang tinggal karena mendapat pujian dari calon mertuanya.
Waktu berlalu begitu cepat, malam sudah tiba, dua insan yang saling mencintai, sekarang ini sedang asyik mengobrol melalui teleponnya.
Cinta, rindu, semua mereka ungkapkan malam ini, hati keduanya sangat bahagia karena besok mereka akan mempunyai ikatan yaitu bertunangan.
Mereka mengakhiri obrolannya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul dia belas tengah malam.
Keesokan paginya, Ariel, Pak Imran dan juga Buk Siti sudah bersiap-siap menuju rumah Ustadz Amir.
Mereka hanya pergi lima orang saja, termasuk saudara dekat Buk Siti yaitu Bude Neli dan Bibi Ima.
Tiga orang perempuan Dua orang laki-laki yaitu Pak Imran dan Ariel sendiri.
Kelima orang itu pergi dengan jalan kaki, karena rumah Ustadz Amir tidak terlalu jarak, hanya selang Satu rumah saja dengan rumah orang.
Tidak butuh waktu lama, kelima orang yang datang untuk melamar tiba dirumah Ustadz Amir.
Mereka terkejut melihat banyaknya warga yang hadir karena biasanya acara lamaran seperti ini hanya hadir orang terdekatnya saja.
Tetapi hari ini yang hadir banyak sekali hampir setengah dari acara resepsi pernikahan.
Biarpun begitu, keluarga Pak Imran tetap melakukan rencananya untuk melamar.
"Mbak, kok banyak sekali orang, apa mereka semua mau mengaji ya ?" tanya Bibi Ima pada Buk Siti.
Buk Siti menggeleng, dia tidak tau, dia sendiri juga sangat terkejut melihat banyak warga yang datang.
Sedangkan Ariel dan Pak Imran hanya diam saja mendengarkan obrolan para wanita.
"Kayaknya, bukan mengaji deh, aku rasa Ustadz Amir memang mengundang mereka." Ujar Bude Neli merasakan ada yang tidak beres.
Kabar kedatangan keluarga Pak Imran sampai ditelinga Ustadz Amir dan juga Reza yng sengaja diminta Ustadz Amir untuk tidak beranjak dari tempatnya.
Mendengar kabar keluarga Pak Imran datang, Ustadz Amir dan juga Reza, menyeringai dan saling memandang.
"Assalamualaikum." Keluarga Pak Imran memberi salam saat sudah berada didepan pintu yang dibiarkan terbuka karena menyambut tamu.
Pak Amir dan keluarganya, dipersilahkan duduk, sedangkan Umi Lia dia langsung kedapur untuk membuatkan minum.
Keluarga Pak Imran semuanya duduk setelah menyerah barang hantaran untuk Ustadz Amir ataupun Arumi Putrinya.
"Reza, persilahkan warga masuk, biar mereka semua mendengar acara lamaran ini !" Titah Ustadz Amir pada Reza.
Mendapat perintah dari Ustadz nya dan sekaligus calon mertuanya, Reza langsung keluar untuk mempersilahkan para warga yang hadir karena undangan dari Ustadz Amir.
Para warga langsung masuk kedalam rumah Ustadz Amir, ada juga yang berdiri dipintu karena rumah Ustadz Amir tidak terlalu besar.
"Silahkan diminum, Buk Pak dan semua." Ujar Umi Lia setelah menghidangkan air kedepan masing-masing.
"Iya, terimakasih Ustadzah." Jawab Bik Siti menghormati Umi Lia sebagai tuan rumah ataupun istri Ustadz dikampung mereka.
"Silahkan sampaikan apa maksud dan tujuan anda datang kesini." Ujar Ustadz Amir sinis pada keluarga Pak Imran.
Entah apa yang sedang Ustadz Amir dan Reza rencanakan, semua tidak tau.
Keluarga Pak Imran pun, tidak menaruh curiga sedikitpun, entah mereka bodoh atau pura-pura bodoh, semua orang tidak tau.
Yang jelas Ustadz Amir pasti sudah merencanakan sesuatu entah apa itu hanya dia dan Reza yang tau.
Pak Imran segera menyampaikan maksud dan tujuannya saat ini kerumah Ustadz Amir.
"Sebenarnya kami kesini untuk meminang Putri Ustadz yaitu Arumi kepada Putra kami Nazriel, tentu Ustadz sudah diberitahu oleh Arumi buka ?" Pak Imran menyampaikan maksud kedatangannya.
"Tentu saja, Putriku sudah memberitahunya tadi, tapi yang jadi pertanyaan." Ustadz Amir menjeda sesat, kemudian meneruskan lagi kata-katanya.
"Tadi kamu menyebut dia Putra mu, setau ku bukankah kamu tidak punya Putra, dan kamu hanya punya seorang Putri yang sebaya dengan Arumi, pantas kenapa sekarang kamu punya Putra ?" tanya Ustadz Amir sengaja mempersulit Pak Imran.
Pak Imran dan semuanya terdiam, Pak Imran menyadari kalau dia memang tidak punya Putra, tapi Ariel sudah dia anggap sepertinya Putranya sendiri.
"Maksud saya, Nazriel sudah kami anggap seperti Putra kami sendiri." Pak Imran mencoba menjelaskan.
"Imran, kita semua tau, kalau pemuda ini hilang ingatan, dan kita tidak tau asal usulnya. Sebagai seorang Ayah tidak mungkin aku mempercayai Putri ku pada lelaki sepertinya." Jawab Ustadz Amir.
"Ustadz, kami selaku keluarga sebutnya, kami menjamin kalau Nazriel pemuda yang baik dan bertanggung jawab." Pak Imran sangat berani menjamin, karena dia tau kalau Ariel pemuda yang baik, dan di yakin tidak akan mempermalukan atau membuatnya kecewa.
Reza tersenyum miring, melihat dan mendengar Ustadz Amir menyangkal Pak Imran.
"Imran, selain dia tidak jelas asal-usulnya, dia juga bekerja sebagai orang yang menurunkan barang di kota dan dipasar, atau bisa dikatakan kuli panggul tidak ubahnya, aku tidak bisa menerima, aku takut Putriku akan hidup sengsara dengannya." Ujar Ustadz Amir lagi menghina Ariel dengan halus.
"Tapi Ustadz, Putra kami, biarpun kuli, dia sangat bertanggung jawab dan baik, dia tidak akan mungkin membuat Arumi menderita." Pak Imran tetap meyakinkan berharap lamarannya diterima.
"Imran, kamu lihat pemuda ini, dia calon Arumi, baik, hafiz, mapan, dia sudah pasti tidak akan membuat Arumi kekurangan suatu apapun." Ujar Ustadz Amir lagi.
Ariel, hanya diam, dia menunduk, tidak bersuara, dia masih sabar dengan hinaan Ustadz Amir, walaupun dalam benaknya dia sudah sangat sakit dengan hinaan ini.
"Aku tidak akan menikahkan Putriku dengan lelaki miskin dan tidak jelas asal-usulnya--" Ucapan Ustadz Amir terhenti karena suara seseorang.
"Abi, mas Nazriel, bukan orang miskin, mungkin saat ini dia miskin, tapi aku yakin dengan kerja kerasnya suatu hari dia akan sukses." Ujar Arumi yang tiba-tiba datang dari arah kamarnya.
Semua orang mengalihkan pandangannya pada Arumi. Arumi berjalan mendekati Abinya sembari melirik pada Reza dengan tatapan tidak suka.
"Abi, aku mencintai mas Nazriel, aku ingin menikah dengannya, bahkan aku rela menderita asalkan bersama dengannya." Ujar Arumi lagi nekat.
Ariel mendongak, dia menatap Arumi wanita yang juga sangat dia cintai, Ariel tidak salah mencintai Arumi saat mendengar bahwa gadis itu rela menderita bersamanya.
Ustadz Amir tidak tau harus berkata apa lagi, diam diam sesaat sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
Sedangkan Reza, merasa khawatir kalau Ustadz Amir menerima lamaran Ariel.
Reza tidak terima kalau dia kalah dengan pemuda yang dia anggap miskin dan tidak jelas asal-usulnya, akan sia-sia Reza memberi ide pada Ustadz Amir dengan mengundang warga agar menyaksikan bagai mana Ariel dihina dan dipermalukan didepan warga oleh Ustadz Amir.
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..