Keyra, gadis 20 tahun itu terpaksa menikah dengan musuh bebuyutannya. Hal itu dia lakukan hanya demi membalas budi keluarga sang suami.
Bagaaimana Keyra akan menjalani kehidupan rumah tangganya bersama pria yang telah dia musuhi sejak di bangku kelas 2 SMA itu. Yuk simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucy81, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Sejati
"Bi, tunggu aku!" seru Keyra seraya berlari memanggil Albian. Namun tiba-tiba saja seseorang yang Keyra kenal menghentikan langkahnya.
"Selamat ya Kei", ucap Dirga dengan tersenyum bahagia. "Maaf, kakak tidak sempat menghadiri pesta pernikahanmu, kau tau sendiri pak Dadang gimana orangnya. Tapi kakak nggak lupa membawa kado untukmu", lanjutnya seraya menyodorkan kado pada Keyra.
Tangan Keyra terjulur menerima kado pemberian Dirga. "Terimakasih kak", sahutnya lirih. Meski dia telah berjanji akan melupakan Dirga, namun dalam hati kecilnya dia belum bisa melupakan cinta masa kecilnya itu.
"Kak Dirga!" panggil Diandra seraya berjalan menghampiri Dirga.
Sontak Dirga mengalihkan pandangannya. Lalu dia tersenyum menatap Diandra yang tengah berjalan ke arah dirinya. "Anda..." sambut Dirga.
Anda? Apa itu panggilan sayang kak Dirga buat Diandra? Batin Keyra.
"Kei! Di mana Bian?"
Keyra tiba-tiba sadar kalau tujuannya tadi adalah mengejar Albian. "Eh, sepertinya dia sudah pergi."
"Tapi mobilnya masih di sana!" tunjuk Diandra pada sebuah mobil sport milik Albian.
"O, itu ya. Kalau gitu Kei nggak bisa menemani kak Dirga lebih lama lagi. Kei pamit ya."
"Oke Kei. Sampaikan salamku pada Bian ya."
"Oke kak", sahut Keyra seraya mengayunkan langkahnya menuju mobil Albian.
Sepeninggal Keyra, Dirga langsung menggandeng mesra tangan Diandra. "Sayang, aku merindukanmu", ucap Dirga dengan manja.
Diandra pun tersenyum pada Dirga. "Apa kak Dirga sudah makan?"
"Belum sayang. Tapi aku lebih membutuhkan pelukan darimu daripada makanan."
Diandra langsung menghamburkan diri dalam pelukan Dirga. "Apa begini kak?"
Dirga langsung mengeratkan pelukannya. "Begini sayang", ucapnya memberi contoh.
"Tapi aku sulit bernafas kak."
Dirga gegas melepaskan pelukannya. "Eh, maaf sayang. Aku terlalu merindukanmu, malah jadi menyakitimu."
"Tidak apa-apa kak. Ayo, kita masuk ke dalam. Aku sudah menyimpan makanan untuk kakak", katanya yang membuat Dirga tertegun.
Apa yang sudah di alami Diandra di masa kecil? Apa perlu dia menyimpan makanan untukku, padahal aku bisa membelinya dari luar. Batin Dirga.
"Kak! Kenapa melamun? Ayo, kita masuk!"
Dirga pun mengikuti langkah Diandra tanpa banyak bertanya pada wanita yang telah menjadi pacarnya itu sejak dua hari yang lalu.
*-*
Sementara di dalam mobil, Albian hanya fokus pada jalanan yang tampak ramai.
"Em, kita akan tinggal di mana?" tanya Keyra membuka obrolan.
Namun Albian sama sekali tidak membuka suaranya. Netranya masih saja fokus menatap jalanan.
"Apakah saat seseorang menyetir tidak bisa di ajak ngobrol ya?" tanya Keyra kesal.
Sontak Albian melirik sekilas ke arah Keyra. "Apa kau berbicara denganku?"
Keyra mendengus kasar kala merasa Albian sedikit kekanak-kanakan. Namun Keyra mencoba menutupi rasa kesalnya. "Suamiku, kita akan tinggal di mana?" tanyanya dengan begitu lembut.
Albian berdehem untuk menutupi raaa gugupnya. "Kita tinggal di rumah keluargaku", jawabnya.
"Oke!" jawab Keyra singkat. Lalu dia membuang jauh pandangannya ke luar jendela.
Albian kembali melirik Keyra kala wanita yang telah sah menjadi istrinya itu tidak mengatakan apapun setelahnya. Apa cuma itu doang? Apa dia tidak ingin mengatakan hal lain? Kesal Albian di dalam batin.
Seketika hening.
Albian gegas menyetel sebuah lagu untuk memecah keheningan di antara mereka. Bibirnya pun mulai bergumam mengikuti setiap lirik lagu.
"Kenapa lebah bisa masuk ke dalam sini ya?" tanya Keyra yang membuat Albian tersentak kaget.
"Lebah?" tanya Albian seraya memperlambat laju kendaraannya. Dia sangat khawatir Keyra terkena sengatan lebah tersebut.
"Sudah hilang!" sahut Keyra santai.
Albian mengernyit bingung kala mendengar ucapan Keyra. "Apa sudah keluar?" tanyanya saat mobil yang dia kendarai berhasil menepi.
"Tadi ada suara lebah yang terdengar seperti sedang bernyanyi", lanjut Keyra tanpa rasa bersalah.
Netra Albian melotot kala menyadari bahwa Keyra tengah menyindirnya. "Apa suaraku terdengar persis lebah?" tanyanya dengan raut wajah sedih.
Pffftt...
"Aku tidak mendengar suaramu saat bernyanyi, tapi suara bergumam, jadi aku pikir itu suara lebah." kata Keyra seraya menahan tawanya.
Spontan Albian mencubit gemas hidung Keyra. "Apa kau begitu senang meledek suamimu ini?" tanyanya dengan tersenyum.
Keyra tertegun kala melihat perlakuan Abian pada dirinya. Lalu dia memalingkan wajahnya dengan wajah bersemu merah. Ada apa dengan wajahku? Kenapa rasanya begitu panas? Tanya Keyra dalam batinnya.
Albian terlihat begitu senang kala dirinya berhasil membuat Keyra tersipu malu. Namun Albian tidak mengatakan apapun. Dia gegas menjalankan kendaraannya menuju rumah keluarganya.
*-*
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 20 menit, mobil yang dikendarai Albian tampak memasuki halaman luas rumah keluarganya itu.
"Rumahmu jauh lebih besar dari rumah orang tuaku", ucap Keyra seraya menjulurkan kepalanya. Netranya fokus mengagumi rumah mewah keluarga Albian.
"Buat apa rumah besar, jika rumah ini terlihat seperti neraka saja", sahut Albian.
Keyra mengernyit bingung atas ucapan Albian. "Apa kau tinggal bersama dengan pamanmu itu?"
"Hm, iya. Sebulan yang lalu mereka memaksa untuk tinggal di rumah ini, hanya untuk menguasai semua warisan peninggalan kakek. Padahal kakek telah membagi dengan jelas warisan mendiang papa dan paman."
"Kalau begitu, kita tinggal di rumah lain saja!" ujar Keyra dengan cepat. Dia kuatir pamannya Albian tersebut akan mengganggu dirinya juga.
"Sudah! Jangan terlalu dipikirkan. Kita hanya tinggal beberapa hari saja di sini."
"Oh, syukurlah!" sahut Keyra dengan menghela nafas lega.
Albian tersenyum melihat ekspresi lucu wajah Keyra. "Apa kau takut.paman akan mengganggu kita?"
Keyra membalas dengan mengangguk cepat. "Hm!"
"Ayo, kita turun!" katanya seraya membuka pintu.
Keyra menuruti ucapan Albian. Dia bergegas turun dari mobil dan mengikuti langkah Albian menuju pintu utama.
Sesampainya di dalam rumah, seorang wanita telah menyambut mereka. 'Selamat atas pernikahannya Bian dan siapa namanya", ucap wanita itu dengan tersenyum ramah pada Keyra.
"Keyra, tante", sahut Keyra.
"Kamu terlihat sangat cantik", puji bibinya Albian. "Tapi sayang kamu bukan istrinya Arvan."
Albian tidak senang mendengar penuturan sang bibi. "Ayo, Ke kita ke kamar!"
"Oke, Bi", jawab Keyra dengan tersenyum. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada bibinya Albian. "Maaf tante, bukannya bermaksud tidak sopan. Tapi suami Kei telah mengajak Kei pergi. Jadi Kei harus menuruti perkataannya."
"Pergilah nak. Tante tidak marah kok."
Albian merasa jengah melihat kepura-puraan sang bibi. Dia gegas menarik tangan Keyra menuju lantai dua tanpa mengucapkan sepata kata pada bibinya tersebut.
Apakah mereka benar-benar tidak akur? Kenapa Bian bahkan tidak ingin menyapa bibinya? Batin Keyra bertanya-tanya.
"Aku tau di dalam benakmu pasti penuh dengan pertanyaan!" ucap Albian tanpa menoleh pada Keyra.
"Aku baru tau kalau kau itu cenayang!"
"Sebentar lagi kau juga akan tau kalau aku ini adalah pria sejati!"
Ucapan ambigu Albian telah membuat sekujur tubuh Keyra gemetar.
secangkir ☕️ untuk akhir karya ka author.. di tunggu karya barunya🫰🫰🫰