Cover by me
Argantara Putra Bimantara, pria yang tenang dan dingin, terus-menerus dipertemukan dengan Nasya Kayshila—sosok gadis berhijab yang diam-diam mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan. Ia mencoba mendekat lewat kebaikan, berharap dikenang walau hanya sekejap. Tapi Nasya? Ia tak pernah mengingatnya. Tak satu pun pertemuan membekas di ingatannya.
Sampai akhirnya Argan sadar, menjadi baik saja tidak cukup. Jika kebaikan terlupakan, maka ia akan menjadi luka kecil dalam hidup Nasya karena rasa sakit lebih sering dikenang daripada rasa manis. Dan dengan begitu... setidaknya, ia tidak akan menjadi asing selamanya.
let's play!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Tanah Ibu Pertiwi
Begitu sampai di Jerman Argan langsung di sibukkan oleh latihan menerbangkan pesawat yang ia ikuti sambil mencoba melupakan Nasya. Walau awal proses melupakan Nasya itu sangatlah susah, karena semakin Argan mencoba lupa bayangan Nasya semakin jelas, perasaannya bukannya hilang malah semakin bertambah. Sampai akhirnya ia pasrah saja. Dan menyibukkan diri dengan segala kegiatan di Jerman sana.
Satu bulan tinggal di Jerman ia mendapat kabar istri adiknya tengah mengandung, yang berarti tidak akan lama lagi bontot keluarga Bimantara akan menjadi orang tua. Agaknya lucu sekali di telinga Argan, karena menurutnya Aidan itu masih seperti bocah kemarin sore baru pandai buang ingus tapi sebentar lagi malah mau ngurus bocah dan jadi orangtua, tapi walaupun begitu Argan turut senang dan mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga adiknya.
Lima bulan tinggal di Jerman, menyusul sang kakak yang dikabarkan menikah. Kali ini Argan agak syok karena bagaimanapun terakhir kali ia bertemu Abri, kakaknya itu masih sempat bercerita dan mengatakan kalau Argan pulang dari Jerman pun mungkin Abri belum berumah tangga dan sang kakak memohon agar Argan jangan buru-buru dan melangkahinya. Sudah cukup Aidan saja, jangan Argan juga ikut-ikutan. Tapi nyatanya ini apa? Abri malah menikah. Memang benar kata orang prihal jodoh tidak ada yang tau. Bisa hari ini berkoar-koar tidak ingin menikah, eh besoknya sudah duduk di pelaminan. Tapi Argan turut bahagia walaupun ia tidak bisa menghadiri acara pernikahan sang kakak, tapi doa yang terbaik untuk rumah tangga sang kakak kedepannya selalu ia panjatkan.
Sampai waktu berlalu begitu cepat, satu tahun benar-benar terlewati dan berakhir Argan harus kembali ke tanah ibu Pertiwi.
Argan dan beberapa rekannya keluar dari bandara.
"Pulang naik apa, Gan?" tanya salah seorang rekan Argan yang berdiri tepat di sampingnya.
"Di jemput."
"Sama siapa?" tanya pria itu lagi.
"Abang." jawab Argan sambil fokus pada ponsel di tangannya
"Oh, kirain."
Argan menoleh tanpa kata, namun sorot matanya seakan meminta penjelasan.
"Kirain sama pacar." ujarnya meledek Argan.
"Eh, tapi lupa Argan kan jomblo." sambung yang lain mengundang gelak tawa semua penerbang pesawat tempur itu.
"Gak boleh pacaran, marah mamak." jawab Argan ngaco, lalu kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan Abri yang katanya berdiri di depan pintu masuk bandara. Dan dia mendapatkannya, sang kakak bahkan melambaikan tangannya keatas sebagai isyarat. "Saya duluan." ujar Argan pada beberapa rekannya yang lain. Setelahnya menghampiri Abri.
"Kabarnya, Dek?" tanya Abri meluk Sang adik yang kini berada di hadapannya.
"Alhamdulillah baik."
"Widih, badannya makin oke aja nih ya. Pasti bule Jerman ada yang kecantol dong ini." ujar Abri setelah melerai pelukan mereka tapi kedua tangannya berada di kedua pundak Argan sambil memerhatikan tubuh Argan dari atas sampai bawah yang hanya mengenakan kaos membentuk jelas massa otot pada tubuh Argan.
Argan menjawab hanya dengan senyum simpul saja. "Buruan Bang, gue udah ngantuk." ujarnya lagi mengitari mobil Abri untuk duduk di dalam sana dan segera pulang dari untuk lanjut tidur, berhubung ia sampai Indonesia jam delapan malam dan sempat tidak bisa tidur di dalam pesawat.
Abri hanya terkekeh dan ikut masuk.
Saat perjalanan pulang kerumah orangtuanya Argan bukannya tidur ia malah menatap gedung gedung pencakar langit yang di hiasi gemerlap lampu, rasa ngantuknya tiba-tiba hilang akibat memori kepalanya yang tiba-tiba memutar ingatan saat setahun yang lalu ia meninggalkan Indonesia untuk pergi berlatih di Jerman. Masih sangat teringat jelas ingatannya ketika mengingat pria lain melamar sang pujaan hati. Sungguh, jika mengingat akan kejadian itu dadanya berdebar sesak dan perih.
Bahkan Argan sadar betul bahwa perasaan itu sedikitpun belum beranjak dari tempatnya, walaupun sudah satu tahun lamanya mencoba melupakan Nasya, mencoba menepikan perasaanya, tetap saja perasaan itu masih ada. Seharusnya ia tidak boleh seperti ini, mengingat mungkin Nasya bahkan sudah menikah dengan pria itu.
"Argan!" pekik Abri membuat Argan tersadar dari lamunannya, lantas menoleh.
"Eh, kenapa Bang?" ia menegakkan tubuhnya, wajahnya tampak kaget.
"Dari tadi di ajaki ngomong malah bengong. Kamu kenapa?" Abri agak kesal sudah capek.mulutnya komat-kamit mengajak adiknya berbicara Argan bukannya mendengarkan malah melamun.
Argan menggeleng "gak papa."
"Oh... Abang tau, berat ya ninggalin cemcemanmu di Jerman."
Argan berdecak "cemceman apa sih? Gak ada." ya jelas ia membantah karena itu tidak benar.
"Hilih, maluan mu itu loh, Gan. Ya kalau ada bilang aja. Supaya mentas semua anak Papa sama Mama."
Argan memutar bola matanya malas dan kali ini ia benar-benar memilih memejamkan matanya saja, sambil menurunkan topi yang ia pakai untuk menutupi wajahnya. "Kalau udah sampai rumah jangan lupa banguni."
"Hih, di ajakin ngomong malah merem."
Dan Argan hanya menggumam saja sebagai jawaban. Malas sekali dia menanggapi perkataan sang kakak yang tidak jauh-jauh dari perempuan.
Tidak membutuhkan waktu lama mobil Abri sampai di kediaman orangtuanya membangunkan adiknya yang ternyata benar-benar tidur. Di depan pintu kedua orangtua mereka berdiri menanti kepulangan putra keduanya yang sudah sangat mereka rindukan.
Begitu argan turun dan berjalan di hadapan sang Mama, Mama Nada langsung merengkuh tubuhnya menyalurkan kerinduan yang luar biasa pada putranya.
"Akhirnya, Nak..." lirih Mama Nada di pelukan Argan berkali-kali.
Argan tak kalah erat memeluk tubuh sang Mama, ia bahkan memberikan elusan di punggung wanita paruh baya itu dan kecupan-kecupan kecil di kepala sang Mama beberapa kali, mengisyaratkan bukan hanya mamanya saja yang rindu, tapi juga dirinya. Tak terasa air mata menggenang di pelupuk matanya.
Setalah keduanya mengurai pelukan itu Argan mengelap air yang berada di sudut matanya dan beralih pada sang papa, ia turut memeluk pria jiplakan dirinya itu dengan erat.
"Argan hebat! Argan hebat!" papanya menepuk-nepuk punggung putranya bangga. Mengingat sebelum Argan pulang papanya dapat kabar bahwa Argan penerbang terbaik dalam pelatihan.
Abri juga turun tersenyum menyaksikan itu semua, dia juga bangga akan pencapaian Argan selama ini.
"Hua... Abang gue...." belum sempat Argan melepaskan pelukannya pada sang papa tubuhnya di tubruk oleh sang adik dan memeluknya dengan erat menjadikan posisi Argan di tengah di gencet oleh keduanya. Sepertinya Aidan baru pulang kerja.
"Lepas dulu, Dan! Gue engap!"
Aidan melepaskan pelukan mereka dan nyengir "maaf, maaf." lalu lanjut memeluk sang kakak.
Argan hanya tersenyum kecil sembari melirik Abri yang memandang keduanya dari jauh. "Lo gak mau peluk gue?"
"Kan Abang udah duluan."
"Hih, sini deh Bang. Biar kayak Teletubbies kita." Aidan menimpali, mengangguk sang kakak tertua turut bergabung. Dan memeluk kedua adiknya.
Papa Saga dan Mama Nada sampai geleng-geleng kepala melihat mereka.
Sementara ada dua wanita lain keluar dari kediaman keluarga Bimantara karena terganggu akan keributan di depan membuat keduanya langsung keluar. Yang satu badannya yang tampak lebih berisi yang satu perutnya yang lebih berisi. Sepertinya akan ada keluarga baru lagi yang hadir meramaikan keluarga Bimantara.
Mereka adalah Yura dan Moza, istri dari adik dan juga kakak Argan.
"Kabarnya, Bang?" Yura menjabat tangan Argan begitu tiga bersaudara itu mengurai pelukan mereka.
"Alhamdulillah baik, Dek. Kamu?"
"Ya bisa Abang lihat, sangat baik sekali."
"Sangking baiknya sampai medok." ujar Aidan membuat mata Yura melotot tajam kearahnya.
Argan hanya terkekeh, dua pasutri ini memang sangat-sangat cocok, sama sama absurd.
"Emm... Kak Moza." Argan gantian menjabat tangan wanita yang baru pertama kali ia lihat, tapi walaupun begitu ia sangat tahu jelas bahwa itu adalah istri dari kakaknya. "Kabarnya, Kak?"
"Sehat. Kamu sehat juga kan?" jawab Moza lembut.
Argan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Yuk, pada masuk. Karena yang di tunggu-tunggu sudah pulang, sekarang waktunya kita makan malam bareng-bareng." ujar Mama Nada menggiring seluruh anak dan menantunya masuk kedalam rumah.
Meja makan itu tampak begitu ramai, padahal dulu hanya di isi papa Saga dan Mama Nada saja jika di tinggal ketiga putranya tugas, lalu Jik ketiga anaknya pulang akan di isi ketiganya, namun malam ini semuanya berkumpul di tambah istri dari Abri dan Aidan, lalu si kecil Ara—anak dari Aidan dan Yura yang baru berusia tiga bulan dan kali ini tengah berada di pangkuan sang Kakek karena sempat terbangun akibat suara berisik mereka.
"Nah Bang, sekarang Abang udah sukses, bahkan di antara kita bertiga Abang yang paling banyak duitnya, udah punya pencapaian yang banyak juga. Sekarang udah saatnya mikirin nikah." cerocos Aidan setelah mereka selesai makan.
Memang benar, diantara ketiga putra papa Saga, keuangan Argan yang lebih lumayan mengingat dirinya sejak muda sudah sering mendapatkan uang baik gaji dari ajang balapnya ataupun beberapa usaha yang di miliki pria itu sejak muda.
Semuanya tampak mengangguk setuju.
"Bener itu kata adikmu, jangan sampai kayak Papa udah tua baru punya anak jadi baru punya cucu satu rasanya udah terlalu jompo." timpal papa Saga menciumi pipi Ara gemas.
"Masak gak ada, cewek Jerman yang kecantol sama Abang? Abang kan ganteng." Aidan menatap wajah Argan.
"Gak tertarik." jawab Argan sekenanya, malas menanggapi.
"Terus kamu mau cari yang gimana? Cewek pribumi?" mama Nada ikut nimbrung. Sementara dua menantunya pergi ke area dapur mencuci piring bekas makan mereka.
Argan mengangguk saja Sebagai jawaban.
"Udah ketemu orangnya?" tanya papa Saga lagi, menepuk-nepuk paha Ara agar tertidur lagi, karena tampak sekali bayi tiga bulan itu masih mengantuk.
Argan menggeleng.
"Eh, ngomong-ngomong cewek Surabaya itu gimana kabarnya? Bener-bener gak jadi kamu dekati?"
Sontak perkataan Abri membuat mata Argan mendelik kearah sang Kakak. Sementara papa, Mama dan Aidan malah menatap kebingungan.
"Cewek Surabaya?" beo sang Mama, karena kedengarannya tadi seperti itu.
"Argan deket sama cewek?" tanya papa Saga masih tak percaya. Dengan segera Argan menggeleng. Takut sang papa salah paham dan murka.
"Lah itu tadi kata bang Abri?" Aidan turut memastikan.
"Gak ada."
"Apanya yang gak ada? Tadi kata Bang Abri begitu. Siapa yang bohong siapa yang jujur ini?" tanya Mama Nada Menatap kedua putra tertuanya.
"Abri jujur mah, bahkan sebelum Argan berangkat ke Jerman dia sempet nanya tentang cinta itu seperti apa. Ngapain coba dia nanya-nanya kalau gak lagi deket sama cewek. Gak percaya tanya aja anaknya." dan tanpa merasa bersalah Abri menoleh ke arah Argan meminta penjelasan.
Abang semprul!
"Bener itu Argan?" papa Saga mematikan pernyataan Abri.
Semantara Argan menatap tajam sang Kakak dengan rasa campur aduk.
Akhirnya ia mengangguk pasrah saja. Yura dan Moza kembali bergabung setelah selesai dengan pekerjaan mereka. Ikut mendengarkan yang lain bercerita.
"Hua... Gue pikir Abang belok loh. Ternyata oh ternyata. Jadi gimana? Pasti udah abang rencanakan kan setelah balik dari Jerman mau ngelamar itu mbak-mbak Surabaya?" Aidan tampak antusias. Begitu pun juga beberapa orang disana karena berpikir tak lama lagi akan bertambah menantu baru di rumah keluarga Bimantara.
Awalnya sih begitu, tapi nyatanya sebelum itu terjadi pupus sudah niatnya,
Argan menunduk lesu dan selanjutnya menggeleng "kita gak punya hubungan apapun, kenal juga karena kebetulan. Dan... mungkin dia udah jadi milik orang."
Deg!
Semuanya terdiam, apa mereka melewatkan sesuatu dalam perjalan hidup Argan?
kenapa bikin orang nangis dak kelar kelar kakkkkk😥😥👍
bawang mahal,,mana bawang😭😭😥😥
ttp semangat dn terimakadih💞💞☕️🌹
loh loh loh...kok udan the end ae ka'..kirain masih lanjut terus...Yo ws GK Popo seng penting mas argan dan mbak nanas happy ending...semangat berkarya dan ditunggu cerita2 selanjutnya👌
🤭🤭💪