Seorang gadis, memulai kisah cintanya dengan hal yang mengejutkan, bagaimana tidak? setelah dilecehkan ia malah terperangkap dalam cinta yang pemuda itu berikan, akan kah perjalan kisahnya berjalan dengan baik? Baca kisah selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mys05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Gadis itu menghentikan langkahnya, pandangannya mulai kabur, ia merasakan puaing yang luar biasa pada bagian kepalanya.
Lia Chan menjatuhkan dirinya seketika, semua orang langsung mengerumuni gadis itu dan membawanya ke Ruang Unit Kesehatan. Gadis itu terbaring dengan kondisi tubuhnya yang melemah, ia mengerjapkan matanya sesekali guna mengumpulkan kesadarannya.
"Kau sudah sadar?" ucap Dokter yang bertugas
Gadis itu terdiam, penglihatannya masih saja terlihat berkunang-kunang.
"Mulai sekarang kau harus menjaga pola makan dan kesehatanmu, agar bayimu sehat."
Mendengar hal tersebut Lia Chan cukup terkejut, ia menajamkan tatapannya ke arah dokter tersebut.
"Bayi?"
"Iya kau hamil, usia kandunganmu baru beberapa minggu."
Tubuh Lia Chan bergetar, ia sungguh tidak percaya, dan beranjak dari ranjang besi tersebut.
"Bohong."
"Jika kau tidak mempercayaiku, kau bisa mengeceknya di rumah sakit besar." tegas Dokter tersebut.
Lia Chan masih membisu, gadis itu memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut, dengan perasaannya yang tidak karua.
Lia Chan takut, cepat atau lambat hal ini pasti akan tersebar di kampus, sesampai di apartemen ia menjatuhkan dirinya, air matanya tak terbendung, ia menangis histeris sambil melempar semua barang-barang di hadapannya.
"Kenapa harus hamil."
Lia Chan menjerit memukul-mukul perutnya, ia meraih ponselnya dan terus saja mencova menghubungi Nicko, namun hasilnya tetap sama, Nicko tidak pernah membalas pesan-pesannya, dan nomornya tidak bisa di hubungi.
"Ahhhhh."
Lia Chan melempar ponselnya, ia benar-benar prustasi, ingin rasanya ia mengakhiri hidupnya sekarang, namun bayi itu tidak bersalah, bayi itu belum terlahir, bagaimana pun juga bayi itu adalah anaknya.
Hari berlalu, dan benar saja, semua orang di kampus mengetahui kehamilan Lia Chan dengan begitu cepat, status yang belum menikah menjadi masalah utama dala hidupnya, ia harus menanggung malu karna hal itu, cibiran, hinaan, makian, semua larut menjadi satu hingga membuat Lia Chan tidak berani lagi menampakan wajahnya di kampus, beberapa kali Rektor pun sudah meneggurnya, karna hal ini berdampak buruk pada Citra kampus, hal itu cukup membuat Lia Chan memutuskan untuk tidak melanjutkan studynya.
Tidaknada seorang pun yang mendekatinya, Lia Chan yang awalnya adalah, bunga kampus, sekarang dalam sekejap ia menjadi sesosok yang menjijikan bagi mereka semua, bahkan Jordan yang sangat menggilainya pun ikut menjauhinya, karna berita kehamilannya tersebut.
"Sekarang aku mengerti." Gumam Lia Chan
Gadis itu mengemas pakaiannya, ia tentu mengerti, inilah kehidupan yang sebenarnya, seseorang akan pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, dan yang lainnya hanya akan menilai satu kesalahan, tanpa melihat ribuan kebaikan.
"Terima kasih tuan."
Lia Chan menjabat tangan pria paruh baya, seseorang yang membeli apartemennya, Ya hal ini Lia Chan lakukan untuk mengurangi biaya hidupnya, ia akan tinggal di rumah yang lebih sederhana, sisa hasil penjualan apartemen tersebut akan ia gunakan untuk biaya melahirkan.
Masalah seperti ini bukan hal baru baginya, ia sudah terbiasa menjalani hidupnya seorang diri, setelah kepergian sang Papa.
"Kau baru ya?" ucap Salah satu wanita paruh baya
Lia Chan melirik ke sumber suara dan memiringkan senyumnya pada wanita tersebut
"Iya, aku baru dua hari disini."
"Pantas saja aku baru melihatmu,"
Wanita itu mendekati Lia Chan, ia mengulurkan tangannya pada gadis itu guna menjalin keakraban.
"Aku Fan, semua orang disini biasa memanggilku Bibi Fan."
"Aku, Lia Chan."
Keadan Lia Chan memang masih terlihat cantik, meskipun perutnya sedikit membuncit, tentu Bibi Fan tahu jika Lia Chan saat itu sedang mengandung.
"Dimana suamimu?"
Pertanyaan itu sederhana, Namun entah mengapa setiap kali mendengarnya batin Lia Chan serasa di sayat-sayat. gadis itu terlihat tidak berekspresi dan dingin.
"Maaf aku harus pergi." Ucap Lia Chan sambil berlalu.
Tingkah Lia Chan memang sangat membingungkan. Selama beberapa hari Bibi Fan selalu memperhatikan rumah di sebelahnya tersebut, namun tidak ada pernah ada yang datang, bahkan Lia Chan sendiri tidak pernah keluar, hal ini semakin membuat Bibi Fan penasaran.
**NEXT GUYS, MOHON MAAF SEDANG PERBAIKAN, ADA BEBERAPA CHAPTER YANG MENGALAMI PERUBAHAN😍
LIKE KOMEN DAN BANTU VOTENYA😍**
hmor naik pitm