Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran teman untuk tawa Kala
Sudah hampir satu minggu Kalandra menjalani perawatan.Meski kondisinya mulai membaik, wajahnya masih terlihat pucat. Perban di kepalanya belum dilepas sepenuhnya, tangan kirinya masih digips,sementara kedua kakinya masih belum bisa digerakkan dengan normal.
Hari itu, suasana kamar rawat terasa lebih ramai dari biasanya.
"Permisi." Seorang perawat membuka pintu sambil tersenyum.
"Mas Kalandra, teman-teman sekolahnya datang. Boleh masuk?"
Kalandra yang sedang membaca buku menoleh pelan. "Teman-teman?"
Perawat mengangguk. "Katanya banyak sekali."
Belum sempat Kalandra menjawab, suara ribut sudah terdengar dari luar.
"Pelan-pelan, woy!"
"Ini rumah sakit, bukan lapangan basket!"
"Raka, jangan dorong setan!"
Mendengar suara-suara itu, sudut bibir Kalandra terangkat untuk pertama kalinya sejak kecelakaan. "Itu mereka temen kelas saya sus.."
Perawat tersenyum sambil mengangguk."Saya permisi dulu Mas."
Kala mengangguk,satu minggu di rawat membuat Kala sudah mulai mengenal beberapa perawat.Apalagi dirinya pasien vvip yang membuat bahkan para petinggi rumah sakit pun sudah mengenalnya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.Raka menjadi orang pertama yang masuk sambil membawa sekeranjang buah.
"Woi, pangeran ICU."
Kalandra tersenyum sinis. "Mulut lo enggak berubah ya."
"Kalau berubah bukan Raka namanya,tapi Rika."
Di belakangnya muncul Jevan sambil tertawa dan di sambut tawa yang lainnya.Jevan membawa buket bunga kecil. "Gimana kabarnya jendral Kalandra?"
"Masih hidup."
"Syukurlah." Jevan mengembuskan napas lega sebelum memeluk bahu Kalandra dengan sangat hati-hati.
Tak lama Dimas, Farel, dan beberapa teman sekelas lainnya ikut memenuhi ruangan.
Ruangan yang semula sepi kini dipenuhi tawa.
"Kelas sepi banget tanpa lo."
"Iya."
"Bahkan guru BK sampai nanya kondisi lu."
"Kantin juga sepi. Enggak ada yang rebutan ayam geprek sama lu."
Kalandra terkekeh. "Lebay."
"Bukan lebay." Raka menyela. "Tapi Fakta,terlebih gak ada lagi yang bisa gue contek."
Jevan menoyor kepala Raka. "Dasar bangke!"
"Anak kelas sebelah aja pada nanya." Ucap Dimas ikut menyela.
"Nanya pa Dim?" Tanya Jevan
"Nanya kapan Kala gak jomblo lagi." jawab Dimas dengan tawa renyah membuat semua ikut tertawa.
"Sialan lon!" Kala mendelik,tangannya ingin meraih namun selang infus menghalangi membuat Raka berinisiatif mewakili Kala menoyor Dimas.
Dimas memberengut. "Udah lah gue nyerah,tiap lo bertiga kumpul pasti aja gue yang di bully."
"Abisnya muka lo itu lucu Dim" Sela Farel.
"Lucu gimana rel?"
"Lucu pengen nabok."
Tak ayal ucapan Farel membuat seisi ruangan kembali riuh dengan tawa.
Di luar kamar...
Ages, dan Arsen sengaja berdiri di lorong agar anak-anak itu bebas berbincang.
Arsen tersenyum kecil.
"Baru kali ini kamar rumah sakit seramai ini."
Ages ikut melihat ke dalam melalui kaca.Sudah beberapa hari ia tidak melihat putranya tertawa seperti itu.Dadanya terasa sedikit lega.
Beberapa menit kemudian dari luar pintu muncul beberapa siswi yang membawa bunga, cokelat, dan kartu ucapan.Mereka saling dorong karena malu.
"Masuk enggak?"
"Lu aja dulu."
"Enggak, malu."
Raka yang melihat itu langsung tertawa keras. "Woi! Fans club Kalandra datang!"
Mendengar itu, wajah para siswi langsung memerah.
"Ih, Raka!"
"Kenceng banget sih!"
Kalandra menutup wajahnya dengan tangan. "Raka kampret!"
"Apaan?"
"Bikin malu anj."
Raka tersenyum tengil. "Kan emang kenyataannya."
Akhirnya salah satu gadis yang paling berani maju lebih dulu. "Hai, Kala."
"Hai."
"Kami..." Ia melirik teman-temannya. "...kami sekelas mau jenguk kamu."
"Terima kasih."
Ia meletakkan sebuah kotak hadiah di meja. "Ini dari anak-anak kelas."
"Semoga kamu cepat sembuh."
Tak lama, gadis lain ikut maju membawa sebuah scrapbook. "Ini...kami bikin rame-rame."
Kalandra menerimanya dengan senyum hangat. "Thank ya guys.."
Seorang gadis lain yang selama ini dikenal diam-diam menyukai Kalandra menyerahkan sebuah gelang rajut. "Waktu bikin ini aku terus berdo'a semoga kamu cepat sembuh." .Pipinya memerah setelah mengucapkannya.
Raka langsung berbisik pelan kepada Jevan. "Wah... kode keras."
Jevan menyenggol bahunya. "Diem Rika.."
Raka menjambak rambut Jevan. "Jevan t*i,nama gue Raka bukan Rika."
Semua yang berada di kamar tertawa kecil.Suasana yang semula canggung berubah hangat.
"Kal." Raka duduk di samping ranjang. "Anak basket kirim salam."
"Pelatih juga." Lanjut Farel. "Katanya tempat lu di tim enggak bakal diganti."
Mata Kalandra sedikit berkaca-kaca. "Serius?"
"Iya."
"Katanya mereka bakal nunggu sampai lu sembuh."
Jevan ikut menambahkan, "Anak karate juga." Jevan mengusap pelan pundak Kalandra. "Sensei bilang, pejuang sejati bukan yang enggak pernah jatuh.Tapi yang mau bangkit lagi."
Kalandra menundukkan kepala.Tangannya menggenggam erat selimut.Ucapan itu membuat semangat yang sempat hilang perlahan muncul kembali.
Saat semua sedang mengobrol, seorang dokter masuk untuk memeriksa kondisi Kalandra.Melihat ramainya isi kamar, dokter tersenyum apalagi melihat beberapa kado serta gadis-gadis cantik yang tersenyum malu menatap Kala.
"Wah, pasien saya ternyata terkenal."
"Maklum dok,pasien dokter yang satu ini Maskotnya sekolah kita." celetuk Raka.
"Lah,lo kira gue patung...di bilang maskot segala."
Semua tertawa begitupun dokter dan perawat.
Dokter memeriksa tekanan darah dan kondisi luka Kalandra. "Bagus.Semangatnya harus mulai kembali ya mas."
Raka langsung menjawab,"Harus, Dok.Soalnya kalau dia murung terus, kami juga ikut pusing."
Dokter tersenyum."Terus beri dia semangat karena proses pemulihannya masih panjang."
Semua teman Kalandra mengangguk. "Tentu, Dok."
Setelah dokter keluar,suasana kembali riuh.
"Kal,gak nyangka ya bokap lo sultan.Berapa duit ya kalo sewa kamara yang kaya gini." Ucap salah satu teman kelas Kala yang sejak tadi diam.
"Bokap si Kala duitnya gak berseri,bayar rumah sakit segini mh sama kaya beli bakso atau seblak doang." jawab Raka.
"Oh ya? Serius Kal? ruangan rawat lo ini luasnya kaya luas rumah gue soalnya." ucapnya kembali membuat Kalandra terdiam.
Temannya tertawa kecil. "Gue mah boro-boro bayar rumah sakit vvip,lah bayar ruangan kelas 3 aja harus jual kebun dulu. Itu juga cuma sepetak."
Kala semakin di buat bungkam,dadanya terasa berdesir mengingatnya.Apakah dirinya kurang bersyukur?. Ternyata selama ini hidupnya begitu sempurna,ayahnya selalu mengusahakan apapun utuk dirinya.
Sebelum pulang, seluruh teman sekelas berkumpul di sekitar ranjang.
"Kala." Panggil salah satu teman Kala.
"Hm?"
"Kamu enggak sendirian."
"Kami semua nunggu kamu balik sekolah."
"Iya."
"Jangan lama-lama di rumah sakit."
"Kelas jadi enggak seru."
Raka mengangkat telunjuknya. "Dan satu lagi.Kalau nanti udah sembuh...jangan lupa traktir kita."
"Lah si Rika stres!" pekik Jevan.
Semua langsung tertawa.
Kalandra pun ikut tertawa, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Siap."
Di balik pintu, Ages menyaksikan semuanya.Melihat senyum putranya yang perlahan kembali, ia mengusap sudut matanya.
Ages bisa melihat secercah cahaya di mata Kalandra setelah kejadian pahit yang menimpanya.Dan Ages berjanji akan melakukan apa pun agar senyum itu tidak pernah hilang lagi.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋