Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 HTA
Nayla dan Gerald kini berada di dalam mobil, Gerald memperhatikan sang Adik dan bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"
Nayla menggelengkan kepala sembari menundukkan wajahnya, karena Nayla malu sudah tidak mempercayai sang Kakak. Tapi, dirinya juga masih kesal dengan perbuatan Gerald padanya. Nayla masih diam seperti tadi pagi, tak bicara sepatah kata pun.
"Kamu masih tidak mau bicara sama Abang? Oke tidak masalah, tapi Abang mau memberi tahukan kepada mu, jika laki-laki tadi adalah musuh bisnis Abang, Arthur namanya yang anaknya adalah pacar kamu yang brengsek itu, sekarang kamu tahu, kan? Siapa sebenarnya Arthur, itulah kenapa Abang tidak suka kamu berhubungan dengan Rio, ngomong-ngomong kenapa Arthur datang ke sekolah? Apa ada masalah?" tanya Gerald sembari menyetir. Tentunya Gerald belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sekolah Nay.
"Tidak tahu!" jawab Nayla dingin. Nayla mencoba menutupi tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya baru saja, yaitu tentang penggerebekan Rio dan Neli di dalam kamar mandi. Kalau dia jujur kepada Gerald, maka Nayla pasti sangat malu karena sudah tidak mendengarkan ucapan sang Kakak.
Gerald hanya bisa menghela nafasnya menghadapi sikap sang Adik yang masih sakit hati padanya. Pria itu tampak mengalah, Ia berusaha mengambil hati Adiknya dengan tidak terburu-buru berbicara padanya.
Sesampainya di rumah, Nayla turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kamar, sementara itu Bi Jum yang melihat Nayla bersedih menanyakan kepada Gerald tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Non Nayla kenapa, Tuan muda? Bi Jum lihat Non Nayla sedih gitu, apa kalian bertengkar? Dari kemarin malam Bibi lihat kalian sedang bertengkar?" tanya Bi Jum yang terlihat khawatir dengan keadaan Nayla.
"Aku juga tidak tahu, Bi!" jawab Gerald.
"Baiklah, Aku mau ke kamar dulu!" pamit Gerald kepada Bi Jum.
"Iya Tuan muda,"
Gerald langsung naik ke kamar atas, Ia juga mau menenangkan dirinya, Ia harus bisa menghadapi sikap Nayla yang tentunya pasti masih kecewa dengannya. Gerald menenangkan pikirannya dengan berendam pada air hangat, dengan dilengkapi lilin aromaterapi agar pikiran nya bisa tenang.
Terlintas dalam pikiran nya saat dirinya bertemu dengan Ayah kandung Nayla sebelum meninggal.
FLASHBACK ON
Dalam suatu kamar rumah sakit, ada seorang pria yang sedang terbaring antara hidup dan mati, Pak Nurdin pria yang bekerja sebagai sopir angkot, dimana Dia adalah Ayah kandung sang Adik, Pak Nurdin menderita sakit paru-paru akut, Ia tahu jika putri satu-satunya sekarang sudah tumbuh dewasa di sebuah rumah mewah, sejak Ia tak sengaja bertemu dengan Gerald, Ia tahu jika Adik Gerald adalah putri kandung nya yang dibuang oleh sang istri tujuh belas tahun yang lalu, saat mereka cek-cok dimana sang Istri bersikeras untuk pergi ke luar negeri, sementara Pak Nurdin tidak mengizinkan istrinya meninggal kan bayi perempuan mereka yang masih berusia dua bulan.
Istri Pak Nurdin terpengaruh oleh omongan teman-temannya untuk mencari nafkah di luar negeri, sementara itu Pak Nurdin tidak mengizinkan istrinya untuk pergi ke luar negeri dan meninggalkan bayi mereka.
"Aku akan tetap pergi ke Hongkong, Mas! Aku tidak mau hidup miskin di sini sama kamu, biar Aku kasih saja bayi kita pada orang, kamu jangan khawatir, Aku akan memberikan bayi kita pada orang kaya, biar hidupnya kelak tidak kekurangan seperti kita, harusnya kamu bersyukur selama ini Aku sudah mau hidup bersama pria penyakitan seperti kamu, sampai Aku mau melahirkan anak kita, sekarang kamu tidak bisa menghentikan Aku untuk membawa putri kita, daripada dia hidup sama kamu, nggak mungkin kamu bisa menghidupi anak kita, maafkan Aku, Mas! Aku pergi!" pamit istri Pak Nurdin.
"Bu ... jangan bawa anak kita, Bu! Kamu mau bawa dia kemana?" teriak Pak Nurdin dengan terbatuk-batuk.
Istri Pak Nurdin semula adalah pekerja malam, Pak Nurdin menikahi wanita itu untuk melepaskan kehidupan malam Istrinya yang kelam, hingga akhirnya istri Pak Nurdin yang dulunya seorang wanita malam, sekarang diperistri oleh Pak Nurdin dan bertaubat menjadi wanita baik-baik. Selang dua tahun, mereka dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang mereka beri nama Nayla Faranisa.
Namun, kehidupan mereka tidak bahagia meskipun seorang bayi kecil hadir di antara mereka, justru Pak Nurdin di vonis menderita radang paru-paru akut sehingga membuat istri Pak Nurdin sedikit berubah, tentu saja Pak Nurdin sudah tidak bisa narik angkot lagi karena kondisinya yang semakin parah. Dan itulah yang menyebabkan istri Pak Nurdin memutuskan untuk bekerja di luar negeri sebagai TKI, dan meninggalkan bayi perempuan mereka kepada keluarga Adams.
Saat itu Gerald berusia sepuluh tahun saat seorang bayi diletakkan di depan rumah mewah milik keluarga Adams, istri Sudarsono mendengar tangis bayi dari arah luar rumah mereka, setelah mereka memeriksanya ternyata benar, ada seorang bayi yang sengaja diletakkan oleh seseorang di depan rumah keluarga Adams, Sudarsono dan Istrinya membawa masuk bayi cantik itu, sementara Gerald anak pertama mereka sangat senang melihat bayi yang digendong oleh sang Mama, rupanya Gerald ingin sekali mempunyai adik perempuan karena dirinya merupakan anak tunggal, sementara Istri Sudarsono di vonis sudah tidak bisa mengandung lagi, sehingga mereka memutuskan untuk merawat bayi cantik itu, sang Ibu bayi memberikan surat untuk keluarga Sudarsono untuk merawat bayi perempuan mereka yang diberi nama Nayla Faranisa.
Sejak saat itu Nayla sudah dianggap sebagai anak kandung keluarga Adams dan tentu saja Gerald sangat menyayangi Sang Adik, hingga akhirnya rasa sayang itu berubah menjadi cinta.
Hingga suatu hari Gerald bertemu dengan Ayah kandung Nayla, Pak Nurdin menceritakan semuanya kepada Gerald jika tujuh belas tahun yang lalu sang Istri telah memberikan putri mereka kepada keluarga besar Adams untuk dirawat, dari situ lah Gerald tahu jika Pak Nurdin adalah Ayah kandung sekaligus wali nikah Nayla, karena kondisi Pak Nurdin yang semakin menyedihkan, Pak Nurdin meminta Gerald untuk menjaga Nayla, Pak Nurdin meminta kepada Gerald untuk menikahi Nayla, karena Pak Nurdin merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
"Nak Gerald! Bapak hanya minta satu permintaan kepada mu!" seru Pak Nurdin dengan nafas yang semakin sesak.
"Pak Nurdin! Sebaiknya Pak Nurdin istirahat saja, nanti kalau Pak Nurdin sudah sehat, Saya akan membawa Nayla untuk bertemu dengan Bapak!" seru Gerald yang merasa tidak tega melihat kondisi Pak Nurdin yang semakin menurun.
"Tidak Nak Gerald, bapak sudah tidak kuat lagi, sebelum Bapak pergi untuk selamanya, tolong menikahlah dengan Nayla, Bapak sangat percaya kepadamu bahwa kamu adalah pria yang bisa menjaga Nayla, Bapak mohon sama kamu, ini permintaan Bapak yang terakhir, tolong nikahi Nayla!"
Sejenak Gerald terdiam, dirinya memang sangat mencintai Nayla, Ia pun tak ingin Nayla menikah dengan pria lain, dengan memantapkan hati nya, Gerald menyetujui permintaan Ayah Nayla untuk menikahi gadis itu secara diam-diam. Dan hari itu juga Gerald langsung menjadikan Nayla sebagai istrinya dengan wali Pak Nurdin sendiri sebagai Ayah kandung dari Nayla.
Setelah Gerald mengucapkan ijab Kabul di depan Pak Nurdin, saat itu juga Pak Nurdin menghembuskan nafas terakhirnya.
FLASHBACK OFF
...BERSAMBUNG...
Mampir thor,Kayaknya seru nih...