NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Alasan Yang Terungkap

"Bunda! Bunda!"

Suara antusias Kharisma menarik perhatian Nada yang tengah sibuk mengumpulkan kado. Menantu perempuannya itu menghampiri, tampil cantik dengan dress putih bermotif yang mengekspos bagian selangka, memamerkan liontin indah yang baru kemarin Nada berikan.

"Ada apa, sayang?" Nada belas tersenyum.

"Bunda ingin memberikan Kak Ivana hadiah apa? Aku belum pernah bertemu dengannya, makannya aku tidak tau apa yang dia suka," ungkap Kharisma, berjinjit untuk mengintip semua bungkusan kado yang berjejer di sofa, tepat di belakang tubuh Nada.

Nada tertawa lembut, bergeser untuk memberi pemandangan yang lebih jelas akan rasa penasaran Kharisma. "Bunda berikan pakaian-pakaian bayi," jawabnya lembut.

Kharisma melangkah mendekat, mengamati bungkusan-bungkusan dengan jari mengetuk dagu.

Ada banyak sekali kado yang berjejer di sofa, bahkan hampir memenuhi satu sofa panjang sekaligus. Semuanya dibungkus dengan kertas kado berwarna putih, dengan motif bunga mawar merah yang elegan jika dipandang oleh mata. Pita-pita merah juga terpasang sebagai hiasan.

Kharisma mengangguk, jari-jarinya yang lentik menyentuh pita-pita kado yang menggemaskan. "Tapi kalau membelikan pakaian bayi bukankah terlalu dini, Bunda? Kita kan belum tau anak Kak Ivana ini laki-laki atau perempuan," ujarnya. "Aku baru saja ingin pergi dengan Mas Prabu untuk membelikan kado, tapi tidak tau akan memberi kado apa."

"Belikan saja pakaian bayi yang berwarna netral," ucap Nada lembut. "Seperti pakaian-pakaian berwarna putih, contohnya, kan bisa digunakan oleh bayi laki-laki dan perempuan."

Kharisma menarik sudut-sudut bibirnya. "Bunda benar. Sepertinya membelikan mainan juga bagus, Bunda. Asalkan mainannya bisa digunakan oleh anak laki-laki dan perempuan," ucapnya antusias, mendapatkan ide kado sekarang ini.

Nada mengangguk, menepuk pundak Kharisma dengan lembutnya. "Iya, mainan juga bisa. Nanti kalau kamu pergi dengan Prabujangga, langsung saja ke rumah sakit, Bunda dan Ayah akan langsung ke sana sekarang."

"Siap, Bunda." Kharisma tertawa jenaka, memberikan gestur hormat main-main. "Nanti aku dan Mas Prabu menyusul, ya."

Setelah mendapatkan persetujuan, Kharisma dengan langkah yang sedikit melompat-lompat riang akhirnya meninggalkan area ruang tamu, membiarkan Nada tersenyum geli melihat tingkahnya.

Ia benar-benar merasa senang hari ini. Katanya, semua anggota keluarga besar Wimana akan menjenguk Ivana di rumah sakit. Katanya akan melakukan USG dan melihat jenis kelamin janin.

Kharisma sebenarnya tidak mengerti, apakah di keluarga ini bayi memang diperlakukan sepesial seperti itu? Apakah itu yang membuat Prabujangga ingin buru-buru memiliki anak?

Baru saja memikirkan tentang suaminya, tiba-tiba saja Kharisma mendengar suaranya di luar. Tepatnya di teras.

Kharisma memelankan langkah, mengurungkan niat untuk menghampiri Prabujangga yang ternyata sedang berbincang dengan ayahnya—Batra.

Kharisma berjingkat, diam-diam mengintip melalui celah jendela panjang yang ditutupi oleh tirai tebal.

Rasa penasarannya mulai muncul.

"Papa sangat yakin kalau kamu sebenarnya tidak ingin datang hari ini."

Suara Batra yang pertama kali Kharisma dengar. Laki-laki tua itu berdiri persis di samping Prabujangga, menghisap cerutu yang diapit di antara jarinya.

"Sudah dua bulan, dan ternyata kamu belum juga bisa... memberikan kabar baik."

Kharisma semakin menajamkan pendengaran.

"Saya yakin Papa sudah tau bagaimana saya sudah sangat berusaha untuk hal ini. Saya sudah menggunakan segala cara, dan memang waktu yang tidak mau bekerjasama."

"Kharisma belum hamil juga bukan salah saya. Saya telah mempelajari hal tidak penting tentang siklus-siklus wanita dan waktu paling tepat untuk pembuahan. Saya melakukannya, dan tidak ada hasil bukan berarti itu salah saya sepenuhnya."

Kharisma mengerutkan kening. Namanya yang disebutkan membuatnya semakin penasaran akan topik pembicaraan dua pria itu. Terlebih lagi, mereka membahas tentang kehamilan yang selalu menjadi bahan pertengkaran Kharisma dan Prabujangga akhir-akhir ini.

"Jadi kamu bermaksud mengatakan bahwa Istri kamu yang bermasalah?"

Prabujangga terlihat menggeleng.

"Tidak juga. Saya sudah memeriksanya dan dia tidak memiliki masalah. Di sini hanya waktu yang tidak mau bekerjasama."

"Sampai kapan kamu akan menyalahkan waktu kalau begitu?" Batra terlihat mematikan cerutunya. "Saat nanti hasil USG Ivana keluar, dan hasilnya adalah laki-laki, apa yang akan kamu lakukan?"

Kharisma menempelkan telinganya pada dinding, tapi tidak terdengar satupun jawaban keluar dari bibir Prabujangga. Hanya ada keheningan. Keheningan pahit yang ia tidak mengerti.

Memangnya apa yang salah jika nanti anak dari Ivana adalah laki-laki?

Tanpa alasan yang jelas, jantung Kharisma berdegup lebih kencang. Dadanya terasa sesak tiba-tiba, meskipun ia sendiri tidak tau apa alasannya.

Pikirannya berputar-putar, kembali melayang pada keinginan Prabujangga yang selalu menginginkan seorang anak.

"Selama ini Papa tidak menginginkan apapun dari kamu, Prabu. Hanya satu ini saja. Berikan cucu laki-laki pertama di keluarga ini."

Napas Kharisma tertahan.

"Papa ingin kamu membalaskan semua perlakuan yang telah mereka berikan pada Papa. Buat mereka menyesal dengan lahirnya cucu pertama Tuan Besar dari darah kamu. Dari darah Papa."

Senyum sepenuhnya memudar dari wajah Kharisma.

"Jika nanti anak Ivana laki-laki..."

Wantu seakan-akan berhenti berdetak.

"Itu berarti giliran kamu yang diperlakukan seperti Papa."

...***...

"Berikan pada saya, biar saya yang membawanya ke mobil."

"Eh, eh, tidak usah, Mas. Aku bisa bawa sendiri."

Dari sekian hari menyebalkan yang telah Prabujangga lewati, berhadapan dengan sikap melelahkan sang istri, kini ia tidak tau drama apa lagi yang akan harus ia hadapi.

Prabujangga menurunkan tangannya, dia menghela napas saat Kharisma melangkah melewatinya dengan kedua tangan mungil yang dipenuhi oleh tas-tas belanjaan.

Kharisma menolak mentah niat baiknya untuk membawa benda-benda itu ke dalam mobil.

"Kita berikan ini saja sepertinya sudah cukup, ya? Kan sudah dibungkus juga," celoteh Kharisma, tak menghiraukan Prabujangga yang melangkah di belakangnya.

Meskipun sikap perempuan itu sejak tadi terlihat ceria, memilih kado-kado sembari berkomentar tentang kualitas, tapi entah mengapa Prabujangga merasa ada sesuatu yang aneh.

Ia tidak tau apa, tapi ia cukup yakin ada sesuatu yang tidak ia ketahui.

Mungkin yang paling mencolok adalah sikap sok mandiri Kharisma yang tiba-tiba ini. Biasanya dia akan selalu mengandalkan Prabujangga seperti tuan putri yang tidak bisa melakukan apapun. Merepotkan.

"Kharisma."

Panggilan Prabujangga berhasil membuat sang empunya berhenti.

Kharisma memutar tubuh, menghadap Prabujangga dengan senyum tipis yang merekah.

"Ya?" Kharisma menjawab pelan, dengan kepala ditelengkan kesamping dengan penasaran. "Ada apa, Mas?"

Prabujangga mengamati sejenak, mencari tanda-tanda merajuk dari perempuan di hadapannya. Tapi dia tidak bisa menemukan apapun.

Yang Prabujangga lihat hanyalah senyum manis dengan lesung pipi cantik, perhatiannya juga teralihkan pada anting yang menggantung di telinga istrinya itu.

Lalu kenapa ia merasa ada sesuatu yang salah?

"Biar saya yang membawa barang-barang itu."

Prabujangga melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Kharisma. Tangannya hendak mengambil alih tas-tas belanjaan, tapi Kharisma segera menggeleng dan menolak.

"Tidak, tidak, aku bisa membawa sendiri," tolaknya. Lagi.

Prabujangga terdiam sesaat, namun matanya tidak bisa berhenti untuk mencari-cari sesuatu yang berbeda dari Kharisma.

"Kenapa? Biasanya selalu minta dibawakan, kan?" Pertanyaan itu jelas mengandung nada sarkas.

Kharisma cemberut, lantas berdecak. "Aku sekarang sudah dewasa, harus membawa barang belanjaan sendiri," balas Kharisma, lalu menyenggol lengan Prabujangga. "Katanya Mas tidak suka istri kekanakan, kan?"

Kharisma tertawa ringan, alisnya naik-turun dengan main-main. "Aku hanya tidak mau merepotkan Mas Prabu, memangnya tidak boleh?"

Prabujangga merespon dengan menarik sebelah alisnya. "Kamu benar-benar beranggapan bahwa kamu merepotkan saya?"

Kharisma tersenyum dan mengangguk.

Seharusnya Prabujangga tidak sekesal ini jika Kharisma mulai menyadari bahwa dia bersikap manja. Tapi entah mengapa Prabujangga merasa bahwa ia tidak terima jika ia tidak direpotkan lagi. Sekedar untuk membawakan barang atau paling tidak disuruh-suruh oleh istrinya yang pintar mengomel ini.

Apakah ia takut Kharisma mulai pintar dan mulai menggunakan otaknya sekarang? Apakah Prabujangga takut bahwa perempuan itu tidak bisa dibodoh-bodohi lagi?

"Kamu bisa melakukannya saat tidak di depan umum," putus Prabujangga dingin, lalu tanpa aba-aba langsung mengambil alih tas-tas belanja di tangan Kharisma.

Perempuan itu bahkan sampai melongo sendiri.

"Tapi—"

"Saya akan terlihat seperti pria tidak bertanggungjawab jika kamu membawa semua ini sementara saya berjalan tanpa beban di belakang," sela Prabujangga cepat.

Baru saja ia ingin melangkah, mengabaikan Kharisma yang sekiranya akan mengeluarkan omelan ataupun rengekkan mautnya, tiba-tiba saja istrinya itu mencegat.

Kharisma berdiri di depan Prabujangga, dengan tangannya yang terentang berusaha memblokir jalan.

Sudah Prabujangga duga, pasti istrinya itu berniat melakukan drama lagi. Begitu-begitu saja selama dua bulan ini.

"Apa—"

Ucapan Prabujangga terpotong saat Kharisma tiba-tiba memeluknya. Perempuan itu mengalungkan tangan di lehernya, kakinya berjinjit untuk menyamakan tinggi mereka yang jauh dari kata setara.

"Mas Prabu..."

Prabujangga terdiam.

Ucapan Kharisma teredam di lehernya, nada bicaranya begitu kontras dari nada ceria yang digunakan perempuan itu sebelumnya. Berubah lirih, berubah menjadi gumaman kesedihan.

"Saya sedang tidak bisa meladeni dramamu di sini," balas Prabujangga malas. "Ada banyak orang, jangan mempermalukan saya."

Jika saja tidak ada tas-tas belanjaan ini, pasti Prabujangga cepat-cepat menjauhkan tubuh Kharisma darinya.

"Mas Prabu..."

Prabujangga terdiam ketika Kharisma tiba-tiba terisak di lehernya. Keningnya berkerut dalam.

"Kenapa—"

"Maaf ya, Mas..."

Prabujangga semakin tidak mengerti.

"Maaf belum bisa memberikan yang Mas mau..."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!