Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Couple
Di lampu merah pertama.
Taksi yang ditumpangi Aina berhenti, gadis cantik itu keluar setelah memberikan tarif yang harus dia bayar, untuk beralih ke mobil Gavin yang sudah menunggunya di emperan toko.
Ketika Aina sudah berhasil duduk di samping Gavin, dia menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu, tepat pada saat itu keduanya saling melempar senyum.
"Pintar sekali pacarku," puji Gavin seraya mengusak puncak kepala Aina. Meksipun berpenampilan sederhana, gadis itu tetap terlihat sangat cantik di mata Gavin.
"Inikan ide dari kamu, Gav," balas Aina semakin melebarkan senyumnya.
Lantas Gavin mencondongkan tubuh untuk memasangkan seat belt di tubuh Aina. Namun, karena Aina berpikir lain, dia malah menghindari pemuda tampan itu.
"Kenapa? Kamu pikir aku ingin menciummu?" tanya Gavin merasa lucu dengan reaksi kekasihnya. Aina salah sangka, dia kira Gavin benar-benar ingin menyambar bibirnya.
Karena malu, kedua pipi gadis itu langsung mengeluarkan semburat merah. Bahkan dia tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya. Hingga yang bisa dia lakukan adalah menggigit bibir bawah.
Cup!
Setelah berhasil memasang seat belt, Gavin menyempatkan diri untuk mengecup bibir mungil Aina.
Gavin suka sekali saat melihat gadis itu menunjukkan raut malu-malu.
"Kamu benar, aku memang ingin menciummu. Setiap hari aku ingin melakukannya," ujar Gavin, tetapi bukannya mendapat balasan, dia malah dicubit dengan keras, hingga menyisakan rasa panas.
"Auch!"
"Berhenti menggodaku, Gav. Ayo cepat jalan, aku takut orang rumah akan curiga kalau kita pergi lama-lama," ucap Aina, mengalihkan pembicaraan mereka. Sumpah demi apapun, dia selalu deg-degan kalau sedang berduaan dengan Gavin, apalagi sekarang mereka berada di tempat umum.
"Baiklah-baiklah, memangnya kita akan pergi ke mana? Daddy menyuruhmu untuk melakukan sesuatu?"
"Aku disuruh berbelanja sendiri, karena stok makanan sudah mulai habis."
"Okey, kalau begitu biar aku temani. Hari ini aku akan menjadi supir dan pengawal pribadimu," ucap Gavin seraya mencolek hidung mancung Aina, membuat gadis itu terkekeh kecil.
"Sungguh?" tanya Aina dengan binar matanya yang menggoda, cantik sekali.
Gavin mengangguk, sementara tangannya mulai memutar kunci, dia menjalankan mesin mobil dan membawa kendaraan roda empat itu ke jalan raya.
Sepanjang jalan Gavin tak henti-hentinya menggenggam tangan Aina. Seolah ingin menunjukkan bahwa gadis itu hanyalah miliknya.
Bahkan di beberapa kesempatan, Gavin mengecup punggung tangan itu, membuat Aina jadi senyum-senyum. Karena bersama Gavin dia merasa berharga.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Na, jadi jangan pernah berpikir untuk lari dariku," ucap Gavin saat mereka kembali tiba di lampu merah.
"Lagi pula siapa yang ingin lari sendirian? Jika aku ingin berlari, maka aku akan mengajakmu," balas Aina dengan sungguh-sungguh. Apapun itu, dia akan melaluinya bersama Gavin.
"Aku pegang kata-katamu."
Gavin tak tahan untuk tidak mencium bibir Aina. Dia menarik tengkuk gadis itu, dan melumaatnya dengan rakus. Sementara Aina langsung kalang kabut, pasalnya dari dalam semua orang yang ada di luar sana terlihat sangat jelas.
Dia takut para pengendara menangkap basah kelakuan mesyum mereka.
Aina sedikit memberontak, tetapi Gavin malah memegang kedua sisi wajah Aina dengan kuat. Tak ingin rasa candu ini selesai begitu saja.
Tin!
Tiba-tiba suara klakson mengagetkan keduanya. Karena lampu sudah berubah hijau. Reflek Aina mendorong dada Gavin, hingga ciuman mereka terlepas. Dengan nafas yang terengah-engah, mereka saling tatap.
"Gav, ayo jalan!" seru Aina, karena mendengar suara klakson yang semakin bersahutan. Sementara Gavin jadi gelagapan.
*
*
*
Hari itu Gavin benar-benar seperti seorang suami yang sedang mengantar istrinya berbelanja. Dia senantiasa berdiri di samping Aina, dan membawakan semua barang-barang yang dibeli gadis itu.
"Sudah, biar aku saja," kata Gavin seraya meraih beberapa kantong plastik yang ada di tangan Aina.
"Tidak perlu semua, Gav. Itu berat."
"Tidak apa-apa, Sayang," balas Gavin dengan sebuah panggilan yang membuat jantung Aina semakin berdebar kencang. Andai dia adalah satu cup es krim, mungkin dia sudah meleleh.
Akhirnya setelah membeli bahan pokok, mereka pun memutuskan untuk berkeliling sebentar. Hingga tiba-tiba Gavin melihat sesuatu, dia masuk ke dalam gerai, lalu mengambil benda yang mampu menghipnotis matanya.
Sebuah gelang.
"Aku akan membelinya untukmu," ucap Gavin.
"Untukku?" Aina membeo.
Gavin lantas mengangguk. "Iya. Mbak, aku ingin membeli yang ini." Serunya pada sang pelayan toko.
"Boleh, Kak," timpal sang pelayan dengan ramah.
Namun, karena tak ingin hanya Gavin yang selalu berusaha menyenangkan dirinya. Aina pun kembali mengambil satu gelang yang lumayan mirip dengannya.
"Untukmu," ujarnya sambil tersenyum manis.
Gavin mengerutkan keningnya.
"Couple?" tanya pemuda tampan itu.
"Yes, bukankah kita pasangan?"
Mendengar itu, bibir tipis Gavin langsung melengkung dengan sempurna. Akhirnya mereka membeli dua gelang, dan sama-sama dipakai di tangan kiri.
***
Gimana dengan couple kita ini? Deskripsikan dengan satu kata gaes😍😍
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡