"Jika aku bisa memiliki keduanya kenapa aku harus memilih salah satu saja." Alkama Basri Widjaya.
"Cinta bukanlah yang kamu butuhkan, pilih saja ambisimu yang kamu perjuangkan mati-matian." Nirmala Janeeta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyawrite99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sebuah kejutan bagi Kama akan kehadiran Juwita yang tiba tiba masuk ke ruangan miliknya ditemani oleh Dirga.
"Waw. Ada apa ini? Sebuah kejutan melihat kamu ada disini." Ucap Kama diawal pertama kali melihat Juwita masuk ke ruangannya.
"Selamat pagi Kama. Senang bisa bertemu kamu kembali," Dengan senyum manis Juwita menyapa Kama. "Kita akan menjadi rekan kerja satu tim. Aku di kirim oleh Daddy untuk memantau jalannya kerjasama kita. Dan untuk itulah aku ada disini. Hm. Tidak ada masalah bukan dengan keputusan Daddy." Terang Juwita. Senyum masih ia tampilkan di wajahnya. Juwita terlihat begitu senang.
"Itu lebih baik. Semua akan lebih mudah karena kehadiran kamu," Kama berdiri menghampiri Juwita. Ia jabat tangan perempuan itu dan membimbing Juwita untuk duduk di sofa ruangan miliknya. "Sebelum kita membahas pekerjaan mari kita minum dulu. Kamu pasti lelah menempuh perjalanan jauh untuk kesini bukan."
"Kamu selalu menjadi rekan kerja yang begitu pengertian Kama." Balas Juwita.
Dirga keluar ruangan tersebut. Dengan sigap Dirga menyiapkan minum sesuai perkataan Kama tadi.
Kejutan di pagi hari. Kama harus memutar otak agar kehadiran Juwita tidak menjadi salah satu penghalang atas rencana hidupnya.
***
"Sudah mau pulang bos?" Pertanyaan itu berasal dari Dirga.
"Ck. Apa saya perlu izin kamu jika hendak pulang Dirga." Jawab Kama dengan ketus.
"Tidak si bos," jawab Dirga cengengesan. "Mau cepet pulang karena mau ketemu pacar kesayangan ya pak. Tumben amat pulangnya cepat. Biasanya kita pulang lembur terus kalau di Amerika waktu itu."
"Kamu bisa diam tidak. Saya bukan mau pulang ketemu pacar tapi saya ada janji sama Juwita. Ck. Perempuan kenapa selalu tidak bosan untuk selalu bertemu."
"Lah. Bukan ketemu Bu Mala ya bos. Kirain," Dirga merasa tak enakan hati. Pasti saat ini bosnya itu sedang uring uringan. "Tolak aja bos kalau memang gak bisa."
Kama memandang Dirga dengan tatapan sinis. Apanya yang bisa ditolak. Kalau memang Kama bisa beralasan sudah pasti Kama sudah melakukannya.
Tapi tak apa. Untuk malam ini Kama akan meladeni permintaan anak Daddy itu. Besok besok ia tentu akan lebih menghabiskan waktu bersama kekasihnya Nirmala Janeeta.
"Sorry.. sorry bos. Kalau begitu hati hati ya bos." Ujar Dirga setelah menerima tatapan tidak suka dari Kama.
Dirga takut sekali kalau bosnya ini meninju wajahnya karena ulah mulutnya yang sering membuat Kama marah.
Malam itu Kama menikmati makan malam bersama Juwita. Terpaksa malam ini ia tidak bisa bertemu kekasihnya. Dan Kama sudah memberitahu Nirmala bahwa malam ini ia tidak menginap di apartemen kekasihnya tersebut.
Terpaksa malam ini Kama harus tidur sendiri di apartemennya. Padahal Kama ingin sekali tidur di pelukan kasihnya. Namun tak apa, untuk malam ini ia bersama Juwita. Besok besok waktunya hanya untuk Nirmala kekasihnya.
Dan semua itu ia tepati. Keesokan malamnya Kama tidur di apartemen Nirmala. Bahkan Kama langsung mendatangi apartemen Mala dari jam setengah enam sore.
"Kenapa gak pas weekend aja nginep disini. Besok kan kamu kerja lagi. Cuman malam saja kita ketemunya."
"Kenapa nunggu weekend kalau malam aku bisa ke tempat kamu. Aku kayak gak diterima kamu menginap disini malam ini." Ujar Kama dengan nada lesu.
"Bukan begitu. Aku takut kamu capek kalau harus bolak balik kesini. Kan apartemen kamu lebih dekat kantor daripada disini."
"Mau sejauh apapun kamu tetap bakal aku samperin. Mau di bulan sekalipun gak jadi masalah."
"Ya ya. Percaya deh. Kamu mandi dulu deh. Setelah itu kita makan malam."
"Bareng aja yuk. Kamu belum mandi juga kan." Ajak Kama pada Nirmala.
Nirmala merotasi bola matanya. "Aku lagi haid."
"Gak masalah. Lagian kamu haid kan bukan kena luka tusukan yang darahnya muncrat kemana mana kan."
"Sok tahu. Udah ah mandi sana."
"Bareng aja ayok." Kini kama mendekati Nirmala. Sengaja ia tarik pergelangan tangan Nirmala.
"Kama.. gak mau."
Jadilah keduanya saling tarik menarik. Namun karena niat Kama untuk mempermainkan Mala jadi pegangan tangannya mudah dilepas oleh Mala begitu saja.
"Dasar mesum." Ucap Mala sebelum menutup pintu kamarnya.
Kama menggeleng gemas melihat tingkah Mala yang menjulurkan lidahnya mengejek dirinya setelah berhasil lepas dari cekelan Kama. Perempuannya itu selalu membuat Kama tidak ingin jauh darinya.
Andai Mala tidak dalam masa menstruasi. Sudah pasti malam ini Kama akan membuat Nirmala kewalahan melayani dirinya.
Kama benar benar butuh pelepasan. Apa ia masuk saja ke kamar Nirmala. Bukankah ada banyak cara untuk memuaskan pasangan. Mungkin bisa dengan tangan atau mulut juga tidak masalah bagi Kama.
Oh. Sepertinya otak Kama sudah memikirkan hal yang iya iya. Bahkan kepala bagian bawahnya juga ikut bereaksi.
"Ck. Sial." Umpat Kama. Pasalnya saat ini miliknya sudah bangun tanpa di minta.
Sepertinya mandi Kama akan sedikit lebih lama.
***
"Lama banget sih kamu mandinya." Mala sudah siap di meja makan. Ia menunggu Kama untuk makan malam bersama.
"Ada hal yang harus dituntaskan jadi lama sayaang."
"Urusan kerjaan?"
"Hm. Kita makan saja sayang. Kalau dibahas bisa bikin kamu kesal lagi sama aku."
"Ih. Apaan sih. Jadi penasaran tahu kalau kamu omong begitu."
"Bukan apa apa."
"Apaan Kama."
"Gak ada."
Mala memicingkan mata pada Kama. "Kok main rahasia an sih."
Kama enggan menanggapi. Seperti ucapannya barusan. Kalau dijelaskan takutnya malah bikin masalah.
Kama dengan tenangnya memotong daging miliknya dan menyuapkan pada mulutnya. Lebih baik melumat daging ini. Takutnya kalau di jelaskan lebih lanjut ia malah minta melumat bibir Nirmala.
Nirmala tidak memperpanjang lagi ketika keduanya menikmati makan malam.
Namun tidak ketika keduanya duduk bersisian di sofa menghadap televisi.
"Sebaiknya di kamar juga di pasang televisi." Ujar Kama tiba tiba memberi saran.
"Tidak perlu. Disini juga cukup."
"Padahal kalau di kamar lebih enak sayang."
"Di mana saja sama saja."
"Iya sih. Aku sih gak papa mau di sini atau di kamar."
"Tadi omongnya enak di kamar. Sekarang dimana saja sama saja. Dasar plin plan."
Kama tergelak. Menggemaskan sekali melihat Mala yang bicara bersungut sungut saat mengejek dirinya.
"Sebenarnya enaknya di kamar ya biar kalau kita mau main kamunya enak. Kan kalau aku dimana saja siap di kasur maupun di sofa juga ayok aja."
"Ih. Otaknya gak jauh jauh dari selangkangan terus ya." Ucap Mala seraya mencubit perut Kama.
"Aduh.. aduh.. sakit sayang." Kama mengaduh karena cubitan Mala.
"Rasain. Siapa suruh mulutnya suka mesum terus."
"Kan cuman sama kamu mesumnya."
"Memang ada niat sama yang lain!"
"Gak sih. Tapi kalau diizinkan aku ikhlas."
"Apa kamu bilang barusan." Nirmala melotot.
"Becanda sayang."
"Ih mesti dihukum ya pak bos Kama." Mala melotot sambil berkacak pinggang.
Kama menyodorkan kedua tangannya bertingkah seolah menyerahkan diri untuk di borgol.
"Hukum aku dong sayang."
Nirmala tanpa ragu menggigit tangan kanan Kama.
"Aduh. Nakal banget sih kamu. Gak bisa dibiarin kamu juga harus dihukum."
Tanpa menunda. Kama langsung menerkam Nirmala.
Kama tarik kaki Nirmala yang tadi duduk bersila menghadap Kama hingga berubah menjadi berbaring. Dengan cekatan Kama merangkak di atas Nirmala dan menyusup masuk dalam piyama tidur Mala.
Perbuatan Kama membuat Mala mengerang oleh mulut Kama yang langsung melahap buah kembarnya di dalam baju. Dengan mudah Kama melahap buah itu setelah mendorong ke atas penyangga buah dada Mala.
Bersyukurnya Kama malam itu bisa merasakan manisnya kepemilikan kekasihnya walau hanya bagian atas saja. Untuk bagian bawah harus ia tahan beberapa hari kedepan.