"Cinta adalah hidup, hidup adalah Abigail" Nicholas Geonandes.
"Kau membuatku bahagia, dengan cara yang orang lain tidak bisa berikan" Abigail.
"Kebahagiaanmu adalah segalanya buatku" Bima Anggara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sah
"Sudah, tidak usaha pasang tampang menyedihkan seperti itu" Abi menatap Papanya yang berdiri terpaku didepan pintu.
"Abi harap Papa tidak lupa kalau Papa yang membuat Abi berada dalam situasi seperti ini. Jadi jangan cengeng!" Abi berjalan menghampiri Papanya dan memeluknya. Abi bisa merasakan tubuh Papa nya bergetar.
"Jangan sedih, Papa. Abi tidak menyalahkan Papa sama Mama sama sekali. Abi percaya sama pilihan Papa. Kalau pun pilihan Papa nantinya salah Abi akan buat kalau pilihan Papa itu tidak salah" Abi mendongak menatap wajah Papanya. Abi bisa melihat mata Papanya itu memerah menahan tangis.
"Berjanjilah pada Papa kau akan hidup bahagia sayang" Papanya mengecup keningnya.
Abi mengangguk
"Pasti. Yang menikahi Abi adalah pilihan Papa. Abi pasti bahagia" Abi meyakinkan Papanya dan juga mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Sekalipun ia tidak menginginkan pernikahan ini tapi tetap saja ia akan menghargai pernikahan ini karena baginya menikah hanya sekali seumur hidup. Jadi ia akan berusaha untuk bekerja sama dengan Nicho menciptakan keluarga yang bahagia. Masalah perasaan itu urusan belakangan. Ia cukup bersyukur memiliki suami yang lumayan tampan. Setidaknya wajah Nicho bisa dibanggakan dan dipamerkan.
"Ada apa ini semua sudah menunggu di bawah" Mama nya datang dan melihat Abi dan Papa nya sedang berpelukan.
"Mama..." rengek Abi merentangkan sebelah tangannya agar Mamanya ikut bergabung berpelukan dengannya dan juga Papanya.
"Ah...Luna juga ikut" terdengar suara Luna dan akhirnya mereka pun berpelukan layaknya teletubies.
"Mama...Papa..Maafin kesalahan Abi selama ini dan terima kasih atas cinta dan kasih sayang kalian selama ini" Abi mulai terisak begitu juga Mama dan Papanya dan juga kakaknya Luna.
"Maafkan Papa sayang..maafkan Papa"
Abi menggelengkan kepalanya
"Ini bukan salah Papa dan Mama. Abi juga tidak menyalahkan Papa dan Mama. Seperti yang kak Luna katakan pernikahan ini terjadi karna Abi juga setuju. Abi yakin pilihan Mama dan Papa tidak salah."
"Apa kau tidak ingin mengatakan sepatah dua kata pada kakakmu ini" Luna melepaskan pelukan terlebih dahulu, ia mulai gerah apalagi dengan kebaya yang dikenakannya.
"Terima kasih kakakku yang baik sudah mengenalkan sahabatmu itu kepada Papa dan Mama" ucapnya tidak tulus.
"Sama-sama adikku"
"Kakakmu ini pasti akan sangat merindukanmu"
"Tidak akan ada lagi yang mengambil uangku seenaknya dari dompetku. Tidak ada lagi lipstik yang tiba-tiba hilang dari kamarku" Luna menggenggam tangan adiknya itu.
"Berbahagialah sayang"
Abi menganggukkan kepalanya seraya memeluk kakaknya itu.
"Tidak akan ada lagi yang meminjam baju tas dan sepatu milikmu" ucap Abi ditengah pelukannya.
"Hmmm...karena Nicho akan membelikanmu semua yang kau inginkan" goda kakaknya.
"Kakak..."
❤❤❤❤❤
Akhirnya Nicho bisa melihat Abi. Abi yang dituntun oleh Mama dan kakaknya terlihat sangat cantik. Mata mereka beradu. Nicho tersenyum hangat dan ternyata senyuman Nicho itu mampu mengurangi kegugupan yang dirasakan oleh Abi.
Ouh...dia terlihat sangat tampan! batin Abi
Nicho mengulurkan tangannya begitu Abi dan keluarganya sampai di hadapan Nicho. Abi menyambut tangan Nicho.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang" Nicho sedikit membunggkuk agar bisa berbisik di telinga Abi.
"Hentikan panggilan menggelikan itu" Abi mencubit perut Nicho. Nicho terkekeh karena bukan sakit yang dirasakannya atas cubitan Abi melainkan rasa geli
"Tinggal hitungan jam kita akan sah menjadi suami istri. Jadi sayang biasakan telinganmu atas panggilanku dan biasakan lidahmu juga untuk memanggilku seperti itu. Dan duduklah, aku sudah tidak sabar untuk membacakan janji suci" Nicho menuntun Abi untuk duduk di sampingnya.
Akhirnya Nicho pun melafazkan janji suci pernikahan dengan tegas dan lugas. Ia menghela nafas lega akhirnya ia sah mempersunting Abi. Wanita yang dicintainya selama 6 tahun itu.
"Selamat sayang. Hari ini sejarah kita dimulai"
"Selamat juga buatmu"
"Kuharap kita bisa menjadi partner yang baik" Abi mengulurkan tangannya untuk menyalam Nicho. Nicho menyambut tangan Abi dengan sebelah tangannya dan satu tangannya menarik tengkuk Abi.
"Jangan macam-macam Geonandes!" desis Abi dengan suara tertahan.
"Tidak usah malu hanya ada kita dan keluarga kita" ucapan Nicho memang benar karena pernikahannya dan Abi hanya dihadiri keluarga inti dari kedua belah pihak saja. Tidak ada undangan untuk orang luar. Dan itu adalah permintaan Abi sendiri dan Nicho menyanggupinya. Baginya pesta mewah di hotel berbintang dengan ribuan undangan tidaklah penting. Yang penting baginya adalah ia bisa menikahi Abi. Itu saja.
"Tidak ada yang salah?" Nicho tersenyum geli dan dengan cepat mendaratkan bibirnya di kening Abi.
"Aku akan membuatmu bahagia. Kau hanya cukup percaya kepadaku!" ucap Nicho di atas kepala Abi. Dan sialnya ucapan Nicho itu mampu membuat jantung Abi berdetak lebih kencang. Ia yakin Nicho bisa mendengarnya.
"Apa kau sudah berdebar mendengar ucapanku?" Nicho menyatukan kening mereka.
"Kau sungguh mendengarnya?" Abi terbelalak.
Nicho mengangguk
"Tapi itu bukan hanya debaran jantungmu karena sama sepertimu jantungku juga menggila" jawabnya jujur.
Abi tersenyum
"Benarkah?"
Nicho mengangguk mantap
"Ehmm..." Papa Abi sengaja berdehem. Nicho dan Abi saling melepaskan diri
"Papa mertua" Nicho menyalami Papa Abi yang diikuti ole Abi dan begitu seterusnya sampai Daddy dan Mommy Nicho.
"Wahhhh...aku masih tidak menyangka perempuan yang sering kau ceritakan adalah Abi adik kecil Luna" Bima datang dan mengulurkan tangannya kepada Nicho. Nicho terkekeh menyambut tangan sahabatnya itu.
"Selamat Bro" ucap Bima
"Hmmm..."
"Terima kasih"
"Bagaimana istriku, cantik bukan?" Nicho membanggakan Abi. Wajah Abi bersemu merah.
"Tentu saja!" Bima membenarkan dengan menjawab cepat.
"Kau mendahului kami adik kecil" Arya, sepupu Nicho merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Abi. Abi mengangguk seraya berjalan mendekati Arya. Ia merentangkan kedua tangannya juga dan dengan sukses Nicho menyalip diantara keduanya.
"Mrs.Geonandes suamimu ini sangat cemburuan jadi aku mohon jangan bersentuhan dengan pria lain selain suamimu atau suami ini akan melakukan hal yang gila" Nicho memeluk istrinya dengan erat.
"Lepaskan aku pria tua mesum gila!" Abi meronta.
"Lepaskan dia! Dia bisa kehabisan nafas, sialan!" Bima menarik paksa tangan Abi dari pelukan Nicho.
"Kak Bimaaa..." pekik Abi girang. Tanpa bisa Nicho cegah Abi sudah mendarat di pelukan Bima sahabatnya.
"Kakak masih tidak menyangka kau menikahi sahabat kakak Abi. Kakak fikir kakak yang akan bersanding denganmu di sini suatu hari nanti" Bima memasang tampang terluka yang dibuat-buat yang membuat Nicho menggeram kesal lalu menarik tangan Abi agar berdiri di sampingnya dan merangkulnya dengan posesif lalu mengecup bibir Abi dengan cepat dan itu mampu membuat Abi mematung.
"Sudah kukatakan suamimu ini cemburuan. Dan itu hukumanmu"
"Dan tutup mulutmu itu jangan mangap seperti itu. Mau aku tambahin" ancamnya yang membuat Abi menggeleng cepat dan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Huhh...Posesif" ledek Bima.
"Dan kau sialan jangan mendekati istriku lebih dari jarak 1,5 meter" Ia menatap tajam ke arah Bima.
"Dan ini berlaku juga untukmu" kini Nicho menatap sepupunya Arya. Bima dan Arya kompak tertawa.
"Bagaimana bisa kau mengenali dua sahabatku Arya dan Bima dan kau tidak mengenaliku" sungut Nicho.
"Mereka sering datang ke rumah dan membelikanku makanan yang enak" jawab Abi.
"Dan Kak Bima sudah seperti kakak bagiku, dia selalu mendengar ceritaku. Apa pun yang aku katakan ia selalu mendengarkannya dengan baik."
"Mulai sekarang jangan menerima apa pun dari mereka" perintah Nicho. Abi mengangguk.
"Aku akan membelikan apa yang kau inginkan" lanjutnya.
"Dan aku juga adalah pendengar yang baik"
"Meski masih sulit buatku percaya bahwa wanita yang dikejarnya selama 6 tahun ini adalah dirimu tapi tetap saja aku bersyukur kau wanita itu Abi. Wanita yang sudah menyelamatkan sahabat kami ini" ucap Bima tulus dan bersungguh-sungguh yang diangguki oleh Arya.
"Menyelamatkan?" tanya Abi bingung
"Ya sayang..kau penyelamatku" ucap Nicho
"Mungkin kau sudah lupa tapi suatu hari nanti kau pasti mengingatnya" lanjut Nicho. Abi hanya mengangguk walau ia tidak faham.
T.B.C