"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian
Motor Kaisar berhenti tepat di teras depan rumah. Mesinnya dimatikan dan ia turun dari motor lalu melepas helmnya.
Ia meraih kantong plastik berisi barang belanjaan yang ia bawa. Kemudian, Kaisar memasukkan kunci duplikat yang selalu ia bawa setiap kali keluar rumah tanpa Raline. Itu dilakukan agar memudahkannya masuk ke dalam rumah saat kembali sementara Raline sudah terlelap.
Saat pintu rumah telah terbuka, Kaisar masuk. Ia meletakkan helmnya di atas meja dan juga melepas jaketnya.
Tapi bukannya langsung pergi ke lantai dua, ke kamarnya, ia justru pergi ke arah kamar Raline yang terletak di lantai satu, tak jauh dari tangga.
Begitu tiba di depan kamar Raline, Kaisar sempat ragu untuk mengetuk pintunya, takut mengganggu Raline.
Namun, rasa cemasnya lebih besar daripada ketakutan itu sendiri. Hingga akhirnya Kaisar mengetuk pintu kamar Raline perlahan-lahan.
Tok. Tok. Tok!
"Lin, lo udah tidur?" panggilnya.
Raline tak menjawab. Tapi justru itu yang membuat Kaisar semakin cemas, padahal ia sendiri merasa yakin istrinya sudah tertidur.
Ia memegang gagang pintu lalu memutarnya, mencoba apakah pintunya terkunci atau tidak. Dan benar saja, pintu kamar Raline tidak terkunci sama sekali, membuatnya mudah dibuka oleh Kaisar.
"Lin, gue masuk ya?" ucapnya, sembari membuka pintu lebih lebar dan masuk.
Ketika Kaisar telah berada di kamar Raline, ia melihat gadis itu berbaring di ujung ranjang, seolah ketiduran saat sedang beristirahat.
Kaisar melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, seolah suara gesekan sepatunya di lantai bisa memecahkan keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang itu. Detak jantungnya bertalu tidak karuan. Semakin dekat ia melangkah, semakin jelas ia melihat posisi Raline yang tampak tidak nyaman.
Gadis itu meringkuk menyamping, memeluk bantal guling erat-erat. Wajahnya yang biasanya bersih kini terlihat kuyu, dengan sisa-sisa keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Di atas nakas, terdapat segelas air putih yang tinggal separuh dan sebotol minyak kayu putih yang selalu dihirup Raline ketika rasa mual menyerangnya.
Kaisar membuang napas. Ia yakin Raline mual-mual lagi selama dirinya pergi.
"Lin..." bisik Kaisar lagi, kali ini lebih lembut saat ia berlutut di samping ranjang.
Raline tidak bergeming. Tangan Kaisar terulur, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menyentuh kening Raline.
Seketika, Kaisar tertegun. Kulit Raline terasa dingin dan lembap oleh keringat dingin. Bibir gadis itu sedikit terbuka, napasnya terdengar pendek-pendek.
Kaisar segera meletakkan kantong belanjaan yang ia bawa, berisi makanan ringan dan buah-buahan segar yang ia beli setelah mengantarkan Nana pulang ke atas nakas. Ia merasa seperti pecundang. Di saat ia sibuk berpura-pura bahagia di taman, Raline sedang berjuang sendirian dengan kondisi tubuhnya yang melemah.
Tiba-tiba, mata Raline terbuka sedikit. Ia mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan pada sosok lelaki di depannya.
"Kai...?" suaranya hampir tak terdengar, serak dan lemah. "Lo... udah balik?"
"Kenapa nggak kunci pintu?" tanya Kaisar, alih-alih menjawab. Suaranya terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan karena rasa khawatir yang memuncak. "Gimana kalo ada orang masuk? Dan lo... lo keringetan dingin gini. Apa lo mual lagi?"
Raline tidak menjawab. Ia mencoba bangkit untuk duduk, Kaisar spontan membantunya dengan memegang kedua bahu Raline.
"Tadi mual lagi... tapi gue udah gapapa," ucap Raline pelan.
Ia tiba-tiba terlihat mengendus-endus sesuatu di baju Kaisar. Kemudian Raline menutup hidungnya secara spontan.
"Pergi sana, lo bau parfum cewek... bikin gue makin mual."
Kaisar tertegun. Ia lupa bahwa indra penciuman Raline sedang sangat sensitif. Tanpa sepatah kata pun, ia segera melepas kaos luarnya, menyisakan kaos singlet yang ia kenakan sebagai dalaman, lalu melemparkan kaos yang beraroma parfum itu ke luar kamar.
"Sorry," ucap Kaisar tulus. "Gue lupa kalo lo sering ngerasa gak nyaman cium aroma parfumnya Nana."
Raline menelan ludah, kepalanya menunduk. Merasa bersalah mengatakan sesuatu yang membuat Kaisar harus mengerti dirinya.
"Maaf, Kai..." ucapnya. "Gue gak seharusnya ngomong kayak gitu. Gimana pun juga Nana itu pacar lo. Seharusnya gue gak perlu permasalahin soal parfum."
Kaisar menggeleng. "Gapapa. Gue ngerti posisi lo sekarang. Memang seharusnya gue yang lebih peka."
Kaisar kemeja mengambil sisa air minum yang ada di nakas dan membantu Raline untuk minum.
Raline tidak menolak. Ia meminum air yang diberikan oleh Kaisar hingga habis.
"Gue beliin roti sama biskuit gandum buat lo," ucap Kaisar, tangannya meraih kantong plastik tadi dan memperlihatkan apa saja yang ia bawa untuk Raline.
"Gue gak tau apa yang cocok buat lo makan," lanjutnya. "Jadi, gue cuma beliin makanan ringan aja. Soalnya, mau beli makanan berat juga takut lo ogah makan. Takut lo mual terus muntah lagi."
"Ada buah-buahan juga. Gue beliin anggur hijau, pisang sama apel. Siapa tau itu bisa bikin lo jauh lebih baik," tambahnya.
Raline menatap Kaisar dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa benci yang masih ia simpan untuk Kaisar, namun juga ada rasa bahagia setiap kali Kaisar memberinya perhatian.
"Kenapa lo balik secepat ini?" tanyanya. merasa aneh karena Kaisar pulang lebih cepat dari yang ia rencanakan. "Emangnya Nana gak marah?"
Kaisar terdiam.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa bayangan Raline terus menghantuinya di tengah kencan. "Gapapa. Gue ngajak dia balik karena emang gue udah ngerasa ngantuk aja. Nana juga tadi dihubungi bapaknya, disuruh pulang."
Kebohongan itu terasa hambar di lidah Kaisar.
"Ngantuk?" ulang Raline, terdengar ragu. Ia lalu melirik jam dinding. "Ini bahkan belum jam sembilan malam, Kai. Sejak kapan lo ngerasa ngantuk di jam segini?"
"Ya sekarang," jawab Kaisar pura-pura santai. "Emang kagak boleh kalo gue ngantuk jam segini? Aneh lo."
"Gak ada yang bilang gak boleh, tapi aneh kalo tiba-tiba berubah," jawab Raline.
Kaisar mendengus. Ia pun bangkit dan keluar dari kamar Raline dengan membawa gelas kosong menuju dapur.
Pemuda itu mengisi ulang gelas dengan air hangat. Mengambil pisau buah, dan hendak kembali ke kamar Raline. Tetapi matanya menangkap wajan di kompor berisi orak arik tempe yang Raline buat tadi. Terlihat makanan itu tidak tersentuh sama sekali.
"Kayaknya mulai besok gue harus cari tau makanan apa yang cocok buat dia," gumamnya. "Susah juga ternyata ngurus ibu hamil."
Setelah itu, Kaisar pergi meninggalkan dapur dan kembali ke kamar Raline.
Ia duduk di sisi tempat tidur, mengambil apel dan mengupasnya dengan hati-hati. Sementara itu, Raline memperhatikan pemuda itu, menatap wajah tampannya yang tampak fokus pada buah apel.
"Kai," panggil Raline pelan.
"Hm?"
"Gue yakin lo gak nyaman dengan status kita ini," ucap Raline. "Kalo lo udah gak sanggup lagi bertahan dengan semua ini, langsung kasih tau gue aja."
Kaisar menghentikan gerakan pisaunya di atas apel. Ia menatap Raline lurus-lurus, mencoba mencerna arah pembicaraan yang tiba-tiba terasa berat ini.
"Lo ngomong apa sih?" tanya Kaisar lagi, suaranya kini lebih rendah. "Nggak sanggup bertahan gimana?"
Raline meremas ujung bantal gulingnya, matanya tidak berani menatap Kaisar. "Ya... semuanya. Lo yang harus pulang cepat tiap kali lagi di luar. Lo yang harus ngurusin gue mual-mual, sampai lo yang harus bohong ke Nana demi balik ke rumah ini padahal kalian lagi kencan. Gue tau lo terpaksa, Kai. Lo terpaksa karena keadaan ini."
Kaisar mendengus pendek, sebuah tawa hambar keluar dari bibirnya. Ia meletakkan apel yang baru setengah terkupas itu kembali ke piring kecil di nakas.
"Terpaksa?" Kaisar mengulang kata itu dengan nada tajam. "Lin, kalo gue ngerasa terpaksa, gue nggak bakal ada di sini sekarang. Gue bisa aja lanjut nongkrong sama Nana sampai subuh dan matiin HP biar lo nggak bisa hubungin gue meski itu darurat. Tapi nyatanya? Gue sekarang di sini, ngupas apel buat lo."
Raline mendongak, matanya yang kuyu tampak berkaca-kaca karena hormon kehamilan yang membuatnya jauh lebih sensitif. "Tapi sampai kapan? Lo punya kehidupan sendiri, Kai. Lo punya Nana. Gue nggak mau jadi beban yang bikin hidup lo berantakan. Gue pengen lo sama gue bisa jalani kehidupan masing-masing kayak biasa, tanpa ada ikatan rumit kayak gini."
Kaisar terdiam sejenak. Ia melihat betapa rapuhnya Raline saat ini. Gadis yang biasanya keras kepala itu kini tampak begitu kecil di atas ranjang. Rasa bersalah yang tadi sempat ia tepis kini kembali menghantamnya lebih keras.
"Siapa yang bilang lo beban sih?" Kaisar menggeser duduknya lebih dekat, tangannya refleks ingin mengusap kepala Raline, namun ia mengurungkan niatnya dan hanya bertumpu pada pinggiran ranjang.
"Dengerin gue. Status kita memang rumit, gue akui itu. Tapi buat saat ini, fokus gue cuma mastiin lo dan... anak itu baik-baik saja," Kaisar menjeda kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat saat menyebut kata 'anak'. "Jadi, berhenti mikir yang aneh-aneh. Gue udah janji sama bapak lo buat jagaian lo dan tanggung jawab sepenuhnya selama lo jadi bini gue."
"Meskipun gue emang awalnya gak suka dengan semua ini. Tapi sekarang gue ngerasa semuanya bisa bikin gue lebih berguna sebagai suami. Seenggaknya gue bisa ikut andil dalam perkembangan darah daging gue," tambahnya.
Raline terdiam seribu bahasa. Kalimat yang meluncur dari bibir Kaisar barusan terasa begitu asing sekaligus hangat di telinganya.
Selama ini, ia mengira Kaisar hanya memandang janin di rahimnya sebagai kecelakaan yang merusak masa mudanya. Mengingat pemuda itu pernah menolak bertanggung jawab hingga memintanya untuk aborsi.
Kaisar menyodorkan sepotong kecil apel ke arah bibir Raline. "Makan. Jangan banyak mikir. Lo mau anak ini kenapa-napa gara-gara ibunya stres mikirin hal yang belum tentu terjadi? Jangan bikin pengorbanan kita sia-sia."
Raline akhirnya membuka mulut, menerima suapan apel itu perlahan. Rasa manis dan dingin buah itu sedikit meredakan mual di perutnya, tapi tidak dengan gemuruh di dadanya.
"Kalo Nana tau... gimana?" tanya Raline setelah menelan kunyahannya. "Cepat atau lambat dia bakal tau tentang ini semua."
Kaisar terdiam sejenak. Pertanyaan itu membuatnya tersadar bahwa tak selamanya rahasia bisa disimpan baik-baik. Akan ada saatnya di mana rahasia itu terbongkar dan menghancurkan segalanya.
"Biar itu jadi urusan gue, Lin," jawab Kaisar tegas, meski ada keraguan yang terselip di matanya. "Buat saat ini kita gak usah mikirin itu dulu, kita fokus aja dulu ke kandungan lo. Sebab, gue gak mau bikin bokap lo kecewa setelah gue janji ke dia sebelumnya."
Kaisar lalu bangkit, membereskan sisa kupasan apel dan meletakkannya di nakas. "Gue mau mandi dulu. Badan gue lengket, bau parfum yang lo benci itu juga masih nempel kayaknya. Lo coba tidur lagi aja, kalo mualnya balik, panggil gue. Gue nggak bakal pake earphone malam ini."
Kaisar berbalik menuju pintu, namun sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat melirik ke arah Raline sekali lagi.
"Besok pagi gue beliin bubur ayam di depan komplek. Siapa tau cocok buat lo. Jangan makan mie instan lagi, malah bikin mual lo makin menjadi-jadi," ucapnya ketus, namun perhatiannya tak bisa disembunyikan.
Raline hanya bisa menatap punggung Kaisar yang menghilang di balik pintu. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan rahasia mereka, Raline merasakan bahwa "ikatan rumit" ini mungkin tidak sepenuhnya berupa penjara bagi mereka.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya