Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan 4
Terlalu lelah mendengar kata-kata ancaman yang selalu terdengar begitu menakutkan. Bagai mimpi buruk yang tak kunjung usai, pilihan untuk menutup mulut sementara waktu terpaksa dilakukan dengan niat hati yang tertunda untuk meredakan suasana sementara waktu.
(KRIINGG KRINGG) Suara handphone Hendrik yang tiba-tiba berbunyi.
“Ya Bass? Apa ada masalah dengan Xander dan Xavia?” tanya Hendrik pada Bastian.
(BRAAKKK) (TRAANNGG) (AHAHAHAH ... KYAAA! KYAAA!) (BHUUKK) (PRAANGG) Berbagai suara kegaduhan disertai tawa yang lepas dengan beberapa barang yang terpecah.
“Bass, apa yang terjadi di sana? Kau ... baik-baik saja?” tanya Hendrik mulai menanggapi serius.
“Lebih baik, KAU MENYURUHKU MEMBERESKAN MASALAH DI KANTOR ATAU BERKELAHI! Aku tidak perduli harus bekerja lembur atau adu jotos, asal jangan pernah lagi kau menitipkan mereka padaku ... TOLONG CEPAT PULANG! KODE MERAH! ... XANDER JANGAN MELOMPAT DARI SANA! XAVIA JANGAN DIROBEK, ITU BUAT MEETING BESOK!”
Mendengar sekilas teriakan Bastian yang begitu keras meski Hendrik tidak menyalakan speaker handphonenya, Giselle pun langsung dapat menduga kondisi mengenaskan seperti apa yang sedang Bastian hadapi saat ini. Diam mematung, Hendrik sendiri pun mencoba membayangkan bagaimana kondisi apartmentnya.
“Kedua kembar memang ... sedang dalam usia aktif. Jadi ... sepertinya anda memang harus segera kembali ke apartment,” ucap Giselle dengan menahan sedikit tawanya pada Hendrik.
“Apa kau selalu menjaga mereka? Apa yang harus dilakukan pada Xander dan Xavia agar men—”
“Apa yang terjadi pada mereka? Apa yang terjadi pada Xander dan Xavia?” tanya Irene begitu khawatir yang tanpa sadar berdiri sejak tadi di belakang Hendrik.
Terkejut karena kehadiran Irene yang tidak terduga, baik Hendrik dan Giselle pun seketika berdiri yang tentunya dengan raut wajah kebingungan untuk menjawab pertanyaannya. Semakin menatap begitu khawatir pada Hendrik, Irene yang sudah tidak sanggup menahan perasaannya mengambil keputusan yang sedikit pun tidak meminta pendapat dari Hendrik terlebih dahulu.
“Giselle, apa kau bisa sedikit lebih lama di sini menunggu nenek? Aku harus pergi bersama Hendrik,” tanya Irene pada Giselle yang menganggukkan kepalanya seraya menyanggupi.
“Kau, mau kemana? Biar aku antar,” tanya Luke yang juga ingin ikut berperan.
“Maaf Luke, sepertinya kali ini aku harus pergi bersama Hendrik ... aku takut jika kau ikut, mereka berdua malah akan semakin berbuat gaduh ... tunggu apa lagi? Ayo kita pergi!” Irene tanpa sadar menarik tangan Hendrik yang tersenyum puas saat berjalan melewati Luke begitu saja.
Melihat Irene pergi begitu saja bersama Hendrik membuat Luke sedikit kesal karena seolah Irene tidak ingin akan kehadirannya hari ini di rumah sakit meski niat hatinya baik. Menatap pada Giselle yang juga langsung memalingkan pandangannya, Luke menghentak langkah kesal meninggalkan rumah sakit dengan tidak berbicara sedikit pun.
“Kau tidak apa-apa? Bagaimana alergimu?” tanya Hendrik saat mengemudikan mobilnya, melaju cepat menuju apartment bersama Irene yang masih terlihat terduduk lemas di sebelahnya.
“Dari pada mengkhawatirkan kondisiku, semakin cepat sampai, semakin cepat masalah selesai ... percayalah, mereka berdua akan membuat hancur apartmentmu jika aku tidak sampai secepat mungkin,” ucap Irene membuat Hendrik terlihat kebingungan, tidak mengerti akan maksudnya.
Hendrik melaju cepat seraya mengikuti permintaan Irene yang langsung berlari meninggalkan Hendrik untuk memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Bergegas menyusul Irene, kini Hendrik mengerti sudah akan maksud dari perkataan Irene yang mengatakan apartmentnya akan hancur berantakan bagai kapal pecah.
“Aa-apa yang ... BASS?? ADA APA DENGAN PENAMPILANMU INI?!” ucap Hendrik penuh terkejut tak kala melihat penampilan Bastian saat baru keluar dari kamar tidur.
Tidak menghiraukan penampilan Bastian karena pasti akan membuatnya tertawa, Irene lebih memilih masuk ke dalam kamar untuk melihat kedua buah hatinya, sedangkan Hendrik berjalan mendekati Bastian seolah begitu tertekan dengan harga dirinya yang hancur terinjak-injak.
Bibir berwarna merah menyala terbentuk lingkaran tak sempurna hingga menyentuh hidungnya. Mata Bastian yang berwarna-warni terlihat lebih menakutkan tak kala tatapannya begitu dingin dengan jepit pita bunga di kepalanya dan dasi kupu-kupu milik Hendrik yang terikat sempurna.
Bastian dengan lemas berjalan melewati Hendrik mencoba mengambil segelas air minum untuk menyegarkan diri. Tak kala Hendrik melihat kondisi apartmentnya yang hancur berantakan, ia tidak mengerti bagaimana bisa lampu yang seharusnya berada di atas lantai, kini tergantung di atas lampu lainnya yang berada di langit-langit apartmentnya dengan sofa yang dipenuhi saos tomat merah.
“Aku pergi tidak begitu lama dan kau menghancurkan apartmentku seperti ini? Air apa yang menggenang di sini?! ... No, No, No! Bass! Kau menghancurkan TV dan PS 5 milikku?! Aku sampai begadang mencapai level sulit!” ucap kesal Hendrik pada Bastian dengan penuh kebingungan melihat layar TV yang pecah dan PS yang menitikkan air dari dalam.
“PS dan TV itu dianggap sebagai portal gerbang sihir oleh Xander, lalu Xavia ingin berperan sebagai putri yang diculik bajak laut, jadi aku sengaja menumpahkan air di sekitar sini ... aaahh, kuharap Irene tidak akan marah padaku karena aku membelikan pizza dan makanan cepat saji untuk mereka makan siang tadi,” balas Bastian dengan raut wajah datar bagai tak bernyawa.
(KREEKK) (KLIK) Suara pintu yang tertutup pelan dengan Irene yang berjalan keluar kamar.
“Mereka sudah tidur ... Bass kemarilah, bersihkan wajahmu dengan micellar water ini. Hendrik, apa kau punya tangga atau kau sendiri yang akan mengambil lampu yang tergantung itu? Dimana kain pel? Lantaimu bisa berjamur jika tidak segera dikeringkan,” perintah Irene berurutan dengan nada bicara bertempo cepat.
Bagai seorang komandan yang memberikan perintah kepada anak buahnya, Handrik dan Bastian langsung bergerak melakukan segala instruksi yang Irene berikan. Tak kala saling bekerja sama, kekacauan pun kembali berubah menjadi normal seperti sedia kala.
Kondisi Irene yang masih belum begitu pulih dari alerginya membuat Irene tidak dapat bergerak bebas karena masih merasa sedikit sesak ketika bernafas meski ruam dan bengkak di matanya telah menghilang. Terduduk lemas di atas sofa setelah membereskan apartment Hendrik, tanpa sadar Irene tertidur saat Hendrik dan Bastian sedang membereskan bagian ruang makan.
“Aku pulang dulu,” ucap Bastian seraya menepuk pundak Hendrik, memberikan syarat bahwa dirinya cukup mengerti akan kondisi saat ini di mana Hendrik dan Irene memerlukan waktu untuk berdua.
“Bass ... terima kasih untuk hari ini,” ucap Hendrik dengan sedikit tersenyum.
“Berhenti basa-basi, kau membuatku merinding!” Bastian pergi dengan memukul tangan Hendrik yang akhirnya tertawa padanya.
Selesai membersihkan ruangan makan, Hendrik menatap pada Irene yang terlihat tertidur lelapnya. Tidak ingin mengganggunya, Hendrik memutuskan untuk mandi membersihkan diri dengan kedua kembar yang juga tertidur lelap, kelelahan bermain seharian bersama Bastian.
(KREEKK) (KLIK) Bunyi pintu yang tertutup dengan Hendrik yang berjalan keluar.
“Baru selesai mandi? Apa kau lapar? ... Aaah maaf, secara lancang aku membuka kulkas dan menemukan beberapa bahan yang kupikir bi—”
“Kau, memasak untukku? Terima kasih, aku memang belum makan dari siang tadi,” ucap Hendrik dengan langsung terduduk melahap masakan Irene, dengan handuk yang menempel dibahunya karena air masih menetes dari setiap helai rambutnya.
Menatap pada Hendrik, Irene segera menyadarkan dirinya tak kala kenangan masa lalu datang menghampiri. Kebiasaan Hendrik yang selalu lupa mengeringkan rambutnya, selalu saja menjadi tugas Irene di setiap pagi atau selepas Hendrik pulang selepas bekerja.
“Kau tidak makan? Masakanmu masih enak sama seperti dulu tidak ada yang berubah,” tanya Hendrik dengan mulut penuh terisi makanan.
“Aku sudah duluan saat kau mandi tadi ... aku juga sudah pisahkan untuk Xander dan Xavia, jadi kau bisa menghabiskan semua makanan itu,” balas Irene.
“Oke good, karena aku memang sangat lapar ... terima kasih,” balas Hendrik tersenyum dengan lesung pipi pada raut wajah tampan yang begitu menarik hati.
Tidak ingin terlihat bodoh karena terpana pada kharisma Hendrik, Irene memilih meninggalkan ruangan makan dan terduduk di sofa penuh kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan saat ini. Menunggu Hendrik menghabiskan makanan, Irene menyibukkan diri memainkan handphonenya agar tidak terlihat canggung dan aneh.
“Terima kasih makanannya,” ucap Hendrik terduduk di samping Irene sembari mengeringkan rambutnya kembali.
“Aku, akan membawa Xander dan Xavia ketika mereka bangun ... Giselle juga sudah pulang, jadi aku bisa menitipkan nenek Emma pad—”
“Ada yang ingin aku tanyakan padamu dan aku mohon kau jawab dengan jujur,” Hendrik mulai menatap serius pada Irene yang terlihat langsung menjaga jarak seolah tidak ingin membahas apa pun dengan Hendrik, terlebih masa lalunya yang kelam.
“Irene, keluarga Kessler tidak pernah berniat ingin mengancammu apa lagi keluargamu ... sungguh! Karena itu katakan padaku, bagaimana mereka mengancammu? Apa saja yang mereka katakan? Apa kau bertemu langsung dengan mereka?” tanya Hendrik begitu serius.
“Apa maksudmu mengancam? Aku tidak ingat apa pun mengenai hal itu,” balas Irene mencoba mengalihkan pembicaraan dengan penuh kebohongan.
“Restaurant milik keluargamu terpaksa tutup karenaku. Jadi Irene, jika kau tidak ingin aku tahu masa lalumu, setidaknya berikan aku kesempatan untuk membalas mereka demi nama baik keluarga Farmer, keluargamu!” pinta Hendrik dengan kembali bersikap serius.
“Sejak awal pertemuan kita, aku tidak pernah berniat ingin menceritakan masalah ini padamu karena bagiku itu hanya akan membuat luka hatiku kembali terbuka. Bisakah kau tidak menanyakan ini lagi padaku?!” balas Irene kesal dengan langsung berdiri dan berjalan.
“Tunggu! Aku tidak akan mengijinkanmu pulang terlebih membawa Xander dan Xavia jika kau tidak menceritakannya padaku!” tegas Hendrik saat menarik tangan Irene agar bisa menatapnya.
“Aa-apa?! Kau ... mengancamku?” Irene berkata dengan sedikit merasa ketakutan.
Pantulan diri masing-masing pada bola mata keduanya menandakan baik Hendrik dan Irene saling menatap dengan begitu dalam. Merasa tidak sanggup lagi menyembunyikan kata hati dan pikirannya, entah apa yang ada di dalam pikiran Hendrik saat ini karena secara tiba-tiba mencium Irene dengan begitu intens.
Terkejut bagai mendapat tamparan keras, Irene terbelalak karena tenaga Hendrik jauh melampaui batasnya untuk melakukan perlawanan. Tarikan tangan Hendrik pun membuatnya semakin memagut sudut tepi bibir dengan nafas yang berderu panas, bagai menikmati waktu yang tengah berjalan.
“He-hentikan kumohon,” ucap Irene seraya mencoba untuk bernafas.
“Katakan padaku, siapa yang mengancammu!”
Tahu akan tidak mungkin melakukan penolakan kembali, tertunduk pada dada bidang yang sudah lama tak bersandar manja. Irene bagai terlarut terbawa suasana tak kala tangan hangat Hendrik kembali membawa sentuhan kenangan manis yang sudah lama Irene lupakan.
“Irene, siapa yang mengancammu ... katakan padaku, please.”
Haruskah kembali menjatuhkan hati padanya? Dapatkah kembali bersandar pada sosok pelindung hati yang sempat bertahta namun menoreh luka amat sangat dalam? Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kesempatan itu diberikan?