Kinara seorang gadis tomboy yang baru saja lulus kuliah harus menerima kenyataan jika dirinya di jodohkan dengan seorang Duda yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Adisty. Tapi kakaknya menolak dengan alasan harus bekerja di luar kota. Padahal alasan utamanya adalah karena dia mendengar gosip jika calon suaminya seorang Duda dan juga bisu.
Abizar seorang Duda yang akan di jodohkan. Dan dia juga terpaksa menerima perjodohan itu karena tekanan dari kedua orang tuanya. Padahal dia masih menunggu kedatangan dari mantan istrinya yang pergi meninggalkannya sudah lima tahun.
Akankah pernikahan mereka yang tanpa cinta itu bertahan. Akankah ada cinta di antara mereka? Bagaimana jika mantan istri Abizar datang?
Apalagi selain bersaing dengan mantan istri yang masih selalu di hati Abizar, Kinara juga harus bersaing dengan banyak wanita yang datang silih berganti mendekati suaminya.
Mampukah Kinara bertahan ataukah dia menyerah? Ikutin terus yuk ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
"Kenapa Tante harus tidak setuju Abi menikah denganmu Nak? Toh yang di luarnya tampak indah belum tentu dalamnya cantik kan? Jadi kamu terima pernikahan kamu dengan anak tante Abi kan? tanya Bu Clara kepada Kinara.
"Nara terima Tante. Karena Nara sudah berjanji kepada kedua orang tua Nara. Maaf Tante, kalau boleh tanya, bagaimana cara Nara berkomunikasi dengan Om Abidzar?" tanya kinara membuat Abidzar di sebelah ibunya mendengus kesal. Sedangkan Bu Clara dan Pak Bastian terkekeh mendengar pertanyaan dan juga panggilan Kinara untuk Abidzar. Karena memang penampilan Abidzar malah membuatnya semakin terlihat tua.
"Kamu bisa bicara langsung sama Abi." jawab Bu Clara. Kinara sedikit mengerutkan keningnya.
"Bukannya Om culun ini bisu ya? Bagaimana cara dia menjawab nanti? Apa dia pakai kertas?" batin Kinara.
"Maaf Om Abidzar sebelumnya. Apa anda tidak keberatan jika calonnya diganti oleh saya? Karena anda tau sendiri jika Kakak saya." tanya Kinara. Abidzar menggeleng. Kinara menarik nafasnya panjang.
"Apa Om ada niatan kembali lagi dengan mantan istri Om di saat kita sudah menikah nanti?" tanya Kinara membuat semua orang tertegun dengan pertanyaan Kinara. Begitupun dengan Abidzar.
"Maksudmu?" tanya Abidzar dingin membuat Kinara terkaget mendengar suara Abidzar.
"Om, tidak bisu?" tanya Kinara kaget.
"Kalian bicaralah berdua di luar agar lebih dekat lagi. Kami juga para orang tua akan bicara untuk menentukan tanggal dan pernikahan kalian." ujar Bu Clara.
"Tante boleh tidak kalau acaranya ijab kabul saja. tidak usah ada pesta. Bukan Nara malu menikah dengan Om Abidzar. Tapi Kinara takut jika nantinya akan menjadi janda lebih cepat. Kalau ijab kabul saja kan gak akan malu banget nanti orang tua Nara. Karena mereka kan nanti juga akan jadi bahan gunjingan selain Nara." ujar Kinara membuat semua orang saling pandang dengan ucapan gadis itu.
"Ayo Om. Kinara memang harus bicara banyak dulu sebelum menikah." ajak Kinara kepada Abidzar yang masih mencerna ucapan dari Kinara barusan.
"Gadis ini sudah mempersiapkan hal terburuk untuk dirinya. Aku kira anak kecil ini akan histeris dan merengek untuk di batalkan saat melihat penampilanku seperti ini. Tapi ternyata gadis ini pantang menyerah." batin Abidzar sebelum Ibunya membuyarkan lamunannya saat bahunya di tepuk.
"Abi, keluarlah. Bicara dengan Kinara agar kalian lebih dekat. Kinara sudah menunggu diluar." ujar Bu Clara.
Abidzar mengangguk dan berjalan keluar setelah berpamitan juga kepada kedua orang tua Kinara. Kinara sudah menunggu di kursi depan rumah mereka.
"Duduklah Om." ujar Kinara saat melihat Abidzar datang. Abidzar mengangguk dan duduk di kursi sebelah Kinara yang terhalang oleh meja kecil di antara mereka.
"Jawab yang tadi Om." ujar Kinara membuka pembicaraan karena Abidzar hanya diam dan menatap ke arah depan. Abidzar menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar.
"Apa kau sudah mempersiapkan diri?" tanya Abidzar melirik ke arah Kinara. Kinara mengangguk.
"Saat aku mengatakan setuju. Artinya aku sudah harus siap dengan segala resikonya. Pernikahan ini walau tanpa cinta bisa bahagia jika kita bisa sama-sama menurunkan ego dan belajar membuka diri. Karena mungkin saja kita berjodoh. Tapi jika anda masih mengharapkan mantan istri anda yang kabur itu kembali. Katakan dengan jujur, agar saya bisa mempersiapkan diri dan pergi di saat dia kembali. Dan bersiap menjadi seorang janda muda." jelas Kinara sambil terkekeh. Sedangkan Abidzar mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Kinara.
"Baiklah. Karena kamu yang meminta. Dan tidak ada yang kita tutupi dari awal. Aku masih sangat mencintai mantan istriku. Dan Aku memang menunggu dia kembali kepadaku. Jadi sepertinya adalah opsi kedua yang aku pilih. Karena aku tidak mungkin akan bisa memberikan cintaku padamu, walau nantinya kita menikah. Apa kamu faham?"kali ini Abidzar yang mengungkapkan perasaannya. Kinara mengangguk.
"Baiklah. Dan satu lagi, saya sudah bekerja Om. Dan saya minta izin anda jangan melarang saya bekerja. Karena nantinya jika di rumah seharian tak melakukan apapun saya bisa stress." Kinara mengungkapkan keinginannya.
"Baik. Lakukan apapun maumu. Aku tak akan pernah melarang dan membatasimu untuk melakukan aktivitas apapun." Jawab Abidzar.
"Baiklah. Terimakasih sebelumnya." ujar Kinara.
"Apa kau tak masalah menikah dengan pria tua sepertiku?" tanya Abidzar.
"Kenapa harus masalah. Toh mau kamu jelek ataupun ganteng banget juga percuma. Pernikahan kita juga hanya sementara sampai mantan istrimu kembali kan? Aku cuma dapet gelar janda pada akhirnya." kekeh Kinara yang sebenarnya hatinya merasa sakit dan merasa miris dengan nasibnya. Sehingga dia menyembunyikannya rasa sakit dan kecewanya dengan senyumannya.
"Apa yang akan kau minta dariku nanti?" tanya Abidzar.
"Nantilah aku akan fikirkan dulu kalau untuk masalah itu Om. Yang penting aku sudah tau kedapannya masa depan pernikahanku akan seperti apa nantinya." jawab Kinara.
"Ayo masuk Om. Sepertinya tidak ada yang kita bahas lagi."ajak Kinara.
Abidzar mengangguk dan mengikuti Kinara untuk masuk kedalam rumah Kinara. Dimana kedua orang tua mereka juga kebetulan beranjak dari duduk untuk makan malam.
"Kebetulan kalian masuk. Ayo kita makan malam sekalian." ajak Pak Fauzi.
Tanpa banyak bicara mereka mengikuti kedua orang tuanya ke meja makan. Mereka makan sambil sesekali bercerita. Tentunya yang lebih banyak mengobrol adalah kedua orang tua mereka. Sementara Kinara dan Abidzar makan dengan diam. Sesekali Abidzar melirik ke arah Kinara yang sedang makan di depannya. Gadis itu terlihat santai sekali. Seolah tak masalah dengan masa depannya yang sudah jelas.
"Aku yakin kau pura-pura tegar dan kuat. Setelah ini aku yakin kamu akan menangis dan meminta kedua orang tuamu membatalkan pernikahan kita yang tinggal menghitung hari." Batin Abidzar sambil tersenyum miring malihat ke arah Kinara. Bukan tidak tau jika Abidzar menatap remeh ke arahnya. Tapi Kinara sudah tak peduli dan bodo amat dengan semuanya. Dia hanya tinggal menjalani kehidupan barunya yang entah hanya berapa bulan dengan Abidzar.
"Nak, kamu mau minta mahar apa?" tanya Bu Clara setelah mereka selesai makan malam. Dan kedua keluarga sepakat pernikahan akan di adakan hari sabtu pagi. Artinya tinggal lima hari lagi Kinara dan Abidzar akan menjadi pasangan suami istri.
"Apapun maharnya Kinara terima. Yang penting orang yang memberikannya ikhlas dan tidak memberatkan." jawab Kinara membuat Bu Clara tersenyum begitupun dengan Pak Bastian.
"Baiklah. Terimakasih Nak. Nanti Mama akan mengirim orang untuk mengukur kebaya pernikahan untuk kamu." ujar Bu Clara.
"Terimakasih Tante. Kalau bisa malam ya sepulang kerja. Karena saya juga masih kerja, Tante." jawab Kinara. Bu Clara tersenyum dan menyetujui permintaan Kinara. Setelahnya karena tidak ada pembicaraan lagi. Keluarga Pak Bastian akhirnya pamit pulang.