NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Tak Terucap

Bab 12

Perjalanan pulang berlangsung dalam hening yang berat namun tidak lagi dingin. Elena duduk menyandar di bahu Leonid, tangannya digenggam erat sepanjang jalan. Rian sudah diserahkan pada orang kepercayaan Leonid untuk diamankan dan diperiksa lebih lanjut, sedangkan pria yang mengatur jebakan itu kini terkurung rapat, menunggu waktu untuk menjawab segala tuduhan yang ada. Meski bahaya seketika itu sudah teratasi, hati Elena masih berdeup kencang bukan lagi karena takut pada ancaman luar, tapi karena beban rahasia besar yang masih tergantung di antara mereka berdua.

Sesampainya di rumah, Leonid memastikan Alvaro masih terlelap pulas dengan pengawal yang berjaga di depan pintu kamar. Setelah itu, ia mengajak Elena duduk di beranda belakang, tempat yang tenang diterangi cahaya bulan dan lampu taman yang remang. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati yang tumbuh merambat di pagar.

"Kau tahu betapa berbahayanya apa yang kau lakukan tadi?" tanya Leonid pelan, memecah keheningan. Ia tidak menatap Elena, melainkan menatap ke arah halaman yang gelap. "Kau bisa saja tidak kembali. Dan kau pikir aku sanggup hidup tanpa kau dan Alvaro?"

Elena menelan ludah, air mata kembali menggenang. "Aku hanya... aku takut jika kau ikut, pertumpahan darah tak terelakkan. Aku takut Alvaro kehilangan ayahnya. Aku pikir jika aku datang sendirian, aku bisa menawar apa yang mereka minta tanpa melibatkan kalian."

Leonid berbalik menatapnya, matanya lembut namun penuh perasaan yang mendalam. "Kau salah. Sejak kau memutuskan berubah dan menjadi ibu yang baik untuk anakku, kau bukan lagi wanita yang berjalan sendiri. Kau istriku. Bagian dari hidupku. Jika ada bahaya, itu urusan kita berdua. Jangan pernah memikulnya sendirian lagi."

Ia meraih kedua tangan Elena, menggenggamnya di antara telapak tangannya yang besar dan hangat. "Aku tahu masih banyak hal yang kau sembunyikan. Aku tahu perubahanmu itu terlalu besar untuk hanya sekadar penyesalan biasa. Aku mungkin tidak tahu alasannya, dan kau mungkin belum siap menceritakannya sekarang. Tapi percayalah... apa pun itu, aku akan tetap di sini. Aku tidak akan pergi."

Kalimat itu membuat pertahanan hati Elena runtuh seketika. Ia ingin sekali berteriak mengaku bahwa ia bukan Elena yang dulu ia kenal, bahwa ia hanyalah jiwa asing yang diberi kesempatan kedua, bahwa ia takut suatu saat ia akan kehilangan semua ini jika kebenaran terungkap. Namun saat melihat tatapan tulus di mata pria itu, kata-kata itu tertahan di kerongkongan. Ia takut jika ia bicara, kepercayaan yang baru tumbuh itu akan hancur seketika.

"Aku... aku harap kau tidak akan membencimu jika kau tahu semuanya," bisiknya terisak.

"Aku tidak akan pernah membencimu," jawab Leonid tegas tanpa ragu. "Aku sudah melihat kebaikan yang ada di hatimu. Itu yang paling penting bagiku sekarang."

Malam itu mereka berjanji untuk saling percaya, meski belum semua hal terungkap. Namun takdir seolah belum ingin membiarkan mereka tenang begitu saja. Keesokan paginya, berita mengejutkan datang kembali Rian ditemukan tewas di dalam sel tahanan rahasia Leonid, tanpa ada jejak siapa pelakunya, dan tanpa ada tanda perlawanan.

Wajah Leonid seketika mengeras. "Mereka menutup mulutnya selamanya. Ada orang yang tak ingin sampai rahasia lama itu terungkap."

Elena terdiam, hatinya mencelos. "Berarti masih ada orang lain yang terlibat. Orang yang lebih berkuasa, lebih kejam, dan tak ingin jejaknya diketahui."

"Ya," jawab Leonid dingin. "Dan orang itu pasti masih bergerak mengawasi kita. Tapi kali ini, aku tidak akan memberi kesempatan lagi. Aku akan mencari siapa dia, dan aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa mengganggu kita lagi."

Siang itu, saat Elena sedang membacakan dongeng untuk Alvaro di taman, ia melihat seorang wanita paruh baya yang dulu pernah menjadi pengasuh Elena asli datang berkunjung. Wanita itu menatap Elena lekat-lekat dengan pandangan yang bercampur baur heran, sedih, namun seolah menyadari sesuatu.

"Nyonya..." ucapnya pelan setelah mereka berdua sempat berbicara sebentar. "Anda benar-benar berubah. Nyonya yang dulu tak akan pernah menatap anaknya dengan pandangan begitu. Nyonya yang dulu... matanya selalu kosong dan dingin. Tapi sekarang... mata Nyonya bersinar berbeda. Seperti orang yang baru saja menemukan alasan untuk hidup."

Elena terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan seolah mengerti sesuatu yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. "Apa pun yang terjadi... semoga Nyonya bahagia sekarang. Dan semoga Tuan serta Tuan Muda selalu terlindungi."

Saat wanita itu pergi, Elena menyadari bahwa meski ia menyembunyikan identitas aslinya, kebaikan yang ia tunjukkan justru menjadi bukti nyata perubahan itu sendiri. Namun ia juga tahu, semakin lama ia berada di sini, semakin berat beban yang ia pikul antara rasa syukur atas hidup yang baru, dan rasa takut akan saat kebenaran akhirnya harus terungkap.

Sore harinya, Leonid datang menghampirinya di taman. Ia memegang sebuah kotak kecil. "Aku menemukan ini di antara barang-barang lama Elena. Ini adalah kalung pemberianku saat kita pertama kali menikah. Dulu kau selalu membuangnya atau menyembunyikannya."

Ia membuka kotak itu. Sebuah kalung sederhana namun indah dengan liontin batu permata berwarna biru tua bersinar di dalamnya. Leonid mengambilnya, lalu perlahan memakaikannya di leher Elena.

"Kau tak perlu memaksakan diri menjadi siapa pun," bisiknya saat ia selesai mengikatnya. "Cukup menjadi dirimu yang sekarang. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Elena menyentuh liontin itu dengan gemetar, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Mungkin ia tak bisa berkata jujur tentang siapa dirinya, tapi ia berjanji dalam hati ia akan menjaga cinta dan kepercayaan ini sekuat tenaga, sampai detik terakhir nyawanya di dalam tubuh ini.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!